NovelToon NovelToon
The Chosen Soul

The Chosen Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Time Travel
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: kyc_ibell

Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.

Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.

Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.

Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

Pagi itu, istana kembali hidup seperti biasanya. Para pelayan berlalu-lalang membawa dokumen, para penjaga berpatroli di koridor, dan suara percakapan ringan terdengar dari berbagai sudut bangunan megah itu.

Namun ada satu hal yang berbeda. Semerbak harum bunga porana masih menguar di udara. Aroma lembut yang tersisa dari malam pesta itu seolah enggan meninggalkan istana.

Di Aula Sihir, suasana jauh lebih tegang. Lantai batu putih yang luas telah dikosongkan. Lingkaran sihir pengaman menyala samar di sekeliling arena. Master Seijun berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung.

Di sampingnya terdapat Haru yang meukmperhatikan dengan penuh antusias. Sementara di tengah arena, Yua dan Kazura saling berhadapan.

Rambut Yua bergoyang pelan tertiup angin yang berasal dari energi sihir di dalam aula.

Sedangkan Kazura berdiri dengan tenang. Tatapannya lembut. Namun aura yang mengelilinginya berbeda dari biasanya.

Master Seijun menatap keduanya bergantian. Nada suaranya terdengar santai, tetapi matanya serius.

"Hari ini kita tidak sedang bermain-main. Aku ingin melihat batas kemampuan kalian. Terlebih Kazura, aku ingin melihat sejauh mana sihir es mu sekarang."

Yua tersenyum kecil.

"Kalau begitu aku tidak akan menahan diri."

Kazura membalas senyuman itu. Di belakang mereka, Haru menelan ludah.

"Kenapa aku punya firasat aula ini bakal rusak..."

Master Seijun terkekeh.

"Tenang saja. Aku sudah memasang beberapa lapis penghalang."

Lalu pria tua itu mengangkat satu tangan.

"Mulai."

Seketika aura sihir memenuhi Aula Sihir. Yua bergerak lebih dahulu. Lingkaran sihir berwarna biru muda muncul di bawah kakinya.

"Water Flow."

Wuusshh!

Aliran air muncul dari udara di sekelilingnya, berputar seperti ular-ular transparan yang hidup.

Kazura mengamati dengan tenang. Kontrol elemen yang sangat halus.

Yua mengayunkan tangannya. Puluhan cambuk air melesat ke depan.

CRASH!

Kazura melompat ke samping. Lantai batu yang terkena serangan langsung retak.

Haru sampai bersiul kagum.

"Wah... Yua benar-benar serius."

Namun Kazura hanya tersenyum tipis.

"Kalau begitu..."

Dia mengangkat satu tangannya. Udara di sekitarnya langsung berubah dingin. Embun putih muncul di udara.

"Frozen Garden."

KRRAAAKKK!

Dari lantai arena, pilar-pilar es menjulang tinggi seperti bunga kristal yang bermekaran. Cambuk air Yua menghantamnya. Namun dalam sekejap, air itu membeku.

Mata Yua sedikit membesar.

"Dia membekukan sihirku?"

Master Seijun memperhatikan dengan penuh minat.

"Menarik..."

Biasanya penyihir es menciptakan es dari mana-mana. Namun Kazura berbeda. Dia menggunakan suhu dingin yang ekstrem untuk memengaruhi elemen lawan.

Kali ini jumlah air yang terbentuk jauh lebih besar. Arus deras berputar mengelilinginya seperti sungai yang hidup.

"Aqua Serpent!"

ROOOAAARRR!!

Seekor naga air raksasa melesat menuju Kazura. Kazura menarik napas pelan. Tidak ada sedikit pun kepanikan di wajahnya. Justru tubuhnya bergerak ringan. Anggun. Seperti seorang penari yang mengikuti irama musik yang hanya bisa sia dengar sendiri.

Dia berputar.

Lengan bajunya ikut berayun. Gerakan sederhana itu memunculkan ratusan serpihan es berkilauan di udara.

