~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27
***
Roda kendaraan penjemput perlahan melambat saat mendekati gerbang kayu perbatasan Suku Hulu Rawa. Pagi itu, kabut tipis yang biasanya menyelimuti batas hutan lebur oleh pendar cahaya keemasan matahari yang menyinari deretan hiasan janur kuning dan untaian bunga hutan di sepanjang jalan setapak.
Belum lagi pintu kendaraan dibuka, dentuman alat musik tifa bergema nyaring membelah kesunyian hutan, berpadu dengan sorak riang warga yang telah menanti sejak fajar. Rangga Wira melangkah turun terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangan kekarnya untuk membimbing Melani keluar dari mobil.
Begitu kaki Melani memijak tanah perbatasan, belasan pemuda adat melangkah maju membawakan tarian penyambutan dengan pedang kayu dan perisai tenun. Seluruh warga Hulu Rawa—mulai dari para tetua berambut perak hingga ibu-ibu yang menggendong bayi mereka—berdiri berjajar di tepi jalan dengan raut wajah sarat akan rasa haru dan hormat.
"Selamat datang kembali, Bidan Pelindung kami!" seru Seno nyaring dari barisan depan pemuda adat.
Bimo dan Ratih berlari kecil mendekati Melani, menyodorkan dua kalung ronce bunga melati hutan yang harum. "Bu Bidan! Kami kangen sekali!" seru Ratih dengan mata berbinar.
Melani berlutut pelan, merengkuh kedua anak itu ke dalam pelukannya. Air mata bahagianya menetes manis. "Terima kasih, Anak-anak... Bu Bidan juga sangat merindukan kalian."
Rangga Wira menyunggingkan senyum amat tampan seraya merangkul bahu istrinya tegap. "Mari, Melani... seluruh warga sudah menunggu di balai desa untuk menyambutmu secara resmi."
Sebelum puncak perayaan digelar malam harinya, sebuah upacara penyucian sakral disiapkan khusus di Rumah Adat Utama. Ruangan berdinding kayu cendana itu harum semerbak oleh asap kemenyan manis dan uapan air rempah hutan.
Melani duduk bersila di atas tikar pandan bersulam emas. Di sekelilingnya, Mbah Karsa, Mbah Salma, Nek Timah, dan para dukun beranak senior duduk melingkar dengan raut penuh khidmat.
Mbah Salma melangkah mendekat membawa mangkuk kayu berisi air bunga hutan murni. Dengan jemari keriputnya yang lembut, ia membasuh kedua telapak tangan Melani dan memercikkan air suci tersebut ke atas selendang tenun Melani.
"Bidan Melani..." panggil Mbah Salma dengan suara serak yang bergetar penuh keharuan. "Hari ini, kamu bukan lagi sekadar tamu atau tenaga medis dari kota yang singgah di tanah kami. Darah dan jiwamu kini telah lebur bersama pimpinan kami, Ki Rangga Wira."
Mbah Karsa bangkit berdiri menopang tubuhnya pada tongkat kayu, membawa sebuah mahkota tenun sakral berwarna merah keemasan yang dihiasi bulu burung engang dan manik-manik batu alam.
Tetua adat berambut perak itu melangkah mantap mendekati Melani, lalu menempatkan mahkota indah tersebut di atas kepala Melani secara perlahan.
"Atas nama leluhur Hulu Rawa dan seluruh rakyat suku ini..." pukas Mbah Karsa lantang, suaranya bergema menembus dinding kayu balai desa, "Hari ini kami mengesahkan dan mengangkat Bidan Melani secara adat menjadi 'Ibu Pelindung Suku Hulu Rawa'!"
Sorak riuh dan Isak haru meledak seketika di dalam Rumah Adat. Bu Minah dan Melati meneteskan air mata bahagia, sementara anak-anak desa bertepuk tangan meriah.
"Terima kasih, Mbah Karsa... Terima kasih untuk seluruh warga..." bisik Melani haru, memegang mahkota sakral di kepalanya seraya menatap seluruh tetua dengan pendar hormat yang mendalam.
Rangga Wira yang berdiri di ambang pintu balai desa menatap istrinya dengan pendar kebanggaan mutlak. Sang Ketua Adat melangkah mendekat, mengulurkan tangannya pada Melani. "Mari, Istriku... Pesta perayaan adat kita telah dimulai."
