Langit malam menggantung pekat ketika langkah Viona tersandung di gang sempit napasnya memburu, jantungnya nyaris pecah saat suara tawa kasar para pria di belakangnya semakin dekat.
“Jangan lari, manis...kami cuma ingin bersenang-senang bersamamu...”
Air mata Viona jatuh tanpa suara hingga tiba-tiba, langkah lain memecah malam.
Satu sosok berdiri di hadapannya.
Bryan.
Tatapannya dingin, tajam, tak tersentuh. Dalam hitungan detik, teriakan berubah menjadi pekikan. Baku hantam tak terhindarkan, cepat, dan tanpa ampun.
Sunyi kembali turun saat para pria itu terkapar.
Dengan tubuh gemetar, Viona mendekat.
“Te-terima kasih...”
Namun Bryan bahkan tak menoleh lama padanya.
“Gak usah berlebihan,” ucapnya datar.
“Lekas pulang. Area ini bukan untuk gadis kecil sepertimu.”
Dingin. Jauh dari kata ramah. Tetapi sejak malam itu takdir mereka telah saling terikat satu sama lain. Mereka kerap tak sengaja bertemu di tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Roy Sesungguhnya?
Suasana cafe mulai kembali ramai. Namun di sudut ruangan udara terasa berbeda, lebih terasa tegang dan sedikit lebih berat.
Pak Hadi Pratama berdiri tegak di hadapan Roy, tatapannya tajam, seolah tak ingin melewatkan satu pun reaksi dari putranya.
“Lo masih sama,” ucapnya pelan.
Roy menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Masih sama gimana, Pa?”
Pak Hadi menghela napas.
“Mainin perempuan...”
Roy terkekeh kecil.
“Hahaha...Bahasanya kasar banget...”
“Karena itu kenyataannya...”
Sunyi, beberapa detik berlalu. Pak Hadi melanjutkan, nada bicaranya lebih dalam.
"Berapa banyak perempuan yang udah lo dekati bahkan lo ajak tidur terus lo tinggal?”
Roy tidak langsung menjawab, tatapannya beralih ke arah Viona yang sedang sibuk di counter.
“Banyak,” jawabnya akhirnya.
“Dan lo bangga?”
Roy menggeleng pelan.
“Nggak juga...”
Pak Hadi melangkah sedikit mendekat.
“Dengerin gue baik-baik.” Nada suaranya terdengar tegas.
“Gue nggak mau lo ulang kebiasaan itu di sini. Apalagi sama dia...”
Roy menatap ayahnya.
“Kenapa? Karena dia karyawan?”
“Karena dia perempuan yang kelihatan berbeda, nggak seperti yang lain. Dan dia gadis yang baik...”
Kalimat itu membuat Roy sedikit terdiam. Pak Hadi melanjutkan.
“Dia bukan tipe yang bisa lo permainin terus lo tinggal begitu aja...”
Roy menyipitkan mata.
“Aelah...Pa…lo bahkan baru lihat dia sebentar...”
“Pengalaman,” jawab Pak Hadi singkat.
Hening sejenak. Lalu Roy tersenyum tipis.
“Tenang aja. Gue nggak segitu parahnya...”
Pak Hadi tertawa kecil. Tawa yang tidak mengandung humor.
“Lo itu Casanova, Roy...”
Kalimat itu diucapkan tanpa ragu.
“Dan itu bukan pujian...”
Roy menghela napas.
“Gue cuma…menikmati hidup gue aja Pa, apa salah...”
“Dengan cara nyakitin orang lain?”
Roy terdiam untuk pertama kalinya, ia tidak langsung membalas. Beberapa detik kemudian, Pak Hadi kembali berbicara kali ini lebih pelan.
“Tapi ada satu hal yang bikin gue lebih khawatir.”
Roy menatapnya.
“Apa?”
Pak Hadi menatap lurus ke matanya.
“Lo masih punya kebiasaan lama...”
“Yang mana?”
“Bersaing sama anak muda itu...”
Tatapan Roy langsung berubah lebih tajam.
“Bryan?”
Nama itu menggantung di udara, terasa berat dan sesak untuk diucapkan. Pak Hadi memperhatikan reaksi anaknya.
“Sejak dulu…apa yang dia punya, lo harus punya juga.”
Roy tersenyum miring.
“Persaingan itu wajar pa...”
“Ini bukan sekadar persaingan...” Nada suara Pak Hadi meninggi sedikit.
“Itu semua obsesi...”
