Di tengah kemegahan Manhattan, Liam Vance adalah pangeran es yang hancur. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh kekasihnya, Gretha, yang mengandung anak pria lain.
Dunia idealisme Liam runtuh, mengubahnya menjadi sosok dingin yang mati rasa hingga ia bertemu Anne Margaretha, mahasiswi baru asal Belanda dengan keberanian luar biasa.
Saat seisi kampus menjauhi Liam, Anne justru menantang kebekuan hatinya dengan ketulusan yang tak terduga.
Di antara luka masa lalu dan tembok pertahanan diri yang kokoh, Anne bertekad membuktikan bahwa cinta sejati bukanlah kelemahan. Akankah sinar hangat Anne mampu mencairkan badai salju abadi di hati sang pewaris Vance?
Sequel Novel Elara & Leo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegigihan Anne Margaretha
Manhattan di puncak musim gugur adalah sebuah arena di mana hanya yang paling tangguh yang bisa bertahan. Bagi Anne Margaretha, universitas ini bukan lagi sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan sebuah medan tempur psikologis di mana strategi dan kesabaran adalah senjata utamanya. Ia tahu persis bahwa Liam Vance sedang menderita alergi kronis terhadap wanita agresif.
Setelah dikhianati oleh Gretha yang tampak lembut namun menyimpan duri, Liam telah mengembangkan mekanisme pertahanan diri yang akan segera menutup rapat jika mencium bau kepalsuan atau tuntutan emosional.
Strategi Anne sangat spesifik: Invisible Presence (Kehadiran yang Tak Kasat Mata). Ia tidak ingin menjadi gangguan; ia ingin menjadi latar belakang yang menenangkan, sebuah konstanta yang stabil dalam hidup Liam yang sedang hancur lebur.
Anne memulai ini dari indra penciuman—indra yang paling kuat terhubung dengan memori dan emosi manusia. Ia berhenti menggunakan parfum bunga yang mencolok. Setelah melakukan riset mendalam tentang aromaterapi untuk trauma, ia mulai mengenakan campuran aroma vanila murni dan kayu cendana (sandalwood). Vanila memberikan kesan hangat seperti rumah, sementara kayu cendana memberikan efek sedatif yang menenangkan saraf yang tegang.
Setiap hari di perpustakaan, Anne tidak pernah duduk tepat di depan Liam. Ia selalu memilih posisi dua baris di belakang atau di samping dalam sudut pandang periferal Liam. Ia membiarkan aroma lembut itu menyebar di udara, secara tidak sadar terekam di otak reptil Liam sebagai "aroma zona aman." Ia ingin ketika Liam mencium aroma ini, otot-otot bahunya yang selalu tegang bisa sedikit mengendur tanpa pria itu tahu alasannya.
Suatu sore, perpustakaan terasa begitu hening hingga suara detak jarum jam di dinding terdengar seperti dentuman. Anne memperhatikan Liam dari belakang. Pria itu sedang bergelut dengan draf tugas akhir ekonomi makro miliknya. Dahi Liam berkerut dalam, dan ia berulang kali mengacak rambutnya frustrasi. Ia tampak terjebak pada sebuah model ekonometrika yang kompleks.
Inilah saatnya. Anne bangkit perlahan, merapikan buku-bukunya tanpa suara. Saat ia berjalan melewati meja Liam menuju pintu keluar, ia "secara tidak sengaja" menjatuhkan sebuah catatan kecil dari saku cardigan-nya. Catatan itu jatuh tepat di sisi tangan Liam yang sedang memegang pena.
Anne tidak berhenti. Ia tidak menoleh. Ia terus berjalan keluar dengan langkah yang tenang, meski jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Di balik pintu kayu besar perpustakaan, ia bersandar pada dinding dan menarik napas panjang.
"Aku tidak akan memaksamu mencintaiku sekarang, Liam," batinnya. "Aku hanya akan menunjukkan bahwa dunia ini tidak semuanya duri. Masih ada tempat yang hangat, dan tempat itu ada di sisiku."
Di dalam, Liam secara refleks mengambil kertas itu. Ia mengharapkan sebuah surat cinta konyol atau nomor telepon yang akan segera ia remas. Namun, matanya membelalak.
Di atas kertas itu terdapat coretan rapi rumus yang selama ini menjadi mata rantai yang hilang dalam argumen tesisnya. Di pojok kertas, tertulis kutipan kecil: "Terkadang, solusi tidak ditemukan dengan dipaksa, tapi dengan dibiarkan mengalir."
