NovelToon NovelToon
Aku Pergi, Mas!

Aku Pergi, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Danie A

Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.

"Aku pergi, Mas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

Celsi tertawa sambil menangis.

Suara tawanya pecah. Tidak utuh. Tidak seperti orang yang sedang marah. Lebih seperti orang yang baru sadar kalau selama ini dirinya hidup di dalam cerita yang ditulis orang lain.

"Tahun lalu?"

Dia mengulang pelan.

"Tahun lalu?"

Tatapannya berpindah dari Rangga ke Vena.

Lalu kembali lagi.

"Tahun lalu itu aku yang suruh Mas jemput kamu."

Tidak ada yang menjawab.

Celsi mengangguk kecil.

"Oke."

Dia mundur satu langkah.

"Oke."

Lalu berbalik. Masuk ke kamar.

Rangga mengejar.

"Celsi, denger dulu."

Pintu kamar ditutup.

Brak.

Rangga mengetuk.

"Cel."

Tidak ada jawaban.

"Cel, buka."

"Buka Cel! Kita perlu bicara! Celsi!"

Celsi berdiri di balik pintu, bersandae di sana. Hatinya remuk redam. Air matanya terus mengalir deras. Sehancur ini , sesakiti ini di hianati. Luka itu jauh lebih dalam karena pelakunya sepupu sendiri. Ditambah, dia kini ikut tinggal di rumah.

Malam semakin larut, tak ada lagi suara Rangga di balik pintu. Entahlah. Celsi tak mau memikirkannya. Hatinya sudah terlanjur sakit. Celsi berdiri di tengah kamar. Napasnya pendek. Dadanya sakit. Dia melihat buket bunga di meja.

Buket besar.

Buket yang tadi membuatnya tersenyum.

Tangannya bergerak pelan mengambil bunga itu. Dilihat lama, dan memeluknya.

Lalu tertawa lagi. Buket besar untuknya dan satu tangkai kecil untuk selingkuhan.

sakit.

sakit sekali.

Air matanya jatuh lagi. Tubuhnya bergetar hebat.

Malam itu dia tidak tidur. Hanya ada air mata yang membasahi di sepanjang malam.

.

.

.

Esok pagi yang cerah, namun tak secerah hati dan pikiran Celsi. Wanita cantik itu keluar dengan mata bengkak, dan kepala yang berat.

Dia berharap semalam itu mimpi. Tapi begitu sampai ruang makan, semua seolah menegaskan kenyataan. bahkan lebih pahit sekarang.

Vena duduk di kursi, tanpa rasa bersalah padanya. Dan Rangga sedang menuang susu untuknya.

Dan suara pertama yang dia dengar adalah...

"Mas, aku nggak kuat makan yang terlalu amis."

Rangga langsung mengangguk.

"Yaudah nanti aku beli yang lain."

Celsi berhenti melangkah, Rangga menoleh.

"Celsi? kamu bangun?"

Bukan. Bukan lagi kata "Sayang." atau pun kalimat tanya "Udah tidur?"

tapi, udah bangun? Seolah istrinya ini bisa tidur nyenyak semalam. Setelah semua itu terjadi.

Celsi duduk.

Diam.

Vena menatapnya sebentar. Lalu tersenyum kecil.

"Kak, aku lagi mual."

Celsi tidak menjawab. Buat apa menjawab untuk penghianat?

Rangga menghela napas mencoba memahami istri dan wanita yang kini hamil anaknya. Ia menarik kursi.

"Kamu makan dulu, Ven."

Tidak ada yang bicara lagi.

"Huueekk!"

"Mual lagi?" tanya Rangga cemas.

"Kalau pagi biasa gini. Maaf ya."

"Enggak papa."

"Mau air hangat?" tawar Rangga. Vena mengangguk. Rangga hendak mengambil tapi tempat air hangat ada di dekat Celsi.

"Si, tolong ambilin air hangat untuk Vena. Kasian dia, mual kayak gini. Tolong Si."

Celsi menoleh.

"Mas nyuruh aku?"

"Celsi, please!"

Wajah Rangga memohon, setengah lelah. Lelah oleh sikapnya? Lucu.

Vena tersenyum.

"Maaf, Kak. Nggak usah juga nggak papa. Aku bisa nahan kok."

Celsi diam, memalingkan wajahnya. Entah kenapa rasanya muak sekali.

"Enggak, biar aku aja yang ambil."

"Maaf, mas."

Rangga akhirnya mengambil sendiri, walau lirikan matanya mulai tak ramah pada isterinya.

Vena tersenyum, memegang perutnya pelan. Seolah sedang menunjukkan kemenangan.

Hari itu terasa panjang.

Siang.

Vena rebahan di sofa.

"Mas, aku pengen mangga."

Rangga mengambil kunci mobil.

"Aku beli."

Celsi yang sedang mencuci piring berhenti.

Dia ingat. Rangga memang seperhatian itu. Dulu, itu hanya miliknya, tapi sekarang...

Dia kembali mencuci. Tangannya gemetar, sesekali dia mengusap pipi yang basah.

Semakin hari, tingkah Vena semakin membuat Celsi mual. Semua sikap manja seolah dibuat-buat. Rangga juga seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Apapun yang wanita hamil itu mau, selalu dia lakukan.

"Kak, aku pusing, tolong ambilkan minum ya. Tolong."

suara Vena seolah dibuat-buat lemas.

"Kalau ada mas Rangga, aku enggak akan minta tolong Kak Celsi."

Celsi hanya bisa menghela napasnya. ia muak sekali. Tapi, dia tetap lakukan juga. Dia ambil minuman dan menyodorkannya pada Vena.

