terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda" 15
Tangga darurat di bagian belakang sekolah adalah tempat yang jarang dilalui orang. Gelap, lembap, dengan bau cat tua dan debu yang mengendap. Biasanya Lucy datang ke sini untuk mencari ketenangan—atau setidaknya, berpura-pura mencari ketenangan. Tapi hari ini, ketenangan tidak ada di sini.
Saat dia melangkah ke anak tangga terakhir menuju lantai atap, sebuah suara menghentikannya.
"Hei."
Lucy berbalik.
Hana Himura berdiri di bawah, di pertengahan tangga. Wajahnya tidak lagi memasang senyum manis protagonis wanita yang sempurna. Kali ini, topengnya terlepas. Matanya menyipit, bibirnya melengkung dalam seringai dingin.
"Kau Lucy, kan?" Suaranya ringan, tapi ada racun di setiap katanya.
Lucy memiringkan kepalanya, memasang ekspresi polos. "Ya? Ada apa?"
"Kita perlu bicara." Hana melangkah naik, menghampiri Lucy di anak tangga yang lebih tinggi. "Soal Ren. Dan Kaito."
"Oh?" Mata Lucy berbinar pura-pura tidak mengerti. "Mereka kenapa?"
"Jangan pura-pura bodoh." Suara Hana kehilangan kehangatannya. "Menjauhlah dari mereka berdua."
Lucy terdiam. Lalu tersenyum—bukan senyum polos yang biasa dia tunjukkan. Kali ini, senyumnya mengandung sesuatu yang lebih gelap. Lebih licik. Lebih... Dewi.
"Atau apa?"
Hana terkejut melihat perubahan ekspresi itu. "Apa?"
"Atau apa?" ulang Lucy, melangkah lebih dekat. "Kau akan mengancamku? Kau akan menghancurkanku? Silakan." Dia menyeringai. "Kau boleh jadi protagonis wanita di cerita ini, Hana. Tapi lihat sekelilingmu. Siapa yang jadi pusat perhatian sekarang?"
Wajah Hana memucat. "Kau... dasar...!"
"Aku apa? Gadis sialan yang merebut segalanya darimu?" Lucy terkekeh. "Kau benar. Tapi kau tahu kenapa? Karena kau terlalu mengandalkan statusmu sebagai 'protagonis'. Kau pikir dunia akan berputar sesuai keinginanmu hanya karena kau punya sistem dan takdir yang tertulis. Sayangnya..." Dia menatap Hana tepat di matanya. "...takdir bisa diubah."
Hana mengepalkan tangannya. "Aku tidak akan membiarkanmu! Aku ini protagonis sebenarnya! Bukan kau! Kau hanya karakter figuran! Karakter yang seharusnya MATI!"
"Aku tahu." Lucy tersenyum manis. "Tapi aku tidak mati. Dan itu membuatmu kesal, kan?"
"Aku bisa menghancurkanmu sekarang juga." Hana melangkah maju, tapi tiba-tiba suara peringatan Lili bergema di kepala Lucy.
"Lucy! Ren dan Kaito sedang menuju ke sini! Mereka mencarimu!"
Lucy menahan senyumnya. "Kenapa?"
"Sepertinya ada yang memberi tahu mereka bahwa kau ke sini."
"Siapa?"
"Entah. Tapi mereka berdua akan tiba dalam dua menit."
Rencana langsung terbentuk di kepala Lucy. "Lili, matikan sistemnya Hana. Sekarang. Aku tidak mau dia diperingatkan oleh sistemnya."
"Dimengerti. Mematikan koneksi sistem ke pengguna... sekarang."
Di hadapannya, Hana mengerutkan kening. "Sistem? Sistem! Kenapa kau tiba-tiba diam?!"
Tapi sistemnya tidak menjawab. Lili telah memblokir semua komunikasi antara Hana dan sistemnya—untuk sementara.
"Kau kenapa diam?" tanya Hana. "Takut?"
Dan saat itulah, Lucy berubah.
Postur tubuhnya yang tadinya tegak dan percaya diri tiba-tiba menciut. Matanya yang tadinya penuh kemenangan kini berkaca-kaca. Pipinya memerah, bukan karena marah—tapi karena kesedihan. Dalam sekejap, Dewi Rubah yang licik itu menghilang. Yang tersisa hanyalah Lucy si gadis polos, si primadona pemalu, si mochi-chi yang tidak tahu apa-apa.