Liam menatap kertas itu, lalu matanya mencari sosok gadis yang baru saja lewat. Yang ia lihat hanyalah ujung rambut pirang madu yang menghilang di balik pintu. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ada kilatan rasa penasaran di balik mata birunya yang beku. Strategi Anne mulai bekerja dengan presisi yang menakutkan.
Liam Vance adalah putra Leo Vance. Ia dibesarkan untuk mencurigai segalanya. Radar miliknya sangat tajam terhadap siapa pun yang mencoba menyusup ke ruang pribadinya. Namun, Anne bergerak layaknya bayangan—ia ada, tapi tidak menuntut perhatian.
Setiap pagi tepat pukul 07.30, saat Liam tiba di studio studinya yang privat di lantai dua fakultas bisnis, ia selalu menemukan secangkir Americano panas. Suhunya selalu tepat di angka 80°C—suhu ideal di mana aroma kopi mencapai puncaknya tanpa membakar lidah. Tanpa catatan nama, tanpa pesan manis yang menyebalkan.
Selama enam hari pertama, Liam memperlakukan kopi itu dengan penghinaan yang sama seperti ia memperlakukan dunia. Ia membiarkannya mendingin hingga lapisan minyak kopinya mengeras, lalu membuangnya ke tempat sampah dengan wajah datar. Ia membenci misteri. Ia membenci ketergantungan.
Namun, di hari ketujuh, Liam tiba dengan keadaan yang menyedihkan. Ia tidak tidur selama 48 jam. Kepalanya berdenyut, dan hatinya terasa hampa setelah mimpi buruk tentang Gretha kembali menghantuinya semalam. Aroma kopi yang baru saja diletakkan di mejanya itu entah bagaimana terasa berbeda. Pahitnya tercium sangat jujur, sangat murni.
Liam akhirnya menyerah. Ia menyesap kopi itu. Rasa pahit yang seimbang dan suhu yang pas itu seolah membasuh kerongkongannya yang kering. Secara ajaib, saraf-saraf di kepalanya yang seolah sedang ditarik kencang, perlahan mulai mengendur. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasakan amarah.
Di kejauhan, melalui celah pintu yang terbuka sedikit, Anne memperhatikan. Ia tidak merayakan dengan sorak-sorai. Ia hanya mencatat dalam hati: Liam mulai menerima kehadiranku.
Minggu-minggu berlalu. Interaksi mereka masih sebatas pengabaian yang sopan. Anne sering kali menjatuhkan pulpen atau membiarkan syalnya tersampir di kursi dekat Liam. Liam akan memungutnya dan menyerahkannya kembali tanpa menatap wajah Anne. Ia benar-benar memperlakukan Anne seolah gadis itu adalah bagian dari perabotan kampus—fungsional, ada, tapi tidak cukup penting untuk diberi atensi lebih.
Namun, benteng pertahanan paling kuat sekalipun memiliki celah.
Suatu malam, badai salju prematur mulai turun di Manhattan. Perpustakaan sudah hampir kosong. Liam sedang mencari referensi langka tentang Hukum Maritim Internasional dari abad ke-19. Ia menelusuri rak-rak tinggi di bagian arsip yang gelap. Buku bersampul kulit tua itu tidak ada di tempat yang seharusnya. Liam mendengus frustrasi, tangannya mengepal.
Tiba-tiba, dari celah di antara buku-buku di rak seberang, sebuah tangan mungil terjulur. Tangan itu menyodorkan buku yang dicarinya.
"Aku menemukannya di bagian referensi umum tadi. Sepertinya seseorang salah meletakkannya," suara itu muncul. Lembut, tenang, dan memiliki intonasi yang begitu damai.
Liam membeku. Ia tidak mengambil buku itu dengan segera. Ia menatap tangan Anne, lalu beralih ke wajah gadis itu yang terlihat dari celah rak. Cahaya redup perpustakaan membuat mata cokelat Anne terlihat seperti madu cair. Untuk pertama kalinya, Liam tidak bisa mengabaikan suara seseorang. Suara Anne tidak mengandung nada genit, tidak ada nada memohon, dan sama sekali tidak ada tuntutan untuk diakui.
Liam mengambil buku itu. Kulit tangannya yang dingin bersentuhan dengan kulit tangan Anne yang hangat. Sengatan itu membuat Liam menarik napas pendek.
