NovelToon NovelToon
The Reasons

The Reasons

Status: tamat
Genre:Angst / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.

Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.

Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.

Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.

Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8

Detak jarum jam dinding di dalam kamar utama berdentang pelan, memecah kesunyian malam Downtown Los Angeles yang kian larut.

Di atas ranjang berukuran besar, Lara Giger masih terbaring dalam posisi yang sama. Pikirannya baru saja mulai tenang setelah mengarungi riak-riak masa lalu yang menyakitkan.

Matanya yang sembap menatap kosong ke arah langit-langit, menikmati detak demi detik kebebasan semu yang jarang ia dapatkan.

Namun, kedamaian itu mendadak hancur berantakan.

Klik.

Suara halus dari arah pintu depan kondominium yang terbuka seketika membuat seluruh bulu kuduk Lara berdiri.

Tubuhnya menegang layaknya busur panah yang siap dilepaskan. Detak jantungnya yang semula teratur langsung berpacu liar, berdegup kencang hingga menimbulkan rasa nyeri yang familier di dalam dadanya.

Lara cukup kaget dengan kembalinya Billy. Pandangannya langsung terarah pada jam digital di atas meja nakas.

Belum juga fajar menyingsing, dan suaminya sudah kembali? Ini di luar kebiasaan. Biasanya, jika nama Catalina sudah membisikkan kata 'trauma' di telinga Billy, pria itu tidak akan menampakkan batang hidungnya hingga matahari Los Angeles meninggi keesokan harinya.

Alasan 'urusan penting yang memakan waktu lama' yang diucapkan Billy beberapa jam lalu seharusnya menjadi jaminan bahwa malam ini adalah malam miliknya sendiri. Tapi nyatanya, sang sipir penjara telah kembali ke sangkarnya lebih cepat dari perkiraan.

Langkah kaki yang berat namun teratur terdengar menggema di atas lantai marmer luar, perlahan bergerak menaiki anak tangga menuju kamar utama. Setiap derap langkah itu terdengar bagai ketukan lonceng kematian di telinga Lara.

Rasa panik mulai menyergapnya. Mengapa Billy pulang secepat ini? Apakah pria itu menemukan kebohongannya? Apakah Billy curiga dengan pembalut bernoda pewarna makanan di tempat sampah? Atau apakah badai cemburu buta kembali berkecamuk di dalam kepala pria itu?

Dalam hitungan detik, otak Lara dipaksa untuk bekerja cepat di bawah tekanan trauma yang mendalam. Ia tahu, menunjukkan wajah terkejut atau menyambut Billy dengan mata terjaga di jam sepertiga malam seperti ini hanya akan memicu interogasi yang melelahkan.

Billy yang penuh curiga akan langsung melayangkan rentetan pertanyaan: Kenapa kau belum tidur? Siapa yang kau pikirkan malam-malam begini? Apa kau sedang menunggu telepon dari pria lain?

Maka, demi menyelamatkan dirinya dari amukan fisik yang belum sepenuhnya pulih, Lara memilih jalan paling aman yang bisa ia tempuh saat ini.

Gadis itu buru-buru membalikkan badannya membelakangi sisi ranjang yang kosong. Ia menarik selimut tebal berbahan bulu angsa itu hingga menutupi batas bahunya, menyembunyikan lehernya yang memar erat-kanan di dalam kehangatan kain.

Lara memejamkan kedua matanya rapat-rapat, mengatur napasnya sedemikian rupa agar terdengar berat dan teratur—meniru persis ritme napas seseorang yang telah tenggelam ke dalam alam mimpi yang nyenyak.

Namun di balik kelopak mata yang terpejam itu, bola mata Lara bergerak gelisah. Jiwanya sepenuhnya terjaga, mempertajam indra pendengarannya untuk menangkap setiap pergerakan yang terjadi di sekitarnya. Pura-pura tidur adalah satu-satunya perisai yang tersisa bagi Lara malam ini.

Cklek.

Pintu kamar utama terbuka perlahan. Seberkas cahaya temaram dari lorong luar menyusup masuk, memotong kegelapan kamar sebelum pintu itu kembali ditutup dengan sangat pelan oleh Billy. Kamar kembali diselimuti keremangan yang mencekam.

