NovelToon NovelToon
Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Menjadi NPC
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bandit Palsu dan Sendok Paling Berbahaya

Dalam hidupku yang lama, aku pernah mengalami banyak situasi darurat: lupa mengumpulkan tugas, saldo dompet digital habis saat sudah memesan makanan, dan ketiduran lima menit sebelum rapat daring. Semua itu terasa menegangkan.

Namun tidak ada yang menyiapkanku untuk duduk di dalam kereta bangsawan sementara di luar orang-orang saling menebas dengan pedang, dan pelayanku menggenggam sendok seolah itu peninggalan suci yang bisa memanggil dewa perang.

“Nona,” bisik Mira dengan mata membulat, “jika musuh masuk, hamba akan menyerang dulu.”

“Dengan sendok?”

“Jangan meremehkan alat makan, Nona. Banyak perang rumah tangga dimulai dari sendok yang salah.”

Aku ingin tertawa, tetapi suara panah kedua menghantam sisi kereta membuatku menelan tawa itu kembali. Cassian berdiri di dekat pintu, tubuhnya tenang tetapi pandangannya tajam. Pedang tipis di tangannya berkilat dingin. Anehnya, ia terlihat lebih terganggu karena tehnya ditinggalkan daripada karena kami sedang diserang.

“Berapa banyak?” tanyaku.

“Dari suara langkah, sekitar dua belas,” jawab Cassian.

“Dua belas orang yang ingin membunuhku?”

“Belum tentu membunuh.”

“Terima kasih, itu menenangkan.”

“Mungkin menculik.”

“Duke North, Anda benar-benar perlu kelas komunikasi empatik.”

Di luar, suara Adrian terdengar keras. “Formasi kiri! Jangan biarkan mereka mendekati kereta!”

Aku menyingkap sedikit tirai. Hutan berkabut menjadi panggung kacau. Pengawal Cassian bergerak rapi, sedangkan penyerang berpakaian gelap menyerang dari balik pepohonan. Mereka memakai penutup wajah, tetapi gerakannya terlalu teratur untuk bandit jalanan biasa.

Bandit biasa biasanya mengandalkan teriakan, jumlah, dan bau badan yang mengintimidasi. Orang-orang ini bergerak seperti prajurit terlatih.

Aku menurunkan tirai. “Mereka bukan bandit.”

Cassian melirikku. “Apa yang membuatmu yakin?”

“Sepatu mereka terlalu bagus.”

Mira berhenti gemetar. “Nona memperhatikan sepatu saat diserang?”

“Evangeline dibenci banyak orang. Kalau aku tidak bisa bertarung, setidaknya aku harus bisa menilai mode musuh.”

Cassian tampak hampir tersenyum. “Pengamatan yang benar. Mereka tentara bayaran elit. Atau prajurit pribadi bangsawan.”

Aku mengingat simbol gagak, pesan tentang Mawar Hitam, dan hubungan dengan ayah Evangeline. Kalau Ordo tahu perjalananku, berarti ada mata-mata di istana atau dalam rombongan. Kemungkinan keduanya sama buruknya.

Tiba-tiba, kereta berguncang. Salah satu roda menghantam batu atau sengaja dihantam sesuatu. Mira terlempar ke arahku, dan kotak daruratnya terbuka. Roti manis, pita rambut, salep, dan sendok cadangan berhamburan ke lantai.

“Ternyata kamu membawa lebih dari satu sendok?” tanyaku, tak percaya.

“Cadangan, Nona!”

“Untuk apa?”

“Kalau sendok pertama gugur dalam tugas.”

Belum sempat aku membalas, pintu kereta terbuka paksa dari luar. Seorang pria bertopeng melompat masuk dengan belati di tangan.

Waktu terasa melambat.

Aku, seorang mantan pembaca novel dengan kemampuan bertarung setara kucing rumahan, hanya bisa menatap belati itu datang. Cassian bergerak, tetapi posisinya sedikit terlalu jauh. Pria itu mengarah langsung kepadaku.

Mira menjerit.

Lalu ia melempar sendok.

Sendok perak itu melayang dengan kecepatan yang seharusnya tidak dimiliki alat makan. Ia menghantam tepat di dahi pria bertopeng.

Ting!

Pria itu berhenti.

Matanya membelalak.

Lalu ia tumbang ke belakang seperti pohon ditebang.

Hening.

Aku menatap Mira.

Cassian menatap Mira.

Bahkan pria bertopeng yang pingsan pun tampak seperti sedang menyesali pilihan hidupnya.

Mira masih dalam posisi melempar, napasnya memburu. “Hamba... hamba berhasil?”

Aku berkata pelan, “Mira.”

“Ya, Nona?”