"K-Kau..." suara Lucy bergetar. "Kenapa kau membenciku? Aku... aku tidak melakukan apa-apa..."
Hana mengerutkan kening, bingung dengan perubahan mendadak ini. "Apa?! Jangan pura-pura! Tadi kau—"
"Aku hanya... aku hanya ingin berteman..." Air mata mulai mengalir di pipi Lucy. "Tapi kau... kau membentakku... kau menghinaku..."
"AKU BAHKAN BELUM MENGHINAMU!"
"Kau bilang aku figuran! Kau bilang aku seharusnya mati!" Lucy terisak. "Itu... itu sangat jahat..."
Hana menggeram frustrasi. "Dengar ya, gadis miskin! Kau tidak pantas bersama Ren atau Kaito! Lihat dirimu! Kau miskin! Kau tidak punya apa-apa! Bahkan keluargamu saja—"
Dia berhenti. Tapi kata-kata itu sudah cukup untuk membuat Lucy—atau setidaknya, karakter yang dia mainkan—tersentak.
"Ke-keluargaku?" bisik Lucy.
"Kau tidak punya keluarga, kan?! Aku tahu! Kau cuman gadis malang yang hidup sendirian di apartemen kumuh!" Hana menyeringai, pikirnya dia menang. "Jadi jangan berani-berani bermimpi bisa setara dengan aku!"
Itu adalah kesalahan besar.
Bukan karena Lucy tersinggung—dia bahkan tidak peduli dengan kata-kata itu. Tapi karena langkah kaki semakin dekat. Ren dan Kaito sudah berada di bawah tangga. Mereka mendengar semuanya.
Waktunya puncak pertunjukan.
"Kenapa... kenapa kau begitu jahat..." Lucy menangis, suaranya pecah. "Aku hanya... aku hanya ingin..."
Mata Hana tertuju pada sesuatu di rambut Lucy. Jepitan berbentuk ekor rubah—perak dengan mata safir biru. Berkilau dalam cahaya redup. Terlihat sangat mahal. Terlalu mahal untuk gadis miskin seperti Lucy.
"Itu... jepitanmu. Dari mana kau dapat?" Hana melangkah lebih dekat, tangannya terulur.
"Ja-jangan! Itu hadiah dari—"
"Dari siapa?!"
"Dari Ren..."
Mata Hana membelalak. Lalu berubah menjadi kebencian murni. "DARI REN?! DIA MEMBERIKANMU HADIAH?! SEHARUSNYA AKU YANG MENDAPATKAN HADIAH DARINYA! BUKAN KAU!"
Dia meraih jepitan itu dan merenggutnya dari rambut Lucy.
"Kembalikan!" Lucy mencoba meraihnya, tapi Hana sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Dasar gadis tidak tahu diri!" Hana membanting jepitan itu ke lantai tangga. Logam berkilau itu pecah. Mata safir birunya terlepas, berguling-guling di anak tangga sebelum jatuh ke celah dan menghilang.
Lucy menatap jepitan yang hancur. Air matanya mengalir lebih deras—kali ini, ada sedikit ketulusan di dalamnya. Bukan karena jepitan itu penting baginya. Tapi karena jepitan itu adalah jepitan favoritnya dari kastil.
"Jepitanku..."
"Rasakan! Itu yang kau dapat karena merebut milikku!" Hana menyeringai puas.
Lucy mendekatinya, tangannya terulur ingin mengambil sisa jepitan. "Kenapa kau... kenapa kau begitu jahat..."
"Minggir!" Hana mendorongnya. Bukan dorongan kuat. Hanya dorongan ringan karena merasa risih.
Tapi Lucy—dengan timing yang sempurna, dengan gerakan yang sudah diperhitungkan—membiarkan dorongan itu mendorongnya ke belakang. Kakinya kehilangan pijakan. Tubuhnya terjatuh.
Dan dia berguling menuruni tangga.
Tubuhnya membentur anak tangga. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Lalu berhenti di dasar tangga. Kepalanya terbentur di sudut besi pegangan tangga. Darah mulai merembes di pelipisnya.
