Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 : SANGHYANG RASA BERAKSI
Begitu tali busur terlepas, terdengar suara desir halus membelah udara. Tidak keras, tetapi terasa tajam dan cepat, seperti bisikan angin yang marah. Anak panah melesat lurus, seolah memiliki mata dan pikiran sendiri tanpa perlu diarahkan dengan teliti. Ia melewati celah di antara ranting dan daun, menghindari dedaunan yang bergoyang, lalu menancap tepat di paha kanan Jaka Wiradipa.
“AAAAKKHH!”
Teriakannya memecah keheningan sore itu. Tubuh Jaka terguncang hebat, tangannya yang tadinya menggenggam gagang golok langsung terlepas. Goloknya jatuh berdentang ke tanah. Lutut kanannya terasa lemas, wajah memerah menahan rasa perih yang menjalar dari luka hingga ke tulang. Ia ambruk berlutut di atas tanah yang berdebu.
Darah segar menetes perlahan membasahi kain celananya, namun cukup menimbulkan rasa sakit luar biasa tanpa merusak urat, otot, atau tulang di dalamnya. Persis seperti aturan yang tertanam pada pusaka itu: melumpuhkan, bukan melenyapkan nyawa.
Semua orang terkejut.
“Dari mana itu?!”
“Panah! Ada panah!”
Para pengikut Jaka langsung bergerak mundur. Mereka mengangkat senjata ke segala arah sambil berteriak panik. Mata dan kepala berputar ke segala arah, ke atas pepohonan hingga ke semak belukar, namun tidak ada satu pun sosok yang terlihat.
Jaka mencoba cabut panah itu dengan tangan gemetar, darah kembali menetes membasahi jemarinya.
“Siapa! Siapa yang berani memanah? Keluar kau pengecut!”
Suaranya bergetar antara marah dan takut. Tidak ada jawaban yang terdengar, hanya suara gesekan dedaunan dan napas warga yang tertahan.
Belum sempat mereka mencari lebih lanjut, hal yang lebih aneh terjadi. Pada pangkal panah yang masih menancap, seikat serat pandan pengikat mulai bergetar perlahan dan makin kuat seiring berjalannya waktu. Lalu dengan tarikan halus namun pasti, panah itu terlepas, terbang melintasi udara, dan masuk ke dalam tabung kayu di pinggang Bayu seolah tidak pernah digunakan.
“Apa... apa yang terjadi? Panahnya terbang sendiri!”
Salah satu anak buah Jaka menunjuk ke arah semak dengan tangan gemetar. Jaka memegangi pahanya, wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin mengalir deras di pelipisnya. Untuk pertama kalinya ia merasakan takut, bukan pada manusia melainkan pada sesuatu yang tak bisa dilihat mata.
Saat anak panah kembali, Bayu langsung merasakan dampaknya. Tubuh yang tadinya tegap siap siaga tiba-tiba terasa lemas seolah seluruh tenaga tersedot habis dalam sekejap. Kepalanya berputar, pandangannya kabur, dan kakinya lemas tak sanggup menopang badannya.
Ia segera bersandar kuat pada batang pohon besar di sampingnya sambil mengatur napas yang terengah-engah.
“Kang Bayu!”
Karta segera menahan tubuh kakaknya agar tidak jatuh. Bayu menggeleng pelan, berusaha menenangkan diri dengan menarik napas panjang untuk mengumpulkan kembali tenaganya.
“Tenang... ini memang aturannya.” bisiknya parau.
“Satu kali mengerahkan rasa pada panah itu menguras banyak tenaga, baik batin maupun raga.”
Karta menatap wajah kakaknya yang makin pucat.
“Kau harus istirahat, jangan dipaksa.”
Bayu memejamkan mata. Ia tahu, untuk bisa menggunakan busur itu lagi, ia harus beristirahat cukup lama dan mengumpulkan kembali ketenangan hati yang sempat terguncang.
Sementara perhatian semua orang tertuju pada Jaka yang meringis, Karta mengambil kesempatan itu. Ia sudah paham apa yang harus dilakukan tanpa perlu perintah lagi. Dengan gerakan ringan, diam, dan terlatih, ia merayap di balik rimbunnya semak, menyatu dengan bayangan sambil menahan napas.
Ia mendekati sisi lain tempat rombongan berkumpul. Di sana dua orang warga yang tadi berani bicara sudah diikat tangan ke belakang dengan tali kuat, dijaga dua pengikut Jaka yang sibuk mengawasi arah depan tanpa sadar ada yang mendekat dari sisi gelap.