"Terima kasih," jawab Liam pendek. Suaranya serak, parau karena sudah berjam-jam ia tidak berbicara dengan siapa pun. Ia segera berbalik, berniat melarikan diri dari sensasi aneh yang mulai merayapi dadanya.
"Liam," panggil Anne pelan.
Langkah Liam terhenti. Ia tidak berbalik, namun bahunya tidak lagi setegang biasanya.
"Kopinya... aku harap besok suhunya tidak terlalu dingin saat kau meminumnya," ucap Anne. Keberaniannya hampir habis, namun ia tetap berdiri tegak.
Liam terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, sebuah refleks otomatis saat ia merasa rentan. Ia tidak menjawab. Namun, saat ia meninggalkan lorong rak buku itu, langkah kakinya tidak secepat biasanya. Ada keraguan yang mulai merambat di hatinya yang membeku, sebuah perasaan asing yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
Di dalam pikiran Liam yang kacau, ia mulai mengenali pola-pola Anne. Tanpa ia sadari, ia mulai memetakan keberadaan gadis itu. Ia tahu jam berapa Anne akan masuk ke kantin, ia mengenali aroma vanila itu dari jarak lima meter, dan ia mulai menyadari satu hal yang menakutkan: setiap kali ia merasa dunianya menjadi sangat gelap, Anne selalu ada dalam radius sepuluh meter darinya.
Gadis itu tidak pernah mencoba bicara panjang lebar. Ia hanya ada. Dan keberadaan itu mulai memberikan rasa aman yang tak terucapkan bagi Liam.
Namun, luka dari Gretha adalah luka yang membusuk. Setiap kali Liam merasa ingin menoleh pada Anne, bayangan Gretha yang tertawa di pelukan Lucas muncul di kepalanya seperti duri yang menusuk jantung.
“Semua wanita sama saja,” batin Liam kejam. “Mereka hanya tertarik pada kekuasaan Vance, atau mereka hanya ingin menguji seberapa kuat mereka bisa menghancurkan pria sepertiku. Anne hanya lebih pintar dalam menyamar.”
Puncak dari perang dingin ini terjadi saat hujan badai melanda Manhattan dengan hebatnya. Langit menjadi hitam di siang bolong, dan air terjun dari langit seolah ingin menenggelamkan New York. Anne berdiri di lobi kampus, menatap hujan dengan wajah cemas. Ia tidak membawa payung, dan jadwal busnya masih lama.
Liam berjalan keluar dengan payung hitam besarnya. Ia melihat Anne. Gadis itu tampak kecil dan rapuh di tengah lobi yang luas dan dingin. Liam berjalan melewati Anne, lurus, seolah gadis itu benar-benar tidak kasat mata. Ia melangkah menembus pintu kaca, memayungi dirinya sendiri.
Namun, saat sudah berada sepuluh langkah di depan, Liam berhenti. Ia berdiri diam di tengah hujan, air memercik di sepatu mahalnya. Pikirannya berperang hebat antara logika yang berkata "pergilah" dan hati nurani yang tersisa yang berbisik "jangan tinggalkan dia."
Tanpa menoleh, Liam berbalik sedikit. Ia merogoh tasnya, mengambil sebuah payung cadangan yang selalu ia bawa—sebuah kebiasaan perfeksionis yang diturunkan ayahnya. Ia berjalan kembali ke arah lobi, meletakkan payung itu di atas bangku tepat di samping Anne dengan suara tak yang tegas.
Liam tidak menatap Anne. Ia tidak berkata "pakailah ini." Ia hanya meletakkannya di sana, lalu berbalik dan berjalan menembus badai dengan langkah lebar, menghilang di balik tirai hujan.
Anne terpaku menatap payung itu. Tangannya gemetar saat menyentuh gagang payung yang masih terasa dingin. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, bercampur dengan senyuman kecil yang penuh kemenangan sekaligus haru.
"Kau mencoba mengabaikanku, Liam," bisik Anne di tengah deru hujan. "Kau mencoba bersikap kejam. Tapi tanganmu tidak bisa berbohong... kau masih punya hati, dan aku tidak akan membiarkan hati itu mati kedinginan."
Malam itu, di bawah payung milik Liam Vance, Anne pulang dengan keyakinan baru. Revolusi ini memang lambat, namun es di Manhattan akhirnya mulai menunjukkan retakan yang tak bisa diperbaiki lagi. Liam Vance tidak hanya mulai menyadari kehadiran Anne; ia mulai membutuhkannya. Dan itulah kemenangan terbesar dalam perang saraf ini.
🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading 🥰