NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:57.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Permintaan Maaf Jovian

Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Suasana kantor yang sejak pagi dipenuhi kesibukan perlahan mulai sedikit lengang. Para karyawan bergantian meninggalkan meja kerja mereka untuk makan siang.

Di ruangannya, Jena masih duduk menatap layar komputer. Beberapa berkas di depannya memang sudah selesai diperiksa, tetapi pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan Michelle tadi.

Ketukan di pintu membuatnya mengangkat wajah. "Masuk," katanya.

Pintu terbuka perlahan dan sosok yang sejak tadi memenuhi pikirannya akhirnya muncul.

Tatapan keduanya bertemu selama beberapa detik. Tidak ada senyum cerah seperti biasanya. Tidak ada sapaan manja yang selalu Jena berikan saat melihat kekasihnya itu. Yang ada hanya keheningan yang terasa berat.

Jovian menutup pintu dan berjalan mendekati meja Jena. "Sayang."

Jena menatapnya datar. "Ada apa, Mas?"

Nada formal itu membuat dada Jovian terasa sesak. Biasanya Jena akan langsung bertanya apakah ia sudah makan, apakah pekerjaannya selesai, atau bahkan mengomel karena ia lupa menjaga kesehatan.

Namun sekarang, wanita itu menjaga jarak. Jovian menarik napas panjang. "Aku minta maaf." Jena tidak menjawab. "Aku tahu kamu kecewa."

"Kecewa?" Jena tersenyum tipis, namun tidak sampai ke matanya. "Mas yakin aku cuma kecewa?" Jovian terdiam. Jena menunduk sejenak sebelum kembali menatapnya. "Semalam Mas berjanji akan menjemputku. Tadi pagi aku menunggu Mas dengan hati bahagia. Tapi menit demi menit berlalu, Mas tak kunjung datang. Aku pun menelepon Tante Sifa untuk menanyakan Mas. Ternyata Mas sudah berangkat dan malah ke tempatnya Michelle." Suara Jena bergetar, mukanya ia palingkan ke sebelah kiri.

"Jen, dengarkan aku-"

"Biarkan aku selesai dulu, Mas." Nada lembut tapi tegas itu membuat Jovian kembali diam. "Hati aku sakit banget pas mendengar hal itu. Aku menunggu kamu sampai hampir kesiangan. Pas tiba di kantor ... aku melihat kamu bersama Michelle. Bukan hanya sekali, Mas. Ini bukan pertama kalinya aku melihat kedekatan kalian."

"Aku minta maaf. Tadi aku memang ke tempat Michelle dulu mengambil beberapa dokumen yang berkaitan dengan charity event," jelas Jovian cepat. "Kita berangkat masing-masing. Michelle naik mobilnya sendiri, dan aku pakai mobilku. Percaya sama aku."

Jena menghela napas. "Kalau memang seperti itu, kenapa Mas tidak menghubungiku? Ngirim pesan kan bisa. Bilang kalau kamu nggak jadi jemput aku," ucap Jena pelan tapi penuh penekanan.

Perkataan itu membuat Jovian kehilangan kata-kata. Karena memang tidak ada alasan yang bisa membenarkan kesalahannya. "Aku ngaku salah," ucapnya akhirnya. "Aku berpikir setelah semuanya selesai, aku bisa menjelaskan."

Mata Jena mulai berkaca-kaca. "Dan itu masalahnya, Mas." Jovian terdiam. "Selama sembilan tahun, aku selalu berusaha mengerti kesibukan Mas. Aku selalu percaya pada Mas."

"Aku tahu."

"Tapi kepercayaan itu bukan berarti Mas bisa terus membuatku menunggu tanpa kabar."

Kalimat itu menusuk tepat ke hati Jovian. Dengan perlahan, ia mendekati meja Jena dan berjongkok di hadapannya. "Maafkan aku." Jena menahan napas ketika melihat mata lelaki itu yang dipenuhi penyesalan.

"Aku tidak pernah berniat membuatmu merasa tidak penting."

"Tapi aku merasa seperti itu tadi pagi." Suara Jena mulai bergetar. "Aku duduk sendiri menunggu seseorang yang berjanji akan menjemputku ke kantor. Dan saat tiba di kantor, aku melihat Mas bersama wanita yang selama ini membuatku tidak nyaman ... bagaimana menurut Mas perasaanku?"

Jovian menundukkan kepala. "Aku tidak bisa membela diri. Aku ngaku salah, Jen. Maaf." Kejujuran itu membuat hati Jena sedikit melunak. "Aku juga ingin menjelaskan sesuatu, Jen." Jovian kembali menatapnya. "Aku dan Michelle benar-benar hanya bekerja bersama. Tidak lebih."

Jena mengangguk pelan. "Aku percaya kamu." Jawaban itu tidak membuat Jovian lega. Justru rasa bersalahnya semakin besar. "Namun," lanjut Jena, "Percaya bukan berarti aku tidak bisa terluka."

Jovian menggenggam tangan Jena dengan hati-hati. "Aku mengerti."

