NovelToon NovelToon
Pembalasan Senyap Sang Istri Sah

Pembalasan Senyap Sang Istri Sah

Status: tamat
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:669.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Selama ini Tania hidup dalam peran yang ia ciptakan sendiri: istri yang sempurna, pendamping yang setia, dan wanita yang selalu ada di belakang suaminya. Ia rela menepi dari sorot lampu demi kesuksesan Dika, mengubur mimpinya menjadi seorang desainer perhiasan terkenal, memilih hidup sederhana menemaninya dari nol hingga mencapai puncak kesuksesan.
Namun, kesuksesan Dika merenggut kesetiaannya. Dika memilih wanita lain dan menganggap Tania sebagai "relik" masa lalu. Dunia yang dibangun bersama selama lima tahun hancur dalam sekejap.
Dika meremehkan Tania, ia pikir Tania hanya tahu cara mencintai. Ia lupa bahwa wanita yang mampu membangun seorang pria dari nol, juga mampu membangun kembali dirinya sendiri menjadi lebih tangguh—dan lebih berbahaya.
Tania tidak menangis. Ia tidak marah. Sebaliknya, ia merencanakan pembalasan.

Ikuti kisah Tania yang kembali ke dunia lamanya, menggunakan kecerdasan dan bakat yang selama ini tersembunyi, untuk melancarkan "Balas Dendam yang Dingin."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Rey berdiri seperti patung lilin, kaku dan tak bergerak. Pikirannya kosong dari angka-angka dan tenggat waktu yang sebelumnya memenuhi benaknya, kini hanya terisi oleh remah-remah ingatan: aroma parfum gardenia yang di tinggalkan Tania, nada suaranya yang lembut namun tegas saat berpamitan, dan binar misterius di matanya.

Sebuah sensasi aneh menjalar dari dadanya ke seluruh tubuh, campuran antara kekaguman yang membara dan kekosongan yang dingin.

Rey mencoba berkedip, tetapi kelopak matanya terasa berat, seolah-olah dia takut jika dia melakukannya, citra Tania akan lenyap selamanya dari ingatannya.

Rey terpaku, terperangkap di antara realitas ruangan yang sunyi dan fantasi akan sosok yang baru saja meninggalkannya.

"Rend."

"Iya, Pak?" jawab Rendi yang masih setia berdiri di belakang Rey.

"Cari tahu apa yang terjadi pada Bu Tania. Semuanya. Pastikan dia baik-baik saja."

Rendi terdiam, ini aneh. Bosnya tidak pernah peduli dengan kondisi emosional karyawan, apalagi rekan kerja.

"Maksud Bapak, ada masalah dengan kontraknya?"

"Bukan soal kontrak," potong Rey, suaranya terdengar lebih tajam dari biasanya. Rey tidak memalingkan pandangannya sedikit pun dari pintu, ada kerutan samar di dahinya.

"Aku hanya ingin tahu, cari tahu dia kemana, dan pastikan dia tidak dalam masalah."

Rendi menatap bosnya dengan ekspresi tak percaya. Ada nada khawatir yang tidak biasa dalam suara Rey, sesuatu yang Rendi belum pernah dengar sebelumnya.

"Rey ... apa kau baik-baik saja? Ini di luar kebiasaan mu." tanya Rendi hati-hati.

Karena rasa khawatirnya, Rendi sampai lupa, dirinya dan Rey saat ini adalah seorang bawahan dan bosnya.

Jika sedang di dalam kantor, keduanya akan bersikap profesional, walau pun sebenarnya Rey dan Rendi adalah sahabat.

Rey akhirnya memalingkan wajahnya, tatapannya dingin seperti biasa, seolah menyembunyikan percikan emosi yang baru saja terlihat.

"Tidak ada yang salah denganku. Lakukan saja perintahku, Rendi. Sekarang."

Rendi yang sudah bertahun-tahun mengenal Rey dan bekerja bersamanya, mengerti bahwa ini adalah perintah yang tidak bisa di ganggu gugat. Ada sesuatu yang terjadi antara bosnya dan wanita yang baru saja keluar dari ruangan Rey.

Rendi berpikir mungkin itu terjadi di masa lalu, dan Rendi melewati hal itu, sebab yang Rendi tahu, Rey begitu dingin dan tertutup pada siapapun, apalagi seorang wanita, Rey hanya akan mencair terhadap keluarga dan orang terdekatnya saja.

