Desi adalah seorang guru di sebuah sekolah negeri, saat ini ia memiliki 3 orang anak. Si sulung bernama Bagas, adiknya Rafi dan si bungsu bernama Aqilla. Jarak umur mereka rata-rata 2 tahun. Kehidupan rumah tangga Desi awalnya baik-baik saja. Namun, kebutuhan ekonomi yang kian mendesak membuat suami Desi mencoba mencari pekerjaan di luar kota. Suami Desi bekerja di luar kota demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, siapa sangka ternyata Ridwan menikah lagi diam-diam tanpa sepengetahuan Desi. Akibatnya, Ridwan menjadi abai dengan nafkah untuk anak-anaknya. Bahkan seringkali tidak memberi nafkah sama sekali, sehingga Desi harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ya, anak-anaknya memiliki ayah tapi nasib mereka tak jauh berbeda dari anak yatim yang tidak memiliki ayah. Bahkan terkadang untuk makan pun Desi harus berhutang. Sungguh menyedihkan kehidupannya. Pernikahannya bagai tergantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yayuk riyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. PPG
Hari ini, Desi mendapat informasi dari sahabatnya Mila kalau dia dapat panggilan PPG(Pendidikan Profesi Guru).
"Des, sudah buka aplikasi guru belum?" , tanya Mila siang itu.
"Belum Mil. Apa ada info terbaru?" , tanya Desi santai sambil memeriksa pekerjaan siswa.
"Ada Des, coba dibuka. Sudah ada pengumuman siapa aja yang mendapat panggilan PPG." , jawab Mila.
"Masa sih, aku cek dulu deh." , jawab Desi sambil menyalakan laptop nya.
Kemudian, setelah Desi membuka aplikasi guru milik nya, tiba-tiba dia berteriak.
"Milaaaa.....alhamdulillah....." , pekik Desi kegirangan.
"Des, ngagetin aja sih, untung sepi nie kantor. Bikin jantungan aja nie." , jawab Mila.
"Sorry Mil...habis seneng banget. Ternyata nama saya ada di daftar panggilan PPG. Alhamdulillah ya Allah." , ucap Desi penuh syukur.
"Tuh bener kan. Tadi sih belum yakin karena belum ngecek sendiri baru denger-denger aja. Eh, ternyata bener ada namanya. Syukur lah Des, selamat ya. Ikut seneng dengernya." , jawab Mila.
"Iya Mil, syukur alhamdulillah. Tapi, ngomong-ngomong, kamu ada nggak namanya?" , tanya Desi.
"Aku belum beruntung Des. Mungkin menyusul nanti." , jawab Mila.
"Ya Allah, sabar ya Mil. Insyaallah di panggilan berikut nya ada namanya. Tetap semangat." , ujar Desi.
"Iya Des, nggak papa. Semangat dong." , jawab Mila.
Kemudian, Desi segera mengikuti langkah-langkah apa yang harus dia lakukan untuk mengikuti kegiatan PPG ini. Pertama-tama yang harus dilakukan adalah lapor diri. Kemudian baru mengikuti prosedur berikutnya harus memilih universitas yang akan diikuti untuk melalkukan kegiatan PPG.
Desi mengikuti langkah demi langkah dengan baik. Agar dia bisa lulus dalam kegiatan PPG ini. Kegiatan ini berjalan kurang lebih selama 6 bulan. Namun, guru yang mengikuti PPG tidak mendapatkan dispensasi mengajar. Jadi tetap mengajar seperti biasa. Sambil melakukan kegiatan PPG yang dilaksanakan secara daring.
Namun begitu, Desi tetap antusias mengikuti PPG ini. Karena ini adalah momen yang sudah lama dia tunggu-tunggu. Desi begitu semangat walaupun banyak kendala yang harus dia tempuh demi bisa mengikutinya.
Hari ini, Desi pulang ke rumah dengan hati yang begitu bahagia. Ternyata, Allah memiliki rencana yang begitu indah. Di samping keterpurukan rumah tangganya yang berakibat Desi sangat kekurangan secara finansial, namun Allah memiliki rencana lain yang kita tidak sangka-sangka. Allah masih kasihan dengan Desi dan anak-anaknya. Allah masih bersedia menolong Desi dan anak-anaknya dengan membuka jalan pintu rezeki melalui sertifikasi guru.
Seperti biasa, sebelum pulang Desi menjemput Aqilla dulu di rumah mbok Muna baru mereka berempat pulang ke rumah kontrakan mereka.
"Mama...." , ujar Aqilla begitu melihat Desi datang.
"Iya sayang. Aqilla lagi apa tadi?" , tanya Desi.
"Nggak lagi ngapa-ngapain. Aku nungguin mama aja." , jawab Aqilla.
"O iya. Udah kangen sama mama ya." , canda Desi.
"Iya mama. Aku kangen banget sama mama." ,
ujar Aqilla.
"Ya udah, ayok kita pulang." , ajak Desi.
"Makasih banyak ya mbok, saya pulang dulu." , ucap Desi.
"Iya bu. Sama-sama." , jawab mbok Muna.
Kemudian, Desi memberi salam lalu pulang.