"Tidak, Mas. Kali ini Mas harus benar-benar mengerti." Tatapan Jena begitu dalam. "Aku capek di PHP-in terus."

Kalimat itu membuat Jovian membeku. Ia baru menyadari bahwa selama ini Jena selalu menjadi pihak yang mengalah. "Maaf," bisiknya lagi. "Aku janji nggak akan ingkar janji lagi. Nggak akan membuatmu kecewa lagi dan akan menjaga perasaan kamu."

Jena menatapnya lama, mencoba melihat kesungguhan dalam mata pria yang telah menemaninya selama sembilan tahun itu. Akhirnya ia menghela napas pelan. "Awas kalau ingkar janji lagi?" ancam Jena sambil mengangkat tinjunya.

"Siap, Bu Bos." Jovian tertawa kecil sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.

Tanpa mereka sadari, seseorang berdiri di balik pintu yang belum tertutup rapat. Sepasang mata memperhatikan keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Michelle tersenyum tipis. "Menarik ..." gumamnya pelan. Namun senyum itu perlahan berubah menjadi senyum penuh ambisi. "Kita lihat, seberapa kuat hubungan yang kalian bangun selama sembilan tahun itu bertahan?" Ia pun melangkah pergi dari depan ruangan itu.

Setelah percakapan panjang yang menguras emosi itu, suasana di antara Jovian dan Jena perlahan mencair. Meski luka di hati Jena belum sepenuhnya hilang, setidaknya ia melihat kesungguhan dalam mata pria yang telah menemaninya selama sembilan tahun itu.

Jovian berdiri dan tersenyum kecil. "Sudah siang. Kita makan bersama, ya?"

Jena menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. "Iya."

Seketika wajah Jovian sedikit cerah. "Terima kasih, Sayang."

Jena hanya membalas dengan senyum tipis.

Keduanya kemudian keluar dari ruangan dan berjalan berdampingan menuju lift khusus karyawan. Sesampainya di depan lift, Jovian menekan tombol turun.

Pintu lift terbuka. Namun saat mereka akan melangkah masuk, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar terburu-buru dari belakang. "Tunggu!"

Jena dan Jovian menoleh bersamaan.

Michelle berjalan cepat menghampiri mereka sambil membawa beberapa map di tangannya. "Aku ikut-" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tumit heels Michelle tersangkut pada karpet kecil di depan lift. "Ah!" Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan nyaris jatuh ke depan.

Refleks, Jovian yang berada paling dekat langsung mengulurkan tangan. Satu tangan Jovian menahan pinggang Michelle, sementara tangan lainnya menahan bahu wanita itu agar tidak terjatuh.

Michelle terdiam sejenak dalam pelukan Jovian. Waktu seolah berhenti.

Di samping mereka, Jena membeku. Tatapannya tertuju pada tangan Jovian yang masih berada di pinggang Michelle.

Baru beberapa menit lalu pria itu berjanji akan menjaga perasaannya.

Dan sekarang, di depan matanya sendiri, pemandangan yang paling tidak ingin ia lihat kembali terjadi.

"Jena ..." panggil Jovian cepat ketika menyadari ekspresi kekasihnya berubah.

Namun sebelum Jena sempat mengatakan apa pun, sudut bibir Michelle perlahan terangkat. Senyuman kecil. Senyuman yang penuh kemenangan. Tatapannya bertemu dengan Jena. Batin Michelle berkata. "Lihat, Jena? Seberapa pun kamu percaya, aku tetap bisa berada di antara kalian."

Jena mengepalkan tangannya. Dadanya terasa panas. Namun kali ini, ia tidak ingin langsung bereaksi seperti yang Michelle harapkan. Jena menarik napas panjang lalu menatap Michelle dengan tenang. "Bu Michelle, apakah Anda baik-baik saja?"

Pertanyaan itu justru membuat Michelle sedikit terkejut. Ia mengira Jena akan marah. Michelle segera memasang ekspresi lemah. "Ah, maaf. Aku tadi terpeleset."

Jovian langsung melepaskan pegangannya dan mundur satu langkah. "Kamu tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja, Jo," jawab Michelle sambil merapikan rambutnya. Lalu ia melirik Jena dengan senyum tipis. "Untung ada Jovian. Kalau tidak, mungkin aku sudah jatuh."

Jena menangkap maksud kalimat itu. Namun ia hanya tersenyum kecil. "Benar. Mas Jovian memang orang yang tidak akan membiarkan siapa pun terluka." Jena menoleh pada Jovian. "Tapi setelah ini, Mas harus ingat bahwa ada seseorang yang hatinya juga harus dijaga."

Kalimat itu membuat wajah Jovian berubah. Ia langsung memahami maksud Jena. Rasa bersalah kembali menyergapnya.

Sementara Michelle yang tadinya tersenyum, perlahan mengeraskan rahangnya karena menyadari Jena tidak terpancing emosi.

