Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.
Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Setelah ritual penerimaan murid selesai, Su Lian berdiri perlahan sambil memandang permukaan Danau Seribu Bulan yang masih diterangi cahaya bulan purnama. Kemudian ia menoleh kepada Yan Kai.
"Yan Kai. Kau datang ke tempat ini memang untuk berkultivasi, bukan?"
Yan Kai mengangguk. "Benar, Guru."
Su Lian tersenyum tipis. "Kalau begitu jangan sia-siakan kesempatan ini. Malam ini energi spiritual Danau Seribu Bulan sedang berada pada kondisi terbaiknya. Duduklah. Berkultivasilah semalaman."
Yan Kai segera menganggukkan kepala. Namun tepat sebelum ia duduk, Su Lian mengangkat tangan kanannya. Sebuah botol giok ungu muncul dari Cincin Ruangnya.
Ia membuka tutup botol tersebut, lalu mengeluarkan sebuah pil berwarna ungu gelap. Permukaan pil itu dipenuhi pola-pola hitam menyerupai urat yang terus bergerak perlahan, seolah masih hidup. Pil itu bahkan memancarkan aura kegelapan yang sangat pekat.
Su Lian melemparkannya kepada Yan Kai.
Tang!
Yan Kai menangkap pil itu dengan hati-hati. Ia memandang pil tersebut dengan heran. "Guru, pil apakah ini?"
Su Lian menjawab dengan tenang. "Pil Bayangan Nirwana. Pil ini dibuat menggunakan puluhan jenis herbal spiritual yang tumbuh di tempat dengan energi yin dan kegelapan yang sangat pekat. Biasanya, pil ini akan menjadi racun mematikan bagi kultivator biasa."
Tatapan Su Lian jatuh pada Yan Kai. "Tetapi aku ingin melihat bagaimana energi kegelapan di dalam tubuhmu bereaksi terhadap pil itu."
Yan Kai sedikit ragu. Pil yang bisa berubah menjadi racun tentu bukan sesuatu yang bisa ditelan sembarangan. Namun orang yang berdiri di hadapannya adalah gurunya sendiri. Jika Su Lian benar-benar ingin membunuhnya, ia tidak perlu bersusah payah menggunakan pil.
Tanpa berpikir lebih lama, Yan Kai langsung memasukkan Pil Bayangan Nirwana ke dalam mulutnya. Pil itu langsung meleleh menjadi aliran energi hangat.
Yan Kai segera duduk bersila. Teknik Kultivasi Bulan Purnama mulai dijalankan. Energi spiritual dari Danau Seribu Bulan perlahan mengalir memasuki tubuhnya.
Su Lian berdiri beberapa meter di belakangnya, tatapannya tidak pernah lepas dari setiap perubahan kecil yang terjadi pada tubuh murid barunya itu.
Beberapa saat kemudian, energi kegelapan di dalam tubuh Yan Kai mulai bergejolak. Aura hitam pekat perlahan keluar dari pori-porinya. Namun berbeda dari aura kultivator jalan iblis yang biasanya dipenuhi niat membunuh, energi milik Yan Kai justru terasa sangat murni dan stabil.
Su Lian sedikit menyipitkan mata. "Menarik..."
Tak lama kemudian, Pil Bayangan Nirwana mulai bereaksi. Alih-alih merusak meridian Yan Kai seperti yang seharusnya terjadi, energi kegelapan di dalam tubuhnya justru melahap seluruh kekuatan pil tersebut, seolah seekor naga yang sedang menelan mangsanya.
Wusss!
Aura hitam di sekitar tubuh Yan Kai semakin pekat. Kecepatan penyerapan energi spiritual meningkat berkali-kali lipat. Air Danau Seribu Bulan bahkan mulai beriak sendiri, energi spiritual dalam radius puluhan meter terus mengalir deras menuju tubuh Yan Kai.
Su Lian yang menyaksikan semua itu tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. "Benar-benar... energi kegelapan itu sedang berevolusi."
Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Semakin larut malam, aura Yan Kai semakin kuat. Hingga akhirnya...
Boom!
Gelombang energi spiritual meledak keluar dari tubuhnya. Meridian-meridian yang telah terbuka menjadi semakin kokoh, Qi di dalam dantiannya mengalami perubahan besar. Yan Kai berhasil menerobos dari Ranah Pemurnian Qi Tahap Awal menuju Ranah Pemurnian Qi Tahap Menengah.
