NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman Baru

​Keluar dari ruang rawat inap Arunika, Azra berjalan lurus ke arah selatan. Berpapasan dengan beberapa staf, Azra bertegur sapa dengan mereka.

Setelah berbelok ke kanan melewati laboratorium dan ruang staf, ia tiba di depan kantor Kepala Puskesmas.

Dokter Azra berdiri di pintu kantor, dilihatnya ​Kepala Puskesmas, dr. Irham, M.Kes, duduk di sofa pendek dekat meja kerja sambil membaca tulisan pada selembar kertas di tangannya.

Sementara di sofa panjang, sebelah kanan dr. Irham, duduk dua pria dan seorang wanita yang belum Azra kenal.

Tok, tok, tok.

​"Assalamu'alaikum," salam Azra setelah mengetuk pintu.

​Mereka yang berada dalam ruangan serentak menengok ke arah pintu.

​"Wa'alaikumussalam. Mari, Dokter Azra, silakan masuk," undang Dokter Irham ramah.

Azra melangkah memasuki kantor mengangguk, dan tersenyum ke arah semua orang di ruangan. Mata hazelnutnya menyapu sekilas ruangan Dokter Irham, tetap seperti dulu, penggemar nuansa semi-klasik, batin Azra.

​Dokter Irham berdiri dan menjabat tangan Azra. "Apa kabar? Sehat?"

​"Alhamdulillah sehat, Dokter," jawab Azra.

​"Jangan duduk dulu, saya kenalkan siapa saja yang hadir bersama kita hari ini. Yang pakai batik merah emas ini, Pak Rudi. Beliau dari Subbagian Kepegawaian Dinas Kesehatan Kabupaten."

​Pak Rudi berdiri dan mengulurkan tangan, menjabat tangan Azra.

​"Yang memakai seragam dinas Puskesmas ini, Dokter Prasetyo, dokter gigi kita yang baru, pengganti Dokter Wita. Beliau dipindahtugaskan dari kecamatan Lembu Jaya. Dan sudah seminggu di rumah dinas Puskesmas kecamatan kita bersama istri dan anaknya."

Postur tubuh ​Dokter Prasetyo tegap dengan rambut ikal dan kacamata minus yang sepertinya bakal jadi ciri khasnya. Dia berdiri dan menjabat tangan Azra sembari tersenyum, "Salam kenal, Dokter Azra. Sepertinya kita bakal sering bertemu untuk sharing ya," ujar Dokter Pras ramah.

"Iya, Dok. Insya Allah," jawab Azra tersenyum tipis.

​"Nah, satu-satunya yang cantik diantara kedua bapak ini, Mbak Linda, yang baru dipindahtugaskan dari Puskesmas Kecamatan Bayu Ranti. Beliau sama seperti Dokter Azra, masih lajang," papar Dokter Irham yang disertai senyum lebar para bapak yang ada di ruangan.

​Linda memiliki postur tubuh padat berisi, kulit cerah segar, serta mata besar yang bulat dan berbinar. Hidungnya mancung, dan senyuman lebarnya makin menunjukkan bahwa dia sosok yang ceria dan aktif.

​Linda berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Dokter Azra. "Salam kenal, Dokter Azra. Saya Linda."

​Azra menyambut tangan Linda dan kembali tersenyum ramah. "Senang berkenalan dengan Mbak Linda"

​"Mari, silakan duduk semua," kembali terdengar suara Dokter Irham.

Azra mengambil tempat duduk yang membelakangi pintu masuk.

"Nah, Dokter Azra, tujuan dipanggilnya Anda kemari adalah untuk membahas perihal pengganti Dokter Wita yang sempat tertunda selama dua minggu. Sekaligus, mencarikan teman yang bisa menemani Anda tinggal di rumdin Pustu. Untuk lebih jelasnya, biar Bapak Rudi yang menyampaikan. Silakan, Pak Rudi."

​Pak Rudi sejenak membetulkan posisi duduknya. Kemudian, ia mengambil berkas-berkas di depannya dan menunjukkannya kepada Dokter Azra.