"Baik, Pak. Segera saya laksanakan," jawab Rendi lalu bergegas keluar ruangan, menyunggingkan senyum tipis. Dia tahu ada kisah yang lebih menarik di balik sikap dingin Rey selama ini.

Rey kembali duduk di kursinya. Dia tidak langsung kembali bekerja, tidak seperti biasanya. Tatapannya masih terpaku pada sofa yang baru saja di duduki Tania, seolah bayangan Tania masih tertinggal di sana.

Ruangan itu di penuhi oleh aroma parfum elegan Tania yang tertinggal.

Setelah Tania menghilang di balik pintu, keheningan menyelimuti ruangan Rey. Suasana yang biasanya steril dan efisien itu kini terasa berbeda, sedikit lebih hangat, namun juga penuh ketegangan yang tak terucap.

Rey menghela napas, bukan napas lelah karena pekerjaan, melainkan napas berat seseorang yang sedang memproses emosi rumit. Dia menyentuh mouse komputernya, tapi pandangannya beralih ke jendela besar yang menampilkan pemandangan kota.

Di ruangan itu, yang ada hanyalah suara AC yang mendesir pelan dan detak jam dinding yang terdengar lebih lambat dari biasanya. Rey tenggelam dalam pikirannya, mengenang percakapan mereka, mengkhawatirkan Tania, dan diam-diam, mengakui kepada dirinya sendiri betapa senangnya dia bisa bertemu kembali wanita itu lagi setelah sekian lama.

...----------------...

Tania sedang menyiram tanaman di taman belakang ketika bunyi mobil Dika terdengar memasuki garasi.

Sudah dua pagi berlalu sejak kepergiannya, dan keheningan di rumah kini digantikan oleh suara mesin yang memecah ketenangan sore itu. Tania menegakkan tubuh, menghela napas tipis, dan bersiap menyambut sandiwara babak baru.

Belum sempat Tania membuka pintu rumah, pintu depan terbuka dengan derit pelan, menghentikan detak jantung Tania sesaat.

Dika memang memiliki kunci cadangan, karena itu, Dika bisa keluar-masuk rumah mereka tanpa menunggu Tania membukakan pintu rumah untuknya.

Dika berdiri di sana, senyum lebar menghiasi wajahnya. Di belakangnya, Ibu Dika mengekor dengan wajah tegang, dan di sampingnya... wanita itu-...

Tania merasakan lonjakan adrenalin sesaat—campuran antara keterkejutan yang dingin dan amarah yang membara. Namun, ekspresinya tetap terkunci, topeng ketenangannya terpasang sempurna.

"Sayang, aku pulang!" seru Dika ceria, melangkah masuk tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Tania memaksa senyum. " Selamat datang kembali, Mas."

Dika menggeser tubuhnya sedikit, memperlihatkan wanita itu sepenuhnya.

"Oh ya, kenalkan, ini Farah. Keponakan Ibu, adik sepupu aku."

Jijik. Kata itu berputar di benak Tania. Bukan jijik pada Farah, tapi jijik pada kemunafikan Dika yang menjijikkan. Aroma parfum manis Farah dan aroma tubuh Dika yang bercampur membuat perut Tania bergejolak hebat. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas isi perutnya.

"Maaf," kata Tania cepat, suaranya sedikit tercekat. Dia tidak menunggu respon. Dengan langkah cepat yang nyaris seperti lari, Tania bergegas meninggalkan ruang tamu, menuju kamar mandi terdekat.

Dika menatap kepergian Tania dengan bingung. Mual?

"Ada apa dengan Tania?" tanya Ibu Dika khawatir.

Dika mengangkat bahu, tapi pikirannya langsung berlari liar ke kemungkinan paling klise: Hamil? Sebuah kerutan muncul di dahinya. Ide tentang Tania hamil tidak membuatnya bahagia; sebaliknya, ada kekhawatiran yang dingin. Di hatinya kini hanya ada Farah.

"Aku susul dia sebentar," kata Dika, buru-buru menyusul istrinya, meninggalkan Farah dan ibunya di ruang tamu.

Tania memuntahkan isi perutnya ke wastafel. Tidak ada makanan di perutnya, hanya empedu dan rasa pengkhianatan yang pahit. Tania mencuci mulutnya, menatap pantulan dirinya di cermin—wajahnya pucat, tapi matanya dingin dan penuh tekad.

