NovelToon NovelToon
MY IDOL MY SUGAR DADDY

MY IDOL MY SUGAR DADDY

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Binar jingga08

MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~GOSIP DAN RASA SAKIT YANG TAK BERNAMA

Malam semakin larut, udara dingin menyelinap masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka. Disya masih duduk bersandar di kepala tempat tidur, kakinya ditekuk rapat ke dada, dan ponselnya tergenggam erat di tangan gemetar. Ia belum bisa beranjak dari layar ponsel itu sejak satu jam yang lalu, matanya menatap tajam pada berita yang baru saja menjadi sorotan utama di seluruh media hiburan daring.

Judul berita itu tercetak tebal dan mencolok: "ZELO TIBALAH DI PARIS BERSAMA SOSOK WANITA MISTERIUS! DIDUGA INI ADALAH KEKASIH RAHASIA YANG SELALU MENEMANI KE MANAPUN IA PERGI".

Di bawah judul itu terdapat foto—Min Jae sedang berjalan di halaman depan studio pemotretan, di sampingnya berdiri seorang wanita bertubuh tinggi, anggun, dan cantik dengan penampilan berkelas. Wajah wanita itu sengaja diburamkan oleh media, namun kedekatan posisi mereka berdua cukup untuk memicu ribuan spekulasi liar.

Disya membaca tulisan itu berulang kali, hingga setiap kata terasa seperti pisau tajam yang menyayat dadanya berkali-kali. Napasnya tersengal, matanya memerah seketika.

Pantas saja dia tidak memberi kabar sama sekali. Pantas saja dia seolah melupakan keberadaanku. Ternyata dia tidak sendirian. Ternyata dia sudah bersama kekasihnya yang setia menemaninya ke mana pun dia pergi...

Rasa sakit yang meluap-luap segera berubah menjadi amarah yang meledak tak terkendali. Ia melempar ponselnya ke atas kasur, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis keras.

"Brengsek... dasar pria brengsek!" teriaknya parau di tengah ruangan yang sunyi. "Dia sendiri yang bilang padaku kalau dia tidak ingin menjalin hubungan serius! Dia sendiri yang bilang dia tidak mau ada ikatan atau harapan palsu! Terus ini apa?! Dasar bajingan! Dia membohongiku dari awal!"

Air matanya mengalir deras membasahi pipi, membasahi bantal di hadapannya. Ia merasa begitu bodoh, begitu konyol karena kemarin sempat berharap pada kabar yang tak kunjung datang. Ia merasa telah ditipu habis-habisan oleh kata-kata manis dan perlakuan yang sempat ia kira sebagai perhatian.

Disya kembali meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Ia membuka ruang obrolan dengan Min Jae, lalu mulai mengetik pesan dengan jari yang bergetar hebat.

"Kau bilang tidak ada hubungan? Kau bilang tidak ada ikatan? Lalu siapa wanita itu di Paris? Kau penipu, Min Jae! Kau sama saja dengan laki-laki lain!"

Ia menatap kalimat itu lama sekali, jari telunjuknya melayang di atas tombol kirim. Namun tiba-tiba kakinya terasa lemas, dadanya sesak oleh kenyataan pahit yang menghantamnya seketika. Perlahan ia menyadari sesuatu yang membuatnya ingin tertawa namun tak ada suara yang keluar.

Apa hakku marah? Apa hakku menuntut penjelasan? Kami tidak punya hubungan apa-apa. Kami cuma perjanjian. Kami cuma transaksi. Dia bebas bersama siapa pun, dia bebas mencintai siapa pun. Aku hanyalah orang asing yang dibayar untuk memenuhi waktunya.

Dengan tangan gemetar, Disya menghapus seluruh kalimat yang baru saja ia tulis. Ia mencoba mengetik pesan lain, lalu menghapusnya lagi. Begitu terus berulang kali, hingga akhirnya ia menekan tombol hapus semua dan menutup aplikasi pesan itu dengan kasar. Ia menangis semakin kencang, merasakan betapa hinanya posisinya—marah pun tak punya hak, sakit pun tak boleh teriak.

Ia berjalan mondar-mandir di kamar, mengamuk dalam diam, memukul bantal, menendang kaki tempat tidur, lalu kembali jatuh terjerembap di lantai sambil menangis sejadi-jadinya. Jam menunjukkan pukul dua pagi, namun ia belum berhenti menangis. Hingga akhirnya kelelahan fisik dan mental mengalahkannya, ia tertidur pulas di tepi tempat tidur dengan wajah basah oleh air mata dan ponsel yang tergeletak di sampingnya.

 

Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya di kota Paris yang diterangi cahaya lampu kota, Min Jae baru saja selesai bersiap untuk istirahat saat asisten pribadinya—yang juga orang kepercayaan sekaligus lebih tua darinya—Seo Jun, mendekat dengan wajah sedikit cemas.

"Maaf mengganggu, Zelo," ucap Seo Jun pelan. "Ada berita yang menyebar cepat sekali di media daring tentang keberadaanmu di sini."

