NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Dua kilatan pedang hitam datang bersamaan. Cepat, tanpa suara, dan mematikan.

Mata Jangkrik membelalak. Dalam sepersekian detik, seluruh latihan yang diberikan Sang Warok berkelebat di benaknya.

"Jangan lihat senjatanya. Lihat langkah kakinya."

Jangkrik tidak memandangi mata pedang yang berkilau. Ia justru menatap kaki kedua penyerang itu. Yang kiri lebih dahulu menapak, sedangkan yang kanan sedikit terlambat. Ada celah—sedikit sekali, tetapi cukup.

Jangkrik menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Dua pedang berdesing melewati ujung hidungnya.

Wusss!

Belum sempat punggungnya menyentuh tanah, kedua Gelang Baja Wulung di tangannya menghantam tanah kapur.

Brak!

Dengan dorongan itu, tubuhnya berguling ke samping. Pedang kedua menghantam tempat ia tadi berada.

Crak!

Batu kapur pecah.

"Hm?" Salah seorang penyerang tampak terkejut. "Bocah itu membaca langkah kita."

Jangkrik langsung bangkit dengan dua pisau lempar yang sudah tergenggam di tangan. Tanpa berpikir, tangannya bergerak sendiri.

Wus! Wus!

Dua pisau melesat. Keduanya tidak mengarah ke dada, namun bertumpu ke arah lutut.

Tak!

Penyerang pertama berhasil menepisnya. Namun pada saat bersamaan, Jangkrik sudah berlari mendekat.

Dengan gelang seberat itu, langkahnya memang lambat. Namun justru karena beban itulah, setiap pijakannya menjadi sangat kokoh. Ia menghantamkan bahunya ke tubuh penyerang pertama.

Bugh!

Pria itu terdorong setengah langkah. Jangkrik segera menarik siku kirinya.

Duk!

Sikunya menghantam rusuk lawan. Belum sempat ia melanjutkan serangan—

Wus!

Pedang penyerang kedua sudah meluncur dari belakang. Jangkrik memutar tubuh, tetapi terlambat. Ujung pedang menggores bahunya.

Sret!

Darah memercik dan tubuh Jangkrik terhuyung.

Di sisi lain, mata Sang Warok berubah sangat dingin. "Berani..." gumamnya.

Lima belas lawan masih mencoba mengurungnya, tetapi perhatian Warok kini sepenuhnya tertuju kepada muridnya.

Pemimpin bertongkat tersenyum. "Jangan bergerak. Kalau kau maju, anak buahku akan menghabisi bocah itu."

Warok berhenti. Goloknya masih meneteskan darah tipis dari goresan-goresan sebelumnya. "Lalu?"

Pria bertongkat tersenyum semakin lebar. "Bukankah kau sangat menyayanginya?"

Warok mendengus. "Menyayangi?"

Tiba-tiba ia tertawa keras. "Hahaha!"

Tawanya menggema memenuhi lembah, membuat semua orang tertegun. Bahkan Jangkrik ikut menoleh.

Warok menatap lurus ke arah muridnya. "Jangkrik!"

"Ya!"

"Kalau kau mati oleh dua sampah seperti itu, jangan pernah mengaku muridku di alam baka!"

Ucapan itu membuat suasana mendadak mati angin. Jangkrik sendiri mematung sesaat. Lalu, senyum tipis muncul di bibirnya.

"Warok..."

"Apa?"

"Kau benar-benar guru yang menyebalkan."

Warok tertawa lagi. "Baru tahu?"

Ucapan itu justru membuat dada Jangkrik terasa tenang. Jika Warok masih bisa tertawa, berarti kedua lawannya ini belum cukup berbahaya.

Ia menarik napas panjang, mengabaikan darah yang mengalir dari bahunya. Perlahan, ia menurunkan kedua pisaunya. Sikap tubuhnya berubah: kakinya bergeser dan badannya sedikit merendah.

Kedua penyerang saling berpandangan.

"Apa yang dia lakukan?"

"Tidak tahu."

Jangkrik memejamkan mata. Ia mulai mendengar—napas lawan, gesekan rumput, pergeseran telapak kaki, hingga detak jantung.

Perlahan ia membuka matanya kembali dengan tatapan yang jauh lebih tenang.

"Kalau begitu..." gumamnya pelan, "...aku akan mengalahkan kalian tanpa membuat Warok kehilangan tontonannya."

Kedua pria bertopeng itu saling melirik, lalu serempak menerjang kembali dari dua arah. Namun kali ini, Jangkrik tidak lagi menunggu mata pedang mereka. Ia sudah bergerak lebih dulu, tepat saat kedua lawannya mengangkat kaki untuk melangkah.

Begitu kaki kedua penyerang itu terangkat, Jangkrik langsung bergerak. Bukan mundur, ia justru menerjang maju.

Satu langkah pendek memotong sudut di antara mereka.

"Dia masuk ke tengah!" seru salah seorang anggota Gagak Hitam.

Kedua pedang hitam yang semula hendak menjepit tubuh Jangkrik justru saling berpapasan.

Srak!

