NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ceo

Transmigrasi Ceo

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Dwi

Dikhianati hingga tewas di dunia modern, Anya, seorang CEO jenius ahli strategi investasi, bertransmigrasi ke tubuh Permaisuri Xian—seorang istri kaisar yang lemah, miskin, dan ditindas oleh para selir di istana belakang.
Namun, si licik salah memilih lawan. Jiwa yang baru ini tidak mengenal kata menyerah. Menggunakan ilmu ekonomi modern, Anya mengobrak-abrik Paviliun Logistik, menyikat habis menteri korup, dan membalikkan keadaan hingga para musuhnya gemetar ketakutan!
Di tengah aksi balas dendamnya yang badass, Kaisar Liang yang dingin dan berwibawa justru mulai mendekat, terpikat oleh kepakan sayap sang Ratu yang baru.
"Kau sangat menarik, Xian. Katakan padaku... apa yang sebenarnya terjadi padamu?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 KONFRONTASI ISTANA ANGGREK

Kabar mengenai hancurnya pintu gerbang Paviliun Logistik Pusat dan takluknya Kasim Sun di bawah kaki Permaisuri Xian menyebar seperti api yang ditiup angin kencang di seluruh penjuru istana belakang. Di dalam Paviliun Utama Istana Anggrek yang megah, aroma kemenyan gaharu yang mahal berbaur dengan ketegangan yang pekat. Selir Agung Cui sedang duduk di atas dipan sutra berlapis bulu rubah putih, wajahnya yang biasanya cantik jelita dan dipenuhi senyum kepalsuan kini tampak mengeras menahan amarah yang luar biasa. Di depannya, Pelayan Senior Lin berlutut dengan tubuh gemetar, sementara pipi kirinya masih bengkak keunguan akibat tamparan Anya dari kejadian di kolam teratai kemarin.

"Jadi kau ingin mengatakan bahwa wanita bodoh dari Istana Phoenix itu tiba-tiba kerasukan iblis dan menamparmu hingga seperti ini?" suara Selir Agung Cui terdengar sangat rendah namun tajam, sepasang matanya yang indah berkilat penuh kebencian. Jari-jemarinya yang lentik, dihiasi oleh pelindung kuku emas murni yang panjang, mengetuk-ngetuk sandaran dipan dengan ritme yang tidak sabar.

"Benar, Yang Mulia Selir Agung! Hamba bersumpah demi langit, Permaisuri Xian yang sekarang benar-benar berbeda. Tatapan matanya... tatapan matanya seolah bisa mencabut nyawa hamba seketika itu juga," ratap Pelayan Lin sambil menyembunyikan wajahnya yang ketakutan di atas lantai batu yang dingin. "Bukan hanya hamba, bahkan Kasim Sun saat ini dipaksa menyerahkan seluruh kunci otoritas gudang utama setelah Permaisuri membongkar semua catatan pembukuan rahasia kita. Jika kita tidak bertindak sekarang, seluruh pengaruh kita di istana belakang akan runtuh!"

Selir Agung Cui menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gejolak amarah di dadanya. Pikirannya berputar cepat mencari strategi. Selama setahun ini, dia telah berhasil mengisolasi Permaisuri Xian hingga wanita itu tidak lebih dari sekadar bayangan tanpa kekuatan di istana ini. Bagaimana mungkin sebatang pohon yang sudah layu dan hampir mati tiba-tiba menumbuhkan duri yang sangat beracun dalam semalam? Ada sesuatu yang tidak beres di sini, dan sebagai seorang wanita yang berhasil merangkak naik hingga ke posisi Selir Agung melalui intrik berdarah, Cui tahu dia tidak boleh meremehkan perubahan sekecil apa pun.

"Permaisuri, Permaisuri... rupanya kau sudah bosan hidup tenang di dalam penjaramu yang dingin itu," gumam Selir Agung Cui dengan senyuman sinis yang mengerikan. Dia bangkit berdiri, gaun sutra berlapis delapan berwarna hijau zamrud yang dikenakannya menyapu lantai dengan keanggunan yang diatur sedemikian rupa. "Panggil seluruh pengawal pribadi Istana Anggrek dan siapkan tandu kekaisaranku. Kita akan menyambut kedatangan 'ibu negara' kita yang baru saja bangun dari tidur panjangnya."

Namun, sebelum Selir Agung Cui sempat melangkah keluar dari paviliun utamanya, suara langkah kaki yang teratur dan tegas terdengar menggema dari arah halaman depan Istana Anggrek. Pintu gerbang utama paviliun tersebut tidak ditendang hancur seperti di Paviliun Logistik, melainkan dibuka dengan perlahan namun pasti oleh Kasim Wang.

Anya melangkah masuk ke dalam wilayah kekuasaan musuhnya tanpa ada sedikit pun keraguan atau rasa gentar di wajahnya. Dia mengenakan jubah luar Phoenix merah marun yang baru saja didapatkannya kembali, berjalan dengan punggung tegak lurus sempurna dan tatapan mata yang pekat menembus langsung ke arah Selir Agung Cui yang berdiri di ambang pintu paviliun. Di sekeliling halaman, puluhan pelayan dan dayang Istana Anggrek menunduk ketakutan, merasakan atmosfer tekanan yang luar biasa berat mengalir dari tubuh sang Permaisuri.

