Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Sebastian
Sebastian yang duduk di kursi depan sesekali melirik ke kaca spion, ia melihat senyum kecil di wajah Fisya.
Namun, entah mengapa...
Senyum itu justru membuatnya merasakan kesedihan yang begitu dalam.
Sebastian mengepalkan jemarinya di atas setir dalam hati ia bergumam.
"Kamu benar-benar perempuan yang luar biasa, tidak pernah mengeluh, tidak pernah menunjukkan air mata di depan siapa pun."
"Padahal luka yang kamu simpan jauh lebih besar daripada yang bisa dibayangkan orang lain."
Tatapannya kembali mengarah ke kaca spion, wajah Fisya masih tampak tenang padahal ia tahu...
Di balik ketenangan itu tersimpan badai yang siap menghancurkan siapa saja.
Sebastian tersenyum kecil.
"Aku sudah mengenalmu selama bertahun-tahun"
"Semakin mengenalmu... Semakin dalam rasa cintaku ini padamu Fisya" Batinnya
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Kenangan beberapa tahun lalu kembali memenuhi pikirannya disaat dirinya mengutarakan perasaannya pada Fisya
** Flashback On **
"Bu Fisya... Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."
Fisya menoleh.
"Apa itu, Sebastian?"
"Saya..." Ucap Sebastian terhenti
Lalu Sebastian menarik napas panjang.
"Saya mencintai Ibu."
"Saya tahu mungkin ini terdengar lancang tapi perasaan ini tidak bisa saya sembunyikan lagi."
"Saya ingin menjaga Ibu, saya ingin menjadi tempat Ibu bersandar dan saya ingin menikah dengan bu Fisya"
Fisya hanya tersenyum lembut.
"Saya menghargai perasaanmu, Sebastian tapi sekarang bukan waktunya, saya masih istri Mas Jason dan saya juga masih memiliki urusan yang belum selesai."
"Selama Mas Jason belum menerima balasan atas semua perbuatannya, saya tidak akan memikirkan hal lain." Lanjutnya
Sebastian tersenyum pahit mendengar ucapan Fisya tetapi ia memahami perasaan yang Fisya rasakan
"Saya akan menunggu, seberapa lama pun itu, setelah semuanya selesai... Dan setelah ibu resmi berpisah dengan pak Jason..."*
"Saya akan kembali mengutarakan perasaan saya terhadap ibu, untuk selanjutnya saya berharap ibu tidak lagi menolak saya" Ucap Sebastian dengan lembut
Fisya pun tersenyum dan mengangguk
**Flashback Off**
Mobil terus melaju menuju bandara
Fisya masih diam tanpa suara dan Sebastian hanya terus melirik tidak ingin mengganggu nya
***
Sementara itu... Disebuah kafe
Jason sudah lebih dulu sampai dan menunggu Kasandra
Ia melihat jam tangannya berulang kali.
"Kenapa lama sekali?"
Tak lama kemudian... Seorang wanita dengan pakaian mahal dan riasan sempurna memasuki kafe.
Senyumnya langsung merekah ketika melihat Jason.
Kasandra melangkah anggun menuju meja yang sudah dipesan.
Tanpa menunggu dipersilakan, ia langsung duduk di depan Jason.
"Kamu pasti kangen sama aku, kan, Jason?" godanya sambil tertawa kecil.
"Makanya sampai menyuruh aku datang sepagi ini."
Jason hanya tersenyum tipis.
"Kamu selalu percaya diri."
"Karena memang benar." Kasandra mengedipkan mata.
Pelayan datang mengantarkan kopi dan meletakkan secangkir kopi di meja mereka
Setelah pelayan pergi...
Kasandra mulai membuka pembicaraan.
"Tahu tidak? Hari ini aku benar-benar dibuat emosi sama Agnes."
Jason hanya mengangkat sebelah alis.
"Memangnya kenapa lagi?"
"Anak itu pura-pura sakit." Ucap Kasandra
Lalu Kasandra mendengus kesal.
"Aku suruh membersihkan kamar, dia malah tidur, akhirnya aku beri pelajaran anak sialan itu"
Jason mengaduk kopinya tanpa ekspresi.
"Apa yang kamu lakukan?"
Kasandra tertawa kecil seolah sedang menceritakan hal yang lucu.
"Aku tampar."
"Aku jambak."
"Aku seret keluar kamar."
"Terus aku pukul pakai gagang sapu."
"Biar kapok."
Jason hanya tersenyum tipis.
"Kamu memang tidak pernah berubah."
"Kalau tidak begitu dia tidak akan menurut." Jawabnya cepat
Kasandra mengangguk puas.
"Lagipula dia memang pantas diperlakukan begitu, melihat wajahnya saja aku sudah muak."
Jason menghela napas pelan.
"Yang penting dia jangan sampai mati."
Kasandra tertawa.
"Tenang saja, aku tahu batasnya, kalau dia mati... siapa yang akan mengerjakan semua pekerjaan rumahku?"
Mereka tertawa pelan.
Sama sekali tidak menyadari bahwa pembicaraan mereka begitu mengerikan.
Beberapa saat kemudian Kasandra kembali bertanya.
"Ngomong-ngomong... Gimana kabar Tina?"
Pertanyaan itu membuat Jason sedikit terdiam.
Ia mengembuskan napas panjang.
"Sampai sekarang aku masih belum tahu dimana Fisya menyembunyikan Tina"
"Tapi..." Jason menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Aku yakin dalam waktu dekat... Kita akan bertemu dengan Tina." Lanjut Jason
Kasandra tersenyum puas.
"Bagus, aku juga ingin melihat seperti apa anak kita sekarang"
"Mungkin dia sudah menjadi gadis cantik seperti aku dan gadis yang sangat pintar"
Jason mengangguk pelan.
"Kalau Tina kembali... Seluruh harta keluarga Alexander akan jatuh ke tangan kita."
Kasandra menyeringai.
"Ya. Kita sudah menunggu momen itu selama delapan belas tahun dan sebentar lagi semua impian kita akan terwujud."
Namun... Di saat yang sama...
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di seberang kafe.
Dari balik kaca gelap...
Sepasang mata tajam memperhatikan Jason dan Kasandra yang sedang tertawa bersama.
Orang itu perlahan mengangkat sebuah kamera berteknologi tinggi.
Klik...
Klik...
Klik...
Setiap gerakan mereka terekam dengan jelas.
Tak lama kemudian...
Sebuah ponsel bergetar.
("Ya?")
Suara dari seberang terdengar tenang.
("Bagaimana?")
Pria itu tersenyum tipis.
("Mereka sudah berkumpul.")
("Dan sesuai dugaan... Mereka mulai membicarakan Tina.")
Di ujung telepon...
Sudut bibir Fisya terangkat membentuk senyum dingin.
("Bagus.")
("Terus awasi mereka jangan sampai mereka sadar karena permainan yang sebenarnya... Baru akan dimulai.")
Telepon ditutup.
Pesawat yang membawa Fisya perlahan bersiap lepas landas.
Sementara Jason dan Kasandra masih tertawa, sama sekali tidak menyadari bahwa semua gerak geriknya selalu di awasi
Setiap langkah mereka...
Setiap ucapan mereka...
Setiap kesalahan sekecil apa pun...
Sedang direkam untuk dijadikan senjata yang akan menghancurkan mereka.
Dan di tempat yang sangat jauh...
Seorang gadis cantik berusia delapan belas tahun baru saja menutup koper berwarna putih.
Ia tersenyum manis sambil memandangi foto seorang wanita yang sangat ia cintai
"Mom... Akhirnya aku akan pulang dan kita bisa selalu bersama"