"Ah... sakit..." bisiknya. Tapi bukan sakit yang dia rasakan. Tubuh ini sudah dia modifikasi cukup kuat. Yang sakit hanyalah aktingnya.
Dan tepat di saat itu, pintu tangga darurat terbuka.
Ren dan Kaito muncul bersamaan. Mereka berdua terpaku melihat pemandangan di depan mereka—Lucy terbaring di dasar tangga, darah di kepalanya, tubuhnya lemah tak berdaya. Dan di atas tangga, Hana Himura berdiri dengan tangan masih terulur.
"LUCY!" Keduanya berteriak hampir bersamaan.
Mereka berlari ke arahnya. Kaito lebih dulu mencapai tubuh Lucy, berlutut di sampingnya. Tangannya gemetar saat mengangkat kepala Lucy dengan hati-hati.
"Lucy! Lucy, kau dengar aku?!"
Ren berdiri membeku sesaat. Matanya bergerak dari tubuh Lucy ke arah atas tangga. Hana. Gadis itu. Dan di lantai dekat kakinya... jepitan ekor rubah yang hancur. Jepitan yang dia kenali.
Jepitan yang selalu dipakai Lucy setiap hari.
Wajah Ren berubah dingin. Bukan dingin seperti biasanya—tapi dingin yang berbeda. Dingin yang berbahaya. "Apa yang kau lakukan?"
"A-Aku... dia... dia jatuh sendiri!" Hana tergagap. "Aku tidak mendorongnya! Dia... dia hanya terpeleset!"
"KAU BOHONG!" Suara Ren menggema di seluruh ruang tangga. "Kami mendengar semuanya! Kami mendengar kau menghinanya! Kami mendengar kau menghancurkan jepitannya!"
"Aku... aku tidak..."
Tapi Lucy—yang masih setengah sadar dalam aktingnya—mengangkat tangannya yang gemetar. Jemarinya yang berdarah menyentuh pipi Kaito. "Kaito..."
"Aku di sini. Aku di sini, Lucy." Suara Kaito bergetar. Emosi yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya—ketakutan, kemarahan, kepanikan—kini tercampur aduk di matanya.
"Jepitanku... jepitan dari Ren..." Air mata mengalir di pipinya. "Dia menghancurkannya... aku... aku hanya ingin mengambilnya... tapi dia mendorongku..."
Dan kemudian, tubuhnya lemas. Matanya terpejam. Kepalanya jatuh ke samping.
"LUCY!"
"LUCY! BANGUN!"
Tapi Lucy tidak bergerak. Di dalam kesadarannya, dia sedang duduk di kursi malas, menyuap anggur.
"Bagus sekali aktingmu," komentar Lili datar. "Tapi aku harus memberitahumu sesuatu. Tingkat kejahatan Kaito... melonjak."
"Berapa?"
"90%."
Lucy hampir tersedak anggurnya. "90?! Dari 30% langsung ke 90%?!"
"Dia melihatmu jatuh. Dia melihat darah. Dia mendengar kata-katamu. Dan sekarang dia menatap Hana dengan tatapan yang... sejujurnya, agak menakutkan."
"Oh tidak." Lucy menghela napas. "Aku tidak bisa bangun sekarang dan bilang 'yah kena prank, itu aku letak kameranya disana'. Aku harus melanjutkan ini."
"Setidaknya buat tubuhmu benar-benar seperti pingsan. Aku akan atur kesadaranmu tetap di sini."
"Baik. Lakukan."
Di dunia nyata, Kaito mengangkat tubuh Lucy dengan sangat hati-hati. Satu tangan di bawah lututnya, satu lagi di punggungnya. Dia menggendongnya seperti seseorang yang menggendong sesuatu yang sangat berharga—sesuatu yang takut pecah, takut hilang.
"Kaito... rumah sakit—" Ren melangkah maju.
"JANGAN IKUT AKU."
Suara Kaito sedingin es. Lebih dingin dari apa pun yang pernah Ren dengar. Dia menatap Ren, lalu menatap Hana di atas tangga.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi di sini," katanya pelan, "tapi kalau Lucy kenapa-kenapa..." Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia tidak perlu.