"Crystal Waltz."

Master Seijun sedikit mengangkat alis.

"Waltz...?"

Serpihan es itu mengikuti gerakan tubuh Kazura. Berputar. Menari. Kemudian berubah menjadi badai kristal.

BOOOOOM!

Naga air dan badai es bertabrakan di tengah arena. Ledakan sihir mengguncang seluruh aula. Kabut putih memenuhi pandangan.

Haru terdiam. Master Seijun juga terdiam beberapa saat. Separuh arena berubah menjadi danau dangkal. Sementara separuh lainnya telah membeku menjadi hamparan kristal es yang indah.

Di tengahnya berdiri Yua dan Kazura. Masih saling menatap. Masih belum ada yang mundur.

Master Seijun tersenyum lebar.

"Bagus."

Matanya beralih kepada Kazura. Bukan hanya kuat. Dia memiliki bakat alami untuk bertarung. Dan yang lebih berbahaya, dia belajar dengan sangat cepat. Sementara itu Kazura menatap Yua dengan penuh hormat.

"Jadi ini kekuatan Yua.. tidak heran semua orang mengakuinya." ucap lirih Kazura.

Di hadapannya, Yua juga tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak duel dimulai, ada rasa antusias dalam tatapannya.

"Aku senang bertarung denganmu, Kazura."

Kazura membalas senyum itu.

"Aku juga."

Lalu keduanya kembali memasang kuda-kuda. Karena mereka sama-sama tahu, duel yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Angin dingin berembus pelan di dalam Aula Sihir.

Kabut tipis hasil benturan sihir air dan es masih menggantung di udara, membuat seluruh arena tampak seperti negeri musim dingin yang diselimuti embun pagi.

Yua dan Kazura berdiri saling berhadapan. Tatapan mereka sama-sama tenang. Namun energi sihir yang berputar di sekitar tubuh keduanya justru semakin besar.

---

Haru yang berada di luar arena menelan ludah.

"Aku mulai khawatir..."

Master Seijun meliriknya.

"Khawatir apa?"

"Aula ini."

"Hahaha."

---

Yua mengangkat kedua tangannya. Air yang menggenang di arena mulai bergerak. Awalnya perlahan. Lalu semakin cepat. Sampai akhirnya membentuk pusaran raksasa yang mengelilinginya.

Rambutnya berkibar tertiup angin. Mata Yua tetap fokus pada lawannya.

"Kalau aku lengah sedikit saja... Aku akan kalah."

Yua sudah menyadarinya.

Kazura bukan lagi seseorang yang perlu ditahan-tahan. Dia adalah lawan yang harus dihadapi dengan seluruh kemampuan.

WUUUSSHHH!!

Pusaran air itu terpecah menjadi puluhan aliran yang bergerak ke segala arah. Masing-masing menyerang dari sudut berbeda. Seolah arena itu sendiri berubah menjadi wilayah kekuasaan Yua.

Haru melihatnya lalu berkata "Itu teknik pengendalian area milik Yua!"

Master Seijun mengangguk.

"Dia mencoba membatasi ruang gerak Kazura."

---

Namun Kazura tidak bergerak mundur. Sebaliknya, dia justru melangkah maju. Satu langkah, dua langkah. Gaun dan rambut panjangnya bergerak mengikuti tubuhnya. Anggun, lembut. Seperti seorang penari yang sedang tampil di atas panggung.

Master Seijun memperhatikan dengan saksama. Setiap gerakan Kazura memiliki ritme. Memiliki aliran. Tidak ada gerakan yang terbuang.

Lalu perlahan Kazura memejamkan mata.

"Dingin..."

"Aku bisa merasakan dingin itu..."

"Udara..."

"Air..."

"Semuanya bergerak..."

Saat matanya kembali terbuka. Kilauan biru pucat muncul di dalam iris matanya.

BOOOOM!!

Ledakan sihir dingin menyebar ke seluruh arena. Haru menatap kagum. Bahkan Master Seijun sedikit menyipitkan mata.

