"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Meja Makan yang Dingin.
***
Setengah jam berlalu di dalam kamar barunya yang luas. Setelah membersihkan diri dengan air hangat yang disiapkan oleh Bi Minah, Freya kini mengenakan pakaian santai berupa kaus putih polos dan celana kain panjang yang sedikit kebesaran di tubuh mungilnya.
Rambut panjangnya yang hitam kini sudah tersisir rapi, meski matanya yang bengkak dan sembap sama sekali tidak bisa menyembunyikan duka yang teramat dalam.
Dengan langkah yang sangat pelan dan ragu-ragu, Freya memutar knop pintu kamarnya. Lorong lantai dua terasa begitu sepi.
Setiap kali kakinya melangkah di atas lantai marmer, suara detak jantungnya sendiri seolah berdegup lebih kencang karena rasa takut.
Ia berjalan menyusuri koridor panjang, berpegangan erat pada railing tangga melingkar yang megah, lalu perlahan menuruni anak tangga satu demi satu menuju lantai bawah.
Ketika sampai di anak tangga terakhir, langkah kaki Freya benar-benar terkunci. Tubuh mungilnya berdiri mematung, merapatkan dirinya pada pilar tangga.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat ruang makan keluarga Danendra yang sangat luas. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja makan panjang dari kayu jati mahal yang dipenuhi dengan belasan jenis hidangan mewah.
Di sana, Baskoro Danendra dan istrinya, Kirana, sudah duduk tenang. Dan tepat di seberang mereka, sosok Galen Danendra duduk dengan tegap.
Pria berusia dua puluh tiga tahun itu sudah mengganti kemeja basahnya dengan pakaian rumah yang santai namun tetap terkesan mahal.
Tatapannya tertuju pada ponsel pintar di tangannya, mengabaikan atmosfer di sekitarnya dengan aura dingin yang pekat.
Freya meremas ujung kausnya. Rasa asing dan terisolasi kembali merayap di dadanya.
Di rumahnya dulu, meja makan adalah tempat yang paling hangat. Ibunya akan memasak makanan kesukaannya, dan ayahnya akan mencium keningnya sebelum mereka berdoa bersama.
Kini, pemandangan di depannya terasa seperti dunia lain yang sangat menakutkan bagi anak berusia sebelas tahun.
Kirana yang menyadari kehadiran Freya langsung menoleh. Senyum tulus segera terkembang di wajah wanita paruh baya itu.
Ia bangkit dari kursinya dan berjalan cepat menghampiri Freya yang masih berdiri mematung ketakutan di ujung tangga.
"Freya sayang... kemari, Nak. Kenapa berdiri di sini saja?". Kirana mengusap lembut pundak Freya, lalu menuntunnya mendekati meja makan. "Ayo duduk di sebelah Tante. Kita makan siang sama-sama, ya? Bi Minah sudah memasakkan sup ayam yang hangat untukmu."
Freya hanya menurut dengan pasrah saat Kirana menarikkan kursi di sebelahnya.
Namun, begitu pantatnya menyentuh kursi dan ia mencium aroma makanan yang mengepul di depannya, dadanya mendadak terasa luar biasa sesak.
Ingatan tentang ibunya yang selalu menyuapinya sup ayam saat ia sedang sedih atau sakit seketika berputar di kepalanya.
Rindu yang amat besar menghantam batinnya hingga membuat tenggorokannya tercekat.
Setetes air mata kembali jatuh membasahi pipi Freya, disusul oleh suara isakan kecil yang tertahan.
"Mama... Papa..." Bisik Freya lirih. Anak kecil itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menutupi wajahnya dengan kedua tangan kecilnya yang bergetar. Tangisnya kembali pecah di atas meja makan mewah tersebut.
"Freya mau pulang... Freya kangen Mama... Kangen Papa..." Suara rengekan dan tangis pilu Freya seketika memecah keheningan ruang makan.
Mendengar suara tangisan yang begitu bising di telinganya, gerakan tangan Galen yang hendak menyendok makanan langsung terhenti di udara.
Rahang tegas pemuda itu mengeras seketika. Sepasang mata elangnya menajam, menatap ke arah Freya dengan tatapan yang sangat jengkel dan muak.
Galen meletakkan sendoknya kembali ke atas piring dengan dentingan logam yang cukup keras, memicu ketegangan instan di meja makan. Pria itu menggeram kesal dari balik tenggorokannya.
"Bisa diam tidak?". Ucap Galen, suaranya terdengar sangat berat, dingin, dan sarat akan ancaman yang menakutkan bagi seorang anak kecil. "Ini meja makan, bukan tempat untuk merengek. Kalau mau menangis, kembali ke kamarmu!".
