"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepolosan yang menjungkir balik dunia
Tidak butuh waktu lama bagi jaringan informasi seorang Rayyan Wijaya untuk mendapatkan koordinat pasti tempat tinggal Aira. Kurang dari tiga puluh menit, mobil Rolls-Royce hitam mewah milik sang CEO sudah membelah gerbang dan berhenti tepat di depan halaman sebuah rumah yang cukup besar. Rumah itu tampak mapan, hasil dari posisi ayah Aira sebagai manajer atas di bawah naungan Wijaya Group. Namun bagi Rayyan, kemewahan luar rumah ini terasa hambar karena dia tahu ada seorang gadis polos yang sedang menderita di dalam sana.
Rayyan turun dari mobil. Langkah kakinya yang dibalut sepatu pantofel mahal terdengar tegas saat menapaki lantai teras. Dengan ekspresi wajah yang datar namun memancarkan aura dominasi yang kuat, dia mengulurkan tangan dan memencet bel rumah tersebut.
Ting tong...
Tak lama kemudian, pintu kayu jati yang besar itu terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian modis dan riasan yang sedikit berlebihan
keluar. Dia adalah Santi, ibu tiri Aira.
Awalnya, Santi memasang wajah ketus karena merasa terganggu di jam santainya. Namun, begitu matanya menangkap sosok pria tegap setinggi 185 cm dengan setelan jas custom-made yang berdiri di depannya, napas Santi mendadak tercekat. Wajahnya seketika memucat, dan senyum manis yang dipaksakan langsung terukir di bibirnya.
Santi tentu saja tahu siapa pria ini. Sebagai istri dari seorang manajer di Wijaya Group, wajah Rayyan Wijaya yang sering muncul di majalah bisnis dan televisi sudah sangat akrab di kepalanya. Pria di hadapannya ini adalah bos tertinggi dari suaminya, penguasa tunggal dinasti bisnis Wijaya yang bisa memecat suaminya hanya dengan satu jentikan jari.
"P-Pak Rayyan Wijaya?" suara Santi bergetar, badannya refleks membungkuk sedikit demi memberi penghormatan. "Suatu kehormatan yang luar biasa... Apa yang membawa Anda ke rumah kediaman kami yang sederhana ini, Pak? Suami saya sedang berada di kantor cabang sekarang..."
Rayyan tidak langsung menjawab. Sepasang matanya yang tajam bak elang menatap dingin ke arah Santi, membuat wanita itu merasa terintimidasi hingga keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Rayyan tahu betul dari data yang dibacanya, wanita di depannya inilah yang selalu membuat hidup Aira menderita di rumah ini.
"Saya tahu suami Anda sedang di kantor," jawab Rayyan, suaranya terdengar berat, dingin, dan penuh penekanan. "Saya ke sini bukan untuk menemui dia."
Santi mengerutkan keningnya, tampak bingung sekaligus panik. "Lalu... Anda mencari siapa, Pak?"
"Saya mencari Aira Kirana," ucap Rayyan mutlak. "Di mana dia sekarang?"
Santi tertegun sejenak, otaknya mendadak buntu mendengar bos besar suaminya mencari anak tiri yang paling ia benci. Namun, melihat tatapan mata Rayyan yang semakin mendingin, Santi tidak berani banyak bertanya.
"A-Aira? Ah, iya, Pak. Sebentar saya panggilkan ke kamarnya di atas," ujar Santi gugup, lalu bergegas menaiki tangga dengan langkah terburu-buru.
Di dalam kamarnya, Aira yang masih menahan rasa perih di tubuhnya terkejut saat pintunya digedor kasar. Santi menyuruhnya turun saat itu juga karena ada tamu penting. Dengan langkah yang pelan dan sedikit gemetar menahan nyeri, Aira berjalan menuruni anak tangga satu per satu.
Begitu sampai di lantai bawah, pandangan mata Aira langsung tertuju pada sesosok pria tegap yang berdiri membelakangi teras. Pria itu berbalik. Ketika mata mereka bertemu, ingatan Aira seolah ditarik paksa ke kamar nomor 309 semalam. Meskipun semalam suasananya gelap, aroma maskulin yang menguar dari tubuh pria ini dan tatapan matanya yang tajam sangat lekat di ingatan Aira.
"K-kamu?!" Aira memekik pelan. Kaget yang luar biasa membuat kakinya lemas dan tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan di anak tangga terakhir.
Greb.
Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, lengan kekar Rayyan sudah berpindah menopang pinggang kecil Aira, menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh ke lantai. Sentuhan fisik yang tiba-tiba itu membuat desiran aneh kembali menjalar di tubuh mereka berdua.
Aira, yang masih terlalu polos dan sama sekali tidak tahu bahwa pria di depannya ini adalah Rayyan Wijaya sang konglomerat tertinggi, langsung panik. Dia takut ibu tirinya akan tahu tentang kejadian memalukan semalam.
Tanpa memedulikan tatapan syok dari Santi yang berdiri tak jauh dari sana, Aira dengan santainya menarik lengan jas mahal Rayyan, menyeret sang CEO beberapa langkah menjauh agar suara mereka tidak terdengar.
"Ngapain kesini?" bisik Aira setengah mendelik, wajahnya memerah padam karena malu sekaligus takut. "Yang tadi malam itu... a-aku minta maaf. Aku salah masuk kamar. Tolong jangan bahas itu lagi, ya?" lanjutnya berbisik-bisik, memohon dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca.
Rayyan, yang seumur hidupnya selalu ditakuti, dihormati, dan dijauhi oleh semua orang karena kekuasaannya, terpaku di tempat. Dia menatap tangannya yang ditarik begitu saja oleh gadis semester 3 ini, lalu beralih menatap wajah polos Aira yang sedang panik setengah mati.
Sudut bibir Rayyan yang biasanya kaku dan dingin, perlahan terangkat membentuk senyuman tipis. Alih-alih marah karena kelancangan Aira, sang CEO justru merasa tingkah gadis di depannya ini sangat lucu dan menggemaskan. Belum pernah ada wanita yang berani menariknya dan berbisik seakrab ini dengannya.
"Minta maaf?" balas Rayyan ikut berbisik, mendekatkan wajahnya ke telinga Aira dengan nada suara yang dalam dan menggoda. "Kamu pikir perbuatan semalam bisa selesai hanya dengan kata maaf, hm?"