Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL20
MAS, TITIP PERNIKAHAN KITA YA?
“Sudah lama nunggu, Sayang?”
Romi datang dengan sebuah goodie bag berlogo restoran Jepang di tangan. Ia pun segera menghampiri sang istri yang tengah berdiri di depan pintu lobi kantor.
“Baru lima menitan kok. Maaf ya Mas jadi repotin kamu.”
“Nggak apa-apa, toh ini juga diluar kendali kamu ‘kan?’
Hannah mengangguk pelan. Harusnya Hannah dan beberapa timnya akan bertolak ke Singapura sore nanti, namun karena jadwalnya yang tiba-tiba dipercepat karena klien yang agendanya akan bertemu mereka besok pagi harus bertolak ke Amerika maka mau tak mau penerbangan mereka akhirnya di reschedule dua jam lebih cepat.
“Beneran nggak apa-apa nih kita makan siang di dalam mobil?” kata Hannah seraya berjalan menuju parkiran mobil. Padahal keduanya sudah merencanakan makan siang bersama sebelum mereka berpisah seminggu lamanya.
“Ya nggak apa-apa, mau gimana lagi?”
Hannah mengangguk dengan wajah sendu. Dan itu tak lepas dari penglihatan Romi.
“Kita langsung berangkat ke Bandara atau makan di mobil dulu?”
Keduanya sudah berada di dalam mobil.
“Kenapa? Kok murung gitu mukanya?” tanya Romi ketika selesai mengatur suhu AC mobil istrinya. Mobil yang sejak pagi terparkir di bawah terik matahari membuat udara di dalamnya terasa pengap. Romi segera menyalakan AC sebelum mengajak Hannah berbicara.
Hannah melirik ke arah suaminya. “Memangnya, Mas nggak sedih aku tinggal?”
Romi tergelak mendengar ucapan istrinya.
“Kayaknya ini pertanyaan jebakan deh.”
“Apaan sih, Mas? Menjebak gimana coba? Masa sama suami sendiri dijebak?”
“Ya iya, nanti kalau, Mas bilang sedih kamu mikir, Mas nggak support karir kamu lagi? Terus kalau aku bilang nggak sedih, malah nanti kamu mikir kalau aku suka kamu jauh.”
“Pikiran Mas terlalu jauh.” Hannah mencebik kesal.
“Kamu mau jawaban jujur atau bohong?”
“Nggak usah bercanda Mas!”
“Sejujurnya, Mas sedih karena bakal ditinggal sama kamu jauh dan lama, tapi karena Mas tahu kamu pergi karena tanggung jawab pekerjaan jadi ya, Mas bisa memaklumi. Lagipula bukan baru kali ini juga kita LDR-an, kan?” Kalimatnya menggantung seraya menatap istrinya, seolah tahu sang suami meminta jawabannya Hannah langsung mengangguk membenarkan. “Jadi rasanya udah kayak biasa saja. Kamu juga begitu kan saat Mas ada kerja lapangan di luar kota.” lanjut Romi.
Wanita dan pria memang sangat jauh berbeda, jika para wanita rata-rata berpikir dan mengambil keputusan kebanyakan memakai perasaan, berbeda dengan para pria yang kebanyakan memakai logika ketimbang perasaan.
“Makan sambil ngobrol saja, nanti malah kelupaan makan.”
Romi memberikan sumpit pada istrinya ketika mereka sudah sama-sama duduk nyaman.
Mereka akhirnya makan bersama. Sushi menjadi pilihan menu makan siang mereka. Selain cepat, juga makannya tidak ribet dan tetap mengenyangkan.
Setelah mereka makan Romi mengantar Hannah ke Bandara menggunakan mobil istrinya. Romi sengaja datang menggunakan ojek online agar mobil Hannah bisa dibawa pulang setelah ia mengantar istrinya ke bandara.
Beruntung tadi mereka sudah makan siang di mobil hingga saat tiba di Bandara Hannah bisa fokus mengurus segala keperluan terbang bersama dengan timnya.
“Kalau begitu Mas langsung balik kantor ya?” Pamit Romi pada Hannah. Walau sudah diberi izin mengantar sang istri ke Bandara namun ia tetap harus tahu diri saat diberi kepercayaan.
“Cepet banget Mas, nggak nungguin aku check in dulu baru balik?”
“Kayaknya masih lama kamu check in. Mas sudah mau dua jam di luar, nggak enak dengan rekan Mas yang lain nanti. Lagipula, Mas sudah mengantar kamu sampai Bandara jadi izin Mas sudah selesai,” tukas Romi pada Hannah, memberi pengertian sama sang istri.
“Oh iya,” balas Hannah melirik arloji miliknya. Suaminya itu memang hanya mendapatkan izin mengantarnya ke Bandara dan dia juga sudah tahu itu sebelumnya.
“Mas pamit ya.”
Kali ini Hannah langsung mengangguk tanpa rengekan seperti tadi.
“Mas hati-hati dijalan, kabari aku kalau sudah sampai kantor,” ucap Hannah pada suaminya.
Romi terkekeh kecil mendengarnya. “Harusnya Mas yang ngomong gitu.”
Bugh!
“Mas…”
Romi membelalak mata ketika sang istri tiba-tiba memeluknya begitu erat. Sebenarnya ia tak Masalah hanya saja ini bukan kebiasaan Hannah. Sudah berapa kali bahkan mungkin puluhan kali mereka berada di kondisi seperti ini namun tak pernah perpisahan mereka sedramatis ini, bahkan wanita itu sama sekali tak malu ketika menjadi tontonan timnya.
“"Na... orang-orang pada lihat,” bisik Romi mengingatkan disela pelukan mereka.
Yang ditanya tak menggubris malah semakin mengeratkan pelukannya.
