Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.
Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21: Jalur Bayangan dan Awal Perburuan
Kegelapan lorong bawah tanah menjadi saksi ketika dunia seolah kehilangan sebagian isinya tanpa sempat mengeluarkan suara. Arga berdiri di antara rel konveyor yang terus bergerak, sementara puluhan kontainer bernilai paling tinggi perlahan memudar, ditelan oleh riak transparan Ruang Dimensi yang kini membentang jauh lebih luas daripada sebelumnya. Di luar sana, Organisasi Hitam masih percaya mereka sedang menguasai keadaan, padahal jantung logistik mereka sedang direnggut sedikit demi sedikit tanpa seorang pun menyadarinya.
Hummm...
Ruang Dimensi bergetar lembut, memancarkan resonansi yang hanya bisa dirasakan oleh Arga. Ia mengatur napas setenang mungkin, menjaga aliran energi tetap stabil agar kemampuan itu tidak memicu ledakan resonansi seperti yang pernah terjadi di Sektor-9. Setiap kontainer yang masuk menambah tekanan pada dimensi penyimpanannya, tetapi tubuh Awakener Tier 1 miliknya masih mampu mempertahankan keseimbangan dengan baik.
Kontainer pertama yang lenyap berisi kristal hasil penelitian dari berbagai tingkatan. Sesaat kemudian, giliran peti-peti logam berisi generator industri, baterai cadangan, panel surya, hingga peralatan laboratorium berteknologi tinggi yang menghilang tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Arga tidak tergesa-gesa, karena baginya operasi yang sempurna adalah operasi yang baru disadari ketika semuanya telah berakhir dan tidak lagi bisa dihentikan.
Sret...
Konveyor tetap bergerak seperti biasa. Sensor optik membaca jalur yang kosong sebagai bagian dari proses distribusi, sementara kamera pengawas hanya merekam peti-peti yang seolah menghilang ketika memasuki titik buta di dalam lorong. Tidak ada ledakan, tidak ada benturan, bahkan tidak ada debu yang beterbangan sehingga seluruh proses berlangsung senyap tanpa memancing sedikit pun kecurigaan.
Tatapan Arga kemudian berhenti pada beberapa kontainer berwarna hitam dengan segel merah bertuliskan kode yang dikenalnya dari hard drive Sektor-9. Ia melangkah mendekat, lalu mengaktifkan Sensor Dimensi hingga denyut energi di dalam peti-peti itu tampak begitu jelas. Bukan hanya kristal penelitian, melainkan pula material eksperimental yang berkaitan langsung dengan Project Genesis, sesuatu yang nilainya jauh melampaui seluruh logistik lain di ruangan itu.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat ketika menyadari apa yang ada di hadapannya. Jika data yang pernah ia baca benar, material tersebut bukan sekadar komponen penelitian biasa, melainkan fondasi utama bagi eksperimen yang bahkan belum pernah muncul dalam kehidupan sebelumnya. Kehilangannya akan memaksa Project Genesis mundur jauh dari jadwal yang telah disusun Organisasi Hitam.
"Terlalu berbahaya jika kubiarkan tetap berada di tangan mereka," bisik Arga sebelum mengulurkan tangan.
Wusss...
Satu demi satu kontainer hitam itu ikut menghilang ke dalam Ruang Dimensi. Resonansi yang muncul kali ini jauh lebih berat, membuat udara di sepanjang lorong bergetar halus selama beberapa detik. Arga segera menstabilkan aliran energinya agar sensor kristal di atas permukaan tidak kembali menangkap anomali seperti yang pernah terjadi di Sektor-9.
Meski demikian, ia tidak mengambil seluruh isi jalur distribusi. Beberapa kontainer berisi bahan bangunan, perlengkapan kantor, dan logistik bernilai rendah sengaja dibiarkan tetap bergerak di atas konveyor agar semuanya tampak normal dari luar. Dengan begitu, ketidaksesuaian baru akan terlihat ketika proses pencatatan selesai, dan selisih waktu beberapa menit itulah yang menjadi celah emas bagi Arga untuk menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Setelah memastikan seluruh target utama telah diamankan, ia menutup Ruang Dimensi secara perlahan. Lorong kembali sunyi, hanya diiringi suara roda konveyor yang terus berputar membawa kontainer-kontainer biasa menuju gudang transit. Tidak ada siapa pun yang menyangka bahwa sebagian besar muatan paling berharga telah lenyap bahkan sebelum mencapai tujuan.
Tak...
