NovelToon NovelToon
Thornless Red Rose

Thornless Red Rose

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Teen / Idola sekolah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang Merah yang Tersamar

Langkah kaki Melanie terasa begitu berat saat ia berjalan menuju area kantin luar. Di bawah rindangnya pohon beringin tua yang menjadi titik kumpul favorit mereka, Diandra sudah melambaikan tangan dengan heboh di depan semangkuk bakso yang masih mengepul. Ceria dan penuh warna, itu adalah dunia yang seharusnya Melanie jalani hari ini. Namun, bisikan dingin Glen di lorong belakang tadi seolah bertindak sebagai jangkar yang menariknya masuk ke dalam dasar danau yang gelap dan pekat.

"Lama banget, Mel! Aku sampai hampir menghabiskan kerupuk pangsit ini sendirian," gerutu Diandra begitu Melanie menghempaskan tubuhnya di kursi plastik di hadapannya. Diandra mengernyitkan dahi, menatap wajah sahabatnya yang tampak agak pucat. "Kamu kenapa? Sakit? Kok mukanya seperti habis melihat hantu?"

Melanie buru-buru menyunggingkan senyum, berusaha keras mengembalikan binar ceria yang biasa menghiasi sepasang matanya.

"Ah, tidak apa-apa, Di. Cuma agak pusing saja tadi di toilet, mungkin karena pendingin ruangan di kelas Teater terlalu menusuk."

"Idih, makanya jangan terlalu totalitas kalau akting sama cowok ganteng. Efeknya sampai ke fisik, kan?" goda Diandra sembari terkekeh, menyodorkan segelas es teh manis ke hadapan Melanie. "Nih, minum dulu supaya segar."

Melanie menerima gelas itu, membiarkan rasa dingin dari es meresap ke telapak tangannya yang masih sedikit gemetar. Baru saja ia hendak menyedot minumannya, suara riuh dari meja seberang kembali menarik perhatian mereka. Thone baru saja datang bersama beberapa mahasiswa Sastra lainnya, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Glen di antara mereka.

Mata Diandra langsung berbinar mendapati kehadiran Thone. Dengan gerakan cepat, ia merapikan rambutnya dan memberi kode pada Melanie. "Mel, Kak Thone ke sini!"

Thone berjalan menghampiri meja mereka dengan senyum ramah yang menjadi ciri khasnya. "Hai, boleh bergabung? Meja di sana penuh sekali."

"Boleh banget, Kak! Duduk saja di sini, masih kosong kok," jawab Diandra dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, membuat Melanie harus menahan diri untuk tidak memutar bola matanya karena geli melihat tingkah sahabatnya itu.

Thone duduk di sebelah Diandra setelah memesan makanan. Suasana meja yang tadinya canggung perlahan mencair berkat pembawaan Thone yang supel. Di tengah obrolan mereka tentang dosen-dosen killer di Airrawan, Melanie memberanikan diri untuk membuka suara, mencoba mencari jawaban atas teka-teki yang mengganggu pikirannya sejak tadi.

"Kak Thone," panggil Melanie pelan, membuat pria berambut sedikit ikal itu menoleh ke arahnya. "Aku mau tanya... tentang Glen."

Mendengar nama Glen disebut, kunyahan Thone sempat terhenti sejenak. Ia meletakkan sendoknya, menatap Melanie dengan tatapan yang sedikit berubah, ada sedikit rasa ingin tahu sekaligus kehati-hatian di sana. "Glen? Ada apa dengannya? Apa dia membuatmu tidak nyaman di kelas praktik tadi? Anak itu kalau sudah mendalami peran memang agak berlebihan, Mel. Jangan dimasukkan ke dalam hati, ya."

Melanie menggeleng cepat. "Bukan, bukan soal aktingnya di panggung tadi. Aku cuma penasaran... apa Glen memang selalu sedingin itu kepada semua orang? Atau... apa dia pernah bercerita sesuatu tentang keluargaku?"

Pertanyaan Melanie membuat suasana di meja itu mendadak hening selama beberapa saat. Diandra menatap Melanie dengan dahi berkerut, bingung mengapa sahabatnya tiba-kira menanyakan hal yang sangat spesifik dan pribadi seperti itu.

Thone menghela napas pendek, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Glen itu... dia sudah jadi sahabatku sejak awal masuk kuliah. Tapi kalau boleh jujur, bahkan aku sendiri tidak tahu banyak tentang latar belakang keluarganya. Dia orang yang sangat tertutup, Melanie. Dia mengunci masa lalunya rapat-rapat di dalam kamar yang tidak bisa dimasuki oleh siapa pun."

Thone menjeda kalimatnya, menatap Melanie dengan intensitas yang jarang ia tunjukkan.

"Tapi setahuku, dia tidak pernah menyebut namamu atau keluargamu sebelum pertemuan kalian di perpustakaan kemarin. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"

Melanie meremas jemarinya di bawah meja. Kalimat Glen kembali terngiang: Di mana sang pangeran tidak datang untuk menyelamatkan sang putri... melainkan untuk memastikan bahwa istananya runtuh.

