Dia dilahirkan bukan dari darah bangsawan, namun takdir memilihnya sebagai pewaris tahta. Elisa, sang putri mahkota justru menolak singgasananya bukan karena takut, tapi karena keyakinan bahwa saudaranya lebih pantas menduduki posisi itu. Namun niat tulusnya justru memicu perpecahan, meninggalkan luka dan kepergian sang kakak dalam diam.
Dalam pencarian untuk memulihkan kehormatan dan cinta keluarganya, Elisa terseret dalam pusaran pengkhianatan, ambisi, dan cinta yang menghancurkannya. Ditinggalkan oleh cinta pertamanya, dikhianati oleh orang-orang yang ia percaya, dan dipertemukan dengan cinta baru yang penuh tantangan. Elisa belajar bahwa "Mahkota" tak selalu berupa logam mulia, kadang mahkota sejati tersembunyi dalam kebenaran, keberanian, dan ketulusan hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sjulerjn29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. SEBUAH RASA
Namun amarah itu belum padam.
Kedua pria itu kembali saling menatap dengan kebencian yang mengeras. Langkah mereka maju bersamaan, tinju kembali terangkat seolah kata-kata Elisa tak pernah ada.
“Berhenti!” perintahnya.
Dalam satu detik yang hening, wajah Elisa berubah, tidak ada teriakan, tidak ada ancaman. Hanya sorot mata yang menggelap karena murka yang tertahan terlalu lama.
Elisa melangkah maju. Gerakannya cepat, nyaris tak terlihat. Dengan dua jari, ia menghentakkan sentuhan singkat tepat di titik saraf di leher masing-masing pria itu. Tekanan kecil, presisi, mematikan aliran gerak tanpa melukai.
Sekejap kemudian, tubuh mereka menegang.
Tinju yang terangkat membeku di udara. Kaki mereka terpaku di tanah, wajah tampan itu berubah pucat oleh keterkejutan. Mulut terbuka, napas tersengal, tubuh tak lagi patuh pada kehendak.
“A..apa yang kau..” salah satu dari mereka tercekik, suaranya pecah.
“Tolong…” Ray meronta, namun hanya mampu menggerakkan matanya dengan panik.
"Kenapa ini? Aku tidak bisa bergerak?" tanya Johan dengan kesal berusaha menggoyangkan badannya, namun tidak berhasil.
Elisa berdiri di hadapan mereka, tenang, nyaris dingin.
“Ini akibatnya,” ucapnya pelan, “jika amarah dibiarkan memimpin.”
Ia menatap mereka tanpa iba berlebihan, namun juga tanpa kejam.
Kerumunan rakyat menahan napas. Tak satu pun berani bersuara.
"Aku akan melepaskan kalian, jika kalian sudah tenang dan berdamai," jawabnya dengan senyuman, angin mengibas rambut indahnya, mata indah memandang mereka dengan penuh kehangatan.
"Kau cantik sekali, matanya...bibirnya..rambutnya...semuanya..." benak Ray dalam hati, pandangannya tertuju kepada Elisa, matanya terbelalak, mulutnya menganga melihat pesona sang Putri raja.
"Baiklah, siapa namamu?" Elisa menunjuk ke arah Ray yang sejak tadi terdiam memandang wajahnya. Hembusan angin membelai rambutnya kembali, membuat pria itu membungkam membisu.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" Elisa terheran dan mulai menghampiri pria yang tak menghiraukannya. Sorot matanya tetap tajam, penuh dengan amarah.
"Siapa namamu?" tanyanya.
"Aku tidak peduli, lepaskan aku!! Sekarang!!" bentaknya.
"Astaga, kalian membuatku kesal. Kalau begitu aku tidak akan melepaskan kalian!!" teriaknya dengan kesal. Meninggalkan dua pria yang mematung tak berdaya, pergi menuju kedai mengisi perutnya yang keroncongan.
"Hey, kau mau kemana? Lepaskan aku!! Kumohon," Johan tersenyum miring mengartikan jika senyuman itu tidak tulus.
"Baiklah, aku menunggu," Elisa berbalik arah dan menyilangkan lengan di dada, sorot matanya tajam dengan wajah penuh ketegasan. Berbeda dengan pria yang sejak tadi terdiam memandang kagum kepadanya.
"Namaku Johan, Jangan hiraukan pria payah itu!" jawabnya.
"Apa? Kau yang payah dasar bodoh! Namaku Ray, aku pria baik hati dan pemberani tidak seperti pria itu yang pengecut!" bantah Ray yang terdiam membisu memaksanya untuk sadar dan membantah perkataan itu.
"Sudahlah, ini semua hanya salah paham. Ayah kalian adalah orang yang tangguh, kalian seharusnya tidak saling menyalahkan. Mereka akan sedih disana," ujar Elisa yang mendongak ke atas, menghormati ayah mereka yang telah tiada.
"Tapi..." Johan kekeh ingin melanjutkan pertarungan dan membalas ucapan Ray.
"Sudahlah jo, kita akhiri semuanya. Agar mereka tenang disana," bujuknya dengan wajah yang terlihat letih.
"Baiklah, Ray maafkan aku," Johan berbicara dengan nada yang kaku, serasa masih ada dendam di hatinya.
