NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 29: Ketika Es Mulai Retak

Rekonsiliasi hangat di bawah rintik gerimis sore itu membawa babak baru yang jauh lebih tenang di kediaman Arthur.

Namun, bagi Adrian, runtuhnya kesalahpahaman tentang surat cerai di dalam laci justru membuka gerbang kesadaran lain yang lebih mendalam.

Pria itu menyadari bahwa es di dalam hatinya tidak hanya telah retak oleh kehadiran Gisella, melainkan mulai hancur berkeping-keping, memaksa struktur logikanya yang kaku untuk beradaptasi dengan sesuatu yang tidak memiliki rumus pasti: rasa takut kehilangan yang teramat sangat.

Jumat pagi dimulai dengan atmosfer yang tidak biasa.

Adrian, yang biasanya sudah menghilang ke laboratorium universitas sejak pukul tujuh pagi, hari ini masih duduk tenang di meja makan pada pukul delapan lewat tiga puluh menit.

Gisella masuk ke ruang makan setelah menyelesaikan rutinitas paginya, agak terkejut mendapati suaminya masih asyik membolak-balik lembaran cetak tebal dengan secangkir kopi hitam yang mulai mendingin di sampingnya.

"Kau tidak ada jadwal mengajar atau asistensi riset hari ini, Profesor?"

tanya Gisella sembari mengambil tempat duduk di sisi kanan Adrian, bukan lagi di ujung meja yang jauh.

Adrian menurunkan kertasnya, menatap Gisella dari balik kacamata peraknya.

"Jadwal utamaku hari ini adalah memastikan subjek pengamatanku tidak melakukan gerakan impulsif yang bisa mencederai pergelangan kakinya lagi seperti kemarin."

Gisella menahan senyum, menuangkan air putih ke gelasnya.

"Itu hanya kecelakaan kecil karena karpet yang tertekuk, Adrian. Analisis fisikmu terlalu berlebihan."

"Dalam sains, tidak ada yang disebut kecelakaan kecil, Gisella. Setiap akibat memiliki sebab struktural,"

balas Adrian lempeng, namun tangannya bergerak menggeser sepiring roti panggang gandum dengan selai blueberry rendah gula ke hadapan Gisella.

"Makanlah. Kau membutuhkan kalori tambahan untuk latihan pianomu sore nanti."

Valerie yang baru saja masuk dan bersiap mengambil segelas susu, menghentikan langkahnya sejenak.

Dia menatap interaksi manis namun kaku di hadapannya, lalu menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi dramatis.

"Kak Adrian, jika kau terus menatap Gisella seperti seorang kurator yang takut lukisan berharganya dicuri orang, aku bersumpah tingkat kemanisan di rumah ini akan merusak kesehatan gigiku," goda Valerie tanpa rasa takut.

"Valerie, habiskan susumu dan segera berangkat ke galeri,"

sahut Adrian dingin, meski semburat merah tipis sempat mampir di telinganya, membuat Gisella tak bisa menahan tawa renyahnya yang memenuhi ruangan.

Namun, retaknya es di hati Adrian tidak hanya membawa kehangatan, melainkan juga memicu insting protektif yang berada di ambang batas obsesi.

Pria itu mulai menyadari bahwa sisa waktu dua minggu dalam perjanjian mereka adalah garis batas yang sangat nyata.

Dokumen hukumnya telah dihancurkan, yang berarti dia kini benar-benar bergantung pada sukarela jiwa di dalam tubuh Gisella untuk memilih tinggal.

Pukul dua siang, saat Gisella sedang berada di perpustakaan pribadi lantai bawah untuk mengembalikan beberapa buku sejarah kota Aethelgard, Adrian masuk tanpa suara.

Pria itu melepaskan mantel rajutnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku.

Dia tidak berbicara.

Dia hanya berjalan mendekati rak buku tempat Gisella berdiri, lalu berdiri tepat di belakangnya.

Ketika Gisella hendak berbalik setelah meletakkan sebuah buku tebal, dia mendapati tubuhnya sudah terkepung oleh aroma mint dan kayu cendana yang familier.

Kedua tangan Adrian bertumpu pada rak kayu di kiri dan kanan kepala Gisella, mengunci wanita itu dalam jarak yang sangat intim.

"Adrian?"

