NovelToon NovelToon
Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Penyelamat / Action
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Aldiaza Ahyani

Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.

Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.

Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Rahasia yang Dilindungi Dunia

Beberapa hari setelah kedatangan Rafael, suasana di Gedung Surya Pratama kembali terlihat tenang dari luar. Namun di dalam hati Anindya, ketenangan itu tidak pernah benar-benar kembali. Semakin sering ia melihatku bekerja, semakin banyak kejadian kecil yang ia amati, rasa penasarannya justru tumbuh makin besar, bagaikan benih yang disiram air setiap hari.

Ia mulai menyadari ada banyak hal yang tidak masuk akal pada diriku. Aku terlihat seperti orang biasa, bahkan terkesan polos dan tidak banyak tahu soal urusan dunia bisnis atau kemewahan. Tapi setiap kali ada situasi berbahaya, aku selalu bisa bertindak dengan tenang, cepat, dan memiliki kekuatan yang jauh melampaui batas kemampuan manusia normal.

Bagaimana bisa seseorang menahan pohon seberat satu ton sendirian tanpa cedera sedikit pun? Bagaimana bisa dua pengawal terlatih tidak bisa menyentuhnya meski menyerang dengan sekuat tenaga? Dan kenapa dia memilih bekerja sebagai satpam sederhana di kota kecil ini, padahal dengan kekuatan seperti itu dia bisa mendapatkan posisi dan kehidupan yang jauh lebih baik di mana saja?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, siang dan malam. Ia sadar, selama ini ia hanya melihat apa yang aku tunjukkan ke dunia luar, tapi tidak tahu apa yang tersembunyi di balik topeng kesederhanaan itu. Akhirnya, rasa ingin tahu itu mengalahkan keraguannya. Ia memutuskan untuk mencari tahu siapa sebenarnya Kaito Nakamura.

Sebagai direktur perusahaan dan pewaris keluarga yang memiliki jaringan luas, bukan hal yang sulit bagi Anindya untuk mengakses data dan informasi latar belakang seseorang. Ia memiliki akses ke sistem administrasi perekrutan, serta bisa meminta bantuan pihak yang lebih profesional jika dibutuhkan.

Suatu sore, saat semua karyawan sudah pulang dan suasana kantor mulai sepi, Anindya duduk di depan komputer di ruang kerjanya. Jari-jarinya bergerak perlahan, mengetikkan nama lengkapku: Kaito Nakamura. Ia mulai membuka berkas data yang masuk saat pendaftaran kerja.

Data yang tertera di sana terlihat lengkap secara formal: tempat lahir di Desa Tsurugi, wilayah Shikoku, Jepang; tanggal lahir, riwayat pendidikan sederhana, alamat tempat tinggal sekarang, serta dokumen izin tinggal dan kerja yang sah. Tapi semakin ia membaca, semakin ia merasa ada yang kosong. Riwayat hidupku terasa terlalu singkat, terlalu biasa, seolah hanya ada catatan permukaan saja, tanpa rincian mendalam tentang keluarga, latar belakang, atau tempat tinggal sebelumnya.

“Ini tidak cukup,” gumamnya pelan. “Pasti ada informasi lain yang lebih lengkap.”

Ia kemudian menghubungi salah satu konsultan keamanan dan penyelidikan yang biasa bekerja sama dengan perusahaan keluarganya, sebuah lembaga yang memiliki akses ke data lintas negara dan jaringan informasi yang luas.

“Pak Bima, tolong bantu saya mencari informasi lebih rinci mengenai seseorang. Namanya Kaito Nakamura, warga negara Jepang, baru menetap di Indonesia sekitar dua bulan lalu. Saya ingin tahu riwayat keluarganya, asal-usulnya, dan segala hal yang bisa diketahui tentang dia,” pesan Anindya melalui telepon dengan nada tegas namun sopan.

Di ujung sana, Pak Bima menjawab dengan nada profesional. “Baik, Nona Anin. Saya akan mulai melacaknya segera. Biasanya butuh waktu satu sampai dua hari untuk mengumpulkan data yang lengkap dan akurat.”

“Terima kasih, saya tunggu kabar dari Anda secepatnya,” jawab Anindya, lalu menutup telepon.

Ia merasa lega, seolah sudah menemukan jalan untuk menjawab semua pertanyaan di kepalanya. Ia yakin, dalam waktu singkat ia akan tahu siapa sebenarnya pria yang membuatnya merasa penasaran sekaligus kagum itu.

Namun, apa yang terjadi dua hari kemudian benar-benar di luar dugaannya.

Siang itu, saat ia sedang memeriksa laporan keuangan, telepon di mejanya berdering. Saat melihat nama penelepon, ia segera mengangkatnya dengan antusias.

“Halo, Pak Bima? Sudah dapat informasi yang saya minta?” tanyanya langsung.

