NovelToon NovelToon
TERJERAT OBSESI ELZIO

TERJERAT OBSESI ELZIO

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / CEO / Percintaan Konglomerat / Office Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

"Kasih aku waktu, El..."

​Suara Clara bergetar pelan di tengah keheningan teras rumah kontrakan, setelah orang tua Elzio pamit pulang. Clara duduk melipat lututnya di atas kursi plastik tua, menatap kosong ke arah jalanan gang yang sepi.

​Elzio ikut duduk di lantai semen di sebelah kursi Clara, mendongak menatap wanita itu. "Soal pernikahan?"

​Clara mengangguk perlahan. Air matanya yang sejak tadi ditahan kini menetes satu per satu. "Aku... aku masih takut banget, Elzio. Bayangan masa lalu itu enggak bisa hilang gitu aja dari kepala aku."

​Elzio tidak memotong. Dia menyambar jemari dingin Clara, menggenggamnya erat dan hangat. "Bicaralah, Clara. Ceritakan semua ketakutan kamu."

​"Ayah aku..." suara Clara tercekat, tenggorokannya terasa sangat sakit. "Dulu dia manis banget sama Ibu. Tapi begitu bisnisnya naik, dia berubah jadi iblis. Aku lihat sendiri gimana Ayah mukul Ibu... KDRT yang enggak berhenti cuma gara-gara masalah sepele. Ibu nangis tiap malam di kamar sambil nahan sakit di tubuhnya."

​Elzio mempererat cengkeraman tangannya, binar matanya menajam menahan amarah pada sosok ayah Clara.

​"Dan yang paling hancur..." gertakan gigi Clara terdengar memilu, "...Ayah selingkuh di belakang Ibu. Suatu hari dia pulang ke rumah bawa Kirana... dan bawa Miska. Kamu tahu apa yang paling menyakitkan, El? Umur Miska cuma beda beberapa bulan sama aku! Artinya Ayah udah main gila waktu Ibu lagi berjuang melahirkan aku!"

​Tangis Clara meledak. Dia menutup wajah dengan satu tangannya yang bebas. "Ibu frustrasi, depresi, sampai akhirnya sakit sakaratul maut dalam keadaan dikhianati dan dibuang. Trauma itu belum hilang, El... Terus kemarin Ardan? Pria yang aku percaya bakal beda sama Ayah, ternyata juga selingkuh di depan mata kepala aku sendiri sama Miska!"

​Clara menoleh, menatap Elzio dengan mata merah yang basah. "Gimana bisa aku percaya sama pernikahan, Elzio? Semua pria yang aku kira baik... ujung-ujungnya cuma ngasih luka yang sama. Aku takut kamu bakal berubah kaya mereka."

​Elzio menghela napas panjang. Dia berdiri, lalu berlutut di hadapan Clara agar sejajar dengan pandangan wanita itu. Jemari tegapnya mengusap air mata di pipi Clara dengan penuh kelembutan yang tiada tara.

​"Saya paham, Clara," bisik Elzio rendah dan tulus, tanpa ada nada desakan sedikit pun. "Saya tidak akan memaksa kamu untuk buru-buru melupakan trauma sedalam itu."

​Clara berkedip bingung. "Kamu... kamu enggak marah aku tolak lagi?"

​"Kenapa saya harus marah?" Elzio menyunggingkan senyum hangatnya yang paling menawan. "Luka kamu itu nyata, Clara. Tugas saya bukan menuntut kamu sembuh dalam semalam, tapi membuktikan setiap hari kalau saya tidak akan pernah jadi seperti ayah kamu atau Ardan."

​"Tapi Tante Dominica sama Om Hendra udah ngarep banget..."

​"Biar Mama sama Papa jadi urusan saya," potong Elzio cepat. "Lagipula, perusahaan cangkang kita kan baru saja jalan. Kamu tadi bilang mau fokus merintis 'Clara Corp' dulu, kan?"

​Clara menelan ludah, mengangguk pelan. "Iya... aku mau fokus bangun karir aku sendiri dulu. Aku mau berdiri di atas kaki aku sendiri, biar aku tahu aku punya kendali atas hidup aku."

​Elzio mengelus lembut rambut panjang Clara. "Baik. Ambil waktu sebanyak yang kamu butuh, sweetheart. Mau satu bulan, satu tahun, atau sepuluh tahun lagi... saya akan tetap di sini, menunggu kamu siap."

​Clara menatap dalam-dalam ke iris mata Elzio. Tidak ada kebohongan atau kepura-puraan di sana, hanya ada kesabaran tanpa batas. Rasa hangat yang sangat asing perlahan-lahan menyelimuti hatinya yang beku.

​"Makasih ya, El..." cicit Clara parau.

​"Sama-sama," balas Elzio, mengecup punggung tangan Clara hangat. "Tapi ingat satu hal..."

​"Apa?"

​"...saya tetap akan numpang di kontrakan kamu dan nempel terus setiap hari."

​Clara refleks tertawa di tengah sisa tangisnya, memukul bahu Elzio pelan. "Ih! Dasar pria muka tembok!"