"Ya, aku pun meminta maaf padamu," Ray memandang Elisa sambil berbicara.
Elisa kembali mendekat.
Dengan gerakan yang sama presisinya, ia menekan titik saraf di leher Ray sekali lagi, kali ini lebih ringan. Ketegangan di tubuhnya perlahan mengendur. Nafas yang semula tersendat kini mengalir lebih teratur.
"Jangan meminta maaf padaku," Elisa menggelengkan kepala dan menangkap dada Ray yang akan terjatuh, aliran darahnya kembali normal, kini tubuhnya ditopang oleh Elisa. Getaran muncul di hatinya, jantungnya bergejolak seakan ingin meledak.
"Kau baik-baik saja?" Elisa tidak melepaskan tubuh Ray yang lemah, memandangnya dengan khawatir.
"Ya, aku baik-baik saja, terimakasih," senyumnya melebar seakan tidak ingin lepas dari pelukan.
"Apa kalian sudah selesai? Bagaimana denganku? Cepat lepaskan!" Johan melongo sejak tadi melihat keromantisan mereka, wajahnya tetap dingin namun mulai merasa tenang.
Elisa melepaskan pelukannya dan beralih menolong Johan.
"Apa yang akan kalian lakukan setelah ini? Dimana kalian tinggal?" tanya Elisa dengan penasaran.
"Kami tidak mempunyai tempat tinggal," wajah Ray murung, tertunduk lesu dengan penuh kesedihan.
"Memangnya kenapa?" tanya sinis Johan kepadanya, walau matanya tidak bisa berbohong.
"Maksudku, jika kalian berkenan tinggallah di istana," Elisa memandang mereka dengan penuh belas kasih. Ray menghampirinya dengan wajah yang berseri-seri, menatapnya dengan penuh arti, walau langkahnya masih sempoyongan.
"Kau baik sekali, terimakasih atas kebaikan mu. Tapi, kami tidak pantas tinggal disana setelah semua yang terjadi." Ray melangkah pelan meninggalkan perbincangan.
"Kau mau kemana?" cemas Elisa
"Makan, aku lapar," jawabnya.
"Kau ini, masih bisa bercanda? Sudahlah, terimakasih atas ajakanmu. Kami harus pergi."
Mereka berjalan berdua dengan saling mendorong satu sama lain. Elisa berlari menyusulnya.
"Tunggu, ajakanku tidak main-main. Kumohon," bujuknya dengan senyuman manis yang tidak bisa ditolak oleh sepasang mata Ray.
"Bbbaiklah, kami akan mengikuti perintahmu," senyumnya melebar.
"Apa? Kami? Tapi..." Johan terkejut dan memukul kepala Ray hingga kesakitan.
Mereka menarik diri dari hadapan Elisa dan saling berbisik.
"Jo, jika kita tinggal di istana, hidup kita akan terjamin. Dan aku bisa selalu melihatnya setiap hari. Bayangkan itu!" Ray merangkulnya sambil tertawa kecil.
"Aku tidak mau, kau saja sendiri. Aku tidak tertarik padanya."
"Ayolah jo, kumohon. Kau tidak akan menyesal." Ray membujuknya dengan keras, tangannya memohon, wajahnya berseri.
"Baiklah," pasrahnya sambil menghela napas panjang berusaha mengalah.
Mereka menghampiri Elisa sambil merangkul, Ray tersenyum senang sedangkan Johan masih sama , wajahnya tetap dingin.
"Kami setuju untuk tinggal di istana."
"Ikutlah denganku!" Elisa melangkahkan kaki diiringi senyuman manis.
"Dia cantik sekali, akankah dia berjodoh denganku?" bisik Ray, hatinya ingin menjerit meluapkan rasa yang tidak terbendung. Kakinya meloncat kesana kemari dengan riang , walau badannya belum sepenuhnya segar.
Johan menggelengkan kepala melihat tingkah aneh Ray.
"Terserah kau saja, aku tidak peduli. Tapi kau harus ingat, dia dan kau berbeda. Itu tidak mungkin, kau jangan terlalu berharap," Johan mendorongnya hingga tersungkur dan meninggalkannya.
"Tunggu, jika kita berjodoh semua itu bisa menjadi mungkin Johan."
Ray merintih kesakitan, wajahnya penuh dengan debu, kakinya pincang menyusul langkah Johan.
"Terserah, aku tidak tertarik padanya dan aku masih punya batasan," Johan hanya menoleh.
"Jangan terlalu yakin, kau bisa saja menyukainya sama seperti ku," bisiknya.
"Tidak akan pernah, tidak akan mungkin!" Wajahnya kesal, dahinya berkerut meyakinkan.
"Jangan bicara seperti itu, itu akan menjadi kenyataan," tunjuk Ray dengan penuh keyakinan.
Elisa hanya tersenyum menoleh kebelakang dan merasa lega melihat mereka tidak berkelahi dan akrab kembali.
Bersambung...
Akankah sang raja menerima mereka untuk tinggal di istana?
Akankah saudara Elisa menyetujuinya?
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Kita kawal terus kelanjutannya, akan banyak scene romantis lainnya..