Aura Kazura berubah. Jauh lebih tajam. Jauh lebih dalam. Seolah dia benar-benar menyatu dengan elemen es itu sendiri.

Yua menyerang. Puluhan tombak air melesat bersamaan. Kazura mengangkat satu tangan.

KRRAAAAKKK!!

Tembok es raksasa muncul dari lantai. Namun Yua sudah menduganya. Tombak-tombak air itu berbelok di udara. Mengitari tembok, menyerang dari belakang.

Mata Haru membesar.

"Dia mengendalikan arah serangan setelah ditembakkan?!"

Master Seijun tersenyum bangga.

"Yua memang selalu berbakat."

Namun, Kazura berputar. Gerakan tubuhnya begitu indah hingga terlihat seperti bagian dari sebuah tarian istana. Saat gaunnya berputar, ratusan kelopak es muncul di udara. Kelopak-kelopak kristal itu berputar mengelilinginya.

CLANG!

CLANG!

CLANG!

Semua tombak air terpukul mundur. Bahkan beberapa membeku sebelum sempat menyentuhnya.

Yua menarik napas. Lalu tersenyum kecil.

"Hebat."

Kazura juga tersenyum.

"Kau juga."

Untuk sesaat, keduanya terlihat seperti sedang bercakap santai.

Padahal energi sihir yang memenuhi arena sudah cukup untuk membuat penyihir biasa pingsan ketakutan.

Master Seijun menyilangkan tangan. Di wajahnya muncul ekspresi puas.

"Luar biasa..."

"Kazura baru mendapatkan elemennya..."

"Tapi dia sudah mampu menggunakannya seperti ini."

Master Seijun itu lalu teringat seseorang. Ryujin. Kalau pemuda itu ada di sini, pasti dia akan berteriak paling keras sejak tadi. Membuat aula menjadi dua kali lebih ramai. Memikirkan hal itu membuat Seijun tertawa kecil.

Kembali ke Aula Sihir. Yua perlahan mengangkat katana airnya. Kazura melakukan hal yang sama dengan katana es miliknya.

Untuk pertama kalinya sejak duel dimulai. Keduanya mengambil posisi yang sama. Bertarung jarak dekat.

Mata mereka saling bertemu. Tak ada permusuhan. Tak ada kebencian. Hanya rasa hormat seorang petarung kepada petarung lainnya.

Lalu, dalam satu detik yang sama. Mereka berdua melesat maju.

SRINGGG!!

Lantai arena retak ketika kedua katana bertabrakan. Gelombang sihir air dan es meledak ke segala arah.

Dan untuk pertama kalinya. Senyum Master Seijun perlahan memudar, digantikan tatapan serius. Mata tuanya mengikuti setiap gerakan di arena tanpa berkedip sedikit pun.

Karena duel itu telah memasuki tahap yang berbeda. Bukan lagi adu sihir. Melainkan adu kemampuan.

Yua melangkah maju lebih dulu.

SWISH!

Katana airnya menebas lurus ke arah leher Kazura. Namun Kazura memiringkan tubuhnya tepat pada saat terakhir. Mata pisau itu hanya melewati beberapa helai rambutnya. Begitu dekat.

Belum sempat Yua menarik kembali katanya, Kazura sudah berputar. Gerakan tubuhnya ringan dan indah seperti penari istana. Namun tebasannya sama sekali tidak indah. Tajam, cepat dan mematikan.

SRAAK!

Katana es menyapu ke arah pinggang Yua. Yua segera melompat mundur. Ujung bilah es hanya menyentuh ujung pakaiannya. Kain itu robek sedikit.

Mata Haru langsung membelalak.

"Hampir kena."

Master Seijun tidak menjawab. Tatapannya masih terpaku pada arena.

Clang!

Clang!

CLANG!

Bilah demi bilah terus beradu. Tak ada yang mau mengalah dan tak ada yang memberi celah.

