NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:764
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12- Repot?

Hari setelah operasi keadaan Alena membaik. Ia akhirnya siuman meski tubuhnya masih lemah dan setiap gerakan kecil saja terasa menyakitkan. Ia kini dipindahkan dari ICU ke ruang rawat biasa, namun tetap dalam pengawasan yang ketat.

Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah tirai jendela. Alena menatap langit-langit kamar namun sorot matanya seolah menerawang sesuatu.

Hingga...

Pintu kamar terbuka tanpa permisi di iringi suara, “Pagi.”

Alena langsung mengernyit mendengar suara yang familiar itu.

“Max…” gumam Alena. Ia sedikit menghela napas karena sedikit merasa tidak nyaman dengan kehadiran Max.

Laki-laki itu berdiri santai di dekat pintu sambil membawa kantong plastik yang berisi buah dan minuman.

“Masih hidup, kan?” katanya dengan setengah bercanda.

Alena menatapnya datar bahkan hampir tak ada ekspresi. “Harusnya kamu nggak di sini.”

Max lalu berjalan masuk dan meletakkan bawaannya di meja samping tempat tidur.

“Aku datang karena kamu belum mati,” jawabnya santai.

Alena menghela napasnya kembali seraya menahan rasa tidak nyaman di tubuhnya.

“Aku serius,” tegas Alena. “Jangan sering-sering ke sini.”

Max menghentikan langkahnya sejenak dan menatap Alena. “Kenapa?”

Alena memalingkan wajahnya ke arah jendela dan menjawab, “Karena aku nggak mau repot."

“Xi xi xi... Repot?” ulang Max. “Duduk doang di sini repot?”

Alena tidak menjawabnya karena bukan itu maksudnya. Namun Max terlalu keras kepala untuk memahami maksudnya itu.

Max lalu menarik kursi dan duduk di samping ranjang.

“Denger ya,” katanya terdengar serius. "Aku bakal tetap datang.”

Alena langsung menoleh.

“Aku bilang jangan—”

“Aku nggak denger,” potong Max. Tatapan matanya tajam, tapi bukan karena marah tapi lebih ke… tidak mau kalah.

“Max…” suara Alena melemah. “Aku cuma nggak mau—”

“Kamu nggak mau nyusahin orang?” potong Max lagi.

Alena terdiam karena tebakan Max itu tepat sasaran.

Max menghela napas dan menghembuskannya secara kasar. “Udah telat. Dari awal kamu udah nyusahin.”

Alena langsung menatapnya seakan tidak percaya. Namun sebelum ia sempat tersinggung Max melanjutkan perkataannya, “Dan aku nggak masalah.”

"Max-"

“Aku tetap bakal datang,” ulang Max. “Mau kamu usir juga.”

Alena menatap Max dengan agak kesal. Tapi… ia benar-benar tidak bisa menolak.

“Dasar keras kepala,” gumam Alena.

“Belajar dari yang terbaik," ujar Max seraya tersenyum menang.

______

___________

Sementara itu di tempat lain. Di toko bunga milik Alena yang keadaannya masih berantakan.

Beberapa pot pecah, bunga-bunga layu berserakan, dan meja kerja yang dulu rapi kini tampak seperti tempat yang ditinggalkan dengan terburu-buru.

Namun pagi itu seseorang sudah berada di sana. Dialah Bara. Ia berdiri di tengah toko, seraya menatap sekeliling dengan ekspresi tenang namun nampak serius.

Saat itu seorang pria paruh baya, yang menjaga toko sebelah, memperhatikannya dari pintu.

“Kamu… kenal pemilik toko ini?” tanyanya.

Bara pun mengangguk dan menjawab. “Ya.”

Jawaban Bara itu tidak sepenuhnya bohong namun juga tidak sepenuhnya benar. Dan tanpa banyak bicara, Bara pun mulai membereskan toko Alena.

Ia mengangkat pot-pot yang jatuh, mengumpulkan pecahan kaca, lalu menyapu lantai dengan perlahan. Gerakannya tenang dan teratur, seolah ia sudah terbiasa melakukan hal ini.

Tak lama kemudian, seorang karyawan dari toko lain, yang biasanya menyapa Alena datang dengan wajah yang terkejut.

“Kak…?” matanya membesar saat melihat kondisi toko. “Ya ampun…”

Ia lalu melihat Bara dan bertanya, “Mas… siapa ya?”

“Saya… hanya membantu," jawab Bara tanpa menghentikan pekerjaannya.

Karyawan itu masih bingung, tapi ia tidak terlalu mempermasalahkan keberadaan Bara.

“Ini… berantakan banget,” gumam karyawan tadi.

Bara menghentikan aktifitasnya sejenak dan berdiri tegap sambil menyapu sekitar. “Aku akan bereskan pelan-pelan.”

Bara lalu melanjutkan pekerjaannya dan karyawan tadi pun menawarkan diri untuk membantu sehingga mereka pun bekerja sama.

Hingga beberapa saat kemudian, karyawan itu kembali bicara. “Ini gara-gara kejadian waktu itu, ya?”

Bara mendengarnya tapi tidak langsung menjawab. Tangannya tetap merapikan bunga yang masih bisa diselamatkan.

“Yang buat keributan itu… katanya keluarga seseorang," lanjut si karyawan.

Bara berhenti bergerak dan menoleh sejenak lalu melanjutkan pekerjaannya.

“Maaf,” katanya singkat.

Karyawan itu menatap Bara dengan heran.

“Mas yang minta maaf?”

Bara pun mengangguk pelan.

“Apa Mas kenal mereka?”

“Sayangnya… iya."

