NovelToon NovelToon
Secon Chance

Secon Chance

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: Austrea

Bagaimana jadinya jika kamu mengakhiri sebuah hubungan tanpa sebab lalu meninggalkan kekasihmu begitu saja karena suatu alasan?

Begitu pula dengan Serena, ia meninggalkan kekasih nya begitu saja hanya karena suatu alasan yang kurang jelas. Hingga suatu saat ia melamar pekerjaan disebuah perusahaan ternama milik mantannya dan bahkan saat ini seorang president.

apakah yang akan terjadi pada kehidupan Serena selanjutnya?

guyss mampir yuk, istirahat sebentar dinovel aku❤️❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Austrea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

My Ex¹⁵

Tiin!

Suara klakson yang nyaring membuat Serena tersentak.

Sebuah mobil berhenti mendadak hanya beberapa langkah di depannya.

Pengemudi itu segera menurunkan kaca jendela dan melotot kesal.

"Kalau jalan pakai mata!"

Pria itu mengumpat sebelum kembali melajukan mobilnya.

Serena tersadar bahwa dirinya hampir tertabrak.

"Maaf, Pak..." gumamnya pelan.

Namun permintaan maafnya tenggelam bersama deru kendaraan yang berlalu.

Serena mengembuskan napas panjang lalu melanjutkan langkahnya menyeberangi jalan.

Di seberang sana, sebuah restoran berdiri tepat di depan gedung perusahaan milik Dirga.

Tangannya tanpa sadar mengepal.

Ia berusaha bersikap tenang, berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua baik-baik saja.

Namun kenyataannya, hatinya sedang berantakan.

Kata *tunangan* itu terus terngiang di kepalanya.

Berulang kali.

Serena menundukkan kepala sambil mempercepat langkahnya.

Bukankah ini memang yang seharusnya terjadi?

Dirga adalah pria hebat.

Tampan, sukses, dan memiliki masa depan yang cerah.

Cepat atau lambat, ia pasti akan menemukan wanita yang sepadan dengannya.

Hanya saja...

Serena tidak pernah menyangka bahwa kenyataan itu akan terasa sesakit ini.

Ia tersenyum tipis.

Senyum yang lebih mirip usaha untuk menahan tangis.

Lalu, tanpa menyadari bahwa matanya mulai memerah, Serena mendorong pintu restoran dan masuk ke dalam.

Di dalam ruangan, Dirga masih menatap pintu yang baru saja tertutup.

Entah mengapa, bayangan wajah Serena yang tampak pucat terus terlintas di benaknya.

Rahangnya mengeras. *Apa dia cemburu?*

Pertanyaan itu muncul begitu saja.

Dirga mendecih pelan dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Seharusnya ia merasa puas, bukankah ini yang ia inginkan sejak awal?

Melihat Serena terluka dan merasakan sebagian kecil dari rasa sakit yang pernah ia alami bertahun-tahun lalu.

Namun anehnya, perasaan puas itu tidak kunjung datang, sebaliknya dadanya justru terasa semakin sesak.

*Dia pantas mendapatkannya.*

Tatapan Dirga menggelap.

*Dia yang meninggalkanku tanpa alasan.*

*Dia yang memilih pergi tanpa memberi penjelasan apa pun.*

Jemarinya mengetuk permukaan meja secara perlahan.

Dulu, selama berbulan-bulan ia berusaha mencari alasan Serena meninggalkannya.

Dia yakin Serena berbohong jika wanita itu meninggalkan nya karena pria lain, jadi Dirga berusaha mencari jawaban yang sebenarnya.

Namun semua usahanya berakhir sia-sia.

Dan kini, setelah bertahun-tahun berlalu, jawaban itu sudah tidak lagi penting.

Setidaknya itulah yang selalu ia yakinkan pada dirinya sendiri.

