Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.
Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Keesokan paginya, langit Universitas Ganesha tampak cerah seolah badai semalam suntuk di Distrik Utara tidak pernah terjadi. Namun bagi Aura, kedamaian fajar ini terasa semu. Ia turun dari angkutan umum dengan tubuh yang lelah, meski untungnya Devan menepati janji dengan menyuruh anak buahnya memastikan kediaman ibunya tetap aman dan tenang.
Aura merapikan tas ranselnya, mengeratkan pegangan pada buku referensi tebal di pelukannya, dan melangkah memasuki gerbang kampus. Suasana langsung berubah riuh. Begitu kakinya menginjak koridor utama Fakultas Hukum, bisikan-bisikan sinis kembali menyergapnya dari segala penjuru.
"Eh, lihat deh, si anak beasiswa itu masih berani datang."
"Gila ya, padahal kemarin dibilang jadi buronan Devan Bratadikara."
"Kasihan banget, mukanya pucat gitu. Pasti semalaman gak bisa tidur gara-gara diteror."
Aura menarik napas dalam-dalam, mengabaikan tatapan kasihan dan cemoohan yang diarahkan kepadanya. Sesuai kesepakatan barunya dengan Devan di atas kapal cepat semalam, mereka harus memainkan peran ini dengan sempurna. Di mata publik, mereka adalah musuh; sang berandalan kejam yang merundung mahasiswi teladan yang tak berdaya.
Langkah Aura terhenti tepat di tengah selasar menuju ruang kuliah Hukum Pidana II. Di ujung koridor, kerumunan mahasiswa mendadak terbelah menjadi dua. Devanandra Bratadikara berjalan dengan angkuh, dikelilingi oleh Bram dan beberapa anggota gengnya yang berwajah sangar. Pagi ini Devan mengenakan jaket kulit hitamnya yang biasa, kaos oblong gelap, dan tatapan matanya yang tersembunyi di balik kacamata hitam. Aura dingin dan berbahaya kembali memancar kuat dari tubuhnya, menghapus seluruh sisa kelembutan yang sempat ia perlihatkan di kabin kapal semalam.
Ketika Devan melihat Aura, ia menghentikan langkahnya. Ia melepas kacamata hitamnya dengan gerakan lambat, menatap Aura dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan yang sangat meyakinkan.
"Gisela Aura," suara berat Devan menggema di koridor yang mendadak senyap. "Gue pikir lo bakal mutusin buat mogok kuliah hari ini setelah insiden kopi semalam."
Aura mengepalkan tangannya yang memeluk buku, berpura-pura gemetar menahan takut, padahal ia sedang menahan diri agar tidak tertawa melihat betapa berbakatnya cowok ini dalam berakting. "Aku tidak punya alasan untuk bolos, Devan. Aku ke sini untuk belajar, bukan untuk meladeni leluconmu."
Devan melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga Aura terpaksa mendongak. Di bawah tatapan ratusan pasang mata yang menonton dengan tegang, Devan menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan Aura.
"Belajar?" Devan terkekeh sinis, sebuah tawa yang terdengar begitu angkuh. Ia merenggut buku tebal dari pelukan Aura dengan sentakan kasar, membuat beberapa mahasiswi di belakang mereka memekik pelan karena terkejut. Devan membuka-buka halaman buku itu dengan malas sebelum melemparnya ke atas meja koridor terdekat. "Tugas laporan magang yang lo kirim subuh tadi masih ada beberapa format yang kurang rapi. Nanti siang jam satu, datang ke gazebo belakang perpus. Kalau lo telat satu menit aja, gue gak jamin nasib beasiswa lo besok pagi."
Aura menggigit bibir bawahnya, menampilkan ekspresi terluka dan tertekan yang sangat pasrah. "Baik. Aku akan datang."
"Bagus. Jangan bikin gue nunggu, Good Girl," desis Devan. Ia kembali memakai kacamata hitamnya, berbalik, dan berjalan pergi meninggalkan koridor bersama gengnya. Bram sempat melirik Aura sekilas dengan kedipan mata jenaka yang hampir saja merusak sandiwara mereka, sebelum akhirnya ikut berlalu di belakang Devan.
Begitu Devan menghilang di belokan koridor, kasak-kusuk mahasiswa kembali pecah, jauh lebih ramai dari sebelumnya. Aura memungut bukunya kembali, mengembuskan napas lega di dalam hati. Tahap pertama sandiwara mereka berjalan sukses. Di mata mata-mata klan Mahendra yang mungkin mengawasi kampus ini, Aura hanyalah korban perundungan akademik biasa, bukan aset berharga klan Bratadikara.
Tepat pukul satu siang, Aura berjalan menuju area gazebo di belakang perpustakaan pusat. Tempat itu biasanya sepi karena dikelilingi oleh pepohonan rindang dan berbatasan langsung dengan pagar pembatas luar kampus. Ketika Aura tiba, Devan sudah duduk di sana sendirian, tanpa Bram atau Kenzo. Cowok itu sedang bersandar pada tiang kayu gazebo, memangku laptopnya yang menyala.
Aura memastikan situasi di sekeliling mereka aman sebelum melangkah naik ke gazebo dan duduk di seberang Devan.