"Tidak apa-apa, Kak. Aku hanya merasa... tatapannya tadi terlalu nyata," bohong Melanie, memaksakan sebuah tawa kecil untuk mencairkan suasana yang sempat menegang.

Thone tersenyum maklum, meskipun ada kilat tipis keraguan di matanya. "Glen itu hanya terlalu banyak membaca dongeng tragedi, Mel. Dia sering menganggap hidup ini adalah sebuah panggung sandiwara besar di mana dia harus menjadi tokoh utamanya. Jangan terlalu dipikirkan."

Obrolan pun berlanjut ke topik lain, namun pikiran Melanie sudah terbang jauh dari kantin kampus. Ia tahu Thone tidak berbohong, yang berarti Glen sengaja menyembunyikan motif aslinya bahkan dari sahabat terdekatnya sendiri. Ada sebuah benang merah yang sengaja disamarkan oleh Glen, sebuah jaring yang rajutannya perlahan mulai melilit leher Melanie tanpa ia ketahui di mana ujungnya berada.

Sementara itu, di lantai dua gedung rektorat yang sepi, Glen berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah kantin luar. Dari ketinggian itu, sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah meja di bawah pohon beringin, tepat ke arah Melanie yang sedang berpura-pura tertawa di sela obrolannya.

Glen mengeluarkan sebuah foto usang dari saku kemeja hitamnya. Foto selembar kertas koran lama yang menampilkan berita tentang sebuah kecelakaan bisnis tragis yang menghancurkan satu keluarga, dengan nama keluarga Melanie tertulis jelas sebagai pihak yang diuntungkan di atas penderitaan orang lain.

Jemari kokoh Glen meremas sudut foto tersebut hingga berkerut. Senyuman dingin kembali terukir di wajah tampannya yang menyerupai pahatan marmer.

"Tersenyumlah selagi kamu bisa, Melanie," bisik Glen pada keheningan ruangan di sekitarnya. "Karena ketika lembaran dongeng ini mencapai bab akhirnya, senyuman itu akan menjadi hal pertama yang akan kuhapus dari wajahmu."

1
Miu.Nuha
aku khawatir glen jadi skizo 😭
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...
Miu.Nuha
melanie udh tau usut punya usut kenapa kamu dendam kali 😑😑,, udh gk usah pake naskah2 segala...
Sarifah_Aini97: udh tau kak
total 3 replies
Filan
kayaknya yang kamu butuhkan psikiater deh
Filan
sebutir kerikil pala lu! 😅
Filan
ya ampun seolah semua orang melihat adegan itu /Chuckle/
Filan
berbagi aja sih, Mel
Xlyzy
Glen si melani dia ga tau menau loh masak mau sapu rata sih
Xlyzy
sekarang udah tau kan Mel apa sebab nya
ginevra
semoga kalian baik2 aja, jangan saling menghancurkan gitulah. baikan aja baikan
ginevra
setidaknya kamu masih punya hati nurani Glen. Yah... memang serba salah sih.... aku nggak nyalahin kamu karena punya dendam mengingat apa yang terjadi sama keluarga kamu. tapi Melanie juga kasian. dia nggak tau apa2
Sarifah_Aini97: Makasih ya udah paham dilema yang dihadapi Glen, pantengin terus kelanjutannya buat tahu nasib Melanie!

🙏🙏
total 1 replies
ginevra
apaan sih Glen? lama2 lu ngeselin sumpah.
MULIANA💦
kayaknya hancur banget ya keluarga si glen. makanya dia sampai segitunya
Sarifah_Aini97: Bener banget, masa lalu keluarganya emang sekelam dan sehancur itu sampai bikin dia nekat...
total 1 replies
MULIANA💦
melani memang ikut menikmati. tapi disini yang salah bukan melani-nya dudul
Rain Aricia
Ah, sok kali kau Glen. Nanti pas mau balas dendam kau malah terpikat😌
Sarifah_Aini97: Wah, jangan-jangan tebakanmu bener nih, kita lihat aja nanti Glen bakal luluh atau enggak 😄
total 1 replies
Rain Aricia
Lah, aneh kali perkataanmu ah
Rain Aricia
Ga bisa si Glen ini berpikir lebih jauh. Dia kira 12 tahun yg lalu si Mela udah besar apa? Masa kau mau balas dendam sama org yg ga tau apa2
Rain Aricia
Iya benar Mel, makanya kamu mulai sekarang jaga jarak aja
Aquarius97 🕊️
Glen... benci sama cinta itu beda tipis lohh...
Aquarius97 🕊️
bukan sekedar hantu sih, kalau hantu masih ada yg lucu.. iblis keknya lebih tepatnya eheheh
Cimol krispy
awas saja jika mata itu berhasil membuatmu jatuh Glen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!