Langkah Arga terdengar pelan ketika ia meninggalkan lorong melalui jalur utilitas yang sama. Penutup logam kembali dipasang seperti semula menggunakan manipulasi Ruang Dimensi hingga permukaannya tampak tak pernah disentuh. Beberapa menit kemudian, ia sudah berjalan santai di antara para pekerja malam yang sibuk memindahkan dokumen pengiriman, membaur tanpa menarik perhatian sedikit pun.
Sementara itu, di ruang kendali logistik, seorang operator mengernyit ketika melihat layar monitornya. Grafik beban konveyor tiba-tiba turun drastis, tetapi kamera masih memperlihatkan jalur distribusi bekerja seperti biasa. Ia segera memeriksa ulang sistem, mengira telah terjadi kesalahan kalibrasi akibat aktivitas bongkar muat yang terlalu padat malam itu.
"Beban kontainer jalur tiga tidak sesuai dengan data sensor," katanya sambil memanggil rekannya. "Kameranya normal, tapi timbangannya seperti... hilang."
Operator lain segera membandingkan data dari beberapa sensor berbeda. Semakin lama mereka memeriksa, semakin besar selisih yang muncul di layar. Beberapa kontainer yang tercatat memiliki bobot puluhan ton ternyata sudah tidak lagi memberikan tekanan pada rel konveyor, sesuatu yang secara logika hampir mustahil terjadi.
Bip... Bip... Bip...
Alarm darurat akhirnya meraung memecah kesunyian kompleks pelabuhan. Lampu merah berkedip di sepanjang koridor, sementara pengeras suara memerintahkan seluruh personel keamanan menuju gudang utama sesuai prosedur ancaman tingkat tinggi. Para Awakener elit yang sejak awal memang menunggu Ghost Collector langsung bergerak tanpa sedikit pun keraguan.
Derap langkah memenuhi halaman gudang ketika puluhan personel bersenjata menyerbu masuk melalui pintu utama. Mereka membongkar ruang penyimpanan, memeriksa atap, hingga menyisir setiap sudut kantor administrasi. Namun, semua yang mereka temukan hanyalah gudang yang tetap utuh beserta seluruh jebakan yang belum sempat digunakan.
Pemimpin operasi mengerutkan dahi sambil menggenggam radio komunikasi. Nada suaranya terdengar tajam ketika ia bertanya, "Laporan gangguan dari mana sebenarnya?"
Jawaban dari ruang kendali membuat wajahnya seketika berubah.
"Jalur distribusi bawah tanah... muatan menghilang dari sana!"
Untuk sesaat, suasana berubah hening. Pria itu mengepalkan tangan begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih karena seluruh strategi yang mereka susun selama berminggu-minggu ternyata diarahkan ke sasaran yang salah. Ghost Collector sama sekali tidak berniat memasuki gudang utama; ia justru membiarkan mereka menjaga bangunan kosong sementara pusat distribusi yang menjadi urat nadi logistik dilucuti dari belakang.
"Sial..." desisnya pelan. "Dia mempermainkan kita lagi."
Seluruh tim segera berbalik menuju akses bawah tanah. Namun ketika mereka tiba, yang tersisa hanyalah rel konveyor kosong dan beberapa kontainer biasa yang masih bergerak perlahan menuju gudang transit. Tidak ada tanda pembobolan, tidak ada sidik jari, bahkan tidak ada jejak kaki yang dapat dijadikan petunjuk.
Beberapa ahli sensor segera memindai sisa energi di sepanjang lorong dengan peralatan khusus. Setelah beberapa saat, salah seorang teknisi mengangkat kepalanya dan berkata, "Masih ada residu kemampuan Dimensi. Sangat lemah... pelakunya pasti sudah pergi." Ucapan itu membuat suasana semakin mencekam karena mereka kembali terlambat beberapa langkah.
Pemimpin operasi langsung memerintahkan pengejaran berdasarkan jejak energi tersebut. Sensor portabel segera dibawa keluar kompleks, mengikuti residu yang mengarah ke kawasan gudang tua di pinggir pelabuhan. Seluruh kendaraan taktis meluncur cepat, yakin bahwa mereka akhirnya menemukan jalur pelarian Ghost Collector.
Raungan mesin memenuhi jalanan malam ketika belasan SUV hitam melesat membelah kawasan industri, diikuti sepeda motor patroli dan kendaraan pendukung. Mereka mengepung gudang tua yang menjadi tujuan sinyal energi, lalu mendobrak seluruh pintunya secara serempak. Debu beterbangan ketika lampu sorot menerangi ruangan kosong yang dipenuhi peti-peti kayu lapuk.
