Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.
Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24: Jejak yang Disengaja, Umpan untuk Sang Pemburu
Tidak semua jebakan dipasang untuk menangkap mangsa. Ada jebakan yang sengaja dibuat agar pemburu percaya bahwa dirinya sedang berada di jalur yang benar, padahal setiap langkahnya justru menjauh dari kebenaran. Arga memahami pelajaran itu jauh sebelum dunia hancur, ketika ia melihat terlalu banyak orang mati karena mempercayai petunjuk yang memang diciptakan untuk menyesatkan.
Jakarta masih menjalani pagi yang biasa. Kendaraan memenuhi jalan, orang-orang bergegas menuju kantor, dan suara klakson bersahutan seolah dunia akan terus berjalan tanpa perubahan. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa di balik rutinitas itu, dua orang sedang menyusun langkah yang akan menentukan arah perang sebelum kiamat bahkan sempat dimulai.
Tik... tik... tik...
Jam dinding di kamar kos Arga berdetak pelan ketika ia menatap peta kota yang dipenuhi lingkaran merah dan garis-garis penghubung. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis, bukan karena ia telah menemukan jawaban, melainkan karena akhirnya ia yakin bahwa nalurinya benar. Ada seseorang yang sedang mempelajari dirinya, sama seperti selama ini ia mempelajari musuh-musuhnya.
Arga menutup laptop, lalu memasukkan beberapa kartu identitas palsu ke dalam dompet yang berbeda. Ia mengambil kunci mobil sewaan, kemudian meninggalkan kamar kos tanpa membawa perlengkapan tempur sedikit pun. Hari itu bukan waktunya berburu kristal ataupun menyusup ke markas rahasia. Hari itu adalah waktunya berburu seorang pemburu.
Klik.
Pintu kamar terkunci perlahan di belakangnya. Arga berjalan santai menuruni tangga kos sambil menyapa pemilik rumah dengan senyum ramah yang tampak begitu alami hingga tidak menyisakan sedikit pun kesan mencurigakan. Bahkan Sensor Dimensinya tetap tenang karena sengaja ia tekan seminimal mungkin agar auranya tidak memancar ke sekeliling.
Sepanjang hari ia berpindah dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Mobil pertama ditinggalkan di sebuah pusat perbelanjaan, kemudian ia memesan taksi daring menuju kawasan industri, sebelum kembali berganti dengan mobil sewaan lain yang membawanya ke pinggiran kota. Seluruh perpindahan itu tampak acak bagi siapa pun yang mengawasinya, padahal setiap rute telah dihitung dengan cermat agar membentuk pola yang terlihat penting.
Brummm...
Mesin kendaraan kembali menyala ketika Arga melanjutkan perjalanan menuju sebuah gudang tua yang telah lama kosong. Ia turun, berjalan mengelilingi bangunan selama beberapa menit, lalu pergi tanpa pernah memasuki bagian dalamnya. Dari kejauhan, tempat itu tampak seperti lokasi transaksi rahasia, padahal tidak lebih dari bangunan terlantar yang bahkan tikus pun mulai meninggalkannya.
Perjalanan berikutnya membawanya ke sebuah toko perlengkapan bangunan. Di sana ia membeli beberapa gulung kabel listrik, dua buah sekop, dan beberapa karung semen. Barang-barang tersebut memang berguna untuk pembangunan vila, tetapi jumlahnya terlalu sedikit untuk proyek sebesar itu. Justru karena itulah ia sengaja melakukannya. Siapa pun yang mengawasi akan menganggapnya sedang membangun fasilitas kecil secara diam-diam, bukan benteng yang dipersiapkan menghadapi akhir dunia.
Menjelang sore, Arga kembali mengubah arah. Kali ini ia menuju sebuah gudang penyimpanan yang disewakan untuk umum. Ia hanya berada di sana selama beberapa menit, membuka pintu salah satu unit kosong, memeriksanya seolah sedang mempertimbangkan sesuatu, lalu pergi tanpa menyewa tempat tersebut. Semua gerakan itu tampak memiliki tujuan, padahal setiap tujuan sengaja ia ciptakan agar saling bertentangan dan menyulitkan siapa pun yang mencoba merangkai polanya.
