NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.

​Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Mobil pun mulai melaju. Sungguh, jika harus memilih antara berlama-lama di dalam mobil atau di atas kapal, aku jauh lebih memilih kapal. Suasana berdesak-desakan di dalam mobil sempit ini benar-benar membuat kepalaku pusing dan mual.

​Lima jam lamanya perjalanan harus kutempuh, hingga akhirnya sang sopir menghentikan mobil tepat di depan rumah orang tuaku. Dia dengan sigap menurunkan barang-barangku dari bagasi. Selain koper pakaian, ada beberapa oleh-oleh yang sempat kubeli di pelabuhan untuk Ayah, Ibu, dan adik kembarku.

​"Berapa, Om?" tanyaku sambil membuka dompet.

​"Lima puluh saja," katanya pelan.

​Aku mengangguk, lalu mengulurkan selembar uang berwarna biru ke tangannya. Setelah bodi mobil itu bergerak menjauh dan menghilang di tikungan jalan, aku membalikkan badan. Kutatap rumah orang tuaku yang tampak sangat sunyi.

​Aku melangkah perlahan hingga sampai di depan pintu kayu yang mulai usang itu. "Assalamualaikum! Oma...!" panggilku, menyebut Ibu dengan panggilan khas Tolaki.

​Tidak ada jawaban dari dalam. Namun, sayup-sayup aku mendengar suara batuk dari arah belakang rumah.

​"Assalamualaikum, Ma! Yasita pulang!" seruku lagi, kali ini dengan suara yang lebih nyaring.

​Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari dalam. "Iye, tunggu!"

​Ceklek.

​Pintu terbuka, menampakkan wajah wanita yang sangat kurindukan. "Astaga... Yasita! Kamu pulang, Nak? Masuk, masuk, Nak!" Mama langsung berhambur memelukku dengan erat. "Kenapa tidak kasih tahu Mama kalau mau pulang kah? Tidak mau juga menelepon dulu."

​Aku hanya bisa tersenyum getir, menyembunyikan badai yang sempat meremukkan hidupku di tanah rantau. "Maaf, Ma. Soalnya mendadak juga... Eee, mana Bapak?" tanyaku, langsung mengalihkan perhatian Mama.

​"Naik di kebun, Nak. Berapa hari ini dia panen nilamnya. Kasihan, Mama tidak bisa bantu karena badan kurang sehat," jawab Mamaku lembut.

​Obrolan hangat kami terus berlangsung, mengobati sedikit luka di hatiku, sampai akhirnya Mama menyuruhku masuk ke kamar untuk beristirahat. Sore harinya, kepulangan Bapak dan kedua adik kembarku kusambut dengan ceria. Rumah yang tadinya sepi mendadak penuh tawa. Mereka teramat senang melihatku kembali ke rumah.

​Satu bulan berlalu dengan cepat...

​Di suatu pagi, aku terbangun dengan kondisi tubuh yang terasa sangat tidak nyaman. Rasa pusing yang hebat dan mual yang menyiksa terus-menerus mendera uluh hatiku selama beberapa hari terakhir.

​"Kenapa denganku...?" ucapku lirih, memegangi perutku yang terasa bergejolak.

​Saat mencoba menenangkan diri, tak sengaja mataku menangkap kalender yang terpajang di dinding kamar. Detik itu juga, darahku seakan berhenti mengalir. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat.

​"Ya ampun... sudah tanggal 29 aja, dan aku belum halangan?" ucapku cemas, setengah berbisik.

​Dengan tangan gemetar, aku mulai menghitung mundur siklus bulanku di kalender. Hasil hitungan itu membuat duniaku serasa runtuh untuk kedua kalinya. Ketakutan yang luar biasa langsung menyergap benakku.

​"Apa... apa aku hamil? Tidak, tidak... ini tidak boleh terjadi!" ucapku cepat dengan napas yang memburu, mencoba menyangkal kenyataan mengerikan yang kini mengintai masa depanku.

Aku berlari sekuat tenaga menuju kamar mandi saat rasa mual yang teramat sangat kembali menghantam ululu hatiku secara mendadak.

​"Huekkk... eughhh... Huekkk...!"

​Aku mencengkeram pinggiran wastafel, memuntahkan cairan bening berulang kali hingga dadaku terasa sesak dan tenggorokanku perih.

​"Yas, kenapa?" Panggilan cemas Mama terdengar dari luar pintu kamar mandi.

​Setelah merasa agak mendingan dan membasuh mulut, aku perlahan membuka pintu. "Kenapa, Nak?" tanya Mama langsung menyelisik wajah pucatku.

​Aku menggeleng lemah. "Mungkin cuma masuk angin ini, Ma. Bisa minta tolong buatkan teh hangat?" ucapku, lalu bergegas berlalu kembali ke dalam kamar, sengaja meninggalkan Mama yang kini menampakkan raut wajah penuh kecurigaan.

​Tidak lama kemudian, Mama masuk ke kamarku sambil membawa segelas teh hangat yang masih mengepul. Dia meletakkan gelas itu di meja, lalu duduk di tepi kasur, tepat di sampingku.

​"Coba kau cerita sama saya, kau kenapa sebenarnya?" tanya Mama dengan nada suara yang sangat serius.

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
semangat kk cantik 👌 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
cepat sehat yaa KK cantik 😍 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cepat pulih y Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!