NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riak di Atas Air yang Tenang

Sinar matahari hari Minggu menembus celah-celah ventilasi rumah kontrakan Mutia, membawa kehangatan yang perlahan membangunkan Rana dari tidur nyenyaknya. Ia sampai melewatkan kewajibannya.

Ini adalah hari kedua liburnya, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rana merasa energinya pulih. Setelah membantu Mutia merapikan tempat tidur dan memasak sarapan sederhana, Rana duduk di teras depan yang teduh, menikmati semilir angin pagi sembari menggenggam ponsel lama pemberian Mutia.

Tiba-tiba, ponsel di tangannya bergetar panjang. Sebuah nama yang sudah sangat akrab di hatinya berkedip di layar: Mas Veri.

Jantung Rana berdesir kecil. Dengan gerakan cepat yang hampir spontan, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

"Halo, Assalamualaikum, Mas Veri," sapa Rana.

Suaranya yang biasa datar dan lelah kini terdengar jauh lebih ringan, bahkan ada nada riang yang terselip di sana.

"Waalaikumussalam, Na. Bagaimana kabarmu di sana? Kemarin-kemarin Mas telepon kenapa tidak tersambung?" Suara Veri di seberang sana terdengar bariton dan penuh perhatian seperti biasanya.

"Alhamdulillah baik, Mas. Ponsel yang lama rusak LCD-nya, jadi ini baru sempat menyalakan kartu pakai ponsel pinjaman dari Mbak Mutia," jelas Rana.

"Oh, pantas saja. Mas sempat cemas. Kamu kapan pulang? Jalanan di sini makin ramai, kemarin Mas sempat lewat depan sekolah Rani, suasananya padat sekali."

Rana mendengarkan setiap kalimat Veri dengan takzim. Mereka mengobrol selama hampir lima belas menit. Veri menceritakan percetakannya yang semakin sibuk karena banyaknya pesanan yang masuk, sementara Rana menceritakan sedikit tentang cuaca Kalimantan yang tak menentu. Tidak ada kata-kata cinta yang muluk-muluk, tidak ada komitmen tertulis, namun bagi Rana, perhatian kecil seperti pertanyaan “Sudah makan belum, Na?” atau “Jangan terlalu lelah ya,” sudah cukup untuk menyiram hatinya yang gersang.

"Siapa yang menelepon?" tanya Mutia yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah membawa dua gelas teh hangat, tepat setelah Rana mengakhiri panggilan dengan senyum yang masih tersisa di bibirnya.

"Mas Veri, Mbak," jawab Rana jujur, meletakkan ponsel di atas meja kayu kecil di antara mereka.

Mutia meletakkan gelas teh, lalu duduk di kursi sebelah Rana. Alisnya bertaut, menyiratkan rasa khawatir yang mendalam sebagai seorang kakak.

"Kamu... masih berhubungan dengannya, Na?" Rana mengangguk pelan, mengambil gelas tehnya dan meminumnya perlahan.

"Iya, Mbak. Mas Veri masih sering telepon kalau dia ada waktu senggang." Mutia menghela napas panjang, menatap Rana dengan pandangan lurus.

"Na, Mbak mau tanya sesuatu. Tolong jawab jujur." Rana mengangguk kecil.

"Apa... kamu tidak khawatir dia selingkuh di sana?"

Pertanyaan Mutia yang tiba-tiba dan frontal itu membuat gerakan tangan Rana terhenti. Senyum di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh riak tipis kecemasan yang coba ia sembunyikan di balik ketenangan wajahnya.

"Hubungan kalian ini ambigu, Na. Veri tidak pernah datang ke rumah untuk melamarmu secara resmi sebelum kamu berangkat, kan? Ditambah sekarang jarak kalian jauh sekali, tidak hanya dipisahkan jarak tapi beda pulau. Mbak saja kalau jadi kamu tidak akan sanggup menahan curiga setiap hari," lanjut Mutia, menyuarakan kekhawatiran yang selama ini terpendam.