​Dua hari kemudian, suasana Kafe milik Anya tampak penuh dengan dekorasi bunga-bunga segar.

​Clara baru saja melangkah masuk bersama Elzio saat tiba-tiba Anya berlari kecil menghampirinya dan langsung memeluk Clara erat-erat.

​"Clara! Aaaah! Gue seneng banget lu datang!" jerit Anya kegirangan.

​Clara tertawa melepas pelukan sahabatnya. "Ada apa sih, Nya? Kok kafenya dipasangin dekorasi cantik gini? Mau ada event?"

​Anya menyunggingkan senyum lebar hingga matanya menyipit, lalu memamerkan jari manisnya yang kini dihiasi sebuah cincin kawin simpel bertatahkan permata indah.

​"Gue sama Arka udah resmi nikah secara hukum kemarin!" seru Anya penuh kebahagiaan.

​Mata Clara membelalak sempurna. "WHAT?! Seriussan lu, Nya?! Kok enggak cerita-cerita?!"

​Dari balik meja kasir, Arka melangkah maju dengan kemeja rapinya, menyunggingkan senyum tipis—sebuah pemandangan yang sangat langka dari asisten kaku Elzio tersebut.

​"Maaf, Nona Clara," sahut Arka sopan. "Kami memang sengaja mengurus administrasi di catatan sipil dan KUA secara privat dulu kemarin sore. Pesta resepsinya baru sedang kami rencanakan bulan depan."

​Elzio melangkah mendekat, menepuk bahu Arka bangga. "Selamat, Arka. Akhirnya kamu tidak jomblo kaku lagi."

​"Terima kasih, Pak Elzio. Ini semua juga berkat bonus proyek dari Anda," jawab Arka lugas.

​Clara masih terpana, memeluk Anya sekali lagi dengan mata berbinar haru. "Selamat ya, Anya! Gue seneng banget dengarnya! Tapi... kok bisa cepet banget sih? Perasaan baru kemarin kalian dekat!"

​Anya tertawa renyah, melirik Arka dengan pandangan penuh cinta. "Ya gimana dong, Clar? Arka itu tegas, jelas, dan enggak pakai drama! Dia datang ke rumah gue, minta izin baik-baik, terus langsung ngajak nikah. Gue ngerasa aman banget di samping dia."

​Kalimat Anya bahwasanya rasa aman mendadak memukul kesadaran Clara. Dia melirik Elzio yang sedang mengobrol santai dengan Arka di dekat meja kasir.

​Anya menyenggol lengan Clara pelan, berbisik goda. "Gue denger dari Arka... Pak Elzio udah ngelamar lu berulang kali ya? Kenapa belum lu terima juga, Clar?"

​Clara menunduk, mengaduk-aduk tasnya dengan canggung. "Gue... gue masih trauma, Nya. Lu kan tahu sendiri cerita keluarga gue."

​Anya menggenggam tangan Clara hangat, raut wajahnya berubah menjadi sangat lembut dan suportif.

​"Clar, listen to me," bisik Anya tulus. "Gue tahu luka lu dalam banget gara-gara bokap lu dan si brengsek Ardan. Tapi Pak Elzio itu beda. Lu lihat sendiri gimana dia korbanin jabatannya, berdiri paling depan buat ngelindungin lu, bahkan rela tinggal di kontrakan sempit lu cuma demi nemenin lu."

​Clara membisu, menatap Elzio dari kejauhan. Pria tinggi tegap itu mendadak menoleh ke arahnya, menyunggingkan senyum tipis yang sangat hangat seolah tahu sedang diperhatikan.

​"Jangan biarkan masa lalu lu merenggut masa depan lu sama pria yang bener-bener tulus nyintai lu, Clar," lanjut Anya pelan. "Tapi enggak apa-apa... ambil waktu lu. Pak Elzio pasti paham."

​"Makasih ya, Nya..." gumam Clara terharu.

​Elzio melangkah menghampiri mereka berdua, secara alami langsung berdiri rapat di samping Clara dan melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu dengan protektif.

​"Sedang merencanakan apa dua wanita ini?" goda Elzio.

​"Lagi ngomongin konsep pesta pernikahan gue sama Arka bulan depan, Pak!" jawab Anya bersemangat. "Kalian berdua wajib datang dan jadi pendamping ya!"

​"Tentu," sahut Elzio mantap, lalu menunduk menatap Clara dengan binar mata kejailannya. "Tapi bukan cuma jadi tamu... siapa tahu bulan depan kita bisa sekalian reservasi gedung buat acara kita sendiri, kan?"

​"Elzio! Mulai deh halunya!" cetus Clara galak, memelototi Elzio walau pipinya kini merona merah padam.

​"Saya tidak halu, sweetheart," bisik Elzio rendah tepat di telinganya, menyengat seluruh saraf Clara dengan sensasi hangat. "Saya hanya sedang mengantre untuk jadi pria paling bahagia di dunia."

1
umie chaby_ba
mampir thor..🙏
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!