Roy berdiri perlahan.
“Gue cuma nggak suka kalah dari dia aja pah..”
Pak Hadi menatapnya dalam.
“Dan kalau suatu saat…dia punya sesuatu yang lo nggak punya?”
Roy terdiam sejenak. Lalu menjawab pelan
“Gue bakal dapetin itu, gimana pun caranya...”
Kalimat itu terasa dingin dan penuh kepastian. Pak Hadi menyipitkan mata.
“Termasuk…orang?”
Roy tidak langsung menjawab, tatapannya kembali ke arah Viona yang sedang tertawa kecil bersama pelanggan, tanpa beban tanpa tahu apapun mengenai Pak Hadi dan Roy.
“Dia bukan milik siapa-siapa,” ucap Roy akhirnya.
“Belum.”
Pak Hadi menghela napas panjang.
“Itu yang gue takutkan...”
Roy menoleh.
“Maksudnya?”
“Lo jangan jadikan dia…bagian dari permainan lo...”
Sunyi beberapa detik terasa lama. Roy memasukkan tangannya ke saku.
“Kalau ini bukan permainan?”
Pak Hadi menatapnya tajam.
“Kalau ini serius?”
Roy tersenyum tipis namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
“Gue sendiri belum tahu...”
Di balik counter Viona masih bekerja seperti biasa. Tak menyadari bahwa dirinya mulai berada di tengah sesuatu yang jauh lebih besar.
Bukan hanya perhatian namun juga mungkin nantinya adalah sebuah persaingan antara dua pria muda yang saling bersaing yang sama-sama tidak pernah terbiasa kalah.
...****************...
Berbeda dengan hangatnya suasana cafe. Di tempat lain udara terasa lebih dingin dan mencekam. Sebuah ruangan eksklusif di lantai atas gedung mewah menjadi saksi pertemuan para pria berjas rapi dengan tangan yang tak selalu bersih.
Di tengah meja panjang, Bryan duduk dengan tenang, tatapannya datar namun auranya mendominasi.
Di sisi kanan kirinya, beberapa pria dari berbagai negara saling bertukar pandang. Tak ada senyuman ramah yang ada hanya kalkulasi dan kekuasaan.
“Jadi,” ujar salah satu pria asing dengan aksen kental.
“Kita lanjutkan kerja sama distribusi seperti yang sudah disepakati sebelumnya?”
Hening sejenak semua mata beralih ke Bryan.
Namun sebelum ia berbicara Arlian, yang berdiri di belakangnya, sedikit menunduk.
“Data yang mereka kirim sudah kami verifikasi, Tuan...”
Bryan mengangguk keci lalu ia bersandar santai kembali di kursinya.
“Angkanya bagus,” ucapnya dingin.
“Cuma ada satu masalah...”
Salah satu pria mengernyit.
“Apa itu?”
Bryan menatap lurus ke arahnya.
“Tingkat kebocoran di jalur kalian…terlalu tinggi...”
Suasana langsung berubah tegang.
“Kami bisa memperbaikinya,” balas pria itu cepat.
Bryan tersenyum tipis. Senyum tanpa kehangatan.
“Bukan bisa.”
Ia sedikit condong ke depan.
“Harus...”
Sunyi tak ada yang berani menyela. Pria lain mencoba mencairkan suasana.
“Kita semua di sini untuk saling menguntungkan...”
Bryan menoleh pelan.
“Kalau saling menguntungkan…nggak akan ada kebocoran...” Nada suaranya tetap datar. Namun menekan.
Arlian kembali berbicara pelan di belakangnya.
“Kami juga menerima laporan adanya pihak ketiga yang mencoba masuk ke jalur distribusi kita...”
Bryan menyipitkan mata.
“Siapa?”
Arlian menjawab singkat.
“Belum terkonfirmasi. Tapi…polanya mirip dengan kelompok lama...”
Bryan terdiam sejenak. Lalu tersenyum tipis.
“Menarik...”
Salah satu pria bertanya dengan hati-hati.
“Apakah itu ancaman besar?”
Bryan berdiri perlahan, semua langsung ikut tegang padahal ia hanya sekedar merapikan jasnya.
“Ancaman itu bukan dari seberapa besar mereka.”
Langkahnya pelan mengitari meja.
“Tapi dari seberapa berani mereka…masuk ke wilayah gue...”
Sunyi kembali tak ada yang berani bersuara.
Bryan berhenti tatapannya menajam kembali bagaikan mata elang.