Min Jae menoleh sambil melonggarkan dasinya. "Berita apa?"

Seo Jun menyerahkan ponselnya. "Fotomu bersama Bella saat tiba di studio tadi tertangkap kamera wartawan. Mereka membuat judul yang menyesatkan, menyebut Bella sebagai kekasih rahasiamu."

Min Jae menyambar ponsel itu dan membaca berita tersebut. Matanya menatap foto itu sekilas—Bella memang teman lamanya yang sudah menetap di Paris selama lima tahun, ia yang menyambutnya di bandara dan mengantarnya ke lokasi syuting karena kebetulan sedang luang. Tapi melihat judul yang berlebihan itu, pikirannya seketika melayang pada satu nama: Disya.

Jantungnya berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. Berbagai pertanyaan buruk muncul beruntun di kepalanya, membuatnya gelisah.

Bagaimana jika Disya sudah membaca berita ini? Bagaimana jika dia melihat foto ini dan salah paham? Bagaimana jika dia marah padaku? Bagaimana jika dia kecewa? Bagaimana jika dia membenciku dan memutuskan perjanjian ini?

Bayangan wajah Disya yang sedih dan kecewa seketika muncul di benaknya, membuat dadanya terasa sesak tak tertahankan. Ia ingin segera menghubungi gadis itu, ingin menjelaskan bahwa itu semua hanya kesalahpahaman, bahwa Bella hanyalah teman lama. Namun tiba-tiba ia teringat kembali aturan yang ia buat sendiri, perjanjian yang mereka sepakati di awal.

Perlahan Min Jae menghela napas panjang dan menepis kekhawatirannya sendiri sekuat tenaga. Untuk apa aku takut? Disya tidak punya hak untuk marah. Hubungan kami hanya sebatas transaksi. Dia tidak peduli dengan urusan pribadiku, dan aku juga tidak seharusnya memikirkan perasaannya. Ini hanya kesepakatan saling menguntungkan, tidak lebih.

Namun kata-kata itu tak mampu menenangkan hatinya sendiri. Ia melemparkan ponsel itu ke atas meja dengan kasar, lalu berjalan mendekati jendela kaca besar yang menghadap ke menara Eiffel. Pemandangan indah itu tak lagi berarti baginya. Ia merasa tersiksa—ingin menjelaskan tapi terhalang status, ingin bertanya kabar tapi tak punya alasan yang pantas. Sama seperti Disya, ia pun terperangkap dalam perasaan yang ia pura-pura tidak ada.

 

Di sisi lain, di apartemennya sendiri, Jack berulang kali mencoba menghubungi nomor Disya sejak sore tadi. Namun pesan yang muncul selalu sama: Nomor yang Anda tuju tidak aktif atau berada di luar jangkauan.

Awalnya Jack hanya berpikir mungkin Disya sedang sibuk atau lupa mengisi daya ponselnya. Namun semakin lama tidak ada kabar, pikiran buruk mulai berdatangan satu per satu, membuatnya gelisah tak karuan. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tengah, membayangkan hal-hal yang menakutkan.

Dia bilang dia bersama seorang idol. Siapa yang tahu apa niat asli laki-laki itu? Bagaimana jika dia mengajak Disya ke pesta liar? Bagaimana jika dia menyakiti Disya? Bagaimana jika dia memanfaatkannya lalu membuangnya begitu saja? Dunia hiburan itu penuh tipu daya, penuh orang yang tak bertanggung jawab.

Kekhawatiran Jack memuncak. Ia teringat wajah Disya yang sedih kemarin, rahasia yang belum selesai diungkapkan sepenuhnya, dan ketakutan bahwa ia mungkin tidak bisa melindungi sahabatnya itu tepat waktu. Ia meraih kunci mobilnya dengan tangan gemetar, bertekad untuk segera pergi ke apartemen Disya, meski ia tahu ia mungkin tidak berhak ikut campur terlalu jauh.

Malam itu, tiga hati di tempat yang berbeda sama-sama tersiksa. Disya menangis karena merasa dikhianati tanpa hak untuk protes, Min Jae gelisah karena takut disalahpahami namun tak berani menjelaskan, dan Jack mencemaskan keselamatan orang yang paling ia sayangi. Kesalahpahaman ini tumbuh menjadi tembok tinggi yang semakin memisahkan mereka, sementara perasaan yang sebenarnya justru semakin mengikat erat tanpa mereka sadari.

1
Eomma'Drakor 01
Alice😡
Eomma'Drakor 01
disya kenapa ga pacaran Ama Jack aj sih?
Eomma'Drakor 01
langkah yang bagus disya nikmatilah semua fasilitas dari min jae oppa😍
Eomma'Drakor 01
langkah yang bagus disya, nikmatilah semua fasilitas dari min jae oppa😍
Tere Rere
keren
Flm Rendom
kisah cinta yg Berawal dari transaksi..
Flm Rendom
kira2 siapa nih yang bakalan melanggar aturan transaksi...
Wae
suka dengan persahabatan Jack dan disya😍 ceritanya bikin baper
Wae
my idol may sugar Daddy 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!