Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertemuan di ujung malam
Rasa takut seketika melumpuhkan seluruh tubuhku, kedua tanganku gemetar hebat tak terkendali. Semua beban yang kupikul sendirian selama ini—kehilangan orang tua, luka parah Aslan, tagihan operasi yang mustahil terjangkau, hinaan orang-orang—seolah menumpuk dan menekan dadaku makin berat saat ini. Aku merapatkan bajuku yang lusuh dan kotor ke tubuhku sekuat tenaga, menatap mereka dengan mata berkaca-kaca penuh ketakutan namun masih berusaha bertahan demi janji pada adikku. Aku menggenggam tangan erat di dada, berusaha melindungi diri sekuat sisa tenaga yang tersisa.
Salah satu pria maju selangkah, nada bicara angkuh penuh niat jahat: “Hai gadis cantik, terburu-buru ke mana? Jangan pergi dulu. Bagaimana kalau layani kami sebentar?” Ia tertawa kasar, temannya ikut senyum jahat setuju.
Air mata menetes tak tertahan, tapi aku tetap berusaha memohon dengan sisa keberanianku. “Aku mohon… lepaskan aku… aku harus kembali ke adikku yang sedang menunggu ku…”
Pria itu hanya tersenyum sinis. “Menangis begitu? Jangan takut sayang, kemari saja, kami akan bersikap lembut.” Langkah mereka makin mendekat tanpa ampun. Aku mundur selangkah demi selangkah, setiap langkah terasa berat karena lelah dan putus asa yang sudah berhari-hari tak berhenti kuras tenagaku. Napasku tersengal, tangan dingin basah keringat ketakutan. Tiba-tiba kakiku tersandung batu kasar—terhuyung, jatuh telentang di aspal keras kasar, lututku lecet berdarah lagi menambah luka yang sudah ada.
Satu pria tertawa keras mengejek keadaanku yang tak berdaya. “Teriaklah sepuasnya! Tak ada yang akan datang di tempat sunyi begini!” Tawa puas mereka makin dekat, tangan hampir menyentuhku. Dalam keputusasaan itu, ingatan pada Aslan memberi sepercik kekuatan: aku tak boleh menyerah sekarang. Tangan gemetar merogoh saku mencari benda pemberian Ibu—tiba-tiba suara berat berwibawa, dingin penuh amarah tertahan terdengar dari belakang mereka:
“Bajingan… berani sekali mengangguku.”
Kami serentak menoleh. Langkah kaki mantap teratur mendekat dari kegelapan, lalu sosoknya tampak jelas: tubuh tinggi tegap, bahu lebar kokoh, kemeja putih rapi menonjol otot yang kuat namun luwes. Wajah sempurna rahang tegas, kulit putih bersih, rambut pirang keemasan bergelombang halus sedikit berantakan alami. Mata biru pucat jernih seperti es, tajam tenang tak tergoyahkan. Pakaian hitam pas rapi, rompi menegaskan bahu lebar, lengan digulung rapi sampai siku, jas panjang tergantung santai di tangan kirinya. Sepatu kulit hitam melangkah mantap memantul di aspal agak basah. Hanya berdiri diam, wibawanya menutupi seluruh lorong yang mencekam itu.
Ketiga pria lewatiku seolah aku tak ada, mendekatinya dengan sombong ejekan.
“Lihat pahlawan dadakan dari mana,” tunjuk pria tengah dengan jari kotor.
“Anak orang kaya nih, bajunya bagus mahal,” tambah yang lain menyipit menilai.
“Di sini tak ada orang tua lindungimu! Pergi sebelum kau terluka!” seru yang ketiga sambil tertawa puas.
Tanpa tunggu jawaban, satu menyerang pukulan keras ke wajah. Aku tahan napas cemas, berharap dia bisa selamat dan menyelamatkanku juga. Dia tak mundur sedikit pun—angkat tangan santai, tangkis pukulan itu seolah hanya menepis lalat. Satu gerakan cepat tak terlihat jelas, penyerang terhempas keras ke jalan diam tak bisa bangun. Dua temannya panik nyata, serang bersama-sama, tapi dia bergerak luwes tenang pasti, hasil latihan bertahun-tahun. Dalam sekejap detik, keduanya roboh berguling ke tanah. Ketiganya merangkak bangun gemetar ketakutan, lari sekencang mungkin tanpa menoleh ke belakang, lenyap di kegelapan.
Aku masih terbaring lelah di tempat itu, mundur perlahan menyusuri dinding dingin sisa tenaga yang hampir habis. Tubuhku gemetar hebat bukan hanya takut, tapi karena hari-hari panjang tanpa istirahat, lapar, luka-luka kecil, dan beban berat yang kupikul sendirian demi Aslan. Mata tak lepas dari sosok penyelamat itu yang tadi begitu kuat dan tak tergoyahkan.
Namun saat ia hendak lewat pergi, kakinya tiba-tiba lemas tak berdaya. Jatuh berlutut di aspal kasar, tangan kanan cengkeram erat lengan kiri menahan nyeri luar biasa hebatnya. Ternyata kekuatan itu tersembunyi di balik rasa sakit yang hebat juga.
Rasa takutku perlahan luntur, digantikan rasa iba dan keinginan berterima kasih yang tulus—aku tahu betapa beratnya menahan sakit demi orang lain. Aku bangkit gontai mendekat sebisa tenagaku yang terbatas.
“Terima kasih banyak… sudah menolongku,” ucapku pelan, suara serak karena lelah dan menangis seharian.
Dia tak menoleh, diam tak menjawab. Aku ikut berlutut di aspal kasar kotor itu, mendekat sedikit lagi, melihat darah segar merembes keluar dari sela jari yang menekan luka lengannya.
“Maafkan saya… meski kemampuanku sedikit, saya mau bantu obati lukamu itu, sebagai balasan kebaikanmu,” kataku sedikit lebih berani, meski sadar diriku hanya gadis miskin tak berdaya yang tak punya apa-apa selain ketulusan.
Wajahnya berubah dingin penuh keengganan menahan sakit tajam. “Pergi kau dari sini!” suaranya serak berat, penuh penderitaan yang dipendam rapi.