Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.
Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.
Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.
Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.
Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Cincin Hitam Valdarez
BAB 5 — Cincin Hitam Valdarez
Hujan turun tipis membasahi kota malam itu.
Lampu neon memantul di jalanan basah, menciptakan warna merah dan biru seperti darah yang bercampur di aspal.
Arda berdiri diam di depan pintu besi tua sambil menatap kota di hadapannya.
Untuk pertama kalinya…
Ia merasa benar-benar takut pada dunia.
Sirene polisi terdengar samar di kejauhan.
Asap hitam masih terlihat membumbung dari arah pelabuhan tempat gudang mereka terbakar.
Dan di suatu tempat di kota besar itu…
Orang-orang sedang memburunya.
Hanya karena cincin di jarinya.
“Jangan berdiri terlalu lama.”
Suara Ravian membuat Arda tersadar.
Pria itu langsung menarik tudung jaket hitam ke kepala Arda agar wajahnya tidak terlihat jelas.
“Kita harus bergerak.”
Pria bertopeng misterius berjalan lebih dulu menyusuri gang sempit tanpa banyak bicara.
Langkahnya tenang.
Seolah ia mengenal seluruh kota ini dengan baik.
Ravian terus memperhatikannya penuh curiga.
Sementara Darius berjalan di belakang sambil sesekali memeriksa pistolnya.
“Kita bahkan belum tahu namanya,” gumam Darius pelan.
“Aku tahu,” jawab Ravian dingin.
“Tapi untuk sekarang kita butuh dia.”
Pria bertopeng itu tiba-tiba berhenti di ujung gang.
Tatapannya menyapu jalan besar di depan mereka.
Beberapa mobil hitam melintas pelan.
Mencurigakan.
“Mereka mencari kita,” katanya tenang.
Ravian langsung menyipitkan mata.
“Orang Nero?”
“Dan pemburu bayaran.”
Arda menunduk pelan.
Ia mulai membenci kata “pemburu”.
Karena sekarang dirinya adalah buruannya.
Pria bertopeng lalu menoleh sedikit ke arah Arda.
“Jangan pernah berjalan sendirian mulai sekarang.”
Tatapannya dingin.
“Karena satu kesalahan kecil saja…”
“…kau akan mati.”
Kalimat itu membuat tubuh kecil Arda menegang.
Ravian langsung melangkah ke depan sedikit.
“Cukup menakutinya.”
“Aku mengatakan kenyataan.”
Sunyi sesaat.
Lalu mereka kembali berjalan.
Gang-gang kota malam itu terasa seperti labirin gelap.
Beberapa pria mabuk terlihat berdiri di pinggir jalan.
Suara musik keras terdengar dari klub malam.
Orang-orang tertawa.
Merokok.
Berjudi.
Tidak ada yang tahu perang besar sedang dimulai di dunia bawah kota ini.
Dan tidak ada yang sadar…
Anak kecil yang sedang berjalan di tengah hujan itu adalah pusat semuanya.
Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan tua tiga lantai.
Cat dindingnya mulai mengelupas.
Lampu depannya mati.
Bangunan itu terlihat seperti tempat kosong biasa.
Namun pria bertopeng langsung masuk tanpa ragu.
Ravian tetap siaga sambil membawa Arda masuk ke dalam.
Begitu pintu tertutup—
Suasana langsung berubah sunyi.
Ruangan dalam ternyata jauh lebih luas dari luar.
Penuh komputer lama.
Peta kota.
Dan rak-rak senjata.
Darius langsung menegang.
“Tempat apa ini?”
“Tempat aman,” jawab pria bertopeng singkat.
Ia akhirnya melepas mantelnya perlahan.
Arda memperhatikannya diam-diam.
Tubuh pria itu penuh bekas luka.
Bahkan kedua tangannya dipenuhi sayatan lama.
Namun yang paling membuat Arda terdiam…
Adalah liontin kecil di leher pria itu.
Simbol ular hitam.
Sama seperti simbol cincin Valdarez.
Ravian juga menyadarinya.
Tatapannya langsung berubah tajam.
“Dari mana kau dapat simbol itu?”
Pria bertopeng tidak langsung menjawab.
Ia berjalan menuju meja tua lalu menuangkan air ke gelas kecil.
“Sudah lama sekali…” gumamnya pelan.
“Aku tidak melihat cincin itu lagi.”
Arda tanpa sadar menggenggam cincin di jarinya lebih erat.
“Ayah memberikannya padaku.”
Pria itu menatap Arda beberapa detik.
Tatapannya berubah aneh.
Sedikit sedih.
“Ya.”
“Dia memang akan melakukan itu.”
Ravian langsung melangkah mendekat.
“Kau mengenal Leon?”
Pria bertopeng akhirnya mengangkat kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia membuka topengnya perlahan.
Darius langsung membeku.
Mata Ravian melebar sedikit.
Bahkan napasnya berubah berat.
Karena wajah pria itu sangat mereka kenal.
Rahang tajam.
Bekas luka panjang di mata kiri.
Dan tatapan dingin yang hampir sama seperti Leon.
“Tidak mungkin…” bisik Darius pelan.
Arda menatap pria itu bingung.
“Siapa dia?”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Ravian menjawab dengan suara berat—
“…Kael.”
Nama itu membuat ruangan terasa lebih dingin.
Arda mengerutkan kening kecil.
Ia belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Namun dari wajah Ravian dan Darius…
Nama itu jelas bukan nama biasa.
“Bukannya kau sudah mati?” tanya Darius pelan.
Kael tersenyum tipis.
“Sampai sekarang aku juga berharap begitu.”
Suasana kembali sunyi.
Ravian terus menatap Kael tajam.
“Kenapa kau muncul sekarang?”
Kael meneguk airnya pelan sebelum menjawab—
“Karena Leon mati.”
Tatapannya perlahan beralih ke Arda.
“Dan anak itu sendirian.”
Arda merasa jantungnya berdetak lebih cepat saat ditatap seperti itu.
Kael bukan seperti Ravian.
Tatapannya terlalu dingin.
Terlalu gelap.
Seperti orang yang sudah kehilangan segalanya.
“Siapa sebenarnya dia?” tanya Arda pelan.
Ravian terlihat ragu sesaat.
Namun Kael menjawab lebih dulu.
“Aku dulu bekerja untuk ayahmu.”
“Sebagai apa?”
Kael tersenyum kecil.
Namun senyum itu tidak terasa hangat sama sekali.
“…Orang yang membunuh untuknya.”
Arda langsung diam.
Ia tahu arti kalimat itu.
Pembunuh.
Kael adalah pembunuh ayahnya.
Atau mungkin lebih buruk dari itu.
Tiba-tiba—
BZZZT!
Salah satu komputer di ruangan menyala sendiri.
Kael langsung menoleh cepat.
Wajahnya berubah serius.
“Ada masalah.”
Ravian mendekat ke layar.
Dan ekspresinya langsung mengeras.
Di layar muncul foto Arda.
Dengan tulisan besar merah di bawahnya:
wanted- dead or Alive
$5,000,000
Serta simbol organisasi Nero di pojok layar.
Namun itu belum yang terburuk.
Karena tepat di bawah poster buronan itu…
Ada pesan baru.
Pesan singkat.
Namun cukup membuat semua orang di ruangan membeku.
"kami tau posisi kalian".
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