Arga memandang pantulan wajahnya di kaca mobil sebelum kembali menghidupkan mesin. "Kalau benar ada pemburu yang melacak pola," gumamnya pelan sambil memutar setir, "maka biarkan dia mempelajari pola yang kubuat."
Ratusan kilometer dari sana, seseorang benar-benar sedang mempelajari semua pola itu. Di dalam sebuah ruang operasi sementara yang dipenuhi peta digital dan layar pemantau, Raven berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Matanya terus bergerak dari satu laporan ke laporan lain, bukan mencari lokasi, melainkan mencari hubungan di antara setiap pergerakan target yang bahkan belum pernah mereka lihat wajahnya.
Salah seorang bawahan mendekat sambil menyerahkan berkas terbaru. "Subjek berpindah lima kali hari ini. Ia mengunjungi tiga lokasi industri, satu gudang kosong, dan membeli material bangunan."
Raven menerima berkas itu tanpa mengubah ekspresi. Jemarinya mengetuk meja perlahan, lalu ia membuka peta digital yang dipenuhi garis-garis merah hasil analisis tim intelijen. Semakin lama ia memandangnya, semakin jelas satu hal yang terasa mengganggu.
Tok... tok... tok...
Ujung jarinya berhenti mengetuk. Ia menghela napas pendek sebelum menutup map tersebut. Semua petunjuk terlihat terlalu sempurna, terlalu mudah ditemukan, dan terlalu seolah-olah memang ingin ditemukan sejak awal.
Raven tersenyum tipis, senyum yang nyaris tidak terlihat jika seseorang tidak memperhatikannya dengan saksama. "Dia sadar sedang diburu," katanya pelan, membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.
Seorang analis muda mengernyit bingung. "Maksud Anda semua laporan ini palsu?"
"Bukan palsu," jawab Raven sambil berjalan mendekati layar utama. "Semuanya nyata. Dia benar-benar pergi ke tempat-tempat itu. Justru karena semuanya nyata, jebakan ini menjadi jauh lebih meyakinkan."
Ia menunjuk satu titik di peta, kawasan vila di perbukitan yang beberapa hari sebelumnya sempat diamatinya melalui teropong. "Lupakan sebagian besar laporan hari ini. Simpan semuanya sebagai data sekunder. Yang ingin dia lindungi bukan gudang kosong, bukan kendaraan, dan bukan toko bangunan."
Ruangan kembali hening ketika Raven melanjutkan kalimatnya dengan suara datar. "Tetap awasi vila itu. Tidak perlu mendekat. Tempat itu akan menjadi pusat dari semua langkahnya."
Perintah segera dijalankan. Puluhan laporan baru dipindahkan ke arsip, sementara hanya satu lokasi yang tetap menyala di layar utama. Para bawahan Raven memang belum sepenuhnya memahami alasan keputusan itu, tetapi pengalaman telah mengajarkan bahwa naluri pria tersebut hampir tidak pernah meleset.
Sementara itu, Arga telah kembali ke kamar kos menjelang malam. Begitu pintu tertutup, seluruh sikap santainya menghilang. Ia mengeluarkan brankas kecil hasil rampasan Surabaya, membuka seluruh dokumen yang sebelumnya belum sempat dipelajari, lalu memenuhi meja dengan peta, foto satelit, dan daftar nama ilmuwan Project Genesis.
Lembar demi lembar kertas berpindah mengikuti urutan yang hanya dipahami olehnya. Ia mulai menghubungkan nama, tanggal perpindahan, jalur transportasi, hingga laporan logistik yang sebelumnya tampak tidak berkaitan. Semakin banyak garis yang ia tarik, semakin jelas pola yang selama ini tersembunyi di balik tumpukan data tersebut.
Gesek...
Pulpen berhenti tepat pada satu nama yang berulang kali muncul di berbagai dokumen. Profesor Adrian Mahendra, ilmuwan utama bidang stabilisasi kristal. Nama itu tidak pernah tercatat berada di laboratorium yang sama lebih dari tiga hari berturut-turut, seolah seseorang sengaja menghapus seluruh jejak keberadaannya.
Arga membuka dokumen lain dan menemukan laporan pengawalan berkode merah. Kali ini tujuan konvoi bukan menuju laboratorium ataupun markas cabang, melainkan sebuah lokasi transit militer yang bahkan tidak tercantum dalam data Sektor-9 yang pernah ia curi. Seluruh jalur konvoi ditulis menggunakan kode internal yang hanya dipahami personel tingkat tinggi.
