NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

Keesokan harinya di sebuah pedesaan. Pagi yang sejuk menyelimuti sebuah pedesaan yang asri. Pemandangan sawah yang terbentang luas seakan memanjakan mata, menjadi hadiah tak ternilai bagi mereka yang ingin melepas penat.

Udara pagi yang segar berpadu dengan ketenangan tanpa suara klakson kendaraan kota, membuat mereka tak menyesal memilih tempat ini untuk menikmati liburan.

"Segarnya, ya Tuhan," ucap Valeska sambil merentangkan tangan dan memejamkan mata, menghirup udara pagi yang sejuk dan menenangkan.

"Prisha, kalau jadi lo gue bakal milih tinggal di sini, deh. Nyaman banget rasanya," sahut Anaya, seolah menikmati momen yang telah lama ia dambakan.

"Sayang kalau nggak diabadikan! Eh, ada kupu-kupu!" seru Laksha dengan antusias sambil memotret setiap sudut dengan kameranya yang sengaja dia bawa dari kota.

Rumah nek Murti berdiri di tengah sawah, dikelilingi pemandangan yang memesona. Dari sisi kanan mereka bisa melihat pegunungan megah, begitu nyata seolah bisa diraih. Sementara itu, di sekelilingnya, ada hamparan sawah menghijau tampak luas, ditemani suara gemuruh air terjun yang mengalir deras di kejauhan.

"Assalamualaikum, apakah ini teteh yang dari kota?" sapa seorang gadis dengan senyum ramah pada mereka berempat.

"Waalaikumsalam ... iya," jawab Prisha sambil tersenyum ke arah gadis itu, wajah manisnya dihiasi senyuman tulus, berbalut pakaian sederhana tapi rapi.

"Teh Prisha dan teman-teman sudah ditunggu Nek Murti di teratak," ujarnya lembut.

"Teratak itu apaan?" tanya Valeska dengan bingung.

"Itu seperti saung, tempat teduh yang biasanya ada di tengah sawah," jelas Prisha.

"Oh, begitu ya. Maaf, nggak tahu soalnya," sahut Valeska dengan tawa kecil.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita ikut kamu ke sana? Boleh, kan? Ngomong-ngomong, namamu siapa?" tanya Laksha dengan ramah.

"Panggil saja Indah," jawabnya lembut, senyum manisnya tak pernah lepas dari wajah seorang gadis desa yang bernama Indah.

***

Lagi dan lagi, hamparan sawah luas menyambut mereka dengan keindahan yang menenangkan. Tanaman padi yang mulai menghijau setelah proses pembajakan dan penanaman, sebentar lagi sekitar tiga bulan siap dipanen. Di kejauhan, tampak beberapa petani sibuk membersihkan rumput liar dan membasmi hama yang mengancam pertumbuhan padi.

"Ini kayak lukisan gue waktu kecil! Ada gunung, sawah, dan air terjun," ucap Laksha heboh.

"Buna, Anaya ke sawah! Seneng banget, Buna," teriak Anaya dengan riang, berlari-lari sambil merekam dirinya dengan kamera ponsel, supaya momen ini bisa dikirim ke bundanya yang ada di kota.

"Besok-besok, kalau mereka ulang tahun, ajak aja ke sawah kayak gini, nggak usah beli barang-barang mewah," usul Prisha pada Valeska.

"Ide bagus! Gue juga suka banget suasana kayak gini. Tapi kalau gue ikut berjingkrak, pasti kecapekan berkali-kali lipat," balas Valeska sambil tertawa, sadar betapa rentannya tubuhnya belakangan ini.

"Ini pertama kalinya lo ke sawah, 'kan?" tanya Prisha, disambut anggukan malu-malu dari Valeska.

"Tapi, sayang banget kalau cuma diem. Kayak mereka tuh, pasti seru," sambil berkata demikian, Valeska melepas sendalnya dan menitipkannya pada Prisha.

"Laksha, Anaya, tunggu," serunya sebelum berlari menyusul mereka.

"Sha, lo nggak ikutan?" tanya Anaya melihat Prisha masih berdiri di kejauhan. Prisha tersenyum lebar, lalu melepas sendalnya juga.