Di tengah jalan, Desi mampir ke minimarket terdekat untuk membeli keperluan yang sedah habis di rumah. Tak lupa, Desi membelikan jajan untuk ketiga anak-anaknya. Juga untuk Desi begadang nanti malam. Desi akan mengerjakan tugas-tugas PPG nya malam ini.
Sampai di rumah, Desi dan anak-anaknya berganti pakaian. Kemudian, Desi menyuruh anak-anaknya untuk beristirahat agar badan menjadi fresh. Desi juga ikut istirahat siang ini. Dia berharap nanti malam bisa tidur agak larut untuk mengerjakan tugas-tugas PPG nya.
Sore hari, anak-anak bangun tidur dengan rambut yang acak-acakan. Kemudian, Desi menyuruh anak-anaknya mandi. Dia pun ikut mandi juga setelah memandikan Aqilla. Setelah mandi, Desi menyiapkan makan malam untuknya dan anak-anaknya.
"Mama masak apa?" , tanya Rafi.
"Mama masak ayam goreng serundeng sayang. Kesukaan abang Rafi kan?" , jawab Desi.
"Asyik, iya ma. Aku suka sekali." , jawab Rafi.
"Alhamdulillah kalau abang Rafi suka. Sebentar ya sayang. Ini sudah mau matang." , jawab Desi.
"Iya ma." , jawab Rafi.
Setelah matang, mereka berempat segera makan. Mereka makan dengan lahap nya.
Setelah makan, baru mengerjakan PR.
Desi pun sedang sibuk dengan tugas-tugas PPG nya hingga akhir. Selesai anak-anak belajar, Desi menyuruh mereka untuk tidur.
Saat waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Desi masih berkutat dengan tugas-tugas PPG nya. Dia belum selesai, namun dia harus istirahat karena waktu sudah malam.
Desi pun berusaha untuk memejamkan matanya. Namun agak sulit. Dia paksakan untuk tidur karena besok dia harus bekerja seperti biasa.
Keesokkan paginya, Desi melakukan rutinitas paginya seperti biasa.
Sesampainya di sekolah, Desi segera menyalakan laptop nya karena ada yang harus dia upload untuk mengikuti kegiatan PPG ini. Lalu Desi segera meng upload data-data yang diperlukan.
'Untung saja ada pelajaran bidang studi' , gumam Desi di dalam hati jadi dia bisa menyelesaikan tugas-tugas PPG nya.
"Wah, pagi-pagi sudah nyalain laptop aja bu Desi." , sapa salah seorang rekan guru.
"Iya bu, ini ada data yang harus di upload." , jawab Desi.
"O iya, semangat ya bu Desi. Semoga lancar dan bisa lulus." , ujarnya lagi.
"Aamiin ya rabbal alamiin. Makasih banyak bu do'anya." , jawab Desi.
"Sama-sama bu Desi." , ujarnya lagi.
Kemudian, Desi melanjutkan meng upload data-data yang diperlukan. Setelah itu, Desi bersiap-siap untuk mengajar. Meskipun lelah, Desi tetap semangat mengajar juga mengikuti kegiatan PPG nya. Demi masa depan yang lebih baik.
Sepulang sekolah pun, Desi tetap sibuk menyelesaikan tugas-tugas PPG nya. Desi pantang menyerah dalam mengerjakan tugas. Dia selalu semangat walau sudah lelah. Tak lupa, Desi meminum vitamin agar tidak drop.
"Mama ngapain sih, kok sibuk banget?" , tanya Bagas, putra sulung nya.
"Iya sayang. Mama lagi ngerjain tugas." , jawab Desi menjelaskan.
"O iya mama, semoga cepat selesai tugasnya ma." , jawab Bagas lagi.
"Iya makasih do'anya sayang." , jawab Desi terharu.
Tidak terasa, anak sulungnya sudah besar, sudah bisa mensupport mamanya. Padahal baru kelas 4 SD. Desi merasa bangga dengan anaknya.
Setelah anak-anak tidur, Desi masih berkutat dengan tugas-tugas nya. Dia belum selesai membuat resume dari modul yang dipelajarinya hari ini. Desi tetap semangat mengerjakan tugasnya hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
'Aku harus tidur, sudah malam.' , gumam Desi dalam hati.
Lalu, Desi pun berusaha untuk tidur meskipun sulit. Dia mencoba memejamkan matanya. Supaya besok ketika bangun badannya bisa segar kembali.
Hari demi hari Desi lalui, mengajar sambil mengerjakan tugas-tugas PPG nya. Dia begitu semangat dalam mengikuti semua kegiatan PPG nya. Dia berharap bisa lulus dengan nilai yang baik. Desi yakin dia bisa.
pulang juga desi masih mau di tiduri ma laki nya pdhl laki nya gk peduli ma mereka kerja jauh krn punya gundik. desi tau tp masih mau berarti desi yg kecintaan ma lakinya. pdhl anak anak juga dia ngurus sendiri masih hrs kerja juga.
kl aku juga ogah jd desi.
kl Aku mnding cerai toh anak juga gk di nafkahi. cerai lbih jos bhgia walau tanpa suami.