“Mulai hari ini, sendokmu resmi masuk inventaris senjata.”

Mira menangis terharu. “Akhirnya hamba punya kontribusi militer.”

Cassian mengikat pria yang pingsan dengan tali tirai kereta. “Saya akui, itu tidak terduga.”

“Bahkan saya juga tidak menyangka,” kata Mira.

“Kalau begitu, musuh lebih tidak menyangka,” kataku.

Dari luar, suara pertempuran mulai mereda. Adrian masuk beberapa menit kemudian dengan darah di lengan bajunya. Aku hampir berdiri, tetapi ia mengangkat tangan.

“Bukan darahku.”

Aku duduk kembali. “Kakak, kalimat itu tetap tidak nyaman.”

Adrian melihat pria bertopeng terikat di lantai. “Siapa ini?”

“Korban sendok,” jawab Cassian.

Adrian menatap Mira. “Kau menjatuhkannya?”

Mira berdiri tegak, pipinya merah karena bangga. “Demi Nona, hamba siap mengorbankan peralatan makan.”

Adrian menatapku, lalu menatap Cassian. “Aku pergi lima menit dan pelayanmu berubah menjadi unit artileri.”

“Perkembangan karakter yang cepat,” kataku.

Setelah area aman, para pengawal mengumpulkan penyerang yang masih hidup. Dari dua belas orang, lima tertangkap, empat melarikan diri, dan tiga tewas. Pohon tumbang yang menghalangi jalan terbukti dipotong rapi. Serangan ini direncanakan.

Cassian memeriksa tubuh penyerang yang tertangkap. Tidak ada lambang keluarga, tidak ada dokumen, tidak ada koin khusus. Mereka benar-benar dibersihkan dari identitas. Namun di bagian dalam sarung tangan salah satu dari mereka, terdapat benang hitam berbentuk gagak kecil.

Ordo lagi.

Aku memandangi benang itu dengan rasa mual. “Mereka bergerak terang-terangan.”

“Tidak,” kata Cassian. “Mereka bergerak cukup terang untuk menakutimu, tetapi cukup gelap untuk tetap menyangkal.”

Aku menghela napas. “Jadi mereka ingin aku mundur dari Northmere.”

“Ya.”

“Berarti jawaban kita jelas.”

Adrian menatapku. “Kita tetap lanjut.”

Aku mengangguk. “Tentu. Tidak ada yang lebih memotivasi daripada ancaman dari orang yang terlalu pengecut untuk menulis nama lengkap.”

Mira mengangkat sendok baru. “Hamba mendukung dengan kekuatan dapur.”

Cassian memandangku beberapa saat. “Kau tidak takut?”

“Aku takut.”

“Wajahmu tidak terlihat begitu.”

“Karena Evangeline punya wajah cantik yang sangat membantu menutupi gangguan mental.”

Adrian tersedak tawa kecil, lalu pura-pura batuk. Itu pertama kalinya aku melihat kakakku hampir tersenyum sejak kembali.

Kami melanjutkan perjalanan setelah roda diperiksa. Penyerang yang tertangkap dibawa dalam kereta terpisah, dijaga ketat. Aku meminta agar pria korban sendok ikut dibawa hidup-hidup. Entah mengapa, aku punya firasat ia akan lebih berguna daripada kelihatannya.

Sore harinya, kami berhenti di desa kecil bernama Halewick. Desa itu berada di perbatasan awal wilayah utara. Rumah-rumahnya beratap batu, asap keluar dari cerobong, dan udara sudah cukup dingin untuk membuat Mira membungkus leherku dengan syal sampai aku hampir kehilangan kemampuan menoleh.

“Nona harus hangat!” katanya.

“Aku juga harus bisa bernapas.”

“Kita cari keseimbangan setelah Nona selamat.”

Penduduk desa melihat rombongan kami dengan campuran penasaran dan takut. Nama Evangeline jelas sudah mendahului kedatanganku. Beberapa orang berbisik. Seorang ibu menarik anaknya menjauh saat aku turun dari kereta.

Aku pura-pura tidak melihat, tetapi rasanya tetap menusuk.

Evangeline dikenal sebagai penjahat. Bahkan di desa jauh dari istana, reputasinya menyebar seperti penyakit.

Saat kami memasuki penginapan, seorang anak kecil berlari dari samping jalan dan menabrakku. Ia jatuh terduduk. Ibunya langsung pucat.

“Maaf, Lady! Maaf! Anak saya tidak sengaja!”

Anak itu menatapku dengan mata takut. Ia memegang lututnya yang lecet.

Refleks dari dunia lamaku bekerja lebih cepat daripada akting villainess. Aku berjongkok, mengambil saputangan, lalu membersihkan lukanya perlahan.

