"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."
"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"
....
Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 #Ciuman Gratis
Sentuhan mendadak itu mengirimkan sengatan listrik yang asing sekaligus panas ke seluruh saraf Bara Fernandez. Bibir Anya yang lembut, hangat, dan beraroma manis buah ceri menempel sempurna di atas bibirnya yang kaku. Bara menegang di tempatnya, matanya sempat melebar sekejap karena terkejut. Sepanjang hidupnya memegang kendali penting di perusahaan raksasa Fernandez Corp, tidak pernah ada satu pun wanita seberani atau senekat apa pun mereka yang berani menyentuhnya tanpa izin. Apalagi menerjang masuk ke ruang pribadinya, melompati batas kewajaran, lalu naik ke pangkuannya dan membungkamnya seperti ini.
Awalnya, ego dan harga diri Bara memberontak. Tangan kokohnya bergerak naik, berniat mencengkeram bahu wanita ini dan mendorong tubuh rampingnya hingga terjatuh ke lantai tanpa ampun. Namun, cengkeraman tangan Anya di belakang lehernya terasa begitu erat dan bergetar, seolah gadis itu sedang mempertaruhkan seluruh hidupnya pada ciuman ini. Bersamaan dengan itu, mata elang Bara menangkap sebuah pergerakan di balik kaca buram pintu VIP-nya melalui sudut matanya. Dua siluet pria berjas tegap tampak berhenti tepat di depan pintu, mencoba mengintip ke dalam ruangan yang remang-remang.
Bara yang cerdas langsung paham dalam satu detik. Wanita di pangkuannya ini tidak sedang menjalankan trik murahan untuk menggodanya, dia memang sedang melarikan diri dan menjadikannya sebagai tameng hidup.
Anya, yang jantungnya berpacu gila-gilaan antara ketakutan setengah mati tertangkap oleh pengawal papanya dan keberanian nekat yang meluap-luap, mulai memperdalam kecupannya. Dia menggerakkan bibirnya dengan sedikit canggung namun intens, berusaha menciptakan ilusi visual yang sempurna bagi siapa pun yang melihat mereka dari luar, sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara di dalam klab malam. Kulit putih mulusnya yang tanpa noda tampak begitu kontras saat bergesekan dengan kemeja putih Bara, menciptakan pemandangan yang luar biasa sensual di bawah temaram lampu ruangan.
Bara yang awalnya pasif, perlahan merasakan ada sesuatu yang tersulut di dalam dirinya. Aroma parfum yang manis dan memabukkan dari tubuh Anya yang bergerak di pangkuannya mulai mengacaukan fokusnya. Sifat alpha dan dominannya yang biasanya selalu terkontrol mendadak terusik oleh kelancangan gadis ini. Alih-alih mendorongnya menjauh, tangan kokoh Bara yang bebas justru bergerak lambat, hinggap di pinggang ramping Anya yang terbalut gaun satin hitam, menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh sekaligus mengunci posisinya agar semakin merapat pada dekapannya. Sentuhan tangan Bara yang panas di pinggangnya membuat Anya terkesiap kecil di tengah ciuman mereka, memberikan celah bagi Bara untuk membalas kecupan itu dengan tekanan yang menuntut, mengambil alih kendali permainan yang dimulai oleh Anya.
Di luar pintu, kedua pengawal Tito Sanjaya akhirnya mengalihkan pandangan mereka. Merasa tidak sopan jika harus mengganggu privasi salah satu petinggi atau tamu kelas atas yang sedang asyik dengan wanitanya, kedua pria tegap itu akhirnya melangkah pergi memutar, menjauh dari koridor VIP tersebut.
Begitu menyadari bayangan di balik pintu sudah benar-benar menghilang, Anya langsung memutus pautan bibir mereka secara sepihak. Dia terengah-engah, dadanya yang terbalut gaun hitam ketat naik turun dengan cepat demi meraup pasokan oksigen yang sempat menipis. Wajahnya yang putih mulus kini merona merah padam, campuran antara efek ciuman panas tadi dan kesadaran murni atas kenekatannya yang di luar nalar.
Anya segera bergerak, hendak turun dari pangkuan kokoh Bara dengan gerakan tangkas. Namun, sebelum kedua kakinya yang ditopang heels 9 sentimeter itu menyentuh lantai sepenuhnya, pergelangan tangannya dicekal dengan sangat kuat oleh jemari Bara. Cengkeraman itu tidak menyakitkan, namun begitu mengikat dan mustahil untuk dilepaskan.