Brak!
Tidak ada siapa-siapa. Residu energi memang memenuhi bangunan itu, tetapi hanya berkumpul pada satu sudut ruangan sebelum menghilang begitu saja, seolah seseorang sengaja meninggalkan jejak palsu untuk memancing seluruh pemburu berlari ke arah yang salah. Pemimpin operasi menatap lantai dengan rahang mengeras, lalu perlahan menyadari kenyataan yang jauh lebih menyakitkan.
Mereka kembali ditipu.
Di saat seluruh pasukan menghabiskan waktu memeriksa gudang kosong, Arga sudah melaju di jalan tol menggunakan kendaraan sewaan yang tidak pernah tercatat dalam penyelidikan mereka. Ruang Dimensi di dalam dirinya kini dipenuhi logistik, kristal penelitian, generator, dana operasional, bahan bakar, hingga material Project Genesis dalam jumlah yang bahkan melampaui ekspektasinya sendiri. Ia sempat melirik kaca spion dan memastikan tidak ada satu pun kendaraan yang mengikuti, hanya deretan lampu jalan yang memanjang seperti garis cahaya di tengah malam, menemani perjalanan seorang pria yang baru saja merobohkan salah satu fondasi terbesar Organisasi Hitam tanpa melepaskan satu ayunan senjata pun.
Menjelang fajar, laporan lengkap akhirnya tiba di markas pusat Organisasi Hitam. Ruang rapat bawah tanah yang biasanya tenang berubah dipenuhi wajah-wajah tegang, sementara setiap angka yang muncul di layar membuat suasana semakin berat karena kerugian yang mereka alami jauh melampaui seluruh insiden sebelumnya.
Seorang analis menarik napas sebelum membacakan hasil audit dengan suara yang terdengar semakin lirih. "Kristal penelitian hilang hampir seluruhnya. Generator industri, panel surya, cadangan bahan bakar, obat-obatan, dana operasional, serta sebagian material Project Genesis ikut lenyap. Estimasi kerugian mencapai miliaran rupiah dan berdampak langsung terhadap jaringan distribusi wilayah timur."
Ruangan itu kembali sunyi. Pria berambut perak yang selama ini menangani kasus Ghost Collector menatap layar tanpa berkedip, lalu perlahan menyadari pola yang selama ini tidak mereka pahami. Baginya, seluruh tindakan penyusup misterius itu kini mulai membentuk gambaran yang jauh lebih besar daripada sekadar aksi pencurian.
"Dia sedang memotong kaki kita," ucapnya pelan. "Dia tidak mencuri untuk memperkaya diri. Dia sedang menghancurkan kemampuan kita berperang."
Sosok pemimpin yang duduk di ujung meja akhirnya mengangkat kepala. Wajahnya masih tersembunyi dalam bayangan, tetapi tekanan yang memenuhi ruangan membuat tak seorang pun berani bernapas terlalu keras. Jemarinya mengetuk meja beberapa kali sebelum suara beratnya memecah keheningan.
"Tidak ada lagi posisi bertahan."
Semua mata langsung tertuju kepadanya ketika ia melanjutkan perintah dengan nada yang dingin dan tegas. "Kumpulkan seluruh jaringan intelijen. Aktifkan setiap cabang, setiap informan, setiap Awakener elit yang kita miliki. Ghost Collector bukan lagi ancaman lokal."
Ia berhenti sejenak, membiarkan setiap orang mencerna makna ucapannya sebelum menyelesaikan kalimat terakhir yang membuat bulu kuduk seluruh ruangan meremang.
"Mulai hari ini... kita yang akan memburunya."
Jauh dari Surabaya, Arga menghentikan mobilnya di sebuah tempat yang menghadap matahari terbit. Cahaya jingga perlahan muncul di balik cakrawala, memantul di permukaan laut yang tenang seolah dunia masih berjalan seperti biasa. Ia membuka peta digital Indonesia, lalu mulai memberi tanda pada beberapa kota berikutnya sambil menyusun rencana baru di dalam benaknya.
Kini keadaan telah berubah. Organisasi Hitam tidak lagi bersembunyi di balik benteng mereka karena telah dipaksa keluar untuk mengejar seseorang yang bahkan tidak berniat bertarung secara langsung. Arga menutup peta itu perlahan, lalu tersenyum tipis ketika sebuah nama kembali muncul di benaknya.
"Kalau kalian mulai bergerak..." gumamnya lirih sambil menyalakan mesin mobil.
"...berarti giliranku menentukan medan perangnya."