Namun jawaban yang didengarnya membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak. Suara Pak Bima terdengar berat, penuh kebingungan sekaligus rasa hormat yang tidak biasa.

“Nona Anin… saya minta maaf, tapi saya tidak bisa memberikan informasi apa pun mengenai orang yang Anda tanyakan itu. Bahkan lebih dari itu, saya disarankan untuk menghentikan segala upaya pencarian segera.”

Anindya mengerutkan dahi, bingung bukan kepalang. “Apa maksudnya, Pak? Anda kan sudah sering membantu saya mencari data orang-orang penting. Kenapa kali ini tidak bisa? Apa yang terjadi?”

Pak Bima menarik napas panjang sebelum menjawab, suaranya terdengar lebih pelan dan hati-hati.

“Saya juga tidak mengerti pada awalnya. Begitu saya masuk ke sistem pencarian internasional dan memasukkan nama serta identitasnya, tidak lama kemudian akses saya langsung diblokir. Lalu saya menerima pemberitahuan resmi, bukan dari satu lembaga saja, tapi dari jaringan keamanan dan arsip negara-negara besar di dunia, termasuk pemerintah Jepang, PBB, dan lembaga internasional lainnya.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius.

“Isi peringatannya sangat jelas: Identitas dan riwayat hidup Kaito Nakamura adalah rahasia yang dilindungi secara global. Tidak ada lembaga, instansi, atau individu mana pun yang berwenang untuk menyelidiki, mengungkap, atau menyebarkan informasi mengenai dirinya. Siapa pun yang melanggar aturan ini akan dianggap mengganggu keseimbangan keamanan dunia dan dikenakan sanksi internasional.”

Anindya terdiam, mulutnya terbuka sedikit karena terkejut. Ia tidak menyangka hal seserius ini akan terjadi. “Kenapa bisa begitu? Dia hanya seorang warga biasa, bukan? Apa alasan mereka melindunginya sampai sedemikian ketat?”

“Saya juga bertanya hal yang sama kepada sumber yang saya percayai, Nona. Dari petunjuk yang sangat samar dan tidak boleh dijelaskan lebih lanjut, disebutkan bahwa ini bukan keputusan yang dibuat oleh pemerintah masa kini saja. Ini adalah perjanjian yang sudah ada selama lebih dari seribu tahun, disepakati dan diwariskan secara turun-temurun oleh keturunan klan Kaito sendiri, serta diakui dan dihormati oleh seluruh kekuasaan dunia sejak zaman dahulu kala.”

Pak Bima melanjutkan penjelasannya, suaranya semakin rendah seolah takut didengar orang lain.

“Dikatakan bahwa keluarga atau klan tempat Kaito berasal memegang amanah besar yang menyangkut keseimbangan alam dan keamanan seluruh umat manusia. Agar amanah itu tidak disalahgunakan, tidak diserobot oleh pihak yang serakah, dan tidak menimbulkan kekacauan, maka seluruh informasi mengenai keturunan mereka harus disembunyikan dan dijaga rapat-rapat. Hanya orang yang ditunjuk secara khusus oleh klan itu sendiri yang boleh mengetahui sedikit saja kebenarannya, dan itu pun harus tetap dijaga kerahasiaannya sampai mati.”

Mendengar penjelasan itu, seolah ada kilatan cahaya yang menerangi pikiran Anindya sekaligus menimbulkan rasa takut yang halus. Semua keanehan yang ia amati selama ini mulai menemukan jawabannya, meski masih samar-samar.

“Jadi… selama ini dia hidup tersembunyi bukan karena melarikan diri atau menyembunyikan kejahatan, tapi karena dia dilindungi oleh perjanjian yang sudah berlangsung ribuan tahun?” gumam Anindya sendiri.

“Tepat sekali, Nona. Pesan terakhir yang saya terima untuk disampaikan kepada Anda adalah: Biarkan dia hidup sesuai keinginannya. Selama dia memilih menjadi orang biasa, maka tidak ada yang berhak mengganggu atau mengungkap jati dirinya. Itu adalah haknya dan syarat utama yang dijunjung tinggi oleh seluruh pihak yang menjaga rahasia ini.”

Setelah mendengar semua itu, Anindya hanya bisa mengangguk pelan, meski Pak Bima tidak bisa melihatnya. “Baiklah, saya mengerti. Terima kasih sudah memberitahu saya, Pak. Dan maaf sudah menyulitkan Anda.”

“Tidak apa-apa, Nona. Sebaiknya Anda juga mengingat pesan itu. Jangan lagi mencoba mencari tahu lebih jauh, demi keamanan diri Anda sendiri juga,” nasihat Pak Bima sebelum menutup telepon.

Ruangan itu kembali sunyi. Anindya terduduk lemas di kursinya, menatap layar komputer yang masih menampilkan data pendaftaran sederhana milikku. Tangannya terasa sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena rasa kagum yang bercampur dengan rasa hormat yang mendalam.