"Rugi banget kalau nggak ikut," jawabnya sambil berlari mengejar teman-temannya.

Gelak tawa mereka menggema di tengah sawah, menarik perhatian para petani yang sibuk bekerja.

"Eh, itu siapa ya? Kayaknya baru lihat," tanya seorang petani sambil mengernyit.

"Orang kota, cucunya Nek Murti sama temen-temennya," jawab petani lain.

"Liburan ke sini? Orang kota mainnya ke desa, orang desa malah mainnya ke kota. Dunia terbalik, ya?"

"Bener juga, biasanya orang kota segan main ke sawah. Takut gatal, nggak kuat panas matahari, apalagi kalaun yeker injak lumpur. Tapi, kok ini beda ya?" seorang bapak berkisaran usia 42 tahun keheranan melihat kelakuan anak-anak kota itu.

Sejak tadi, sinar mentari sudah terlihat di ufuk timur, menggantikan gelapnya malam yang rupanya penuh rahasia. Pukul 09:30, mereka sudah duduk di teratak yang berada di tengah sawah milik nek Murti. Embusan angin pagi membawa aroma dedaunan basah, seakan memberi pertanda bahwa segala sesuatu bisa dimulai dari awal layaknya tanah yang siap ditanami benih baru.

"Nenek ..." teriak mereka serempak saat melihat sosok wanita paruh baya di pinggir sawah.

"Itu Nenek gue, bukan Nenek kalian," jawab Prisha pura-pura merajuk.

"Bodo amat, itu Nenek kita semua!" sahut Anaya sambil tertawa.

Mereka turun dari teratak dan berlari menghampiri nek Murti. Tanpa ragu, mereka sampai nyemplung kepetakan sawah penuh lumpur yang kebetulan sedang kosong.

"Astaga, Nak, jangan nyebur begitu, nanti bajunya kotor," tegur nek Murti yang berhenti sejenak dariaktivitasnya.

"Nggak apa-apa, Nek, nanti tinggal dicuci pakai mesin," jawab Valeska dengan polos.

"Tapi di sini nggak ada mesin, ya harus dicuci pakai tangan, manual."

"Oke, siap Nek," jawab mereka serempak sambil tertawa.

"Udah, kalian mending duduk aja di teratak, di sini panas. Nanti kulit kalian kebakar. Lihat tuh, baju putih kalian jadi kotor semua," tegur nek Murti lagi, dia menggelengkan kepala karena tidak habis pikir, masa nyemplung ke sawah pakai baju putih?

"Nek, jangan marah-marah, nanti cepet tua lho. Lagian kita udah pakai sunscreen, jadi aman kok." Prisha berseloroh sambil terkikik.

Salah seorang petani yang penasaran akhirnya bertanya, "Ini siapa lagi, Nek?"

"Ini temannya cucu saya. Mereka lagi liburan," jawab nek Murti.

"Selamat pagi, Bapak, Ibu. Kami temannya Prisha, cucu Nek Murti. Senang bisa bertemu kalian," Valeska menyapa ramah, diikuti Anaya dan Laksha.

"Sayang lho kulit kalian, putih bersih tiba-tiba jadi penuh lumpur begini. Nggak takut gatal?" tanya seorang ibu sambil tersenyum heran.

"Sesekali nggak apa-apa, Bu. Di kota mana ada kesempatan kayak gini," jawab Laksha.

Setelah tegur sapa, mereka kembali naik ke teratak, sementara para petani melanjutkan pekerjaan. Pagi ini mereka mencoba banyak hal baru? berlarian di pinggir sawah, bermain lumpur, menyapa para petani, bahkan ikut membasmi hama padi. Hal-hal sederhana itu ternyata meninggalkan kesan mendalam bagi mereka.

Dan sikap ramah dan rendah hati mereka membuat para petani terkesan. Beberapa petani bahkan mengundang mereka mampir untuk sekedar minum teh dan menikmati hasil panen. Anak-anak kota ini rupanya tidak sungkan menikmati nasi beralaskan daun pisang, membuat para petani semakin kagum.