Yua menyerang dari kanan. Kazura menangkis. Kazura membalas dari kiri. Yua memutar tubuhnya menghindar. Gerakan mereka semakin cepat.

Sampai-sampai Haru mulai kesulitan mengikuti. Yang terlihat hanya kilatan biru dan putih yang saling berkejaran.

Yua mempersempit pandangannya.

"Dia lebih cepat dari yang kukira."

Setiap kali dia menemukan celah. Kazura sudah menghilang. Setiap kali dia melancarkan serangan. Kazura selalu memiliki jawaban.

Di sisi lain, Kazura juga merasakan hal yang sama.

"Luar biasa... Tak heran Master begitu mempercayainya."

Teknik katana Yua sangat bersih. Tidak berlebihan. Tidak membuang tenaga. Semua gerakannya dibuat untuk menyerang atau bertahan. Tidak ada yang sia-sia.

SRIIIINGG!!

Katana mereka kembali terkunci. Wajah keduanya kini hanya berjarak beberapa senti. Mata Yua bertemu dengan mata Kazura. Tidak ada senyum lagi. Tidak ada percakapan. Hanya fokus dan tekad.

Tatapan mereka terasa begitu tajam hingga seolah ingin menebas lawannya bahkan sebelum pedang bergerak.

Haru merinding melihatnya.

"Kenapa mereka jadi menyeramkan begini..."

Master Seijun mengangguk pelan.

"Karena mereka sedang tenggelam dalam pertarungan."

BOOM!

Keduanya mendorong lawan masing-masing lalu mundur beberapa langkah. Tidak sampai satu detik. Mereka kembali melesat maju.

SRRAAK!

Tebasan Yua mengarah ke bahu. Kazura memutar tubuh.

Hindar.

SWISH!

Balasan Kazura mengarah ke dada. Yua menunduk.

Hindar.

Tebasan demi tebasan terus berlalu. Berkali-kali. Masing-masing hanya terpaut beberapa jari dari tubuh lawan. Andai sedikit lebih lambat. Andai sedikit kurang fokus. Pertarungan itu pasti sudah berakhir. Namun tidak ada yang melakukan kesalahan.

Keringat tipis mulai muncul di pelipis mereka. Napas sedikit lebih berat. Tetapi mata keduanya justru semakin tajam. Semakin hidup, semakin bersemangat.

Yua tersenyum tipis.

Bukan senyum ramah. Melainkan senyum seorang petarung yang menemukan lawan sepadan.

Kazura membalas dengan ekspresi yang sama. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasakan darahnya berdesir karena pertarungan. Bukan karena takut, bukan karena marah. Melainkan karena kegembiraan.

Master Seijun menghela napas pelan. Tatapannya melembut.

"Sudah cukup..."

Dia tahu. Jika dibiarkan berlanjut, duel ini bisa berlangsung sampai sore. Bukan karena mereka tidak mampu mengalahkan satu sama lain. Melainkan karena keduanya terlalu seimbang. Sama-sama cepat, cerdas dan berbakat. Dan sama-sama tidak mau menyerah.

SRIIINGGG!!

Katana air dan katana es kembali bertabrakan di tengah arena. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Namun tidak ada yang terdorong mundur. Yua dan Kazura hanya saling menatap.

Lalu perlahan...

Senyum kecil muncul di wajah mereka. Karena tanpa perlu diucapkan, keduanya telah memahami hal yang sama.

Hari ini...

Tidak ada pemenang. Dan tidak ada yang kalah.

BOOOOM!!

Benturan terakhir menggema ke seluruh Aula Sihir. Katana es dan katana air saling menekan di tengah arena. Gelombang sihir menyapu ke segala arah, membuat ujung pakaian mereka berkibar hebat. Kazura dan Yua saling menatap dari jarak yang sangat dekat.

Keduanya masih berdiri tegak, fokus dan masih mampu melanjutkan pertarungan.

Namun pada saat yang sama. Mereka juga menyadari sesuatu. Pertarungan ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat.