Rahasia yang dijaga selama seribu tahun… diakui oleh seluruh negara di dunia… amanah yang menyangkut keseimbangan dunia…

Ia teringat kembali kata-kata yang pernah ia dengar secara tidak sengaja saat Kaito berbicara pada dirinya sendiri suatu hari: “Kekuatan ini bukan untuk berkuasa, tapi untuk melindungi.” Kini kalimat itu terasa memiliki makna yang jauh lebih besar dan berat dari yang ia bayangkan sebelumnya.

Anindya berdiri perlahan, lalu berjalan kembali ke jendela kaca dan menatap ke bawah. Di sana, ia melihatku sedang membantu memindahkan barang-barang berat ke dalam truk pengiriman. Orang-orang di sekitarnya terlihat kesulitan mengangkat satu kotak saja, tapi aku melakukannya dengan santai, seolah mengangkat tumpukan kertas. Tidak ada yang curiga, tidak ada yang tahu bahwa pria yang terlihat sederhana itu sebenarnya adalah seseorang yang identitasnya dilindungi oleh perjanjian dunia yang sudah berlangsung selama berabad-abad.

“Jadi itu alasannya…” bisik Anindya dengan suara lembut, seolah berbicara pada angin. “Kau bukan orang biasa, tapi kau memilih hidup seperti orang biasa. Kau menyimpan beban dan tanggung jawab yang sangat besar sendirian, tanpa mau membebani orang lain.”

Rasa penasarannya kini berubah menjadi rasa hormat yang mendalam, dan juga rasa kagum yang tumbuh perlahan. Ia sadar, ia tidak berhak memaksa membuka tabir rahasia yang sengaja aku tutup rapat-rapat. Itu adalah batas yang harus ia hormati, bukan hanya karena ada peringatan dari pihak berwenang, tapi karena ia mengerti bahwa ada alasan penting di balik semua itu.

Namun, pengetahuan ini juga membuat posisinya menjadi lebih rumit. Ia tahu sekarang bahwa pria yang mulai mengisi pikirannya itu memiliki dunia yang sangat berbeda, jauh lebih besar dan lebih berat daripada dunia yang ia kenal selama ini. Di satu sisi ada kewajibannya sebagai pewaris keluarga, dan di sisi lain kini ia tahu ada sosok yang memiliki kebaikan dan kekuatan yang luar biasa, tapi terbungkus dalam kesendirian dan kerahasiaan.

“Kaito Nakamura…” ucap namanya perlahan, seolah mencicipi setiap suku katanya. “Aku tidak akan lagi mencoba membongkar rahasiamu. Tapi aku berjanji, selama kau memilih tinggal di sini, selama kau hidup dengan jujur dan baik seperti ini, aku akan melindungi kebebasanmu untuk hidup sebagai orang biasa. Biarkan dunia tidak tahu siapa dirimu, biarkan kau hidup tenang sesuai keinginan hatimu.”

Di bawah sana, seolah merasakan pandangan yang berbeda dan penuh rasa hormat itu, aku mengangkat kepala sedikit ke arah jendela lantai sepuluh. Mataku bertemu sekilas dengan pandangan Anindya, dan aku tersenyum tipis, senyum yang tulus dan tenang. Meskipun aku tidak tahu apa yang baru saja ia ketahui, naluriku memberitahuku bahwa sesuatu telah berubah, dan perubahan itu bukanlah hal yang buruk.

Namun, di tempat lain, di ruangan yang gelap dan penuh asap rokok di sebuah kota besar, Rafael Wijaya sedang duduk di balik meja kerjanya. Ia baru saja menerima laporan dari orang suruhannya yang juga mencoba menyelidiki latar belakangku. Wajahnya terlihat bingung dan marah karena usahanya juga gagal total, bahkan ia menerima peringatan keras untuk berhenti.

“Rahasia yang dilindungi dunia…?” gumam Rafael dengan senyum miring yang penuh kebencian. “Semakin tersembunyi, berarti semakin berharga dan berbahaya. Kalau kau punya kekuatan sebesar itu, maka kekuatan itu harus menjadi milikku juga. Entah caranya apa, aku akan mencari tahu kelemahanmu, Kaito Nakamura. Rahasia seribu tahun itu, suatu saat akan menjadi kunci kekuasaanku yang sesungguhnya.”

Ia tidak tahu bahwa dengan pikiran itu, ia baru saja menginjak jalan yang sangat berbahaya, melawan aturan yang telah dihormati selama ribuan tahun. Dan aku, yang berdiri dengan tenang di bawah sana, belum menyadari bahwa pengetahuan baru yang didapatkan oleh Anindya, serta niat jahat yang semakin tumbuh di hati Rafael, akan segera membawa kita semua ke dalam pusaran peristiwa yang lebih besar dan berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!