Ia menyandarkan tubuh ke kursi sambil memejamkan mata selama beberapa saat. Dalam kehidupan sebelumnya, ia selalu mengira Organisasi Hitam memiliki satu pusat penelitian besar. Kini ia mulai memahami kenyataan yang jauh lebih rumit. Mereka tidak menyembunyikan sebuah bangunan. Mereka menyembunyikan jalur menuju bangunan itu.
"Jadi begitu caranya..." bisiknya lirih. "Omega tidak pernah muncul karena semua orang hanya mencari tujuan akhirnya."
Arga kembali membuka peta Indonesia dan mulai memberi tanda pada rute perpindahan konvoi. Jalur itu berbelok beberapa kali secara tidak masuk akal, berganti kendaraan, bahkan sempat memasuki kawasan militer sebelum keluar kembali melalui pintu yang berbeda. Seluruh rangkaian itu terlalu rumit jika hanya digunakan untuk memindahkan seorang ilmuwan.
Senyumnya kembali muncul. "Bukan gudang yang harus kuincar," katanya pelan. "Ilmuwannya."
Di tempat lain, jauh di bawah tanah, rapat tingkat tertinggi Organisasi Hitam baru saja dimulai. Layar raksasa menampilkan jalur perpindahan salah satu ilmuwan inti Project Genesis yang akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Pengamanan diperketat, rute diubah setiap beberapa jam, dan hanya segelintir orang yang mengetahui tujuan sebenarnya.
Pria bertopeng dari Bandung berdiri di sisi ruangan ketika Raven memasuki ruang rapat tanpa banyak bicara. Setelah membaca seluruh dokumen yang tersedia, ia mengangkat pandangan ke arah pimpinan operasi.
"Ghost Collector akan datang," ucapnya tenang.
"Karena ilmuwan itu?"
"Bukan karena orangnya." Raven menggeleng pelan. "Karena ilmuwan itu mengetahui jalan menuju sesuatu yang lebih besar."
Pimpinan pusat menyilangkan kedua tangannya. "Kalau begitu, apa usulmu?"
Raven memandang layar yang menampilkan rute konvoi. Tatapannya setajam bilah pisau yang baru diasah. "Jangan ubah rute. Biarkan semuanya berjalan seperti rencana."
"Kenapa?"
"Karena kali ini..." senyum tipis kembali muncul di sudut bibirnya, "...kita tidak sedang melindungi konvoi."
Ia berhenti sejenak, memberi waktu agar seluruh ruangan memahami maksud ucapannya.
"Kita sedang memancing Ghost Collector."
Malam semakin larut ketika Arga berdiri di depan jendela kamar kos. Lampu-lampu Jakarta berkelip seperti lautan bintang yang terperangkap di permukaan bumi, sementara pikirannya telah melaju jauh menuju operasi berikutnya. Ia mengepalkan tangan perlahan, menatap langit malam dengan sorot mata yang semakin tajam.
"Kalau ingin menemukan Omega..." gumamnya lirih sambil memandang hamparan cahaya kota, "...aku harus mengikuti mereka."
Pada saat yang hampir bersamaan, Raven menutup berkas terakhir di ruang rapat bawah tanah. Ia mematikan layar peta, lalu melangkah keluar dengan langkah mantap, seolah hasil permainan itu telah terlihat jelas di depan matanya. Dalam benaknya, seluruh kepingan teka-teki mulai menyatu menjadi satu gambaran yang utuh.
"Kalau ingin menemukan Ghost Collector..." katanya pelan kepada dirinya sendiri, "...cukup tunggu dia mengikuti mereka."
Tanpa saling mengetahui keputusan lawannya, dua pemburu itu akhirnya memilih mangsa yang sama. Yang satu mengejar kebenaran yang tersembunyi di balik Project Genesis, sementara yang lain memburu sosok bayangan yang selama ini selalu lolos dari genggamannya. Di suatu tempat yang belum diketahui siapa pun, sebuah konvoi rahasia mulai dipersiapkan tanpa menyadari bahwa jalan yang akan mereka lalui telah berubah menjadi papan catur bagi dua pemain paling berbahaya di negeri itu.