"Sungguh sebuah kehormatan yang luar biasa, Permaisuri Xian sudi melangkahkan kaki senyapnya ke tempat hamba yang rendah ini," Selir Agung Cui berucap dengan nada suara yang dibuat semanis madu, meskipun sepasang matanya memancarkan kilatan belati yang tajam. Dia membungkuk sedikit demi formalitas, namun gerakannya sangat kaku dan penuh keangkuhan. "Hamba mendengar Anda baru saja membuat keributan besar di Paviliun Logistik dan memukuli pelayan hamba tanpa alasan yang jelas. Apakah Anda sudah lupa dengan tata krama istana kekaisaran?"

Anya menghentikan langkah kakinya tepat tiga langkah di depan Selir Agung Cui. Perbedaan tinggi badan dan pembawaan diri membuat Anya tampak jauh lebih dominan, seolah dia sedang berdiri di puncak mimbar ruang rapat direksi memandangi seorang karyawan pembangkang yang akan segera dipecat secara tidak hormat.

"Tata krama?" Anya membeo kalimat itu dengan nada suara yang sangat datar, namun setiap suku katanya memiliki penekanan sedingin es yang sanggup membekukan udara di sekitar mereka. "Cui, siapa yang memberikan hak politik atau hukum kepadamu untuk mempertanyakan tindakanku dalam mendisiplinkan budak-budak pelayan yang tidak tahu diri? Di dalam hukum kekaisaran Han yang sah, seorang permaisuri adalah penguasa mutlak atas seluruh urusan istana belakang. Setiap pelayan, dayang, kasim, bahkan seluruh selir tanpa terkecuali adalah milikku dan berada di bawah garis komandoku. Jika aku ingin mengeksekusi mati kepala pelayanmu atau kasim korupmu hari ini juga, aku tidak memerlukan izin atau alasan apa pun darimu."

Wajah cantik Selir Agung Cui seketika menegang, warna merah merona di pipinya memudar digantikan oleh rona pucat karena menahan amarah yang luar biasa hebat. Dia tidak pernah menyangka bahwa Xian yang biasanya akan gemetar ketakutan hanya dengan mendengar namanya, kini berani berbicara langsung dengan nada mengintimidasi dan menyebut namanya secara langsung tanpa gelar kehormatan di depan umum.

"Anda... Anda jangan keterlaluan, Permaisuri Xian!" Cui mendesis, menghilangkan topeng keramahan palsunya sepenuhnya. Dia melangkah maju satu babak, mendekatkan wajahnya yang penuh riasan tebal ke arah Anya. "Anda mungkin menyandang gelar sebagai Permaisuri sah, tetapi jangan lupa bahwa seluruh kekuasaan nyata di istana ini berada di tangan klan keluargaku! Baginda Kaisar Liang bahkan tidak sudi melihat wajahmu yang menyedihkan itu semenjak hari pernikahan kita. Di mata Baginda, Anda tidak lebih dari sekadar pajangan politik yang tidak berguna dan menunggu waktu untuk disingkirkan!"

Anya tidak mundur setapak pun menghadapi gertakan kemarahan dari Selir Agung Cui. Sebaliknya, dia justru menatap Cui dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa kasihan yang mendalam—sebuah tatapan meremehkan yang jauh lebih menyakitkan daripada sebuah tamparan fisik bagi wanita seangkuh Cui.

"Kekuasaan nyata yang kau banggakan itu hanyalah fatamorgana yang rapuh, Cui," bisik Anya dengan ketenangan yang sangat mematikan, membuat bulu kuduk Pelayan Lin yang berlutut di belakang mereka kembali berdiri tegak. "Kau merasa sangat aman dan berkuasa hanya karena kau berpikir saat ini sedang mengandung anak dari kaisar dan memiliki dukungan klan yang kuat di pemerintahan. Namun, sebagai seorang mantan pemimpin, aku tahu persis bagaimana cara meruntuhkan gedung pencakar langitmu ini hanya dengan mencabut satu pondasi utamanya. Mulai hari ini, seluruh rantai pasokan logistik, aliran dana keuangan, dan distribusi barang di istana belakang berada di bawah kendali penuh tanganku. Kita lihat saja seberapa lama pesonamu yang murahan itu bisa bertahan di depan mata Kaisar Liang tanpa adanya sokongan kemewahan yang kau curi dari hak istanaku."

Anya membalikkan tubuh fisiknya dengan satu gerakan yang sangat anggun dan penuh wibawa, membiarkan ujung jubah merah Phoenix-nya menyapu lantai batu Istana Anggrek dengan suara desiran yang tegas. Dia berjalan pergi meninggalkan Selir Agung Cui yang masih berdiri terpaku di tempatnya dengan tubuh yang bergetar hebat karena amarah, frustrasi, dan rasa ngeri yang belum pernah dirasakannya selama hidup di dalam istana belakang ini.

1
evi carolin
sat set libas semua ,basmi abis ampe keturunan dan nol ga punya harta jabatan dan gelar 😱
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
awal langsung panas... semangat
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: suka kok tapi klo bisa Jangan terus sebut dunia ku... biar ngga bocor klo Permaisuri nya bukan asli kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!