Rana memaksakan sebuah senyuman tipis, matanya menatap kepulan tipis di gelasnya.

"Kalau dia selingkuh, berarti kami memang tidak berjodoh, Mbak," jawab Rana dengan nada suara yang sedikit tertahan di tenggorokan.

Tanpa perlu Mutia suarakan dengan gamblang, Rana sebenarnya sudah sering memikirkan hal itu. Di malam-malam sepi di dalam kamar mess-nya yang pengap, pikiran-pikiran buruk itu sering kali datang mengetuk benaknya. Bagaimana jika Veri bosan? Bagaimana jika Veri menemukan wanita lain yang lebih cantik dan selalu ada di sisinya di sana?

Tetapi, Rana selalu memilih untuk menutup mata dan telinganya sendiri. Ia enggan mengakuinya. Ia terlalu takut menghadapi kenyataan jika satu-satunya pegangan emosional yang ia miliki di luar lingkaran keluarga toksiknya juga harus runtuh.

Selama ini hubungan mereka baik-baik saja dalam permukaan. Meski Veri tidak pernah menjanjikan pernikahan atau memberikan kepastian hubungan, setidaknya laki-laki itu masih meluangkan waktu untuk memberikan perhatian kepadanya.

Rana adalah seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan yang sangat haus akan kasih sayang. Di rumahnya, ia hanya dianggap sebagai anak bawaan yang kemudian naik status menjadi penanggung jawab finansial, sebuah alat untuk memenuhi ambisi adiknya.

Maka, ketika ada seorang laki-laki seperti Veri yang bersedia mendengarkan suaranya dan bertanya tentang kabarnya tanpa meminta sepeser uang pun, Rana sudah merasa sangat cukup. Baginya, perhatian Veri adalah obat, meskipun ia tahu fondasi tempatnya bersandar sangatlah rapuh.

Di sudut lain area pertambangan, hari Minggu tidak sepenuhnya menjadi hari libur bagi tim mekanik dealer karena perputaran jadwal. Pradika duduk di gazebo dekat danau bekas galian, menatap kontak rana di ponselnya.

Pradika menggosok tengkuknya yang terasa kaku. Ia memencet ikon pesan singkat, lalu mengetik beberapa kata: 'Selamat pagi Mbak Rana, saya Pradika mekanik yang kemarin...'

Tapi ia menghapusnya. Mulai mengetik sapaan, Pradika menghapusnya lagi karena menurutnya, itu terlalu formal dan aneh. Bagaimana jika Rana berpikir ia adalah orang mesum yang memanfaatkan situasi kerja untuk mencari nomor pribadinya?

Pradika bukanlah tipe pria yang pandai merayu atau mendekati wanita dengan cara-cara yang agresif. Hidupnya selama ini lurus. Sejak bekerja, waktunya dihabiskan di workshop dan area overhaul alat berat. Namun, bayangan wajah Rana yang memancarkan aura berbeda dari perempuan di lingkaran mereka, ditambah informasi dari rekan-rekannya tentang Sapo yang mulai mengincar gadis itu, membuat Pradika tidak bisa tinggal diam.

"Sial, kenapa mau kirim pesan singkat saja rasanya lebih rumit daripada membongkar mesin transmisi triple seven (DT777)," umpat Pradika pada dirinya sendiri.

Ia mengembuskan napas kasar, memasukkan ponselnya di saku bagian dada. Pradika menyerah. Jika besok Rana sudah kembali masuk kerja, ia akan memastikan untuk menemuinya secara langsung di loket, menyapanya secara resmi, baru kemudian melangkah ke tahap selanjutnya. Ia harus memastikan Rana aman dari gangguan eksternal di tempat kerja yang penuh dengan predator ini.

Sore harinya, Mas Rinta bersiap mengantarkan Rana kembali ke mess karyawan dengan menggunakan sepeda motornya. Mutia memeluk Rana erat-erat di halaman depan sebelum adiknya itu naik ke atas motor.