Setelah puas bermain, mereka berjalan pulang ke rumah nek Murti. Matahari semakin tinggi dan udara mulai panas, membuat mereka ingin segera istirahat. Tapi, sebelum masuk rumah, Nek Murti menyarankan agar mereka membersihkan lumpur di pakaian pada aliran sungai kecil yang mengalir di depan rumah. Ini akan menjadi kenangan indah yang akan mereka bawa saat kembali ke kota.

***

Valeska dan ketiga temannya baru saja membersihkan diri, lalu berkumpul menikmati makan siang bersama. Setelahnya, Valeska duduk seorang diri di kursi kayu samping rumah nenek Murti, bersandar tenang, membiarkan angin sepoi-sepoi mengelus wajahnya.

Tidak lama, ponselnya bergetar, menandakan ada pesan masuk. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat melihat nama pengirim pesan dari abangnya.

"Dek, ini kenapa obatnya nggak dibawa?"

"Iya, bang, ketinggalan. Adek cuma bawa yang di atas meja. Abang nemu di mana?"

"Abang udah bilang hati-hati jangan sampai ada yang ketinggalan. Adek nggak dengerin, ya? Abang nemu di sofa. Sebelum minum obat, makan dulu, ya."

Valeska membalas pesan itu dengan mengirim foto enam butir obat yang tergeletak di meja beralaskan tisu.

"Abang marah? Adek nggak sengaja."

"Itu obat kenapa ditaro gitu aja, Dek? Nanti kotor. Minum obatnya sekarang."

"Iya, iya, Bang. Ntar adek nangis nih kalo abang marah."

"Abang nggak marah, kok. Abang sayang adek. Maaf, ya. Di sana ngapain aja? Ceritain dong, pasti seru."

Dengan senyum tipis, Valeska mengirim foto pemandangan alam yang memukau, disertai cerita lengkap tentang kegiatannya sejak pagi.

"Seru banget, pasti adek happy banget di sana. Jangan lupa jaga kesehatan, ya. Jangan kecapekan. Nanti kalau tiba-tiba drop, gimana?"

"Iya, bang. Santai aja, adek kuat kok. Abang lagi di mana sekarang?"

Kaivandra mengirim foto dirinya yang sedang berbaring di kamar Valeska, senyum lembut terpancar dari wajahnya. Tapi Valeska menunggu, karena ia tahu abangnya sedang mengetik sesuatu lagi.

"Adek ..."

"Hem?"

"Tanggal 16 bulan ini, Dokter Fahru bilang adek harus mulai kemoterapi yang pertama."

Valeska menarik napas panjang, menatap jauh ke depan. "Iya, bang. Adek pulang tanggal 15."

"Semangat ya, cantik. Abang selalu di sini,"

"Ah, semangat terus capek, bang." Membaca balasan Valeska, Kaivandra langsung mencoba meneleponnya beberapa kali. Namun, tak satupun panggilannya dijawab.

Dalam hati, ia tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

Dokter Fahru.

|Selamat siang, Valeska. Tanggal 16 jadwal kemo pertama, ya. Jangan terlalu kecapean, harus berani,

|Iya, Dok. Mau nggak mau harus berani, ya. Kalau kemo, rambutku nanti botak, ya?

|Jangan pikirkan itu dulu. Fokus jalani pengobatannya, ya. Karena semakin ditunda, penyebarannya bisa semakin meluas.

|Iya, Dok, saya paham.

|Apakah orang tua dek Valeska sudah tahu? Karena selama ini yang mengurus administrasi hanya Kaivandra. Penyakit ini nggak bisa dianggap remeh, lho.

|Mereka sibuk, Dok. Biar Abang saja yang ngurus.

Valeska menarik napas dalam, menatap layar ponselnya. Tanggal 16 sudah di depan mata, pengingat dari dokter baru saja mempertegasnya. Ia menatap langit sebentar, membiarkan rasa berat itu mengalir perlahan. Dalam keheningan, setitik air mata jatuh di pipinya, diam-diam, tanpa diketahui ketiga temannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!