Jangkrik merunduk serendah mungkin. Helaian rambutnya terpotong oleh mata pedang yang lewat beberapa jari di atas kepalanya.

Kini ia berada sangat dekat dengan penyerang di sisi kiri. Tanpa ragu, bahu kirinya menghantam dada lawan.

Dugh!

Pria itu kehilangan keseimbangan. Pada saat yang sama, Gelang Baja Wulung di lengan kanan Jangkrik menghantam pergelangan tangan lawan.

Krak!

Pedang hitam itu terlepas dan berputar di udara.

"Bagus..." gumam Sang Warok dari kejauhan. "Manfaatkan bebanmu."

Namun penyerang kedua tidak tinggal diam. Ia memutar pedangnya ke arah leher Jangkrik.

Wusss!

Jangkrik tak sempat menghindar sepenuhnya.

Sret!

Ujung pedang menggores pipi kirinya, meninggalkan garis tipis yang segera mengeluarkan darah. Ia tidak memedulikannya. Justru saat pedang itu melintas, tangan kirinya menyambar pergelangan lawan.

Plak!

Jangkrik mengerahkan seluruh tenaga yang telah ditempa selama berbulan-bulan—tenaga hasil menebang jati dan menahan bobot Gelang Baja Wulung.

"Mampus kau!" bentaknya.

Ia memutar pinggang dan menarik lengan lawan ke bawah.

Bruk!

Tubuh pria bertopeng itu terbanting keras ke tanah berbatu. Debu beterbangan.

Jangkrik langsung melompat mundur untuk mengambil jarak. Napasnya memburu. Bahu dan pipinya berdarah, tetapi matanya tetap tajam.

Di sisi lain, pemimpin Gagak Hitam menyipitkan mata. "Anak itu... berkembang lebih cepat dari laporan kami."

Warok menyeringai. "Tentu. Dia muridku."

Ucapan itu membuat Jangkrik sempat menoleh. Baru kali ini Warok mengakuinya secara terbuka di hadapan orang lain. Bukan sekadar bocah pungut, bukan sekadar alat pelampiasan, tetapi sebagai muridnya.

Entah mengapa, dada Jangkrik bergetar sesaat. Namun getaran itu segera ia tekan kembali.

"Jangan terlena. Dia tetap pembunuh ayah dan ibuku." Geram jangkrik dalam hatinya

Dua penyerang tadi bangkit kembali. Yang satu memegangi rusuknya, sedangkan yang lain mengambil kembali pedangnya. Mereka kini jauh lebih berhati-hati.

"Tidak boleh bermain-main lagi. Habisi dia."

Keduanya mengangguk, lalu mengubah posisi: satu di depan, satu di belakang.

Jangkrik mengembuskan napas perlahan. Ia mulai memasang telinga—menangkap langkah, napas, serta gesekan rumput di sekitarnya.

Lalu, senyum tipis muncul di bibirnya. "Kalian... bernapas tidak serapi Warok."

Kedua penyerang itu mengernyit. "Banyak bacot!!"

Jangkrik tidak menjawab. Begitu mereka menyerang lagi, ia sudah mengetahui lebih dahulu siapa yang akan bergerak lebih cepat, sebab napas orang itu berubah setengah detik lebih dulu.

Tubuh Jangkrik berputar, membuat pedang pertama meleset. Ia menyambar pergelangan tangan penyerang depan, lalu mendorong tubuh lawan tepat ke arah rekannya sendiri.

"Tidak!"

Srek!

Pedang penyerang kedua terlambat berhenti. Bilahnya justru menembus bahu rekannya sendiri.

"Aaaargh!"

Jeritan memecah ketenangan lembah.

Jangkrik memanfaatkan kekacauan itu. Dua pisau lempar sudah berada di tangannya.

Wus! Wus!

Kedua pisau meluncur secepat kilat.

Clab clab

Pisau pertama menancap di lengan kanan penyerang yang masih memegang pedang. Pisau kedua menghantam pergelangan kakinya. Pria itu roboh berlutut dan pedangnya terlepas.

Jangkrik segera melompat, menendang gagang pedang itu hingga melayang jauh ke jurang.

Clang... clang... clang...

Suara besi memantul di dinding batu sebelum akhirnya lenyap.

Kini, kedua penyerang itu tidak lagi mampu bertarung.

Warok mengangguk pelan. "Bagus. Tapi jangan lengah."

Kalimat itu baru saja keluar saat tiba-tiba pemimpin Gagak Hitam mengetukkan tongkatnya ke tanah.

Tok!

Suara itu menggema aneh. Empat belas anak buahnya serentak mundur. Tidak ada lagi yang menyerang, mereka justru memberi jalan.

Pemimpin bertongkat itu melangkah maju. Tatapannya kini tertuju sepenuhnya kepada Jangkrik.

"Kalau begitu... biar aku sendiri yang menguji muridmu, Warok."

Warok tidak mengangkat goloknya. Ia hanya berkata singkat kepada Jangkrik, "Jangan mati."

Lalu ia melangkah mundur satu langkah, seolah benar-benar menyerahkan pertarungan berikutnya kepada sang murid.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!