NovelToon NovelToon
Aku Tidak Mandul, Mas!

Aku Tidak Mandul, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:84k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.

Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.

Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Mobil hitam mewah itu akhirnya berhenti tepat di depan gedung tinggi perusahaan Erlangga Group. Bangunan megah yang menjulang di pusat kota itu tampak sibuk sejak pagi. Karyawan berlalu-lalang memasuki lobby utama dengan pakaian formal rapi. Begitu mobil berhenti, beberapa satpam yang berjaga langsung menegakkan tubuh. Wajah mereka berubah hormat saat mengenali siapa tamu yang datang.

Emran Richard, salah satu pemegang saham terbesar perusahaan tersebut.

“Selamat siang, Tuan Emran.”

Beberapa satpam langsung membungkuk hormat bersamaan. Han turun lebih dulu lalu membuka pintu belakang dengan sigap.

Emran keluar dari mobil dengan langkah tenang dan aura dingin yang langsung menarik perhatian banyak orang di sekitar lobby luar. Setelan jas hitam mahal yang dikenakannya membuat pria itu terlihat semakin berwibawa. Tatapannya perlahan terangkat menatap gedung tinggi di hadapannya.

Sudah lima tahun dirinya tidak menginjakkan kaki di tempat itu lagi. Banyak hal yang berubah namun satu hal tetap sama, perusahaan ini masih milik keluarga Erlangga. Dan Annisa, seharusnya menjadi pewaris utamanya.

Sorot mata Emran perlahan menggelap memikirkan kondisi wanita itu sekarang. Han yang berdiri di sampingnya akhirnya membuka suara pelan,

“Tuan Darto sudah menunggu di lantai atas.”

Emran berdeham tipis. Lalu tanpa banyak bicara, pria itu melangkah memasuki lobby perusahaan. Setiap langkahnya langsung menarik perhatian para karyawan yang berpapasan.

Beberapa bahkan berbisik kagum. Karena bukan hal mudah melihat Emran Richard datang langsung ke perusahaan Erlangga. Suasana lobby Erlangga Group mulai kembali ramai menjelang jam makan siang berakhir.

Beberapa karyawan terlihat baru kembali dari luar sambil membawa kopi atau berkas pekerjaan masing-masing.

Di antara mereka, Haikal berjalan santai sambil merapikan jas kerjanya. Wajah pria itu masih terlihat puas sejak pagi tadi. Apalagi setelah urusan perceraian berhasil diselesaikan dengan cepat.

Namun, langkahnya mendadak melambat saat melihat banyak karyawan berkumpul di lobby sambil berbisik heboh.

“Siapa yang datang?” tanya Haikal penasaran.

Salah satu karyawan senior langsung menjawab dengan nada kagum,

“Itu anak angkat Tuan Darto.”

Haikal sedikit mengernyit.

Karyawan itu kembali melanjutkan pelan,

“Dulu katanya sempat dijodohkan sama anak kandung beliau.”

“Serius?”

“Iya, tapi dengar-dengar anak Tuan Darto malah nolak.”

Haikal hanya mengangguk kecil sambil ikut menoleh ke arah pintu lobby.

Tepat di saat itu, Emran Richard berjalan masuk dengan langkah tenang bersama Han. Aura pria itu langsung membuat suasana lobby berubah sunyi beberapa detik. Tatapan banyak orang mengikuti langkahnya.

Entah kenapa Haikal justru merasa tertekan saat melihat pria itu. Langkah Emran tiba-tiba berhenti. Suasana sekitar mendadak terasa dingin. Emran perlahan menoleh sedikit.vSorot matanya langsung jatuh tepat ke arah Haikal di tengah kerumunan karyawan. Tatapan itu tajam, dan penuh tekanan hingga membuat bulu kuduk Haikal berdiri seketika.

Napas pria itu bahkan terasa tercekat sesaat tanpa alasan jelas. Haikal buru-buru memasang senyum canggung sambil sedikit menundukkan kepala hormat. Namun, Emran hanya menatapnya beberapa detik tanpa ekspresi. Tatapan yang terasa seperti sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Lalu tanpa berkata apa pun, pria itu kembali berjalan menuju lift pribadi.