Su Lian tersenyum tipis. "Bakatnya memang luar biasa. Tetapi yang lebih luar biasa adalah energi kegelapan di dalam tubuhnya. Kalau terus berkembang seperti ini, kelak, anak ini mungkin akan mengejutkan seluruh dunia kultivasi."
Menjelang fajar, Yan Kai perlahan membuka kedua matanya. Ia mengepalkan tangannya. Energi spiritual yang mengalir di dalam tubuhnya kini jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Ia segera berdiri lalu memberi hormat. "Terima kasih, Guru."
Su Lian mengangguk pelan. "Ini baru permulaan. Tidak perlu cepat berpuas diri."
Yan Kai menganggukkan kepala dengan hormat. "Murid mengerti."
Su Lian kemudian mengangkat tangan kanannya. Dengungan lembut terdengar. Sebuah pedang panjang berwarna merah gelap tiba-tiba melayang keluar dari Cincin Ruangnya, memancarkan aura yang sangat kuat. Perlahan, ukurannya membesar hingga cukup untuk dinaiki dua orang.
Su Lian melangkah ringan ke atas pedang tersebut. Kemudian ia menoleh. "Naik."
Yan Kai membelalakkan mata. "Pedang... terbang?" Ia memang pernah mendengar legenda tentang para kultivator kuat yang mampu mengendalikan pedang untuk terbang melintasi langit. Namun ini adalah pertama kalinya ia melihatnya secara langsung.
Dengan sedikit gugup, ia menaiki pedang itu. Begitu kedua kakinya berpijak di atas bilah pedang, tubuhnya langsung terasa sedikit gemetar. "Guru... ini tidak akan jatuh, kan?"
Su Lian terkekeh pelan. "Kau takut ketinggian?"
Yan Kai tersenyum canggung. "Sedikit..."
Belum sempat ia menenangkan diri...
Wusss!
Pedang itu melesat ke langit seperti kilatan cahaya.
"Apa?!"
Mata Yan Kai langsung membelalak. Refleks ia memeluk erat Su Lian agar tidak terjatuh. Angin kencang menerpa wajahnya.
Di bawah sana, pepohonan Hutan Kabut Kematian berubah menjadi hamparan hijau yang terus mengecil. Jantung Yan Kai berdegup sangat cepat. Ini adalah pengalaman yang sama sekali belum pernah ia rasakan.
Su Lian hanya tersenyum tipis melihat tingkah murid barunya itu. "Biasakan saja. Mulai sekarang, pedang terbang akan menjadi teman perjalananmu."
Yan Kai mengangguk sambil masih berusaha mengendalikan rasa gugupnya.
...
Pedang terbang yang dikendalikan Su Lian melesat membelah langit dengan kecepatan luar biasa. Awan-awan putih berlalu begitu saja di samping mereka. Yan Kai yang awalnya masih tegang perlahan mulai terbiasa dengan perjalanan di udara.
Meski sesekali ia masih melirik ke bawah dengan perasaan takjub, rasa takutnya sudah jauh berkurang. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu berhari-hari, kini hanya membutuhkan waktu singkat.
Tak lama kemudian, Su Lian mulai mengendalikan pedangnya turun perlahan. Di balik pegunungan yang tinggi dan diselimuti kabut tipis, terbentang sebuah lembah yang sangat luas.
Lembah itu begitu tenang, hampir tidak terdengar suara binatang ataupun manusia. Pepohonan hijau tumbuh subur di setiap sisi, sementara beberapa sungai kecil mengalir membelah lembah dengan air yang sebening kristal.
Di bagian paling tengah lembah, berdiri sebuah istana megah berwarna hitam keunguan. Bangunannya sangat luas dengan arsitektur yang anggun namun tetap memancarkan wibawa.
Pilar-pilar batu giok hitam menopang bangunan utama, sedangkan atapnya dihiasi ukiran bunga teratai berwarna merah tua yang tampak begitu indah. Di sekeliling istana juga terdapat taman-taman yang dipenuhi bunga spiritual, kolam-kolam kecil, serta paviliun-paviliun yang tersusun dengan rapi.
Yan Kai tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya. "Tempat ini... sungguh luar biasa."
Su Lian hanya tersenyum tipis. "Ini adalah Lembah Sunyi. Mulai hari ini, tempat ini juga akan menjadi tempat tinggalmu."