Dia berbalik dan berjalan pergi, membawa Lucy dalam gendongannya. Darah Lucy menetes di lengan Kaito, membasahi seragamnya, tapi dia tidak peduli.
Ren berdiri di sana, tangannya mengepal. Dia menatap Hana sekali lagi. "Kau..." Suaranya bergetar menahan marah. "Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan memaafkanmu. Tidak akan pernah."
Lalu dia pergi, menyusul Kaito.
Hana berdiri sendirian di tangga. Kakinya gemetar. Tangannya mencengkeram pinggiran roknya sendiri.
"Sistem... Sistem! KENAPA KAU TIDAK MEMPERINGATIKU?!" Dia menjerit dalam hatinya. Tapi tidak ada jawaban. "SISTEM! JAWAB AKU!"
"Ko... koneksi... terputus..." Suara sistemnya akhirnya terdengar, terputus-putus. "Ada... interferensi... dari entitas... tidak dikenal..."
"ENTITAS APA?! SIAPA?! GADIS ITU?!"
"Aku... tidak bisa... menganalisis..."
"DIAM! KAU TIDAK BERGUNA! SAMA SEKALI TIDAK BERGUNA!" Hana membanting tasnya ke lantai. Air mata kemarahan mengalir di pipinya. "Dia... dia yang melakukan ini. Dia yang mengatur semuanya. Aku tidak tahu bagaimana, tapi dia... DIA LICIK SEKALI!"
Tapi tidak ada yang mendengarnya. Hanya gema di tangga kosong.
Rumah Sakit Fujiwara Medical Center.
Gedungnya menjulang tinggi di pusat kota, dengan arsitektur modern dan lampu-lampu putih yang bersih. Ini adalah salah satu aset keluarga Fujiwara—beberapa cabang rumah sakit yang tersebar di seluruh negeri. Dan untuk Lucy, Kaito tidak memilih ruang rawat biasa. Dia meminta ruang VVIP di lantai paling atas.
"Kaito, kau tidak bisa terus di sini—" Seorang pria berjas putih, sekitar empat puluhan, dengan rambut hitam yang mulai memutih di pelipis, berdiri di pintu. Wajahnya mirip dengan Kaito—rahang yang sama, tulang pipi yang sama. Tapi matanya lebih hangat. Jauh lebih hangat.
"Paman." Kaito tidak menoleh. Dia duduk di kursi di samping ranjang, tangannya menggenggam tangan Lucy yang dingin. "Aku tidak akan pergi."
Paman Ryo—adik dari ayah Kaito, dokter senior di rumah sakit ini, dan satu-satunya orang di keluarga Fujiwara yang benar-benar peduli pada Kaito—menghela napas. "Kau belum makan. Kau belum tidur. Ini sudah... empat jam, Kaito."
"Aku tidak lapar. Aku tidak lelah."
"Kaito..."
"Aku tidak akan pergi."
Paman Ryo menatap keponakannya. Kaito yang dia kenal adalah anak laki-laki dingin yang tidak pernah dekat dengan siapa pun—terutama perempuan. Trauma yang ditinggalkan oleh ibunya begitu dalam sehingga Kaito menutup semua pintu hatinya. Tapi sekarang... anak laki-laki itu sedang menggenggam tangan seorang gadis seperti gadis itu adalah satu-satunya hal yang menahannya tetap waras.
"Kau mencintainya," kata Paman Ryo pelan. Itu bukan pertanyaan.
Kaito tidak menjawab. Tapi tangannya semakin erat menggenggam tangan Lucy.
"Dokter sudah memeriksa. Dia mengalami gegar otak ringan. Luka di kepalanya sudah dibersihkan dan dibalut. Dia akan segera bangun." Paman Ryo melangkah lebih dekat, meletakkan tangan di bahu Kaito. "Dia akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir."
"Kau tidak tahu itu."
"Aku dokter. Aku tahu."
Keheningan. Lalu Kaito berkata, suaranya hampir berbisik, "Dia berbeda, Paman. Dia tidak seperti yang lain."