Bara Fernandez tetap duduk tenang di sofanya, bersandar dengan angkuh sembari mengusap sudut bibirnya yang basah menggunakan ibu jari tangan yang lain. Mata tajamnya menatap Anya dengan kilat intens yang mengintimidasi. Aura kemapanan dan kekuasaannya kembali menyelimuti ruangan, membuat atmosfer di sekitar mereka terasa begitu berat dan pekat.
"Lepaskan," desis Anya, berusaha menarik tangannya, namun Bara justru menariknya sedikit lebih dekat hingga jarak wajah mereka kembali mengikis.
Bara mendengus sinis. Suaranya kini terdengar lebih rendah, serak, dan berbahaya di dalam keheningan ruang VIP. "Setelah apa yang kamu lakukan, kamu pikir bisa pergi begitu saja dari sini?"
Bara menatap wanita di hadapannya dengan tatapan menilai yang dingin. Di matanya, Anya adalah perpaduan antara kecantikan yang mematikan dan kelancangan yang tak termaafkan. Gaun hitam ketat yang membungkus lekuk tubuh indahnya menunjukkan bahwa wanita ini tahu betul bagaimana cara menarik perhatian pria. Bara sudah terlalu sering menghadapi wanita yang rela melakukan apa saja demi mendekatinya, demi uang, atau demi posisi di lingkaran keluarga Fernandez.
"Katakan padaku," lanjut Bara, nadanya meremehkan namun penuh penekanan yang menusuk. "Apa maumu? Uang? Atau apa? Berapa nominal yang kamu butuhkan sampai kamu harus menjual drama murahan seperti ini dan menggunakan caramu yang... tidak sopan ini untuk menjebakku?"
Mendengar tuduhan itu, ego Anya seketika tersengat. Rasa takutnya pada pengawal sang papa mendadak menguap, digantikan oleh rasa tersinggung yang luar biasa. Dia adalah Zevanya Anneliza Sanjaya, putri kesayangan dari seorang Tito Sanjaya. Dia tidak kekurangan uang sepeser pun dalam hidupnya. Satu-satunya hal yang dia cari malam ini adalah kebebasan dari penatnya revisi skripsi manajemen bisnis, bukan pria kaya arogan yang menuduhnya sebagai wanita murahan.
Anya menyentakkan tangannya dengan kuat, dan kali ini Bara melepaskannya, membiarkan gadis itu melangkah mundur sejauh satu meter untuk merapikan gaun sutra satinnya yang sedikit berkerut. Anya juga membenahi rambut cokelat bergelombangnya yang agak berantakan dengan gerakan anggun yang terkesan menantang.
"Uang?" Anya tertawa renyah, sebuah tawa sinis yang terdengar meremehkan tuduhan Bara. Dia menatap lurus ke dalam sepasang mata elang milik pria itu tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Simpan saja uangmu untuk menyewa ruangan ini setahun penuh, Tuan Arogan. Aku tidak butuh apa-apa darimu. Tidak uangmu, tidak juga opinimu."
Bara menaikkan satu alisnya, sedikit terkejut dengan reaksi defensif dan penuh harga diri dari gadis di depannya. Biasanya, wanita yang dituduh seperti itu akan menangis, berpura-pura terhina, atau justru semakin agresif mengeluarkan rayuan. Tapi gadis ini justru menatapnya seolah Bara adalah pihak yang tidak punya harga diri.
Melihat keadaan di luar pintu sudah aman, Anya memutar tubuhnya, bersiap melangkah menuju pintu keluar. Dia ingin segera pergi dari tempat terkutuk ini, kembali mencari Alena dan Bella di parkiran, dan melupakan fakta bahwa dia baru saja menyerahkan ciuman pertamanya kepada pria asing yang menyebalkan.
Namun, sebelum jemari lentik Anya sempat menyentuh knop pintu berukir emas tersebut, suara bariton Bara kembali menginterupsi langkahnya. Suara itu begitu dominan, menggema di dalam ruangan, membuat gerak tubuh Anya otomatis membeku di tempat.
"Aku belum mengizinkanmu pergi," kata Bara dingin. Dia bangkit berdiri dari sofa kulit hitamnya.
Gerakan Bara yang perlahan namun pasti membuat Anya menoleh. Pria itu berdiri dengan tegap, menampilkan postur tubuhnya yang tinggi dan proporsional di balik kemeja putihnya yang setengah terbuka. Tanpa jambang di wajahnya, penampilan Bara terlihat sangat bersih, tajam, dan penuh wibawa seorang pria matang berumur 35 tahun yang memegang kendali atas hidup banyak orang.