Gisella mendongak, matanya membelalak menatap intensitas yang teramat pekat di dalam manik mata suaminya.

"Ada apa? Kau mengejutkanku."

Adrian menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat jernih Gisella.

"Aku baru saja menerima laporan dari tim hukum keluarga Arthur. Julian telah menandatangani surat pernyataan pelepasan hak dan seluruh bukti palsunya telah disita oleh kepolisian kota. Dia akan dipindahkan ke penjara distrik luar besok pagi."

Gisella mengembuskan napas lega yang teramat sangat.

 Beban masa lalu yang menggelantung di tubuh ini akhirnya patah sepenuhnya.

"Terima kasih, Adrian. Kau benar-benar menyelesaikan janjimu."

"Ya, masalah Julian sudah selesai,"

ucap Adrian, suaranya terdengar berat dan serak. Genggaman tangannya pada rak kayu di samping Gisella mengencang.

"Artinya, tidak ada lagi ancaman luar yang menahanmu di sini. Tidak ada lagi utang masa lalu, tidak ada lagi alasan hukum. Kau... sepenuhnya bebas, Gisella."

Gisella menangkap getaran kerapuhan yang teramat asing dari suara sang profesor kaku.

Di balik tatapan matanya yang tajam, ada ketakutan purba seorang pria yang sedang menunggu vonis dari wanita yang dicintainya.

"Kau menakutiku dengan tatapan ini, Adrian,"

bisik Gisella lembut.

Dia mengangkat kedua tangannya, memberanikan diri menyentuh dada bidang Adrian, merasakan detak jantung pria itu yang berpacu tidak beraturan melalui kain kemeja putihnya.

"Apakah kau masih meragukan jawabanku?"

Adrian melepaskan satu tangannya dari rak buku, lalu bergerak menangkap jemari lentik Gisella yang berada di dadanya.

Dia membawa jemari itu ke bibirnya, mengecup punggung tangan Gisella dengan kelembutan yang begitu dalam, membuat bulu kuduk Gisella meremang.

"Logikaku mendikte bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis, Gisella. Kau bisa saja berubah pikiran saat hari ketiga puluh itu tiba,"

bisik Adrian tepat di depan wajah Gisella.

 "Es di hatiku sudah retak sepenuhnya karena dirimu, dan jika kau memilih untuk berjalan keluar dari rumah ini saat waktu itu habis... serpihannya akan menghancurkan seluruh duniaku. Aku tidak sedang meragukanmu, aku hanya sedang mengakui ketidakberdayaanku di hadapanmu."

Mendengar pengakuan yang begitu telanjang dari seorang karakter utama yang dalam cerita aslinya terkenal kejam dan tak punya hati, pertahanan emosional Gisella meleleh seketika.

Jiwanya yang semula hanya berniat bertahan hidup, kini telah sepenuhnya terikat pada kerapuhan pria jenius di hadapannya ini.

Gisella berjinjit sedikit, mengikis sisa jarak di antara mereka, lalu menyandarkan keningnya pada kening Adrian.

"Dengar aku, Adrian Arthur,"

ucap Gisella dengan nada suara yang penuh dengan kepastian mutlak seorang profesional humas yang sedang mengunci kesepakatan seumur hidup.

"Jiwa yang ada di dalam tubuh ini tidak pernah terbiasa mengingkari janji. Sisa dua minggu ini bukan lagi masa percobaan bagimu, melainkan masa persiapan bagiku untuk belajar bagaimana menjadi Nyonya Arthur yang sesungguhnya di sisimu. Berhentilah membuat kalkulasi ketakutan di dalam kepalamu."

Adrian tertegun selama beberapa detik, membiarkan kata-kata Gisella meresap ke dalam pusat logikanya.

Perlahan, sebuah senyuman tipis namun sangat tulus terbit di wajah tampannya—sebuah pemandangan langka yang sanggup meruntuhkan sisa-sisa hawa dingin di dalam

perpustakaan tua tersebut.

Dengan gerakan yang penuh kasih, Adrian melingkarkan kedua lengannya di sekeliling pinggang Gisella, mendekap wanita itu erat-erat ke dalam dadanya, menyelaraskan detak jantung mereka yang kini tidak lagi berjalan dalam ritme ketakutan, melainkan sebuah simfoni baru yang siap mereka mainkan bersama hingga hari ketiga puluh dan seterusnya.

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!