Pintu lift tertutup perlahan.

Dan baru setelah itu Haikal bisa mengembuskan napas panjang. Entah kenapa, tatapan dingin Emran tadi membuat dadanya tiba-tiba tidak nyaman.

Di lantai paling atas gedung Erlangga Group, suasana ruang CEO terlihat jauh lebih tenang dibanding lobby di bawah. Seorang pria tua berwibawa tengah duduk membaca beberapa dokumen penting di meja kerjanya.

Darto Erlangga, meski usianya hampir menginjak enam puluh tahun, aura tegas dan karismanya masih sangat kuat.

Pintu ruang kerja diketuk pelan sebelum akhirnya Satrio masuk dengan wajah hormat.

“Tuan.”

Darto mengangkat kepala sedikit.

“Tuan Emran sudah tiba di perusahaan.”

Wajah pria tua itu langsung berubah senang.

“Benarkah?”

Satrio mengangguk.

“Beliau baru saja masuk beberapa menit lalu.”

Darto langsung menutup dokumen di tangannya dan berdiri dari kursi kerjanya. Raut wajahnya yang semula serius kini terlihat jauh lebih hidup.

“Cepat siapkan jamuan sambutan.”

“Baik, Tuan.”

“Pastikan semuanya yang terbaik.”

Satrio sedikit tersenyum kecil melihat reaksi atasannya. Karena memang sudah lama sekali Darto tidak terlihat sesenang ini hanya karena kedatangan seseorang. Apalagi setelah pertemuan mereka mendadak dibatalkan kemarin malam. Darto sempat kecewa karena mengira Emran terlalu sibuk hingga tidak jadi datang.

Padahal pria tua itu benar-benar ingin bertemu anak angkatnya tersebut.

“Dasar anak itu...” gumam Darto pelan sambil tersenyum tipis. “Datang mendadak seperti biasa.”

Meski hanya anak angkat, bagi Darto, Emran sudah seperti putranya sendiri. Pria yang ia besarkan dari nol, pria yang selalu ia banggakan. Pria yang dulu paling ia harapkan bisa menjaga Annisa.

Ketukan pintu terdengar dari luar ruang CEO. Darto Erlangga yang sejak tadi berdiri di dekat meja kerjanya langsung berkata,

“Masuk,”

Pintu terbuka perlahan.

Han masuk lebih dulu sambil sedikit membungkuk hormat. Di belakangnya, Emran Richard berjalan masuk dengan langkah tenang dan aura dingin khasnya.

Wajah Darto langsung berubah cerah.

“Hahaha!”

Pria tua itu bahkan langsung berdiri dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

“Anak sombong akhirnya datang juga!”

Untuk pertama kalinya sejak pagi, ekspresi Emran sedikit melunak. Pria itu berjalan mendekat lalu menerima pelukan singkat dari Darto dengan hormat.

Sudah lima tahun mereka tidak bertemu langsung seperti ini. Kesibukan bisnis membuat keduanya lebih sering berkomunikasi lewat telepon atau perwakilan perusahaan. Darto menepuk bahu Emran beberapa kali sebelum mundur dan menatap pria itu dari atas sampai bawah.

“Kamu makin dingin sekarang.”

Emran tersenyum tipis samar. “Dan Anda makin cerewet.”

“Hah! Berani sekali bicara begitu pada orang tua.”

Suasana ruangan mendadak terasa hangat. Satrio bahkan ikut tersenyum kecil melihat kedekatan keduanya. Darto lalu duduk kembali sambil menggeleng pelan.

“Aku sempat berpikir...” pria tua itu menatap Emran penuh arti, “kamu bakal melupakanku gara-gara Annisa menolakmu dulu.”

Suasana sempat hening sesaat. Nama Annisa membuat sorot mata Emran berubah samar.

Pria itu tetap terlihat tenang. “Itu masa lalu.” Jawabannya singkat dan datar.