"Makasih, Kak."

Celsi tak menjawab, dia menonton tv saja dari pada suasana hatinya makin ambyar. tiba-tiba, telponnya berdering. Itu adalah panggilan dari Rangga. nomor yang dulu sangat dia nanti dan semangat diterima, kini tidak lagi.

"Celsi."

Suara Rangga langsung terdengar disebelah sana setelah dia menggeser tombol terima.

"Si, mas minta maaf. Mas lagi sibuk banget di kantor. kamu udah makan kan?"

"Hmmm, " jawab Celsi malas.

"Si, mas tau kamu lagi marah sama Mas. Mas tau banget. Mas minta maaf. Mas udah kirimkan uang bonus yang baru mas dapat, buat kamu."

"hmmm."

"Si, mas minta tolong. Tolong banget. Jagain Vena ya. Dia lagi hamil. kasian. kalau kamu marah dan benci sama Mas dan Vena, setidaknya, lakukan ini demi anak di rahimnya. Mas mohon sekali."

Celsi hanya tertawa hambar. Dia kini malah harus mengurusi gundik suaminya. Dulu, dia akan lakukan dengan senang hati tanpa di suruh. Dulu, sebelum dia tau Vena adalah duri dalam rumah tangganya.

.

.

.

"Kak, hamil tuh berat. Kakak bakal ngerti kalau udah rasain."

Kalimat itu menusuk. Celsi menatap lama.

Lalu pelan bertanya.

"Jadi sekarang aku pembantu?"

Vena tersenyum kecil.

"Bukan gitu, Kak."

Saat itu Rangga masuk.

"Ada apa ini?"

Vena langsung memegang kepala.

"Mas... aku cuma minta tolong Kak Celsi."

Rangga menatap Celsi.

"Cuma buatkan bubur doang, Mas. Tapi, kak Celsi berprasangka lain."

"Celsi. Tadi kan mas udah minta kamu buat jagain Vena." Rangga berucap seolah menjadi penengah.

Celsi memandangnya lalu tertawa hambar lagi.

"Jagain? Jadi pembantu pelakor maksud mas?"

Rangga menghela napas.

"Celsi! Dia lagi hamil."

Celsi tertawa.

"Aku istrimu. Kamu sama sekali nggak lihat aku?"

Rangga diam, mengusap wajahnya. "Celsi Please!"

"Mas! Kamu yang harusnya dengar!" Celsi melanjutkan. "Lucu sekali, posisiku sekarang bahkan sudah digantikan pelakor."

"Celsi!"

"Apa? Dia memang pelakor kan, Mas?"

"Ini bukan salah Vena."

"Bagus! Kau membelanya. Kau juga sama saja! Penghianat!"

Rangga mengusap wajahnya kasar seolah lelah.

.

.

.

Malam itu, Celsi duduk di meja makan dengan tenang. Namun, Vena tidak keluar dari kamarnya. Rangga menyiapkan piring, makanan, segelas susu. lalu ia membawa makanan ke kamar tamu.

Celsi duduk sendiri di meja panjang, dengan tiga kursi yang terisi cuma satu. Dia tertawa pelan, penuh luka. Luka yang semakin menganga.

Tak lama kemudian Rangga turun.

"Celsi."

Wanita itu tidak menoleh. Rangga duduk.

"Vena lagi nggak enak badan."

Celsi tertawa kecil.

"Hmmm."

Rangga diam. Lalu berkata pelan. "Aku minta kamu ngerti."

Celsi menoleh, matanya merah. "Ngerti?"

Rangga menarik napas. "Keadaan udah begini."

Celsi memandang lama. "Jadi aku harus gimana?"

Diam.

Lalu Rangga menjawab.

"Jangan bikin dia stres. Itu ngaruh ke janinnya."

Yang dia takutkan... Vena stres. Bukan istrinya hancur.

"Kamu egois, Mas."

"Kamu yang egois, Celsi! Selama ini, mas sudah bersabar. Mas sudah ngertiin kamu. Bahkan saat mas didesak untuk punya keturunan, dan kamu nggak bisa kasih!"

GLEGAR!

Akhirnya, kalimat itu keluar juga dari mulut Rangga. Rasanya, lebih menyakitkan karena keluar dari bibir pria yang paling dia cintai selama ini.

Celsi berdiri dengan hati yang hancur lebur. Pelan. Lalu masuk kamar. Dia membuka lemari. Mengambil koper. Melipat baju. Tangannya tenang.

Aneh.

Saat hati sudah terlalu sakit...

kadang air mata juga berhenti.

Tak lama, pintu kamar terbuka. Rangga berdiri di ambang pintu.

"Kamu ngapain?" tanyanya seraya mendekat.

Celsi tetap melipat. "Pergi."

Rangga diam.

"Kalau kamu pergi. Kamu nggak bisa kembali lagi. Celsi."

Celsi baru menoleh, tepat saat dia selesai dengan dengan semua barangnya.

"Aku tak akan kembali."

1
Ma Em
Semoga Celsi berjodoh dgn Aska dan bisa hamil agar tdk dihina terus sama keluarga Rangga juga sama Bu Weni .
Danie a: semoga ya kak😅
total 1 replies
Lyeend
buat apa lagi mau tunggu di sana Celsi. pergilah bawa diri dan move on
Sri Rahayu
apa itu palsu...sengaja suaminya buat agar punya alasan utk mencari pr lain 🙃🙃🙃....lanjut Thorr😘😘😘
Danie a: makasih kak. kaka masih ngikuti aja ya😭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!