*Untuk apa mencari tahu alasannya?*

*Aku sudah tidak peduli lagi padanya.*

Tetapi sesaat kemudian, bayangan Serena yang menundukkan kepala saat mendengar kata *tunangan* kembali terlintas di pikirannya.

Dirga mengerutkan kening.

Jika memang sudah tidak peduli...

Lalu mengapa ia masih memikirkan reaksi wanita itu?

Beberapa menit kemudian, Serena kembali ke ruang CEO dengan membawa pesanan makan siang.

Ia berusaha bersikap seperti biasa meskipun kepalanya masih terasa berat.

"Tuan, ini makan siang untuk tunangan Anda."

Dirga bahkan tidak mengangkat kepalanya dari dokumen yang sedang ia baca.

"Letakkan di sana. Nanti uangnya akan kutransfer ke rekeningmu."

"Baik, Tuan."

Serena berjalan mendekati meja dan meletakkan beberapa kotak makanan dengan hati-hati.

Belum sempat ia pergi, suara Dirga kembali terdengar.

"Sayang, makan dulu."

Nada suara pria itu begitu lembut hingga membuat langkah Serena terhenti sejenak.

"Kamu belum makan siang, kan?"

Wanita di sampingnya tersenyum tipis.

"Tapi aku belum lapar."

"Tidak."

Kali ini suara Dirga terdengar lebih tegas.

"Kamu harus makan sekarang."

Wanita itu tampak hendak membantah, tetapi akhirnya mengangguk patuh.

Melihat pemandangan tersebut, Serena menundukkan kepala.

Entah mengapa, dadanya terasa semakin sesak.

Dulu, Dirga juga selalu seperti itu.

Tidak peduli seberapa sibuk dirinya, pria itu selalu memastikan Serena makan tepat waktu.

Bahkan terkadang ia bisa lebih cerewet daripada ibunya sendiri.

Kenangan itu datang begitu saja, membuat hati Serena semakin perih.

Ia segera membuang jauh-jauh pikirannya.

Semua itu sudah berlalu.

Sekarang, perhatian dan kelembutan Dirga bukan lagi miliknya.

Serena menarik napas pelan lalu berbalik untuk meninggalkan ruangan.

Namun baru beberapa langkah berjalan, pandangannya mendadak mengabur.

Kepalanya berdenyut semakin hebat.

Tubuhnya terasa ringan, seolah kehilangan tenaga untuk terus berdiri.

Serena berusaha menyeimbangkan langkahnya agar tidak terlihat mencurigakan.

Sayangnya, perubahan itu tidak luput dari perhatian seseorang.

Asisten Zayn yang berdiri tidak jauh dari sana mengernyit pelan.

Tatapannya mengikuti sosok Serena yang berjalan dengan langkah gontai.

"Nona Serena, anda baik-baik saja?"

Suara Asisten Zayn memecah keheningan ruangan.

Mendengar namanya disebut, Dirga tanpa sadar ikut mengalihkan pandangan ke arah Serena.

Namun wanita itu tidak memberikan respons apa pun.

Langkahnya justru semakin tidak stabil.

Serena berusaha berjalan seolah tidak terjadi apa-apa, tetapi pandangannya semakin kabur.

Suara-suara di sekitarnya terdengar samar, sementara dengungan di kepalanya semakin keras.

"Nona Serena?"

Kali ini Asisten Zayn memanggilnya dengan nada yang lebih khawatir.

Serena mencoba menoleh.

Namun sebelum sempat menjawab, tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Bruk!

Tubuhnya ambruk ke lantai.

"Nona Serena!"

Asisten Zayn sontak berlari menghampirinya.

Kepanikan langsung memenuhi ruangan.

Serena terbaring tak bergerak dengan wajah yang jauh lebih pucat dari sebelumnya.

"Astaga..." gumam Asisten Zayn panik.

Ia segera berjongkok dan mencoba membangunkan wanita itu.

"Nona Serena, bangun! bisa dengar saya?"