​"Ini adalah salinan Surat Keputusan dari Dinas Kesehatan untuk Linda, dimutasikan dari Puskesmas Kecamatan Bayu Ranti ke Puskesmas Kecamatan Bumi Arum. SK aslinya sudah kami serahkan kepada Dokter Irham. Dan berdasarkan koordinasi kami dengan Dokter Irham, Mbak Linda ini ditempatkan untuk membantu mengelola Pustu Dusun Teduh bersama Dokter Azra."

​Pak Rudi berhenti sejenak, lalu menoleh kepada Dokter Prasetyo. "Adapun untuk Dokter Prasetyo, SK penempatan di Puskesmas induk sudah kami serahkan ke Dokter Irham seminggu lalu. Seperti yang sudah berjalan selama tiga bulan, dokter gigi Puskesmas bertugas ke Pustu Dusun Teduh seminggu dua kali. Jadwal dan harinya menyusul, menyesuaikan pengaturan dari Dokter Irham. Seperti itu ya, Dokter Irham," Pak Rudi memastikan ucapannya kepada dr. Irham, yang dibalas dengan anggukan singkat.

​Azra menganggukkan kepala, tanda menerima dan memahami pengaturan dari atasannya.

​"Tapi ...," semua mata menoleh ke arah Dokter Irham, "Dokter Prasetyo tidak boleh tinggal di rumdin Pustu, ya. Selesai praktik langsung kembali ke Puskesmas. Bisa gawat nanti, kalau tinggal di rumdin Pustu," kelakarnya ringan.

​Mereka yang di ruangan itu pun tertawa. Linda berpikir sejenak, kemudian ikut tertawa setelah paham arah pembicaraan dr. Irham.

​"Diganti dengan saya kan, Dokter?" ucap Linda cepat.

​Azra refleks menoleh ke arah Linda, mengulas senyum. Merasa senang mendapatkan teman baru lagi setelah tiga minggu sendirian di rumdin.

​"Betul!" jawab Pak Rudi. "Jadi nanti yang menemani Dokter Azra di Pustu adalah Mbak Linda. Beliau lulusan Akper tiga tahun yang lalu. Sedangkan Bidan Dewi, akan ada pengaturan sendiri dari Subbagian Kepegawaian Daerah."

​"Akhirnya dapat teman lagi ya, Dokter Azra?" ucap Irham.

​"Iya, Dokter, alhamdulillah."

"Saya ingin sedikit menambahkan sejarah berdirinya Pustu di Dusun Teduh. Supaya petugas yang baru dikirim ke daerah ini, tidak kaget dan jangan merasa ada perlakuan istimewa untuk Pustu ini, dibandingkan Pustu yang lain," Pak Rudi menyandarkan punggungnya ke sofa.

"Jadi, Pustu yang ada di Dusun Teduh, Desa Sukamakmur ini, jarak tempuhnya lumayan jauh dari Puskesmas kecamatan, kurang lebih 1 jam 30 menit. Waktu yang lama untuk perjalanan darurat." Pak Rudi berhenti berbicara meminum teh dari cangkirnya.

"Ooo, iya itu Pak. Resiko nya pasti besar sekali untuk pasien darurat," sela Linda tiba-tiba.

"Nah, tepat sekali. Disebabkan banyaknya kasus pasien yang tidak tertolong tepat waktu dan beberapa laporan terkait kesehatan masyarakat di Desa Sukamakmur, kita dari Dinkes Kabupaten berinisiatif menjadikan Pustu Dusun Teduh ini Pustu Percontohan," lanjut Pak Rudi.

"Betul sekali! Dan karena hal itu, setahun yang lalu Dokter Azra yang alumni Fakultas Kedokteran dari Universitas terkenal di kota Kertajaya mengajukan diri, untuk menggawangi Pustu Percontohan ini. Didukung oleh swadaya masyarakat sekitar, dan atas prakarsa Kepala Desa Sukamakmur, diadakanlah beberapa fasilitas tambahan untuk keperluan medis," imbuh Bapak Kepala Puskesmas.