Paman Ryo tersenyum tipis. "Aku tahu. Aku bisa melihatnya dari caramu menatapnya." Dia menepuk bahu Kaito dua kali, lalu berjalan keluar. Di pintu, dia berhenti. "Aku harap kalian terus bersama, Kaito. Kau pantas bahagia."
Pintu tertutup. Kaito sendirian bersama Lucy.
Dia menatap wajah gadis itu—wajah yang pucat, kepala yang terbungkus perban putih, mata yang terpejam. Tanpa softlens, tanpa kacamata, tanpa kepura-puraan. Tapi Kaito tidak peduli. Dia sudah melihat mata biru itu sebelumnya, di malam itu, di bawah lampu jalan. Dan dia tidak pernah bisa melupakannya.
"Kau tahu," katanya pelan, "aku tidak pernah membiarkan siapa pun dekat denganku. Terutama perempuan. Ibuku... dia menghancurkan segalanya. Dia membuatku percaya bahwa semua perempuan itu sama. Bahwa mereka hanya menginginkan sesuatu dariku. Status. Uang. Nama keluarga." Dia menelan ludah. "Tapi kau... kau tidak pernah meminta apa pun. Kau hanya... memberi."
Dia menunduk, menatap tangan Lucy yang kecil di dalam genggamannya.
"Setiap hari kau berubah. Rambutmu. Matamu. Caramu tersenyum. Aku tidak tahu bagaimana kau melakukannya. Aku tidak tahu siapa kau sebenarnya. Tapi aku..." Suaranya pecah. "Aku tidak peduli. Aku hanya ingin kau bangun. Aku hanya ingin kau baik-baik saja."
Dia mendekatkan tangan Lucy ke dahinya.
"Aku berjanji. Aku akan terus bersamamu. Sampai kapan pun. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Tidak Hana. Tidak siapa pun. Aku akan melindungimu, Lucy. Meskipun kau tidak memintanya. Meskipun kau tidak menginginkannya. Aku... aku..."
Dia tidak menyelesaikan kata-katanya. Tapi air mata—satu tetes—jatuh di tangan Lucy.
Di dalam kesadarannya, Lucy duduk di kursi malas beludru, menatap layar hologram yang menampilkan Kaito di samping ranjangnya. Tangannya memegang segelas anggur. Matanya menatap layar dengan ekspresi datar.
"Kenapa?" tanyanya pada Lili yang meringkuk di pangkuannya.
"Kenapa apa?"
"Kenapa dia... begini?" Lucy menunjuk layar. "Aku hanya pura-pura jatuh. Aku tidak benar-benar terluka. Tapi dia... dia menangis. Untukku."
"Karena dia mencintaimu."
"Itu kan idenya. Membuat dia menyukaiku. Mengumpulkan nilai suka. Itu rencana." Lucy menghela napas. "Tapi ini... dia benar-benar terluka. Aku bisa melihatnya di matanya. Ini bukan sekadar rasa suka lagi."
"Kau merasa bersalah?"
Lucy terdiam. Dia menatap layar, menatap Kaito yang menunduk di samping tubuhnya, menatap air mata yang jatuh.
"Tidak," katanya akhirnya. "Aku tidak merasa bersalah. Karena ini bukan akhir. Aku akan memastikan dia mendapatkan akhir yang bahagia. Dia tidak akan mati seperti di novel asli. Dia tidak akan menjadi penjahat dengan tingkat kejahatan 99%. Aku akan menyelamatkannya."
"Jadi kau melakukan ini untuknya?"
"Aku melakukan ini untukku. Untuk kesenanganku." Lucy menyeringai, tapi seringainya tidak setajam biasanya. "Tapi... ya. Mungkin sedikit untuknya. Dia... dia tidak seburuk yang kukira."
Dia menatap layar lagi. Kaito masih di sana. Masih menggenggam tangannya. Masih menunggu.
"Biarkan tubuhku bangun dalam satu jam," kata Lucy. "Aku ingin dia cukup menderita dulu. Anggap saja... pelajaran."
"Pelajaran untuk apa?"
"Untuk tidak jatuh cinta pada Dewi."
Lili mendengus. "Itu pelajaran yang tidak akan dia pelajari."
Lucy tidak menjawab. Dia hanya menatap layar, menyesap anggurnya, dan membiarkan keheningan mengisi ruang kesadarannya.