NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Merasakan perubahan atmosfer itu, Jangkrik ikut menoleh ke arah hutan dengan waspada. "Warok... ada apa?"

​Sang Warok tidak langsung menjawab. Tangan kanannya bergerak mantap menggenggam gagang golok, sementara cambuk Samandiman masih melingkar tenang di pinggangnya. "Masuk ke belakangku."

​Jangkrik terdiam sesaat. Untuk pertama kalinya sejak ia tinggal bersama pria itu, Sang Warok menyuruhnya berlindung.

​"Siapa yang datang?" bisik Jangkrik.

​Sang Warok menggeleng pelan. "Aku belum tahu. Tapi... orang ini tahu betul cara menyembunyikan hawa napasnya."

​Mendengar hal itu, jantung Jangkrik berdesir. Selama ini, ia selalu menganggap gurunya adalah manusia terkuat yang pernah ada. Jika Sang Warok saja sampai menembok pertahanan sewaspada ini, berarti tamu yang datang jelas bukan orang sembarangan.

​Beberapa detik berlalu dalam kesunyian yang mencekam.

​Krak...

​Suara ranting patah terdengar dari balik semak. Tak lama kemudian, seorang lelaki tua keluar dari balik rimbunnya pepohonan dengan langkah santai.

​Pakaiannya lusuh berwarna cokelat tua. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, digelung sederhana di belakang kepala. Di bahunya tergantung sebuah keranjang bambu penuh dedaunan obat, sementara tangan kanannya hanya bertumpu pada sebatang tongkat kayu. Penampilannya lebih mirip seorang tabib keliling ketimbang pendekar pilih tanding.

​Namun, mata lelaki tua itu... sangat tajam. Tatapannya langsung mengunci sosok Sang Warok.

​"Hm..." Lelaki tua itu tersenyum tipis. "Sudah lama tidak bertemu, Warok."

​Jangkrik menoleh pada gurunya. Sang Warok sama sekali tidak membalas senyuman itu. Wajahnya sekeras batu. "Banyak orang berharap tidak pernah bertemu dengan lambang maut sepertiku lagi."

​"Itu juga harapanku," jawab lelaki tua itu tenang. "Tapi rupanya, takdir masih senang mempertemukan kita."

​Jangkrik memandang kedua orang itu bergantian. Mereka jelas saling mengenal, namun bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai dua orang yang pernah melewati masa lalu yang kelam bersama.

​Sang Warok mengambil satu langkah maju. "Apa maumu datang ke tempat terpencil ini, Ki?"

​Lelaki tua itu menghela napas panjang. "Aku hanya sedang mencari tanaman obat."

​"Jangan berbohong."

​"Aku tidak berbohong."

​Sang Warok mendengus remeh. "Kalau hanya mencari tanaman obat, kau tidak akan berjalan sejauh ini hingga ke puncak bukit."

​Lelaki tua itu tertawa kecil, suara kekehannya terdengar renyah. "Kau masih sama seperti dulu. Selalu menaruh curiga kepada semua orang."

​Sang Warok tidak repot-repot membalas gurauan itu. Sebaliknya, ia mengamati setiap jengkal pergerakan sang tamu. Jangkrik menyadari perubahan kecil pada tubuh gurunya; otot-otot bahu Warok menegang dan jari-jarinya menggenggam gagang golok semakin kuat. Pria itu benar-benar siap bertarung hidup dan mati.

​Lelaki tua itu kemudian mengalihkan pandangannya kepada Jangkrik. "Anak ini... muridmu?"

​"Ya," jawab Warok singkat.

​Sepasang mata tua itu meneliti tubuh Jangkrik dari ujung kepala hingga kaki—menatap bekas luka cambuk, telapak tangan yang kapalan, punggung yang penuh bilur, hingga sorot mata bocah itu yang sedingin es.

​Ia menghela napas prihatin. "Kasihan sekali..."

​Belum sempat Jangkrik mencerna ucapan itu—sret!—Sang Warok sudah melesat cepat. Dalam satu kedipan mata, ujung goloknya yang berkilat tajam telah berhenti tepat satu senti di depan jakun lelaki tua itu.

​"Jangan ikut campur urusanku," desis Warok penuh ancaman.

​Anehnya, lelaki tua itu sama sekali tidak bergeming. Ia bahkan tidak berkedip atau mengubah ekspresi wajahnya. "Kalau sejak awal aku berniat melawanmu... golokmu tidak akan pernah bisa sedekat ini dengan leherku."

​Sang Warok menyipitkan mata. Untuk beberapa saat, keduanya saling mengunci tatapan dalam diam. Tak ada satu pun yang bergerak, namun Jangkrik bisa merasakan hawa aneh yang mendadak berputar di udara. Atmosfer di sekitar mereka terasa begitu berat dan pekat hingga dadanya sesak untuk bernapas. Seolah-olah, ada dua kekuatan raksasa yang sedang saling hantam tanpa perlu mengangkat senjata.

​Beberapa detik yang menegangkan berlalu sebelum akhirnya Sang Warok menarik kembali goloknya ke dalam sarung. "Kau masih belum berubah, Ki."

​"Kau juga," balas lelaki tua itu sembari tersenyum tipis. Ia lalu menoleh kembali pada Jangkrik. "Siapa namamu, Nak?"

​Sebelum Jangkrik sempat membuka mulut, Sang Warok sudah memotong lebih dulu, "Namanya Jangkrik."

​Lelaki tua itu mengangguk-angguk perlahan. "Nama yang unik."

​Ia kemudian kembali menatap Sang Warok. "Kalau begitu, aku pamit."

​Tanpa menunggu jawaban, lelaki tua itu berbalik. Ia berjalan perlahan menerobos vegetasi hutan yang rapat hingga sosoknya perlahan memudar dan menghilang di balik kepekatan kabut.

​Baru setelah bayangan itu benar-benar lenyap, Sang Warok mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya.

​Jangkrik langsung menghampiri gurunya. "Siapa sebenarnya dia?"

​Sang Warok terdiam cukup lama, menatap kosong ke arah semak tempat pria tua itu menghilang. "Seorang tabib."

​"Hanya tabib?" tanya Jangkrik tidak percaya.

​"Bukan tabib biasa." Sang Warok menjeda kalimatnya, matanya menerawang jauh. "Dulu... dia adalah orang yang pernah menyelamatkan nyawaku dari gerbang kematian."

​Jangkrik terkejut bukan main. "Kalau dia penyelamatmu, kenapa guru justru mengancamnya dengan golok?"

​Sang Warok tersenyum tipis—sebuah senyuman yang getir. "Karena di kerasnya dunia persilatan, Jangkrik... utang budi tidak pernah berjalan beriringan dengan kepercayaan."

​Pria itu kemudian menepuk pundak Jangkrik dengan mantap. "Ingat baik-baik pelajaran hari ini. Jangan pernah menilai singa dari bulunya yang lusuh. Bisa jadi, orang yang tampak seperti pengemis tak berdaya justru memiliki kesaktian yang mampu menguburmu dalam satu kali hentakan kaki."

​Jangkrik kembali memandang ke arah kegelapan hutan tempat lelaki tua itu menghilang. Entah mengapa, nuraninya berbisik bahwa pertemuan singkat ini bukanlah sebuah kebetulan. Dan firasatnya mengatakan, suatu hari nanti, tabib misterius itu akan kembali muncul dan membawa sesuatu yang akan mengubah garis takdir hidupnya secara total.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!