“Lain kali jangan lari di dekat kereta,” kataku. “Kalau kau mati karena menabrak villainess, itu akan membuat reputasiku semakin buruk.”

Anak itu berkedip. Ibunya juga.

Mira berbisik dramatis, “Nona sangat mulia dengan cara yang mengancam.”

Aku mengeluarkan roti manis dari kotak Mira dan memberikannya kepada anak itu. “Ini. Makanlah. Tapi jangan bilang siapa pun aku baik. Aku sedang membangun citra sulit dibunuh, bukan ibu peri.”

Anak itu menerima roti dengan ragu, lalu tersenyum kecil.

Penduduk yang melihat mulai berbisik lagi. Kali ini nadanya berbeda.

Cassian berdiri di belakangku. “Kau sadar tindakan kecil seperti itu bisa mengubah opini?”

“Aku hanya tidak suka anak kecil terluka.”

“Dan kau memakai alasan reputasi buruk untuk menutupinya.”

“Duke North, berhenti membaca psikologi saya seperti laporan pajak.”

Ia tersenyum tipis. “Sulit. Laporannya menarik.”

Malam itu, di penginapan, kami menginterogasi pria korban sendok. Namanya Eron, setidaknya itu yang ia akui setelah Adrian memandangnya selama tiga detik. Rupanya tatapan kakakku punya efek lebih kuat daripada ancaman hukum.

“Siapa yang mengirimmu?” tanya Adrian.

Eron menunduk. “Saya tidak tahu namanya.”

Cassian meletakkan cangkir teh di meja. “Semua orang mengatakan itu sebelum mengatakan hal berguna.”

Eron menelan ludah. “Kami dibayar oleh perantara. Katanya hanya perlu menakut-nakuti Lady Arvella agar tidak pergi ke Northmere.”

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena di Northmere ada sesuatu yang tidak boleh ditemukan Mawar Hitam.”

Ruangan hening.

Aku memegang liontin mawar hitam di leherku. “Apa sesuatu itu?”

Eron menggeleng. “Saya tidak tahu. Tapi perantara menyebut satu tempat.”

Cassian mencondongkan tubuh. “Tempat apa?”

Eron menatapku dengan wajah pucat.

“Menara beku.”

Jantungku berdegup keras.

Pesan ibuku benar.

Ruang di balik menara beku bukan legenda.

Eron melanjutkan dengan suara gemetar, “Dan... mereka bilang jika Lady Arvella berhasil masuk ke sana, bukan hanya Saintess yang akan jatuh.”

Aku menahan napas.

“Mahkota juga.”

Sebelum kembali ke kereta, anak laki-laki yang kuberi roti kemarin muncul lagi di dekat pagar. Ia memegang topi wol lusuh dengan kedua tangan, lalu membungkuk canggung.

“Lady,” katanya pelan, “orang-orang bilang Lady jahat. Tapi ibu bilang orang jahat tidak membersihkan luka anak kecil.”

Aku terdiam.

Kalimat sederhana itu terasa lebih tajam daripada semua hinaan bangsawan. Mungkin karena anak kecil belum pandai membuat kalimat palsu. Ia hanya mengatakan apa yang dilihatnya.

Aku berjongkok agar sejajar dengannya. “Namamu siapa?”

“Finn.”

“Baik, Finn. Dengarkan aku. Jika orang-orang bilang aku jahat, jangan langsung percaya. Tapi jika suatu hari aku benar-benar jahat, larilah cepat-cepat.”

Finn mengangguk serius. “Lady lucu.”

“Jangan sebarkan. Itu merusak reputasiku.”

Ia tertawa kecil, lalu berlari kembali ke ibunya. Aku berdiri dan mendapati Cassian menatapku.

“Apa?” tanyaku.

“Kau memulihkan reputasi dengan cara mengancam anak kecil agar berhati-hati.”

“Itu namanya edukasi publik.”

Adrian berkata dari belakang, “Setidaknya dia tersenyum.”

Aku menatap kakakku. “Kakak juga bisa mencoba.”

Adrian mengangkat sebelah alis.

Finn yang sudah jauh menoleh, melihat wajah Adrian, lalu langsung bersembunyi di balik ibunya.

Aku menepuk bahu Adrian. “Tidak apa-apa. Kita mulai dari latihan tidak membuat anak kecil kabur.”

Mira mencatat sesuatu di buku kecil. “Program rehabilitasi wajah Tuan Adrian, hari pertama.”

Adrian menatapnya.

Mira menutup buku. “Catatan rahasia.”

1
E H Mukti
Lady evangeline 👌👌👌
Carina Yuda: hi kak, makasih udah mampir
total 1 replies
E H Mukti
😍😍😍👌
Carina Yuda: selamat membaca :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!