Bara melangkah mendekati Anya, memangkas jarak di antara mereka hingga Anya bisa merasakan kembali aura intimidasi yang kuat dari pria itu. "Kamu masuk ke sini tanpa izin, menggunakanku sebagai tameng dari kejaran seseorang, dan merusak ketenanganku malam ini. Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."
Anya mengerjapkan matanya yang indah, merasa bahwa apa yang didengarnya baru saja adalah sebuah lelucon terbesar abad ini. Bertanggung jawab? Kepada seorang pria dewasa yang bertubuh kekar seperti dia? Hanya karena sebuah ciuman darurat?
Anya membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Bara. Di atas heels 9 sentimeter-nya, dia mendongak untuk menantang tatapan mata pria itu. Alih-alih merasa terintimidasi oleh kata 'tanggung jawab' yang diucapkan Bara, seulas senyum penuh kemenangan dan kepedean yang mutlak justru terukir di bibir ranumnya yang masih sedikit basah. Sisi pemberontak Anya keluar sepenuhnya malam ini.
Anya melipat kedua tangannya di depan dada, mempertegas lekuk tubuh indahnya yang menawan di bawah sorot lampu temaram. Dia menatap Bara dengan tatapan meremehkan yang justru terlihat sangat seksi.
"Tanggung jawab?" tanya Anya dengan nada mengejek, suaranya terdengar jernih dan penuh percaya diri. "Tanggung jawab apa yang kamu maksud, Tuan? Seharusnya kamu senang dan bersyukur bisa mendapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini."
Bara tertegun sesaat, tidak menyangka akan mendengar jawaban seberani itu dari seorang gadis yang baru saja menerobos ruangannya.
Anya memundurkan langkahnya satu kali, tangannya kini beralih memegang knop pintu di belakang punggungnya. Dia memberikan kerlingan mata yang penuh kemenangan kepada Bara, seolah menegaskan bahwa dialah yang memegang kendali atas pelariannya malam ini.
"Urusan kita sudah selesai di sini. Bye!" ucap Anya tegas.
Dengan gerakan cepat yang tidak memberikan kesempatan bagi Bara untuk mengejarnya, Anya membuka pintu VIP tersebut, menyelinap keluar ke koridor yang kini sudah aman, dan langsung menutup pintu itu kembali hingga terdengar bunyi klik yang solid. Langkah kaki jenjangnya membawa Anya berlari kecil menuruni tangga, menghilang di antara kerumunan klab malam Heaven, meninggalkan Bara Fernandez yang masih terpaku sendirian di dalam ruangan yang sunyi.
Bara menatap pintu yang baru saja tertutup itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Keheningan kembali merayap di dalam ruang VIP, namun atmosfernya telah berubah total. Sisa aroma parfum yang manis dari tubuh gadis itu masih tertinggal samar di udara, meracuni pikirannya.
Bara mendengus pelan, lalu sebuah tawa rendah yang terdengar dingin namun sarat akan ketertarikan lolos dari bibirnya. Untuk pertama kalinya dalam 35 tahun hidupnya, ada seorang wanita yang berhasil membuatnya kehilangan kata-kata, menggunakannya, lalu mencampakkannya begitu saja setelah mengatakan bahwa dia harus bersyukur.
Mata tajam Bara beralih ke atas sofa tempat mereka berinteraksi tadi. Di sana, di bawah remang lampu, berkilau sebuah benda kecil yang tampaknya terjatuh dari tas tangan gadis itu saat dia melompat turun dari pangkuan Bara.
Bara melangkah mendekat dan memungut benda tersebut. Itu adalah sebuah pulpen logam elegan berdesain eksklusif. Bara memutar pulpen itu di antara jemarinya yang kokoh, mengamati grafir nama universitas ternama yang terukir di permukaannya, lengkap dengan tulisan jurusan Business Management. Di bagian bawahnya, terdapat inisial nama pemiliknya yang tercetak rapi Z.A.S.
"Z.A.S... Business Management." gumam Bara, suaranya terdengar seperti bisikan predator yang baru saja menemukan jejak mangsa yang paling menarik.
Bara memasukkan pulpen tersebut ke dalam saku celana bahan jasnya, lalu merapikan kemeja putihnya. Senyum tipis yang penuh arti terukir di wajah tampannya yang bersih. Gadis itu mengira urusan mereka sudah selesai malam ini, tanpa tahu bahwa bagi seorang Bara Fernandez, permainan baru saja dimulai. Dia tidak akan melepaskan gadis yang sudah berani mengusik harga dirinya begitu saja.