**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.
Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!
Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.
Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Malam yang panjang itu akhirnya berganti pagi. Namun bagi Alya, pergantian waktu tidak lantas membawa kesegaran. Sebaliknya, begitu kelopak matanya terbuka dan mendapati semburat cahaya fajar menyelinap di sela gorden sutra, sebuah gelombang rasa tidak nyaman yang sangat akrab langsung menyergap lambungnya.
Perutnya terasa kosong, keroncongan, namun di saat yang sama terasa sangat penuh oleh gas yang bergolak. Air liurnya mendadak terasa pahit dan asam.
"Ugh..." Alya mengerang pelan, memegangi perutnya.
> *[Ibu... maafkan aku. Aku juga tidak tahu kenapa pagi ini rasanya asam lambungmu seperti sedang mengadakan pesta kembang api. Aku sudah mencoba menenangkan gelombang energinya, tapi insting biologis tubuh manusia ini benar-benar di luar kendali spiritualku.]*
Suara batin Baby El terdengar sedikit lesu, tidak seaktif biasanya. Tampaknya, fase *morning sickness* yang dialami tubuh Alya juga mulai menguras energi sang janin ajaib yang masih dalam tahap awal pertumbuhan fisik tersebut.
"Tidak apa-apa, El... Ini bukan salahmu," bisik Alya dengan suara serak.
Ia mencoba untuk duduk tegak, namun baru saja kepalanya terangkat beberapa sentimeter dari bantal, dunia di sekitarnya seolah langsung berputar hebat. Rasa pusing yang berdenyut-denyut di pelipisnya membuat Alya terpaksa menjatuhkan kembali kepalanya ke kasur yang empuk. Kamar mewah berukuran raksasa itu kini terasa seperti komidi putar yang berputar tanpa henti.
Mendengar helaan napas berat Alya, pintu kamar yang sedikit terbuka perlahan didorong dari luar.
Devan Dirgantara melangkah masuk. Pria itu sudah rapi dengan setelan kemeja abu-abu mudanya, meski jasnya masih tersampir di lengan kiri. Rambutnya yang hitam legam masih sedikit basah, menyebarkan aroma segar sabun mandi maskulin yang seketika memenuhi indra penciuman Alya.
Aroma itu biasanya sangat maskulin dan menyenangkan, namun bagi hidung sensitif ibu hamil muda, wewangian tajam tersebut justru menjadi pemicu baru.
Alya langsung membekap mulutnya erat-erat, matanya membelalak panik saat mendapati lambungnya kembali bergolak hebat.
"Alya? Kamu masih—"
Sebelum Devan sempat menyelesaikan kalimatnya, Alya sudah melompat dari ranjang dengan sisa-sisa tenaganya. Ia berlari kencang menuju kamar mandi, mengabaikan rasa pusing yang mendera kepalanya.
*Oeeek... ugh...*
Alya bertumpu dengan kedua tangannya di pinggiran wastafel, memuntahkan cairan bening berbusa karena perutnya yang benar-benar kosong sejak semalam. Seluruh tubuhnya gemetar, dan keringat dingin mulai membasahi dahi serta lehernya hingga kaos putih longgarnya terasa lembap.
Devan meletakkan jasnya di atas kasur dengan tergesa-gesa dan menyusul Alya ke dalam kamar mandi. Wajah sang CEO dingin itu tampak sangat tegang. Melihat Alya yang kembali tersiksa dalam kondisi yang bahkan lebih lemah dari semalam, hatinya terasa seperti diremas oleh tangan tak kasatmata.
Tanpa ragu, Devan kembali berdiri di belakang Alya. Ia mengumpulkan rambut panjang Alya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya yang hangat dan lebar mulai mengusap serta memijat tengkuk dan punggung Alya dengan gerakan lembut yang sangat protektif.
"Kenapa masih mual? Bukankah semalam kamu sudah memuntahkan semuanya?" tanya Devan, suaranya yang biasanya datar kini menyiratkan kecemasan yang teramat sangat.
"Pagi... pagi hari selalu... ugh... lebih parah, Tuan Devan," sahut Alya terbata-bata di sela-sela usahanya mengontrol napas.
> *[Ayah Bodoh, ini namanya morning sickness! Cari tahu di internet sana! Jangan hanya tahu cara membaca laporan keuangan tahunan saja! Uh... Ibu, napasmu... pelan-pelan saja...]*
Suara Baby El yang lemah bergaung di kepala Devan, membuat Devan mendadak merasa bersalah. Ia yang biasanya bisa menyelesaikan masalah rumit dalam hitungan detik, kini merasa sangat tidak berguna karena tidak bisa menghentikan rasa sakit yang dialami oleh wanita di hadapannya.