Tidak ada jawaban.

Di sisi lain ruangan, Dirga membeku di tempatnya.

Tatapannya tertuju pada tubuh Serena yang terbaring di lantai.

Untuk sesaat, jantungnya terasa berhenti berdetak.

Tanpa sadar, jemarinya mengepal erat.

"Nona Serena!"

Asisten Zayn kembali memanggil dengan panik.

Barulah saat itu Dirga tersadar dari keterkejutannya.

Pria itu berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser ke belakang.

Wajahnya tetap datar, namun langkahnya menuju Serena jauh lebih cepat.

Serena masih bisa mendengar suara-suara yang memanggil namanya, samar-samar.

Semakin lama semakin jauh.

Hingga akhirnya seluruh suara itu menghilang, ditelan oleh kegelapan yang perlahan menyelimuti kesadarannya.

"Zayn, bawa dia ke ruang kesehatan sekarang."

Suara Dirga terdengar tegas.

"Baik, Tuan."

Tanpa membuang waktu, Asisten Zayn segera mengangkat tubuh Serena yang sudah tidak sadarkan diri.

Tubuh wanita itu terasa begitu ringan, seolah tidak memiliki tenaga sedikit pun.

Dengan langkah cepat, ia membawa Serena keluar dari ruangan menuju ruang kesehatan perusahaan.

Setelah pintu tertutup, suasana ruangan kembali hening.

Wanita bermata biru itu menatap ke arah pintu yang baru saja dilewati Serena.

"Sayang, dia kenapa?"

Dirga mengalihkan pandangannya.

"Entahlah." Jawabannya terdengar datar.

"Mungkin kelelahan."

"Tapi dia terlihat sangat pucat."

Dirga terdiam sesaat.

Bayangan wajah Serena yang terbaring tak sadarkan diri kembali terlintas di benaknya.

Raut wajah wanita itu jauh lebih pucat dibandingkan biasanya.

Bahkan saat terjatuh, tidak ada warna pun tersisa di bibirnya.

"Sudahlah."

Dirga melangkah menuju meja dan kemudian duduk di sofa empuk.

Ia menarik salah satu kotak makanan dan membukanya.

"Jangan pikirkan dia lagi."

Ia mendorong makanan itu ke hadapan tunangannya.

"Lebih baik makan sekarang."

Wanita itu mengangguk pelan.

Sementara itu, Dirga menundukkan pandangannya ke meja.

Rahangnya mengeras.

*Dia bukan urusanku.*

*Apa pun yang terjadi padanya, itu tidak ada hubungannya denganku.*

Namun entah mengapa, pikirannya terus kembali pada sosok wanita yang baru saja pingsan di hadapannya.

Dirga mengepalkan tangannya di bawah meja.

*Tidak.*

*Aku sama sekali tidak peduli padanya.*

Sayangnya, semakin keras ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, semakin sulit baginya untuk mempercayai kebohongan itu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...----------------...

Bersambung.....

Hai para readers kesayangan Author, terimakasih sudah menjadi para pembaca yang setia dan selalu menemani hari² author💞🌹 Love You buat kalian semua yang selalu tinggalkan jejak sehat dan bahagia selalu ya🍃

1
Lenny Utami
kannnnn kannnnn kannn bener....🤭 sok galak
Lenny Utami
ahhh masih cinta itu mah.😌
Lenny Utami
ohhh karena patah hati rupanya...
Lenny Utami
dirga...😬
Lenny Utami
sabar Serena. galaknya Abang satu nii...
Lenny Utami
balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah 🤭
Lenny Utami
Serena mau kerja di kebon sawit, dr pada GK dapet² kan..
Lenny Utami
serena😭
Lenny Utami
semangat kaka
Lenny Utami
cantiknya serena
Lenny Utami
dih Dirga emosian🤭
Lenny Utami
sabar dirga sabar, Serena punya alasan tersendiri...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!