Jantung Karta berdetak kencang namun tangannya tetap tenang. Ia mencabut pisaunya perlahan, bilahnya terasa dingin saat disentuh jemarinya. Ia membuang jauh rasa marah dan dendam, menyisakan satu niat tulus yaitu menyelamatkan.
Begitu niatnya bersih, pisau terasa ringan seolah tak berbobot sama sekali. Dengan satu goresan halus tanpa suara, tali tebal itu terbelah rapi dan putus. Salah satu warga terkejut, namun Karta segera meletakkan jari di bibir memberi isyarat diam.
Ia menyenggol bahu mereka berdua, memberi kode menuju hutan yang paling lebat dan tersembunyi. Mata mereka berkaca-kaca namun paham maksudnya. Tanpa suara sedikit pun, mereka merayap perlahan menjauh dan menghilang di balik dedaunan sebelum ada yang menyadari mereka sudah pergi.
Setelah memastikan mereka aman, Karta kembali ke tempat persembunyian Bayu. Dadanya naik turun namun senyum tipis tersungging di bibir melihat kakaknya masih bersandar lemah di pohon. Segera ia mendekat dan menopang bahu kakaknya.
“Kau baik-baik saja, Kang?” tanyanya berbisik.
Bayu membuka mata perlahan sambil mengangguk.
“Hanya lemas... sebentar akan pulih. Tapi setidaknya mereka kini bingung dan terkejut, memberi waktu bagi warga untuk bernapas.”
Karta menggenggam tangan kakaknya erat.
“Kau hebat, Kang.”
Di depan sana suasana makin kacau. Jaka sudah dibantu berdiri namun masih terpincang-pincang, setiap langkah membuatnya meringis kesakitan. Rasa sakit itu mengingatkannya ada kekuatan tak terlihat yang terus mengawasi mereka, wibawa angkuhnya runtuh seketika.
“Kita pergi dari sini!” teriaknya, suaranya tak lagi sekeras saat datang.
“Nanti kita kembali dengan pasukan lebih banyak! Kalian semua belum bebas!”
Salah satu anak buahnya mendekat ragu.
“Ki Jaka, lukanya...”
“Diam! Ayo cepat!” bentak Jaka yang kini terlihat ketakutan.
Tanpa membuang waktu mereka segera mengangkat Jaka ke atas punggung kuda. Langkah mereka tergesa-gesa menjauh, tak ada lagi keangkuhan disaat melangkah masuk ke kampung itu. Debu beterbangan meninggalkan jejak ketakutan yang kini berbalik menyelimuti hati mereka sendiri.
Warga hanya berdiri diam tak percaya melihat apa yang baru saja terjadi.
“Siapa yang menolong kita?” bisik seorang ibu lirih.
“Kekuatan apa itu? Panah yang bisa kembali sendiri...”
“Mungkin leluhur kita belum tidur,” jawab Mbah Suryanata pelan sambil menatap arah hutan.
“Mungkin Tuhan belum meninggalkan kita.”
Tidak ada yang menjawab, namun air mata mengalir di pipi mereka—bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur yang mendalam.
Di balik pohon, tenaga Bayu perlahan kembali sedikit demi sedikit. Ia menatap Karta dengan tatapan yang makin tegas meski raga masih lelah.
“Mereka pasti akan kembali, Karta.”
Karta mengangguk mantap sambil menyelipkan kembali pisaunya ke sarung.
“Aku tahu.”
“Saat itu tiba, kita harus lebih siap. Bukan hanya dengan senjata ini,” Bayu menepuk gagang busurnya, “tapi dengan hati yang lebih kuat.”
Karta tersenyum lebar, senyum yang sudah lama tak ia tunjukkan.
“Biarkan saja mereka datang. Selama hati kita benar dan niat kita lurus, aku akan selalu ada di sampingmu, Kang.”
Bayu membalas senyum itu. Ada kehangatan baru yang menyelimuti dadanya menggantikan rasa lelah yang sempat dia rasakan. Matahari mulai condong ke barat, cahaya keemasannya menyinari tanah yang penuh puing, namun kini tak lagi sepi.
Bahaya belum hilang sepenuhnya, namun hari ini membuktikan satu hal: kekuatan yang sesungguhnya bukanlah yang mengandalkan senjata tajam atau jumlah pasukan, melainkan kekuatan yang berdiri tegak demi keadilan dan perlindungan. Dan di antara reruntuhan itu, dua pemuda berdiri—satu memegang busur, satu memegang pisau—bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk menjaga.