Darto menatap Emran beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Iya.” Pria tua itu tersenyum tipis penuh penyesalan. “Itu masa lalu.”

Meski berkata begitu, tatapan Darto sempat terlihat redup sesaat. Karena jauh di dalam hatinya, dia masih menyesal kehilangan kesempatan menjadikan Emran bagian dari keluarganya.

Suasana ruang kerja kembali tenang setelah obrolan ringan mereka selesai. Satrio dan Han berdiri diam di sisi ruangan, sementara Darto Erlangga menuangkan teh hangat ke dalam cangkir di hadapannya.

Namun, beberapa detik kemudian, Emran Richard tiba-tiba membuka suara dengan nada datar.

“Aku melihat Haikal di bawah.”

Kalimat itu langsung membuat gerakan tangan Darto sedikit terhenti. Emran menyebut nama itu tanpa basa-basi sedikit pun, seolah memang tidak ingin menunda pembicaraan lain.

Darto akhirnya tertawa kecil canggung sambil meletakkan teko tehnya.

“Iya...” jawab pria tua itu pelan. “Dia baru naik jabatan jadi manajer.”

Namun, bukannya senang, tatapan Emran justru perlahan menggelap. Rahangnya mengeras samar. Di dalam kepalanya, berbagai potongan kondisi Annisa tadi pagi kembali muncul begitu saja.

Emran Richard tetap duduk tenang di hadapan Darto. Pria itu hidup nyaman di perusahaan ini.

Emran mengepalkan tangannya pelan di bawah meja.

'Dasar pria tidak tahu diri. Semua yang Haikal nikmati sekarang bahkan berasal dari Annisa.

Posisi yang ia banggakan itu juga bukan murni karena kemampuannya sendiri. Namun, pria itu justru memperlakukan Annisa seperti sampah.' Tatapan Emran perlahan berubah dingin, semakin ingin menghancurkan pria itu.

"Satrio..." seru Emran, pria itu mendekat.

"Panggil, Haikal kemarin," lanjut Emran dengah wajah dinginnya.

1
Ass Yfa
puas bngt....hhh aku...liat mereka hancur tak bersisa...yg paling berat sanksi sosial...bisa2 jadi gila
Ass Yfa
modar ra kowe...😒
Ass Yfa
heh..Haikal bidoh apa oon ..nempermalukan diri sendiri
Ratih Tupperware Denpasar
haikal ini juga aneh wkt ibunya menghina anisa dia malqh mendukung ibunya bahkan menerima dr gadungan itu.. skr baru nyalahin ibunya. kalo kamu cinta beneran sama anisa harusnya bela thu istrimu bukan malak mengikuti permainan ibumi dan menalak anisa....dasar kamunya aja yg plinplan
Sri Widiyarti
puas banget bacanya....
Sri Widiyarti
makasih banyak kak up-nya 🥰
Les Tary
lasmi gaya gayaan...kyk dia sendiri kaya sampai merendahkan annisa
iqha_24
penyesalan datang belakangan yaa kan Haikal wkwkwk
爾妮
lanjutkan tor🤣🤣
dyah EkaPratiwi
rasakan Haikal nyesel kan
Dew666
💄💄💄
mariammarife
yo ngga bisa lngsng nikah hrs menunggu masa Iddah nya Annisa beres dulu pak Darto
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kalo sudah tiada baru terasa
bahwa kehadirannya sungguh berharga
Mutaharotin Rotin
rasain kalian bertiga kena karma nya 😂😂
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut thor 🥰🥰🥰
mariammarife
mas Emran jgn terburu² ngajak Annisa nikah harus nya nunggu masa Iddah nya selesai
Les Tary
emeli minta tolong annisa bilang jgn hancurkan hidupku...ga salah ngomong itu org
Teh Euis Tea
rasain kalian jd gembel, puaslah
Oma Gavin
akhirnya mereka bertiga jadi gembel kere gelandangan
Abisatya
lanjut kk🙏💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!