Sore beranjak malam, dan pelataran utama Desa Hulu Rawa disulap menjadi panggung pesta yang teramat megah. Pendar cahaya ratusan obor bambu memantulkan rona hangat di atas tanah rumput yang bersih. Musik tifa dan petikan kecapi kayu bergema merdu, mengiringi tarian sukacita seluruh warga.
Di tengah pelataran berdiri sebuah pelaminan kayu ukir sakral yang dilapisi kain tenun emas terbaik Hulu Rawa.
Rangga Wira dan Melani bersanding anggun di atas pelaminan tersebut. Rangga tampil luar biasa tampan dan gagah dalam balutan baju adat kebesaran Ketua Adat—kemeja tenun hitam bersulam benang emas dengan mahkota tanduk kayu sakral di kepalanya. Sementara Melani memukau siapa saja yang memandang, mengenakan baju kurung tenun sakral berwarna merah hati dan emas, dipadu mahkota permaisuri adat yang memancarkan pendar keanggunan mutlak.
Warga desa berbondong-bondong bergantian menaiki pelaminan untuk memberikan ucapan selamat dan bungkukan hormat kepada sepasang pengantin baru tersebut.
"Selamat, Ki Rangga! Selamat, Ibu Pelindung!" pukas Seno seraya membungkuk hormat, menyodorkan cangkir bambu berisi jamu manis hutan.
"Terima kasih, Seno. Jaga keamanan pesta malam ini," balas Rangga Wira tegas namun penuh kehangatan seraya menepuk bahu pemudanya.
Mbah Karsa dan Mbah Salma menaiki panggung pelaminan seraya membawa wadah nasi bambu hangat dan paha ayam panggang rempah—simbol kesejahteraan adat.
"Makanlah, Anak-anakku..." tutur Mbah Karsa tersenyum lebar. "Pesta nikah adat ini akan kita gelar selama tiga hari tiga malam berturut-turut! Biar seluruh hutan dan langit tahu bahwa pimpinan kami telah menemukan pasangan sejati jiwanya!"
Tepuk tangan dan sorak gembira warga membahana seketika di pelataran desa.
Di atas pelaminan, di tengah riuh kebahagiaan dan tawa renyah anak-anak desa yang menari di bawah pendar obor, Rangga Wira memutar tubuhnya menghadap Melani. Jemari kekar sang Ketua Adat meraih jemari lentik Melani yang dihiasi cincin berlian kota dan gelang tenun adat.
"Bagaimana perasaanmu, Istriku?" bisik Rangga dengan suara baritonnya yang berat, amat lembut di tepi telinga Melani.
Melani mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata hitam Rangga yang memancarkan kasih sayang tanpa batas. Senyum paling manis dan bahagia terukir sempurna di bibir ayunya.
"Saya sangat bahagia, Mas Rangga..." tutur Melani tulus, meremas lembut jemari suaminya. "Dulu saya berpikir pemindahan saya ke desa ini adalah sebuah hukuman... Namun ternyata, Tuhan mengirim saya ke sini untuk menemukan rumah sesungguhnya, warga yang mencintai saya, dan pria sejati yang menjadi tempat pulangnya hati saya."
Rangga Wira menyunggingkan senyum amat tampan. Pria tegap itu memajukan tubuhnya, mengecup lembut kening Melani di hadapan pendar rembulan malam Hulu Rawa.
"Dan saya berjanji di hadapan langit dan tanah ini, Dinda..." bisik Rangga mesra, "Selama nafas saya masih berhembus, kamu akan selalu menjadi permaisuri dan Bidan Pelindung yang paling dihormati dan dibahagiakan di tanah ini."
Di bawah naungan bintang-bintang hutan dan nyala obor yang hangat, pesta pernikahan adat digelar meriah sepanjang malam. Dua jiwa dari dunia bertolak belakang kini telah lebur dalam ikatan cinta sakral yang abadi—menyongsong masa depan yang terang sebagai pelindung dan pengabdi bagi rakyat Hulu Rawa.
Bersambung...
Hmmm, enaknya habis ini ngapain yaa wkwkkw
dr. (dokter)
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
🤲