Lara dapat merasakan kehadiran Billy yang melangkah mendekati sisi ranjang. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau angin malam jalanan Los Angeles—dan aroma asing yang samar yang Lara tahu persis milik siapa—mulai memenuhi udara di sekitar tempat tidur. Lara menahan napasnya selama beberapa detik, berdoa dalam hati agar Billy tidak menyadari kepura-puraannya.

Billy Davidson berdiri membisu di tepi ranjang, menatap siluet tubuh istrinya yang terbungkus selimut di bawah remang cahaya.

Pria itu melempar jas mahalnya ke atas kursi santai di sudut ruangan dengan asal, lalu melonggarkan dasinya dengan kasar.

Penyesalan dan pembenaran diri yang berkecamuk di dalam kepalanya selama perjalanan dari Pasadena tadi membuat wajah tampannya tampak lelah dan sedikit frustrasi.

Ia menatap Lara dengan tatapan yang sulit diartikan. Di satu sisi, ada rasa bersalah yang samar karena ia baru saja mengkhianati pernikahan mereka di atas ranjang kakak iparnya. Namun di sisi lain, keangkuhan dan ego Billy langsung menepis rasa itu. Pria itu meyakinkan dirinya sendiri bahwa kepulangannya yang cepat malam ini adalah bukti nyata dari kesetiaannya pada Lara.

Lihatlah, Lara... aku langsung kembali untukmu setelah menunaikan tanggung jawabku pada Catalina. Aku tidak membiarkan diriku terikat dengan wanita lain karena hatiku hanya untukmu, batin Billy, mencari pembenaran atas dosa besar yang baru saja ia lakukan.

Billy bergerak perlahan, melepaskan jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas meja nakas dengan ketukan kecil yang membuat jantung Lara kembali mencelos.

Pria itu kemudian duduk di tepi ranjang, membuat permukaan kasur empuk itu sedikit amblas di bawah beban tubuhnya.

Lara merasakan guncangan kecil itu. Punggungnya mendadak terasa dingin ketika ia menyadari bahwa Billy kini sedang menatap punggungnya dari jarak yang sangat dekat. Setiap saraf di tubuh Lara menegang, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk jika Billy tiba-tiba memutuskan untuk membangunkannya dengan kasar.

Namun, Billy tidak melakukan itu. Pria itu justru mengulurkan tangannya yang besar, membelai lembut pucuk kepala Lara yang menyembul dari balik selimut.

Sentuhan tangan Billy yang biasanya membawa rasa sakit malam ini terasa begitu lembut, namun bagi Lara, kelembutan itu tak ubahnya seperti seekor ular yang sedang merayap di atas kulitnya.

Rasa muak kembali bergejolak di ulu hatinya, memaksa Lara untuk menahan diri sekuat tenaga agar tidak menepis tangan tersebut.

"Honey..." bisik Billy dengan suara yang teramat lirih, hampir menyerupai helaan napas yang sarat akan kelelahan.

Pria itu mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Lara. "Maafkan aku... aku harus pergi malam-malam begini. Tapi kau tahu sendiri, Catalina adalah tanggung jawabku. Mendiang kakakku menitipkannya padaku."

Lara tidak bergerak seujung kuku pun. Ia tetap mempertahankan ritme napasnya yang teratur, berpura-pura tidak mendengar bisikan penuh kepalsuan itu. Di dalam hatinya, Lara tersenyum sinis mendengarnya.

Tanggung jawab? Sejak kapan tanggung jawab keluarga melibatkan lumatan bibir dan penyatuan panas di atas ranjang pengantin yang mati? batin Lara mencemooh kebodohan suaminya. Namun wajah pasrahnya tetap terjaga dengan baik dalam kepura-puraan tidurnya.

Billy menghela napas panjang saat tidak mendapati respons dari istrinya. Ia menarik kembali tangannya dari kepala Lara, lalu bangkit dari ranjang untuk melangkah menuju kamar mandi. Suara gemercik air pancuran shower yang menyala beberapa saat kemudian memberikan sedikit ruang bernapas bagi Lara.

Begitu pintu kamar mandi tertutup, Lara membuka matanya perlahan di dalam kegelapan. Ia mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan di dada, membiarkan paru-parunya kembali menghirup oksigen dengan lega. Rasa perih di perutnya akibat pukulan semalam masih berdenyut, ditambah lagi dengan rasa penat di kepalanya akibat sandiwara yang tak berkesudahan ini.