Jena melangkah masuk ke dalam lift lebih dulu. Jovian segera mengikuti di belakangnya. Lalu Michelle juga menyusul. Saat pintu lift perlahan menutup, Michelle menatap keduanya menggunakan ujung matanya. Senyum kecil kembali muncul di bibirnya. "Ini belum selesai, Jena," batinnya pelan.

1
Nining Sariningsih
wah orang tua yang bijak,,,,,gak kayak keluarga si Jovan yang tonik,cocok thoorrrrrr kalau jena dapat keluarga kayak keluarga pak Trisno ma bunda Laila aku doa in mudah2an jodohnya jena,,,,,semangat thooorrr💪💪💪
Ama Apr: Aamiin, makasih kk🫰
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
namanya unik loh...Obi alias mas Toto 😅
Ama Apr: hahaha, berarti bs aja 2 orh yg beda🤭
total 3 replies
Dartihuti
masya'allah betul ortu yg bijak ...kebahagian yg hakiki lbh utama dr pd gelimangan harta tp hati terasa hampa...harta bisa di cari bersama kebahagian gk akan mampu di beli dng semua yg harta punya aaa...betul " 👍pak Trisnoudah maruk dqn nafsu harta apapun susah tuk menyadarkan kl org dah egois bin srakah
Ama Apr: kan, masih ada orkay yg bijak🫰
total 1 replies
Yeni Astriani
Bimo belum tahu saja kalau Mas Toto itu Obi laki2 yg direndahkan derajat nya oleh anak istrimu kalau ketemu pasti menolak 100%, sebab kelakuan anak istrinya, dan untuk Jihan belum tentu dia masih perawan siapa tau udah jebol duluan melihat pergaulan nya saja begitu sama kaya Michelle
Ama Apr: hihi, kena mental mereka🤣
total 1 replies
partini
wah ternyata ga mulus ya pak Bimo mua main curang Tah jangan" Bimo kepikiran menjebak biar tangung jawab macam obat perangsang mungkin setalah tau siapa anak pak Tris tentu nya
pak Tris ortu yg 👍
Ama Apr: hehe, iya kk
total 3 replies
Andriyati
aku rasa dia punya gangguan mental,,
Ama Apr: michelle kk?
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
terlalu berambisi pengen jodoh in anak nya sama keluarga konglomerat 😏
Ama Apr: betul kk
total 3 replies
Oma Gavin
jangan mau pak trisno temen mu itu licik matre dan sombong
Ama Apr: hoho iya
total 1 replies
Eneng Farida
aduh beneran bkn toto kan anak pak tresno?
Ama Apr: kita lihat nanti
total 1 replies
Dartihuti
Percaya deh dng crita Nikita kl sikap Pak Trisno lbh bijak gk seegois main trima si Bimo main asal jodohi anak hanya buat urusan bisnis...jg bisa bedain sikap org tulus apa fulus
Ama Apr: yap, betull
total 1 replies
partini
semoga ga Jena sama Niki kedepannya ga ada masalah takut nya cinta bertepuk sebelah kaki wehhh🤦
pak Bimo to the point sekali wehhh
pak tri responnya seperti apa yah penasaran langsung gas atau seak seok
Ama Apr: hehe, besok y kk
mau up lagi, nggak keburu🤣
total 3 replies
Amy
semoga pak trisno nggak mau jodohin anaknya sama jihan,,,,tolak mentah2 aja
Ama Apr: wkwkwk
total 1 replies
Dartihuti
Diiih...nafsu amat ingin c4 berbesan orang kaya biar + bonafit biar di pang tak terkalahkan gk tahu tar sok ...Pak Tridno mang kayak anda tuan Bimo yg gila akan sumber kekayaan hingga meremehkan org
Ama Apr: kita buktikan, apa trisno sm gila harta
total 1 replies
Oma Gavin
weleh ngarep banget anaknya bisa tunangan sama anak pak trisno yg sudah kesengsem sama jena jgn harap bisa yg ada kamu terkejut setelah tau jena kerja di perusahaan pak trisno
Ama Apr: hahaha
total 1 replies
partini
sat set sekali mau di jodohin,aihhh ga jadi mendoakan kamu jadi mantu pak tri Jen 🤭
Ama Apr: belum tentu pk tris nya mau🤭
total 1 replies
Yeni Astriani
semoga pak Trisno menolak perjodohan itu sama Jihan jangan Terima keluarga sombong☺☺☺
Ama Apr: wkwkwk, aamiin
total 1 replies
Kota Tegalan
PD BANGET si Bimo 🤣🤣🤣🤣 yg ada ntarr Jihan mewek 😆
Ama Apr: ketawain aja kk
total 1 replies
Dartihuti
Moga di mudahkan ya Jena...
Pak Trisnonya terkesan dng prilaku jg kinerjamu...begitu jg Authour nya🥰
Ama Apr: aamiin, makasih kk
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
ak yakin PK tresno ini orang tua nya mas Toto..cm nebak aja sih 😅
Ama Apr: hihihihi
total 1 replies
Asphia fia
up datenya tmbh thor cemungut💪
Ama Apr: siapp kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!