Perbincangan itupun tidak berlanjut. Bara kembali fokus bekerja. Menyusun ulang bunga-bunga, membersihkan sisa kekacauan. Sementara karyawan tadi langsung pamit karena ia juga harus bekerja.

**

Sore harinya...

Toko bunga milik Alena kini terlihat jauh lebih rapi dibanding sebelumnya. Meskipun belum sepenuhnya sempurna, setidaknya kekacauan akibat kejadian kemarin sudah banyak berkurang.

Bara berdiri di ambang pintu sambil menatap hasil kerjany. Pot-pot bunga yang sebelumnya berserakan kini sudah tersusun kembali, lantai yang kotor sudah bersih, dan suasana toko pun mulai terasa hidup lagi.

Ia menghela napas lalu bergumam. “Cukup… untuk hari ini."

Setelah itu, Bara berbalik dan melangkah pergi. Tujuannya saat ini adalah rumah sakit. Selain ingin memastikan kondisi Alena, ia juga ingin menyampaikan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Yaitu permintaan maaf.

Namun, perjalanan Bara menuju rumah sakit terasa lebih panjang. Bukan karena jaraknya yang jauh, melainkan karena pikirannya dipenuhi berbagai hal yang sulit dijelaskan.

Sesampainya di sana, suasana rumah sakit terlihat cukup tenang. Bara berjalan menyusuri lorong hingga akhirnya berhenti di depan pintu kamar rawat Alena.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu dengan sopan.

Tok… tok…

“Masuk,” terdengar suara Alena dari dalam.

Bara lalu membuka pintu perlahan dan masuk ke dalam ruangan.

Di dalam sana, Alena tampak bersandar di ranjang. Wajahnya masih pucat, namun sudah terlihat lebih segar dibanding sebelumnya. Tubuhnya memang masih lemah, tetapi setidaknya kondisinya mulai membaik.

Yang membuat suasana terasa lebih tenang adalah dengan tidak adanya Max di sana.

“Selamat sore,” sapa Bara dengan sopan sambil melangkah mendekat. “Apa keadaan Nona Alena sudah lebih baik?”

Alena menoleh dan menatapnya, dan senyum tipis pun terukir di bibirnya.

“Sudah lebih baik,” jawabnya pelan. “Meski masih belum bisa banyak bergerak.”

Bara pun mengangguk pelan. Namun ia tetap berdiri dengan jarak yang cukup, untuk menjaga sikapnya.

Sejenak, suasana terasa hening. Namun Bara tidak ingin berlama-lama untuk mengutarakan isi hatinya.

“Saya… datang untuk meminta maaf,” ucapnya.

Alena sedikit mengernyit dan menatapnya lebih serius.

“Terutama atas apa yang terjadi di toko,” lanjut Bara. “Dan juga… atas sikap Mico.”

Nama itu membuat Alena terdiam sesaat. Ia tidak langsung menjawab dan hanya menarik napas pelan-pelan.

“Dia sudah melewati batas,” kata Bara lagi. “Dan itu… menjadi tanggung jawab saya.”

Alena menurunkan pandangannya dan menatap infusan yang terpasang di tangannya.

“Tanggung jawab?” ulangnya.

Bara pun langsung mengangguk. “Meskipun tidak secara langsung, tapi saya tidak bisa mengabaikan bahwa dia bagian dari keluarga saya.”

Alena memalingkan wajahnya ke arah jendela.

“Yang terjadi… sudah terjadi. Dan saya hampir mati."

“Saya tau,” jawab Bara pelan namun cepat.

“Karena itu saya minta maaf. Bukan hanya sekadar ucapan… tapi karena saya benar-benar menyesal," lanjut Bara.

Alena pun kembali menatapnya. “Kamu beda."

Pernyataan Alena yang tiba-tiba itu membuat Bara sedikit terkejut.

“Dari dia,” lanjut Alena. “Cara kamu bicara… cara kamu bersikap.”

Bara tidak langsung menanggapi. Namun Alena kembali berbicara, “Kalau kamu memang merasa bertanggung jawab, pastikan dia tidak melakukan hal yang sama ke orang lain.”

“Itu yang akan saya lakukan," jawab Bara seraya mengangguk mantap.

Bara menghembuskan napasnya pelan-pelan dan hatinya pun sedikit ringan.

.......

...........

................

“Toko…” ucap Alena yang membuka percakapan kembali. “Pasti berantakan.”

“Sudah saya rapikan,” jawab Bara.

Alena mengernyit. “Sendiri?”

“Tidak sepenuhnya,” kata Bara. “Ada yang membantu. Tapi sebagian besar sudah kembali seperti semula.”

Alena menatap Bara seakan tak percaya. “Kenapa?” tanyanya.

Pertanyaan itu membuat Bara sedikit kikuk. Namun akhirnya ia menjawab, “Karena itu penting bagi Anda.”

“Dan…?” tanya Alena lagi.

Bara sedikit mengalihkan pandangannya, lalu berkata dengan pelan, “Karena saya ingin memperbaiki… apa yang bisa saya perbaiki.”

Alena tersenyum pada Bara dan Bara pun membalasnya dengan sopan.

“Terima kasih,” ucap Alena.

“Semoga Anda cepat pulih.”

Setelah itu, Bara tidak berlama-lama lagi di ruangan Alena. Ia langsung berpamitan dan hendak berbalik menuju pintu. Namun sebelum ia keluar...

“Bara.”

Suara Alena menghentikannya dan Bara pun menoleh.

“Hati-hati dengan orang di sekitarmu,” kata Alena memberi pesan.

Bara pun terdiam sesaat, lalu mengangguk.

“Terima kasih.”

_____

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!