Setelah memastikan Alya selesai memuntahkan cairan asamnya, Devan mengambil handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat. Dengan gerakan yang luar biasa telaten, ia menyeka wajah pucat Alya, mengusap sisa air mata di sudut matanya, dan membersihkan sela-sela bibirnya dengan kelembutan yang bahkan tidak pernah ia bayangkan bisa ia lakukan pada orang lain.
"Aku akan menggendongmu kembali ke kasur," ucap Devan pendek.
Alya yang sudah terlalu lemas untuk membantah hanya bisa mengangguk pasrah. Tubuhnya yang terasa sangat ringan kembali diangkat oleh Devan ke dalam dekapan hangatnya. Alya menyandarkan kepalanya yang berdenyut di dada bidang Devan, mendengarkan detak jantung pria itu yang terdengar sangat cepat namun konstan, memberikan rasa aman yang aneh di tengah siksaan fisiknya.
Begitu membaringkan Alya di kasur, Devan langsung berbalik dan memanggil asisten pribadinya melalui ponsel.
"Yudha, panggil Dr. kurniawan sekarang juga ke penthouse. Katakan padanya ini darurat. Jika dia tidak tiba dalam waktu lima belas menit, aku akan mencabut seluruh investasi Dirgantara Group di rumah sakitnya," perintah Devan dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan apa pun.
Alya yang mendengar itu hanya bisa mendesah lemah di balik selimutnya. "Tuan Devan... tidak perlu sampai mengancam dokter. Ini... ini normal untuk kehamilan muda..."
"Tidak ada yang normal jika kamu sampai tidak bisa berdiri seperti ini," potong Devan tajam. Ia duduk di pinggiran ranjang, menatap Alya dengan dahi berkerut dalam.
Pintu kamar kemudian diketuk pelan, dan Bibi Nunung masuk dengan membawakan nampan berisi teh jahe hangat dan semangkuk bubur ayam polos yang masih mengepulkan uap.
"Tuan Muda, ini teh jahe hangat dan bubur halus untuk Nona Alya," ucap Bibi Nunung dengan wajah cemas.
"Letakkan di sini, Bi. Terima kasih," jawab Devan.
Devan mengambil cangkir teh jahe hangat tersebut. Ia meniupnya perlahan hingga suhunya tidak terlalu panas, lalu menyodorkannya ke bibir Alya. "Minum ini sedikit demi sedikit. Teh jahe bisa meredakan mual di lambungmu."
Alya memandangi Devan dengan tatapan tak percaya. CEO Dirgantara Group yang terkenal kejam dan tidak tersentuh, kini sedang meniupkan teh hangat untuknya dengan penuh kesabaran? Jika adegan ini difoto dan disebarkan ke media sosial, seluruh dunia bisnis pasti akan mengira Devan sedang kerasukan roh lain.
Dengan bantuan Devan yang menyangga punggungnya, Alya meminum beberapa teguk teh jahe hangat itu. Rasa hangat dan aroma jahe yang segar perlahan-lahan memberikan kenyamanan di lambungnya yang sempat bergejolak. Rasa mualnya perlahan mulai mereda, meski tubuhnya masih terasa sangat lemas dan tidak bertenaga.
> *[Ah... jahe hangat ini lumayan membantu menenangkan lambungmu, Ibu. Ayah, poinmu hari ini bertambah sepuluh persen lagi karena pelayanan prima ini. Teruskan kerja bagusmu.]*
Mendengar bisikan Baby El yang mulai kembali cerewet, Devan diam-diam mengembuskan napas lega. Setidaknya, jika janin nakal itu sudah bisa mengomentarinya lagi, artinya kondisi mereka sudah mulai membaik.
Tepat lima belas menit kemudian, Dr. Kurniawan—dokter spesialis kandungan ternama yang menjadi dokter pribadi keluarga Dirgantara—tiba di penthouse dengan napas yang agak terengah-engah akibat terburu-buru. Di belakangnya, Yudha mengikuti dengan wajah lega karena berhasil membawa sang dokter tepat waktu sebelum bosnya meledak marah.
"Selamat pagi, Tuan Muda Devan. Mari, biarkan saya memeriksa kondisi Nona Alya," ucap Dr. Kurniawan dengan sangat sopan, langsung mengeluarkan stetoskop dan alat pemeriksaan portabelnya.