Pedang terbang akhirnya mendarat perlahan di halaman depan istana. Begitu Su Lian turun dari pedangnya, pintu utama istana langsung terbuka.
Puluhan pelayan pria dan wanita yang mengenakan pakaian seragam berwarna abu-abu segera berbaris dengan rapi, menundukkan kepala secara bersamaan.
"Selamat datang kembali, Nyonya." Suara mereka terdengar serempak memenuhi halaman.
Su Lian menganggukkan kepala pelan. Kemudian ia melirik ke arah Yan Kai yang masih berdiri di sampingnya. "Dengarkan baik-baik."
Seluruh pelayan langsung mengangkat kepala. "Mulai hari ini, Yan Kai adalah muridku. Dia akan tinggal di Lembah Sunyi."
Suasana mendadak menjadi hening. Para pelayan diam-diam melirik pemuda berusia sembilan belas tahun itu. Mereka cukup terkejut—selama bertahun-tahun melayani Su Lian, belum pernah sekalipun mereka mendengar wanita itu menerima seorang murid. Namun tidak seorang pun berani menunjukkan keterkejutannya.
Su Lian kembali berkata dengan nada tenang. "Perlakukan dia sebagaimana kalian memperlakukanku. Segala kebutuhannya harus dipenuhi. Siapa pun yang berani meremehkannya, akan berurusan langsung denganku."
Mendengar kalimat terakhir itu, para pelayan langsung menundukkan kepala lebih dalam. "Kami mengerti."
Yan Kai sendiri sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Su Lian akan memberikan kedudukan setinggi itu kepadanya.
Su Lian kemudian menoleh kepadanya. "Yan Kai. Kau pasti lelah. Pergilah beristirahat. Gunakan waktu ini untuk menenangkan pikiranmu. Sore nanti, ada sesuatu yang harus kau lakukan."
Yan Kai sedikit penasaran. "Apa yang harus saya lakukan, Guru?"
Su Lian hanya tersenyum tipis. "Kau akan mengetahuinya nanti. Tidak perlu terburu-buru." Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan melangkah memasuki istana. Jubah biru mudanya berkibar pelan tertiup angin sebelum sosoknya akhirnya menghilang di balik pintu utama.
Seorang pelayan wanita yang berusia sekitar dua puluh lima tahun segera menghampiri Yan Kai. "Tuan Muda Yan. Silakan ikuti saya."
Yan Kai sedikit canggung mendengar panggilan itu. Namun ia tetap mengikuti pelayan tersebut. Mereka melewati lorong-lorong panjang yang dipenuhi berbagai lukisan dan ukiran indah. Tak lama kemudian, pelayan itu berhenti di depan sebuah kamar. Ia membuka pintunya perlahan. "Ini adalah kamar Tuan Muda."
Yan Kai melangkah masuk. Ruangan itu sangat luas. Di dalamnya terdapat tempat tidur besar, meja kayu berkualitas tinggi, rak buku, ruang meditasi kecil, hingga balkon yang langsung menghadap pegunungan dan hutan di sekitar Lembah Sunyi. Semua perabot di dalam kamar tampak dibuat dari bahan-bahan terbaik.
Yan Kai berdiri terpaku beberapa saat. Dulu, ia hanyalah seorang pelayan yang tidur di kamar sempit dan lembap di Sekte Hutan Bambu. Kini, ia justru memiliki kamar yang bahkan lebih mewah daripada tempat tinggal para tetua sekte itu. Perubahan hidupnya terasa begitu cepat hingga terkadang ia sendiri sulit mempercayainya.
Pelayan wanita itu membungkukkan badan. "Jika Tuan Muda membutuhkan sesuatu, silakan panggil kami kapan saja."
Yan Kai mengangguk sambil tersenyum ramah. "Terima kasih."
Setelah pelayan itu menutup pintu dan pergi, suasana kamar kembali sunyi. Yan Kai mengembuskan napas panjang. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap keluar jendela.
Meski masih dipenuhi berbagai pertanyaan mengenai guru barunya dan alasan mengapa dirinya dipilih, untuk saat ini, ia memilih mengikuti arahan Su Lian.
Ia pun berbaring sejenak di atas ranjang yang empuk, memejamkan mata, dan beristirahat sambil menunggu sore hari, saat Su Lian akan memberitahukan tugas pertama yang harus ia jalani sebagai muridnya.