"Makanya, pemeriksaan gigi, kandungan, tindakan darurat bedah minor diberikan fasilitas pendukungnya. Memang tidak selengkap di Puskesmas atau Klinik, tapi insya Allah, berdasarkan pengalaman dan kemampuan lapangan Dokter Azra, kasus-kasus ringan seperti itu bisa diatasi. Bukan begitu, Dokter Azra?" tanya Pak Rudi di akhir penjelasannya, sekaligus menegaskan, bahwa Dokter Azra memang berkompeten memegang Pustu Percontohan Inovatif.

"O, begitu ceritanya. Saya jadi makin semangat untuk bekerja sama dengan Dokter Azra!" ucap Linda dengan mata berbinar-binar.

"Iya, betul sekali. Saya juga makin penasaran dengan situasi dan kondisi di Pustu Dusun Teduh," tambah Dokter Prasetyo.

"Masya Allah, tabarokallah," ucap Dokter Azra.

"Alhamdulillah, jadi optimis ya, Dokter Irham. Insya Allah Pustu Dusun Teduh bisa jadi awal contoh yang bagus untuk pengembangan Pustu lainnya."

"Aamiin ... insya Allah," jawab yang lain serempak.

​Selanjutnya mereka berbincang ringan sambil menikmati hidangan yang telah disediakan staf Puskesmas Bumi Arum.

______

​"Aku pulang dulu ya, Mbak Arun. Sudah ada Mas Lukman yang menemani di sini. Baik-baik dan kalau ada apa-apa segera hubungi petugas yang jaga. Insya Allah besok sudah boleh pulang," kata Azra kepada Arunika setelah urusan di kantor Kepala Puskesmas selesai.

​"Pulang sama siapa, Azra?" tanya Lukman yang baru datang ke Puskesmas selepas sholat Isya.

​"Sama Mas Yanto dan Mbak Linda, Mas," jawab Azra.

​"Mbak Linda siapa, Zra? Pulang dari Puskesmas bukannya bawa barang, malah bawa orang," tanya Sekar.

​"Iiih ... kepo!" jawab Azra sambil mencubit lengan Sekar dengan gemas. Gadis cerewet itu meringis kesakitan. Saat hendak membalas, Azra sudah berlari menghindar menuju ranjang Arunika. "Nggak kena, wleee," ejek Azra.

​"Awaaassss, ya. Kalau ketangkap, habis kamu!" sungut Sekar kesal.

​Lukman tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat interaksi dua gadis di depannya, "Kalian itu ya, kalau jauh, kangen. Kalau dekat, ribut terus."

"Azra itu Mas, nyebelin aja kerjaannya," sungut Sekar sambil menghentakkan kakinya.

"Tapi sayang kaaan?" goda Azra sambil menaik turunkan kedua alisnya.

"Iya sih, sayang. Kalau gitu, aku pulang bareng kamu, ya." rayu Sekar.

"Nggak bisa!" ujar Lukman dan Arun serempak.

"Kompak amat. Emang kenapa sih, Mbak?"

"Azra kesini pasti diantar Yanto naik mobil pick up nya ketambahan teman baru Azra. Terus kalau kamu bareng mau duduk di mana?" tanya Lukman cepat.

"Haddeeh... lola," ejek Azra lagi yang melihat Sekar manggut-manggut, baru mengerti setelah dijelaskan Lukman.

Arunika tersenyum lembut, lalu memegang lengan Azra.

​"Pengganti Dokter Wita sudah datang ya? Punya teman baru nih, nggak sendirian lagi," tanya Arun.

​"Iya, Mbak, alhamdulillah. Nggak kesepian lagi."

​"Makanya, biar nggak kesepian, kawin, Zra ...," celetuk Sekar merasa ada angin buat membalas Azra.

​"Eh ... NIKAH!" ralat Lukman dengan intonasi yang ditekan.

​"Oh, iya ..." Sekar hanya nyengir kuda dan garuk-garuk kepala.

Azra kembali tertawa tergelak merasa di atas angin. Apalagi melihat ekspresi culun Sekar, setelah ditegur Lukman.

Tok, tok, tok.

​Terdengar ketukan di pintu kamar.

​"Apakah Dokter Azra di sini?" suara wanita menginterupsi kebersamaan mereka.

​Semua mata memandang ke arah sumber suara.

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!