CRAAACK...

Lantai arena yang sudah berkali-kali menerima benturan mulai menunjukkan retakan baru. Kabut dingin dan uap air memenuhi udara. Suasana menjadi hening selama beberapa saat.

Lalu perlahan...

Yua menurunkan katananya.

Air yang membentuk bilah senjatanya kembali menjadi tetesan-tetesan kecil sebelum menghilang.

Kazura memandangnya sejenak.

Kemudian dia juga menurunkan katana esnya. Kristal-kristal biru itu pecah menjadi serpihan cahaya dan lenyap tertiup angin.

Hening.

Sesaat tidak ada yang berbicara. Mereka berdua lalu saling menatap. Tak lama kemudian, senyum muncul di wajah keduanya. Senyum yang tulus. Senyum seorang petarung yang menemukan lawan sepadan.

---

Master Seijun berjalan memasuki arena. Langkahnya menginjak genangan air dan serpihan es yang tersisa.

Tatapannya berpindah dari Yua ke Kazura. Lalu kembali lagi. Pria tua itu menghela napas panjang.

"Hmm..."

Haru langsung penasaran.

"Bagaimana, Master?"

Master Seijun mengusap dagunya.

"Kalian berdua menyulitkanku."

"Eh?"

"Apa maksud Master?" tanya Yua.

Master Seijun menunjuk mereka berdua bergantian.

"Kalau harus menentukan pemenang, aku tidak tahu harus memilih siapa."

Haru berkedip. Lalu menatap Yua. Kemudian Kazura. Lalu Yua lagi. Dan akhirnya mengangguk setuju.

"Yua memiliki kontrol sihir air yang luar biasa. Serangannya fleksibel dan sulit diprediksi. Sedangkan Kazura memiliki pertahanan, kecepatan adaptasi, dan penguasaan elemen es yang menakjubkan. Semakin lama pertarungan berlangsung, semakin sulit menentukan siapa yang lebih unggul." ucap Master Seijun.

Master Seijun tersenyum.

"Jadi hasilnya seri."

Kazura dan Yua membungkukkan kepala sedikit.

Haru berlari menghampiri mereka. Matanya berbinar penuh kekaguman.

"Kalian berdua benar-benar menakutkan."

Yua mengangkat alis.

"Itu pujian atau hinaan?"

"Sedikit dua-duanya."

Mereka semua tertawa.

Suasana tegang yang memenuhi aula sejak awal perlahan menghilang. Di dekatnya, Yua memperhatikan ekspresi Kazura. Dia tersenyum lembut.

"Aku senang kekuatanmu telah bangkit, Kazura."

Kazura menoleh. Mata keduanya bertemu.

"Tidak."

Yua sedikit bingung.

"Hm?"

Kazura tersenyum.

"Aku senang bisa mengujinya bersamamu."

Untuk sesaat Yua terdiam. Lalu dia tertawa kecil.

"Tentu saja."

Master Seijun memandang ketiga muridnya dari kejauhan. Haru yang ramai seperti biasa. Yua yang semakin matang. Dan Kazura yang baru saja menemukan jalannya sendiri.

Pria tua itu tersenyum puas. Hari ini tidak ada pemenang. Tidak ada yang kalah, tidak ada luka dan tidak ada penyesalan.nHanya sebuah hasil yang membuatnya semakin yakin akan masa depan mereka.

"Murid-muridku benar-benar tumbuh dengan baik."

---

Dan di suatu tempat di dalam istana. Ryujin akhirnya terbangun. Pemuda itu duduk sambil memegangi kepalanya yang masih pening.

"Kepala sangat pusing.."

Ryujin melihat sekeliling dan menyadari dirinya sudah ada di kamarnya tanpa tahu kapan dia disini. Dia menoleh ke arah jendela dan menyadari hari sudah siang.

"Astaga... aku kesiangan."

Diapun langsung beranjak dari tempat tidurnya dan segera bersiap-siap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!