Terdengar ketukan di pintu.

"Sayang? Kamu baik-baik aja? Kamu hamil?" Suara Dika terdengar di balik pintu.

Tania menyeringai pada bayangannya sendiri. Hamil? Sungguh ironis. Dika benar-benar bodoh. Dia bukan hamil, dia hanya jijik.

"Aku baik-baik aja, Mas. Masuk angin biasa," jawab Tania, suaranya kembali tenang dan dikontrol sempurna.

Topengnya kembali terpasang erat. Dia menyeka mulutnya, bersiap menghadapi babak selanjutnya dari sandiwara suaminya.

Dika mengembuskan napas panjang dan kasar di depan pintu kamar mandi, sebelah tangannya mengusap dadanya sendiri, lega luar biasa. Ketakutan sesaat akan kehamilan sirna begitu saja.

"Masuk angin biasa," gumamnya, merasa bodoh karena panik. Pikirannya yang egois langsung kembali fokus pada Farah di ruang tamu.

Pintu kamar mandi berderit terbuka. Tania muncul dari balik pintu, wajahnya masih sedikit pucat, tapi senyum tipis dan lembut sudah terpasang sempurna di bibirnya. Sebuah senyum yang dipaksakan, yang hanya bisa dilihat sebagai ketulusan oleh mata Dika yang dibutakan oleh naif nya sendiri.

Bersambung...

1
Punkpunk 234
jangan² c Farah nantinya tinggal serumah sama Dika nd Tania.. 😡
chacha aca
infoin cara buat abis baca tuh di geser gue gk bisa ini, pemula bett gua
Dewa Nara
makanya Thor, bukan makannya
Dhira: hehehe iya bener...makasih buat koreksiannya kak..kalo makannya mah lagi makan yaa kak.hehehehe🙏
total 1 replies
M3 Man
baru pernah baca novel yg ceo nya kyak ga guna.. maaf stuck d sni boring klo lanjut🙏🙏🙏
Anonim
Dika benar "parah
Anonim
Ya ampun ..... Dika ....
Kau bawa ke rumahmu selingkuhanmu
dan ibuu juga tahu ....
berani sekali dika
Anonim
Tania mantapkan langkahmu
Mungkin suamimu saat ini sedang menduakan posisimu sebagai istri
Anonim
Salut
Anonim
Dika bahagia mana yang masih kau cari
sedang hidup yang kau jalani bersama istrimu sudah tertata
Anonim
Masih awal Min baru baca karysmu
Anonim
Kayaknya seru nih
Suka tenangnya Tania dalam menghadapi suami yg selingkuh 👍
Dhira: hehehe...makasih kak...masih panjang perjalanan Tania kak wkwkwk...semoga gak bosen di tengah jalan🤭
total 1 replies
Atjeh ponsel
alur ceritanya sangat menarik
Dhira: makasih kak🙏
total 1 replies
Mu Shofihin
ceritanya agak monoton menurutQ terus kebanyakan masalah meskipun penyelesaiannya langsung sat set ga tunda" c semangat terus thor
Dhira: hehehe iyaaa makasih kak🙏
total 1 replies
echa purin
👍👍
Detie Kurniawati
ceritanya sangat setu karena bintang utamanya sangat cerdik author pintar ceritanya bikin banyak ketawa dan terharu 👍😍
Dhira: makasih kak...
total 1 replies
Puji Wati
kok lama si gak segera bertindak Tania,,

udah gak sabar oengen baca kehancuran Dika...
Dhira: hehehe...masih panjang babnya kak hihihi...dbikin slow biar bisa memenuhi target bab hehehe
total 1 replies
Mama Gezkara
gaun mandi itu gimana ya kak
Dhira: ituloh kak baju mandi yg kaya dhotel2 😄
total 1 replies
Hariyanti
ceritanya bagus dan menarik 🥰🥰🥰
Dhira: Makasih kak...❤️
total 1 replies
Thewie
tamat🙏🤭 baru aja aku bahagia thor🤭
Dhira: blm loh kak hehehe..masih 42 bab lagi kak...ayo semangat hihihi...makasih yaaa
total 1 replies
Thewie
kasihan tuh pelakor.. makan hati sendiri wkwkw
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!