"Sandiwaramu tadi pagi luar biasa, Tuan Bratadikara," sindir Aura sambil mengeluarkan buku catatan dari tasnya. "Kamu hampir membuatku percaya kalau kamu bener-bener mau menghancurkan hidupku."
Devan mendongak dari layar laptopnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang kali ini terasa lebih santai. "Lo juga gak kalah hebat, Aura. Ekspresi muka lo yang kayak mau nangis tadi pagi bener-bener dapet. Hampir aja gue kasihan."
"Jangan bercanda. Sekarang, apa yang harus kuperiksa?" tanya Aura langsung, menunjuk laptop Devan.
Devan memutar laptopnya menghadap Aura. "Ini draf kontrak kerja sama baru untuk ekspedisi kargo laut di dermaga lima. Bokap gue minta gue yang periksa sebelum ditandatangani besok sore. Kenzo bilang ada beberapa pasal klausul pengecualian yang janggal, tapi dia gak punya waktu buat bedah akarnya karena harus ngurusin perbaikan pagar gudang Distrik Utara yang hancur semalam."
Aura mendekatkan laptop itu, sepasang matanya langsung fokus membaca baris demi baris kalimat hukum yang rumit. Suasana di gazebo mendadak sunyi, hanya menyisakan suara gesekan dedaunan yang ditiup angin siang. Devan tidak mengalihkan pandangannya dari Aura; ia memperhatikan bagaimana dahi gadis itu berkerut tipis saat berkonsentrasi, dan bagaimana jemari lentiknya mengetik beberapa catatan di buku. Ada ketenangan yang aneh saat melihat Aura bekerja seperti ini—sebuah kedamaian yang tidak pernah Devan temukan di dunia mafianya yang penuh dengan teriakan dan suara tembakan.
"Ketemu," ucap Aura setelah lima belas menit keheningan. Ia menunjuk ke arah layar. "Di pasal tujuh ayat tiga tentang ganti rugi keterlambatan muatan. Kalimatnya ambigu. Di sini tertulis 'pihak pertama tidak bertanggung jawab atas keterlambatan akibat kendala teknis di luar otoritas pelabuhan'. Istilah 'kendala teknis' ini terlalu luas, Devan. Klan Mahendra bisa dengan sengaja menyabotase kapal kalian di luar gerbang laut, lalu mengklaim itu sebagai kendala teknis agar mereka bebas dari denda."
Devan mengernyitkan dahi, menatap poin yang ditunjuk Aura. "Jadi, mereka bisa merugikan kita secara finansial tanpa melanggar kontrak?"
"Tepat sekali. Mereka memeras kalian lewat jalur hukum yang sah," Aura mengambil alih papan ketik, dengan lincah merombak kalimat pasal tersebut menjadi lebih spesifik dan mengikat. "Selesai. Dengan begini, kendala teknis harus dibuktikan dengan sertifikat investigasi independen dari syahbandar pusat. Mereka tidak akan bisa main-main lagi."
Devan menatap hasil editan Aura dengan rasa takjub yang semakin mendalam. Gadis ini bukan cuma sekadar tameng atau pelindung draf; dia adalah senjata taktis baru yang sangat mematikan di meja negosiasi hukum.
"Lo bener-bener luar biasa, Ra," ujar Devan tulus, suaranya terdengar rendah dan hangat.
Aura tersentak mendengar pujian itu. Ini pertama kalinya Devan memanggilnya dengan nama pendeknya, "Ra", tanpa embel-embel nada mengejek atau julukan good girl. Ada debaran halus yang mendadak muncul di dada Aura, membuat pipinya sedikit merona merah. Ia segera membuang muka, mencoba menyembunyikan salah tingkahnya.
"Aku cuma melakukan bagianku dari perjanjian kita," balas Aura kaku. "Sekarang, karena tugasku sudah selesai, aku mau kembali ke kelas."
Namun, sebelum Aura sempat berdiri, Devan menahan pergelangan tangannya. Sentuhan kulit mereka yang hangat seketika mengembalikan ingatan Aura pada genggaman erat Devan di tengah labirin kontainer semalam.
"Tunggu dulu," kata Devan lembut, perlahan melepaskan tangannya saat menyadari Aura sedikit terkejut. Dari balik saku jaketnya, Devan mengeluarkan sebuah ponsel pintar baru yang masih berada di dalam kotak segel, lalu meletakkannya di atas meja gazebo.
"Apa ini?" tanya Aura bingung.
"Ponsel khusus. Di dalamnya cuma ada nomor gue, Kenzo, dan Bram. Jalurnya sudah dienkripsi sama Kenzo agar gak bisa dilacak atau diretas orang luar," jelas Devan serius. "Mulai sekarang, lo pakai ponsel ini untuk komunikasi sama gue. Jangan pernah hubungi nomor lama gue pakai ponsel pribadi lo. Keamanan lo dan ibu lo bergantung pada seberapa rapi kita menjaga jarak di dunia digital."
Aura menatap kotak ponsel itu, menyadari bahwa garis hidupnya kini benar-benar telah menyatu dengan takdir klan Bratadikara. Sandiwara di kampus baru saja dimulai, tetapi di balik bayang-bayang pohon rindang ini, mereka tahu bahwa mereka sedang menyusun sebuah kekuatan baru untuk menghadapi badai yang siap menerjang kapan saja.