"Ingat pesan Mbak ya, Na. Jaga dirimu baik-baik di mess. Kalau ada apa-apa, atau kalau Ibumu keterlaluan lagi, langsung telepon Mbak atau Mas Rinta. Jangan dipendam sendiri," bisik Mutia dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

"Iya, Mbak. Terima kasih banyak untuk tumpangannya dua hari ini. Rana pamit dulu," jawab Rana tulus.

Motor Rinta kemudian melaju, membelah jalanan tanah kering yang menerbangkan debu-debu merah khas Kalimantan. Sepanjang perjalanan, Rana hanya diam menatap jalanan dan punggung kakak iparnya sesekali. Pikirannya kembali melayang pada ucapan Mutia tentang Veri tadi pagi. Kata-kata itu seperti duri kecil yang tertancap di hatinya; tidak terlihat, namun terasa linu setiap kali ada gesekan emosi.

Sesampainya di mess, Rana mengucapkan terima kasih kepada Rinta yang langsung berbalik arah untuk pulang. Rana berjalan lambat menuju kamarnya, menyapa beberapa rekan kerja wanita yang sedang berkumpul di koridor.

Ketika ia membuka pintu kamarnya yang berukuran dua kali dua meter itu, hawa pengap langsung menyambut. Rana meletakkan tasnya, lalu duduk di tepi kasur tipis. Ia meraih ponsel pemberian Mutia, berniat untuk memeriksa kembali pesan-pesan kerja yang mungkin masuk di grup koordinasi Oil and Fuel.

Tidak ada pesan genting, Rana meletakkan ponselnya di meja dan merebahkan tubuhnya. Ia terbangun saat adzan maghrib berkumandang. Segera ia bersiap dan berjalan menuju mushola mess untuk ikut sholat berjamaah.

Ketika sholat berjamaah selesai, Rana bersalaman dengan beberapa rekan perempuan dan pamit kembali lebih dulu. Saat sampai di persimpangan mess laki-laki dan perempuan, Rana bersisihan dengan Pradika.

“Assalamu’alaikum, Rana.” Sapa Pradika dengan nada sedikit kaku.

“Wa’alaikumsalam, Mas.” Jawab Rana.

“Dari mushola?” Rana menganggukkan kepalanya.

Pradika tahu mereka saat ini dalam keadaan canggung, sehingga ia segera berpamitan untuk tidak menambah kecanggungan.

“Silahkan dilanjut, Rana. Jangan lupa kunci pintunya.” Pesan Pradika sebelum melangkah menuju kantin.

Rana merasa aneh dengan pesan tersebut tetapi tidak mengatakan apa-apa. ia berbalik untuk kembali ke kamar. Malam ini ia tidak makan di kantin karena Mutia telah membawakannya kotak bekal. Selesai makan, Rana membuka laptopnya sebentar untuk mengecek perkembangan perkuliahannya yang sudah ia jalani setahun ini.

Rana menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya kuliah dari semua orang. Ia hanya ingin menjalaninya dalam diam karena jika sang ibu tahu, tentu akan memicu keributan. Beruntung ada Universitas Terbuka yang memfasilitasi mahasiswa dengan perkuliahan jarak jauh yang bisa dilakukan di mana pun. Dengan begitu Rana tetap bisa kuliah tanpa harus bertatap muka dengan dosen. Masih ada waktu beberapa bulan lagi sebelum semester tiganya dimulai.

Setelah melihat belum ada pengumuman nilai, Rana menutup laptopnya dan merebahkan tubuhnya. Tetapi ia segera berdiri lagi karena teringat pesan Pradika. Ia sekali lagi memastikan pintu kamarnya terkunci dua kali.

“Tidak ada salahnya, berjaga-jaga.” Gumam Rana sambil mengembuskan nafas lega.

Tak butuh waktu lama, Rana terlelap dalam tidurnya tanpa tahu ada bayangan yang sedang memperhatikannya dalam kejauhan.

“Semakin susah didapatkan, semakin membuatku tertantang." ucap seseorang dengan seringaian licik.

1
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!