Mendengar bentakan dingin dari Galen, tubuh Freya tersentak kaget karena ketakutan. Isakannya semakin menjadi-jadi, bercampur dengan rasa takut yang amat sangat terhadap sosok pemuda di depannya.
Ia semakin menenggelamkan wajahnya, bahunya naik-turun terguncang hebat akibat tangis yang kian brutal.
"Galen! Jaga bicaramu!". Teguran keras dan tegas langsung datang dari arah ujung meja.
Baskoro menatap putranya dengan pandangan memperingatkan yang sangat tajam. Pria paruh baya itu memancarkan otoritas seorang kepala keluarga yang tidak bisa dibantah.
"Dia baru saja kehilangan kedua orang tuanya kemarin malam. Di mana perasaanmu, Galen? Jangan bersikap keterlaluan di depan Papa!".
Kirana juga menatap Galen dengan wajah penuh kekecewaan, sementara tangannya terus bergerak memeluk tubuh Freya, mendekap kepala anak perempuan itu ke dadanya untuk memberikan perlindungan.
"Ssst... tidak apa-apa, Freya sayang. Jangan dengarkan Kak Galen, ya? Ada Tante di sini... menangislah kalau Freya sedih, tidak apa-apa..."
Mendapat teguran keras dari sang papa, Galen tidak membantah. Pria itu hanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat, rahangnya semakin mengeras hingga urat-urat di lehernya terlihat menegang.
Ia mengalihkan pandangannya dari Freya, menarik napas pendek untuk meredam kekesalan, lalu kembali mengambil sendoknya.
Dengan wajah yang luar biasa dingin dan acuh tak acuh, Galen melanjutkan makan siangnya dalam diam, mengabaikan atmosfer emosional yang terjadi di sekitarnya seolah-olah ia sedang duduk sendirian.
Baskoro menghela napas panjang, mencoba menenangkan suasana di meja makan. Ia menatap Freya dengan mata yang penuh dengan rasa kebapakan dan kasih sayang yang tulus.
"Freya, lihat Om, Nak". Ucap Baskoro dengan nada suara yang sangat lembut dan menenangkan.
Freya perlahan mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menatap sahabat karib mendiang ayahnya itu dengan pandangan yang rapuh.
"Om tahu ini sangat berat untukmu. Tapi mulai hari ini, Om dan Tante adalah orang tuamu. Rumah ini adalah rumahmu juga. Apapun yang Freya butuhkan, katakan pada Om atau Tante, ya? Jangan merasa asing di sini". Tutur Baskoro sembari memberikan senyuman terbaiknya, mencoba menyalurkan kekuatan kekuatan emosional kepada anak yatim piatu tersebut.
Namun, semua kata-kata penghibur itu tetap belum bisa menghapus rasa pedih di hati Freya. Jiwa kecilnya masih terlalu rapuh untuk menerima kenyataan sesingkat ini.
Isakan tangisnya belum juga reda, dadanya naik turun tersengal-sengal karena lelah menangis sejak pagi hari di pemakaman tadi.
Suara isakan Freya yang terus berlanjut itu rupanya benar-benar menguji batas kesabaran Galen Danendra.
Bagi Galen, suara tangisan anak kecil di dekatnya saat sedang makan adalah hal paling menjijikkan dan mengganggu fokusnya.
Makanan di piringnya yang baru termakan setengah kini terasa hambar karena suasana yang dipenuhi drama air mata.
Brak.
Galen tiba-tiba meletakkan garpu dan sendoknya dengan kasar, lalu mendorong piringnya menjauh. Gerakan kasarnya itu membuat kursi kayu yang didudukinya bergeser dan menimbulkan suara decitan tajam di atas lantai marmer.
Pria itu langsung berdiri tegak, memancarkan aura dominan yang sangat dingin dan tidak bersahabat.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tanpa meminta izin kepada kedua orang tuanya, Galen membalikkan tubuhnya dengan angkuh.
Dengan langkah kaki yang berat dan penuh kekesalan, sang CEO muda itu melangkah pergi meninggalkan area meja makan begitu saja, berjalan menuju tangga untuk kembali mengunci diri di lantai atas.
"Galen! Makan siangmu belum selesai!". Seru Kirana menoleh ke arah punggung putranya, namun Galen tetap mengabaikannya dan terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
Sepeninggal Galen, ruang makan itu kembali menyisakan kesunyian yang berat, hanya menyisakan suara isakan lirih dari Freya yang masih bersandar di pelukan hangat Kirana.
Di hari pertamanya tinggal di kediaman Danendra, Freya tidak hanya harus meratapi kepergian kedua orang tuanya dalam kepedihan yang mendalam.
Namun gadis kecil itu juga harus menyadari bahwa ada sosok pria berdarah dingin di rumah ini yang sangat membenci kehadirannya—sebuah awal dari rantai takdir kejam yang siap mengikat hidup mereka berdua di masa depan.
***