“Dan gue nggak suka…wilayah gue disentuh tangan-tangan kotor...”
Kalimat itu terasa dingin dan mutlak. Arlian menunduk sedikit.
“Perlu kami tindak lanjuti malam ini, Tuan?”
Bryan berpikir sejenak. Lalu menjawab, “Pantau dulu.”
Ia kembali duduk.
“Kalau mereka cuma lewat…biarin.”
Tatapannya berubah lebih menggelap.
“Tapi kalau mereka berniat ambil alih,”
“Habisi...”
Suasana kembali sunyi. Tak ada yang berani membantah, tak ada yang berani menolak. Namun, di balik semua itu, pikiran Bryan sempat terlintas pada satu hal yang tidak ada hubungannya dengan bisnis. Sangat singkat seorang gadis dengan mata dipenuhi rasa ketakutan dan suara gemetar.
“Te-terima kasih...”
Bryan menghela napas kecil. Hampir tak terlihat Arlian memperhatikannya.
“Tuan?”
Bryan kembali dingin.
“Kita lanjut.”
Di dunia Bryan tak ada ruang untuk kelemahan, tak ada tempat untuk perasaan. Namun entah kenapa, malam itu, ada sesuatu yang sedikit mengusik pikirannya. Sesuatu yang seharusnya tidak penting namun sulit untuk diabaikan oleh perasaan hatinya.
...****************...
Malam kembali turun namun tidak semua orang menikmati ketenangannya. Di gang sempit yang gelap, seorang pria berlari terseok-seok. Nafasnya berat, keringat membasahi wajahnya.
“Hah…hah…sial…!”
Dia adalah Haris, ayah Viona. Ia terus berlari tanpa arah pasti, sesekali menoleh ke belakang dengan panik. Suara langkah kaki masih terdengar, mengejar dan tak memberi ampun.
“Cepat! Dia ke sana!”
“Jangan sampai lolos!”
Haris mengumpat kasar.
“Brengsek…mereka pikir gue gampang ditangkap?!”
Ia berbelok tajam ke sebuah lorong sempit. Lalu bersembunyi di balik tumpukan kardus tua. Tangannya gemetar namun matanya masih penuh ambisi kotor. Beberapa detik berlalu, suara langkah itu semakin dekat.
Haris menahan nafas hingga, langkah-langkah itu akhirnya menjauh. Terasa sunyi namun bukan berarti aman. Haris keluar perlahan dari persembunyiannya, ia menyeka wajahnya kasar.
“Sial…gara-gara bocah itu…”Rahangnya mengeras.
Tatapannya berubah menggelap.
“Viona!! Awas lo!!”
Nama itu keluar dari mulutnya seperti racun.
“Lo pikir bisa kabur dari gue?”
Ia tertawa pelan, tawa yang membuat bulu kuduk meremang.
“Ke mana pun lo lari…gue bakal nemuin lo.”
Ia berjalan pelan, langkahnya masih goyah namun niatnya tidak. Bayangan masa lalu kembali terlintas seorang gadis menangis.
memohon dan menolak.
...*****FLASHBACK ON*****...
“Pa…jangan…aku mohon…”
Namun Haris saat itu, tak peduli.
“Lo bakal bantu keluarga kita ngasilin duit!” Suara bentakan itu masih jelas.
Dan gadis itu, tak lain adalah Alvania yang malang, kakak perempuan Viona yang tiga tahun lalu dijatuhkan ke lembah hitam tanpa ada jalan tuk kembali. Haris tertawa lagi.
...*****FLASHBACK OFF*****...
“Yang satu udah…sekarang tinggal lo, Viona. Tapi si bocah sialan Harsh entah minggat kemana dia!”
Tatapannya liar, dipenuhi dengan obsesi.
“Gue nggak peduli lo sembunyi di mana…” Ia mengepalkan tangan.
“Gue bakal seret lo balik.”
Tiba-tiba, suara langkah kembali terdengar lebih dekat.
“Dia pasti masih di sekitar sini!”
“Cari sampai ketemu!”
Haris langsung panik.
“Brengsek…!”
Ia kembali berlari namun kali ini. Dengan dua tujuan melarikan diri dan memburu seseorang.
Di malam yang sama tanpa Viona sadari, bahaya belum berakhir. Ia mungkin berhasil kabur dari satu neraka namun, neraka itu, masih mengejarnya.
BERSAMBUNG.
Visual Roy Arya Pratama.
Visual Bryan Anggara.