Dia kembali secepat ini hanya untuk memastikan aku tetap berada di bawah kendalinya, pikir Lara getir. Ia tahu betul psikologis Billy Davidson.

Pria itu tidak bisa membiarkan objek obsesinya berada di luar jangkauan pengawasannya terlalu lama. Bahkan setelah Billy bersenang-senang memuaskan hasratnya dengan Catalina, pria itu harus segera kembali untuk memastikan bahwa sangkar emas miliknya di Downtown LA tetap terkunci rapat dan tawanannya tidak melarikan diri.

Lara menatap ke arah pintu kamar mandi yang membiaskan cahaya terang dari celah bawahnya. Rasa lelah yang luar biasa kembali menjalar di sekujur tubuhnya. Bukan hanya lelah secara fisik, melainkan lelah jiwa karena harus terus hidup di dalam labirin kebohongan dan ketakutan yang menguras seluruh energinya setiap hari.

Tidak lama kemudian, suara pancuran air berhenti. Lara dengan cekatan kembali memejamkan kedua matanya, membalikkan ekspresi wajahnya menjadi sedatar mungkin, dan kembali menyelami perannya sebagai istri yang tertidur lelap.

Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Billy yang keluar dengan hanya mengenakan celana tidur abu-abu tanpa atasan. Rambutnya yang basah berantakan memberikan kesan liar yang menawan di bawah temaram lampu luar. Pria itu melangkah mendekati ranjang, menyingkap selimut di sisi yang kosong, lalu merebahkan tubuhnya di samping Lara.

Detik berikutnya, lengan kekar Billy bergerak melingkari pinggang Lara dari belakang, menarik tubuh mungil istrinya agar menempel erat pada dada bidangnya yang masih terasa hangat setelah mandi. Billy menyusupkan wajahnya di antara ceruk leher Lara, menghirup aroma familier dari rambut istrinya yang selalu berhasil menenangkan badai kecurigaan di dalam kepalanya.

Cengkeraman lengan Billy di pinggang Lara terasa begitu posesif, sebuah klaim kepemilikan mutlak yang tidak terbantahkan.

Lara yang berada di dalam dekapan itu hanya bisa membeku. Setiap jengkal kulitnya yang bersentuhan dengan kulit Billy memicu alarm penolakan di dalam batinnya, namun ia memaksa tubuhnya untuk tetap rileks dan tidak menunjukkan perlawanan.

Di dalam dekapan hangat suaminya yang sarat akan kebohongan berdarah, Lara Giger membiarkan air mata terakhirnya malam itu menetes perlahan, meresap ke dalam kain bantal tanpa suara.

Di luar jendela, malam Los Angeles terus berjalan dengan segala misterinya, sementara di dalam kamar mewah itu, dua jiwa yang saling terikat dalam ikatan suci pernikahan justru sedang memainkan peran sandiwara paling gelap dalam hidup mereka.

Dan Lara tahu, esok hari saat matahari terbit, ia harus kembali mengenakan topeng manisnya demi menyambung hidup di dalam neraka yang ia pilih sendiri.

1
Mita Paramita
jangan seneng dan bahagia dulu lara🫣 mungkin aja nanti Billy kabur dari penjara terus menculik dan memisahkan lara & dorian🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kak reader paling bisa deh🤭🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Takut banget billy kabur, trus menyakiti lara,, 😬
FoxVault
Cerita nya sangat seru kak 😁
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
Mia Camelia
kenapa kisah cinta keluarga knight selalu ber liku liku berkelok kelok meliuk liuk🤔🤔🤔
jadi gemes nih baca nya thor
Rosdianah 🌷: hihihi maaf ya kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
keluarga knight , sukses semua ya thor...
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄
Rosdianah 🌷: Lancar halu Author 🤣
total 1 replies
Mia Camelia
jangan2 billy punya 2 kepribadian kali nih🤔🤔🤔masa gampang banget berubah2 nya🤣🤣🤣haduh kasian lara😔
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
ya ampun ini kejam sekali billy😂😂😂
Rosdianah 🌷: Modal gampar🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!