Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.
Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.
Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Mata Budi kemudian tertuju pada sebuah figur kecil yang berdiri di atas petak bertuliskan Start.
Itu adalah karakter chibi yang mengenakan kemeja kusut dan celana bahan persis seperti yang dia pakai sekarang.
Wajah chibi itu juga memiliki kantung mata hitam yang identik dengan wajah Budi.
"Itu kan aku, lucu sekali bentuknya."
Tiba tiba muncul sebuah teks pemberitahuan besar di tengah papan hologram.
"Pengguna mendapatkan satu kali kesempatan lemparan dadu gratis hari ini."
"Silakan sentuh dadu untuk mulai mengundi nasib."
Di depan dada Budi, muncul dua buah dadu virtual berwarna putih yang berputar pelan di udara.
Budi masih ragu ragu untuk menyentuhnya.
'Ini pasti mimpi yang disebabkan oleh perut kosong.'
'Tapi kalau memang mimpi, tidak ada salahnya aku coba mainkan.'
Budi mengangkat tangan kanannya perlahan menuju dadu virtual tersebut.
Ujung jarinya menyentuh permukaan dadu yang ternyata terasa dingin dan padat.
"Ternyata benda ini bisa dipegang padahal bentuknya cahaya."
Budi menggenggam kedua dadu itu lalu menggoyangkannya di dalam kepalan tangannya.
Klak klak klak.
Suara dadu yang saling berbenturan terdengar sangat nyata di telinganya.
"Baiklah sistem, berikan aku keberuntungan malam ini."
Budi melempar dadu itu ke arah papan hologram di depannya.
Kedua dadu itu memantul mantul di atas papan dengan efek cahaya yang berkilauan.
Dadu pertama berhenti dan menunjukkan angka empat.
Dadu kedua berputar sedikit lebih lama sebelum akhirnya berhenti di angka tiga.
"Tujuh, totalnya tujuh langkah."
Avatar chibi Budi di atas papan tiba tiba melompat lompat girang.
Karakter kecil itu mulai berjalan maju melintasi petak petak yang ada.
Satu, dua, tiga, hingga akhirnya berhenti tepat di petak ketujuh.
Budi mendekatkan wajahnya untuk melihat tulisan di petak tersebut.
Petak itu berwarna emas dengan gambar sebuah kotak hadiah di tengahnya.
Tulisannya adalah Kesempatan Pertama.
Sebuah kotak notifikasi baru muncul menutupi sebagian layar.
"Selamat, pengguna menginjak petak Kesempatan Pertama."
"Menghitung hadiah yang sesuai dengan kondisi pengguna saat ini."
Budi menahan napasnya menunggu hasil dari perhitungan sistem aneh ini.
'Tolong berikan aku uang yang banyak supaya aku bisa bayar utang Bang Jali.'
'Atau setidaknya berikan aku makanan enak malam ini.'
Ting!
"Hasil undian selesai."
"Pengguna mendapatkan hadiah berupa Saldo Darurat sebesar lima ratus ribu rupiah."
"Uang telah ditransfer ke kantong pengguna secara fisik untuk menghindari kecurigaan bank."
Budi terdiam sejenak mencerna kalimat terakhir dari sistem tersebut.
"Dikirim ke kantong fisik."
Dia buru buru meraba saku celana kerjanya yang seingatnya sudah kosong melompong.
Tangan Budi menyentuh sebuah gumpalan kertas yang cukup tebal di dalam saku kanannya.
Jantungnya berdebar kencang saat dia menarik benda tersebut keluar.
Itu adalah lima lembar uang seratus ribuan yang masih mulus dan berbau uang baru.
Budi menjatuhkan rahangnya saking terkejutnya.
"Ini uang asli, bukan uang mainan."
Dia menerawang uang itu ke arah lampu kamarnya dan melihat ada tanda air pahlawan di sana.
Tekstur uangnya juga sangat kasar layaknya uang yang baru ditarik dari bank.
"Sistem ini nyata, aku benar benar mendapatkan uang dari melempar dadu."
Budi tertawa pelan yang kemudian berubah menjadi tawa keras memenuhi kamar kosnya.
"Hahaha, akhirnya aku tidak jadi puasa sebulan penuh."
"Sistem Lempar Dadu, entah dari mana asalnya benda ini, tapi aku berterima kasih."
Budi menggenggam uang lima ratus ribu itu dengan sangat erat seolah takut uang itu akan terbang.
Panel hologram di depannya meredup perlahan lalu menghilang dari pandangan.
Namun sebelum sepenuhnya hilang, ada satu baris teks terakhir yang tertinggal.
"Waktu hitung mundur menuju lemparan harian berikutnya, dua puluh tiga jam lima puluh sembilan menit."
Budi tersenyum puas dan menyeka sedikit air mata bahagia di sudut matanya.
'Malam ini aku akan makan nasi padang lauk rendang dua porsi.'
'Bang Jali, tunggu saja tanggal mainnya, aku pasti akan melunasi semua utang itu.'
Budi segera mengambil jaketnya dan melangkah keluar kamar dengan semangat baru yang menyala.
Ini baru permulaan dari permainan papan paling gila yang akan mengubah seluruh hidupnya.