Selama sepuluh menit berikutnya, dokter paruh baya itu memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, dan melakukan pemeriksaan USG portabel pada perut Alya yang diolesi gel dingin. Devan berdiri di dekat ranjang dengan tangan dilipat di dada, matanya tidak pernah lepas dari layar monitor kecil yang menunjukkan titik kecil di dalam rahim Alya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Devan tidak sabar.
Dr. Kurniawan tersenyum ramah, mencoba menenangkan ketegangan sang CEO. "Tenang saja, Tuan Muda. Kondisi janin sangat sehat dan perkembangannya sangat baik untuk usia empat minggu. Detak jantungnya sangat kuat, bahkan... secara mengejutkan jauh lebih stabil dan aktif dibandingkan janin normal pada usia ini."
Mendengar penjelasan dokter, Devan melirik perut Alya. *Tentu saja aktif, anak itu bahkan bisa mengancamku lewat pikiran,* batin Devan ketus namun ada rasa bangga yang terselip di sana.
"Lalu, kenapa dia terus-menerus muntah hebat sejak semalam?" kejar Devan lagi.
"Ini adalah *emesis gravidarum* atau yang biasa kita kenal sebagai *morning sickness*. Hal ini sangat wajar terjadi karena adanya lonjakan hormon kehamilan secara drastis dalam tubuh Nona Alya. Ditambah lagi, kepekaan indra penciuman ibu hamil akan meningkat tajam," jelas Dr. Kurniawan dengan sabar.
Dokter itu kemudian melirik kemeja Devan yang masih menguapkan aroma parfum mahal. "Tuan Muda, jika boleh menyarankan, sebaiknya untuk sementara waktu Anda menghindari penggunaan parfum atau cologne dengan aroma yang terlalu kuat di sekitar Nona Alya. Hal itu bisa menjadi salah satu pemicu utama mualnya."
Mendengar saran dokter, Alya langsung menahan tawanya di balik bantal, sementara wajah Devan mendadak menjadi sangat kaku dan canggung.
"Baiklah. Aku mengerti," jawab Devan dengan nada suara yang sedikit tertahan, menahan rasa gengsinya yang terusik.
"Saya akan meresepkan beberapa vitamin kehamilan dan obat pereda mual yang aman untuk dikonsumsi sebelum makan. Pastikan Nona Alya makan dalam porsi kecil namun sering, dan hindari makanan yang memiliki aroma terlalu menyengat," tambah Dr. Kurniawan sebelum merapikan kembali peralatannya.
Setelah mengantar Dr. Kurniawan keluar, Devan kembali ke kamar utama. Ia menatap kemejanya sendiri dengan pandangan gusar, lalu tanpa ragu langsung membuka kancing kemejanya di depan Alya, memperlihatkan dada bidangnya yang kokoh dan berotot sebelum berjalan menuju lemari pakaian.
Alya yang melihat pemandangan vulgar di pagi hari itu langsung menutup matanya dengan kedua tangan, meski ia diam-diam mengintip dari sela-sela jarinya dengan wajah yang merona merah padam. "T-Tuan Devan! Kenapa Anda buka baju di sini?!"
Devan mengambil kaos katun polos berwarna hitam yang tidak memakai parfum sama sekali dari lemarinya dan memakainya dengan cepat. Ia berbalik menatap Alya dengan tatapan datar yang dingin. "Dokter bilang aromaku membuatmu mual. Jadi aku harus menggantinya. Kenapa? Kamu berpikiran mesum pagi-pagi begini?"
"Siapa yang mesum!" bantah Alya cepat, menarik selimutnya tinggi-tinggi hingga menutupi setengah wajahnya untuk menyembunyikan rasa malunya.
> *[Hahaha! Ibu, wajahmu sangat merah seperti tomat matang! Tapi harus kuakui, fisik Ayah memang sangat luar biasa. Gen yang diwariskannya padaku benar-benar kualitas premium kualitas nomor satu!]*
Di dalam kamar mewah yang kini mulai terasa hangat dan dipenuhi oleh kepedulian yang tulus, Alya perlahan memejamkan matanya kembali dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Di luar sana, angin pagi Jakarta berembus pelan, seolah-olah ikut tersenyum menyaksikan awal mula mencairnya hati sang CEO dingin di hadapan kehangatan keluarga kecilnya yang ajaib.