“Na…” Lagi, untuk kedua kalinya Romi kembali mengingatkan sang istri.
“Sebentar, Mas, aku kok kayak berat ya ninggalin Mas kali ini?”
“Maksud kamu?”
Romi terpaksa melepas pelukan sang istri. Bukan karena tak suka dipeluk, hanya saja ucapan istrinya itu membuatnya penasaran.
“Berat bagaimana? Memang kali ini berat kenapa hem?”
Bukannya menjawab, wanita itu malah menggelengkan kepala. Seolah ada sesuatu yang tak bisa diungkapkan.
“Ayolah, jangan buat Mas makin bingung. Kalau kamu begini, Mas jadi berat juga lepasin kamu.”
“Aku hanya takut, Mas.”
“Takut? Takut kenapa? Kamu yang mau pergi jauh bukan, Mas, justru Mas yang harus takut kamu kenapa-kenapa saat mengudara nanti.”
Hannah tak merespon kekhawatiran suaminya, wanita itu justru menatap suaminya dalam-dalam.
“Mas… saat aku pergi, kamu bisa nggak jangan pergi kemana-mana?”
“Maksud kamu pergi bagaimana?”
“Ya pokoknya, Mas jangan keluar rumah.”
“Lah, kan Mas harus kerja sayang?”
“Kerja boleh tapi habis itu langsung masuk rumah terus tutup pintu. Jangan biarin orang lain masuk ke rumah kita.”
Bukannya mengerti penjelasan istrinya, Romi justru semakin dibuat bingung. Namun karena tak ingin semakin lama akhirnya Romi mengiyakan permintaan istrinya. Terlebih panggilan keberangkatan Singapore Airline sudah dipanggil.
“Baiklah, pulang kerja, Mas akan langsung pulang dan menutup pintu rumah serta tidak akan membukakan pintu untuk orang lain. Bagaimana, kamu tenang sekarang, kan?”
Hannah menghembuskan napas panjang, lalu mengangguk mengiyakan. Walaupun belum sepenuhnya tenang, namun ia tetap mengiyakan. Tidak mungkin ia jujur jika sebenarnya ia takut pada tetangga barunya itu. Bukan karena insecure dengan penampilannya namun entah mengapa ia memiliki firasat yang buruk saat melihat senyum wanita itu.
Kalau aku bilang sama kamu kalau tetangga baru kita itu kayak punya niatan buruk pada rumah tangga kita apakah kamu percaya, Mas? Tadi aja kamu udah negur aku kalau kita nggak boleh ngejudge orang dari luar.
“Ada lagi yang buat kamu kepikiran?”
Banyak!
Inginnya Hannah mengatakan itu tapi entah mengapa lidahnya kelu mengucapkan satu kata itu. Akhirnya yang bisa dilakukan hanya menggeleng pelan.
“Kayaknya aku harus pergi sekarang, Mas, itu panggilan terakhir pesawatku. Ingat pesanku tadi?” Kembali Hannah mengingatkan sang suami.
“Iya, Sayang… kamu jangan banyak mikir macam-macam soal aku di sini. Tetap fokus sama pekerjaan kamu disana biar cepat bisa pulang.” Nasihatnya pada Hannah.
“Akan aku usahakan, tapi Mas jangan lupa kasih aku kabar. Jangan kayak dulu-dulu yang jarang banget kasih kabar?”
“Iya, Sayang.”
Romi tak menampik soal itu sebab memang itulah salah satu dari beberapa kesalahan yang dulu pernah ia lakukan dan tidak ingin diulangi lagi. Paling tidak itu yang sedang ia lakukan saat ini.
“Hati-hati. Jangan lupa makan, walau sesibuk apapun kamu disana nanti. Kabari Mas kalau sudah sampai di Singapura.”
“Iya, Mas.”
Hannah menatap wajah suaminya untuk terakhir kali sebelum check in.
“Mbak Hannah! Buruan, Mbak!” Panggil salah satu tim yang ikut bersamanya.
“Tuh, kamu sudah dipanggil. Ayo sana cepat masuk!”
Hannah mengangguk. “Iya, Mas. Bye!”
Hannah kini sudah berada di dalam pesawat. Hannah beserta tiga orang lainnya memang berada di pesawat yang sama hanya saja tempat duduk mereka yang terpisah. Jika tiga orang lainnya duduk di kursi ekonomi, berbeda dengan Hannah yang diberikan fasilitas oleh kantor duduk di kursi kelas bisnis.
Setelah menyimpan tasnya di kabin, Hannah kembali duduk dengan nyaman. Seatbelt pun sudah terpasang, namun ia tetap merasa ada yang kurang. Entah apa namun perasaannya mengatakan ada sesuatu yang ia lupakan.
Lama berpikir akhirnya ia ingat juga. Dengan cepat Hannah mengambil ponsel yang berada di dalam sling bag miliknya.
Entah apa yang diketik wanita itu, namun satu yang pasti jika apa yang diketiknya itu adalah sesuatu yang sangat penting. Itu terlihat dari raut wajahnya yang serius.
Jemarinya sempat berhenti beberapa kali di atas layar, seolah menimbang apakah pesan itu perlu dikirim atau tidak. Namun pada akhirnya ia tetap menekan tombol kirim.
Romi yang hendak menyalakan mesin mobil terpaksa menghentikan niatnya ketika sebuah pesan masuk di ponselnya. Bukan dari nomor yang tak dikenal seperti kemarin, melainkan pesan dari istrinya, Hannah.
Dilihat dan dibaca berapa kali pun tetap tak bisa membuat Romi memahami makna yang tersirat dari pesan istrinya itu.
My Wife ❤️ : Mas, titip pernikahan kita ya?
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