Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.
Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.
Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Reno mengepalkan tangan. "Mbak..."
"Kamu dan Karin sudah menjadi musuh publik. Dulu orang mungkin masih mau mendengar penjelasan kalian. Tapi sekarang? Setiap tindakan justru menambah masalah." Rida menarik napas panjang. "Karin berpikir popularitas bisa dibeli dengan giveaway dan konten. Padahal yang hilang dari kalian bukan jumlah pengikut."
"Terus?"
"Kepercayaan."
Reno menatap lantai. Ia tidak bisa membantah. Apa yang dikatakan kakaknya benar.
Rida kembali berbicara, kali ini dengan suara yang lebih pelan. "Sementara itu, lihat Nadia. Dia tidak menyerang balik. Dia tidak menghina. Dia hanya menunjukkan fakta. Justru karena itu, orang kembali memihaknya."
Ruangan kembali hening. Untuk pertama kalinya, Reno mulai menyadari bahwa masalah yang mereka hadapi bukan sekadar komentar di media sosial. Nama baik yang rusak telah merembet ke kehidupan nyata, termasuk usahanya yang telah tutup dan kepercayaan orang-orang di sekitarnya.
"Aku datang bukan untuk menghakimi. Aku cuma ingin kamu sadar. Selama Karin masih menganggap semua ini adalah permainan opini, hidup kalian tidak akan pernah benar-benar tenang."
Reno menundukkan kepala. Kata-kata kakaknya terus terngiang di benaknya. "Lalu... aku harus bagaimana, Mbak?"
Rida menatap adiknya beberapa saat sebelum menjawab. "Kalau menurutku, kamu harus memperbaiki hidupmu mulai dari akar masalahnya."
"Maksud Mbak?"
"Kalau memang kamu masih menyesal atas semua yang terjadi, mintalah maaf dengan tulus kepada orang yang pernah kamu sakiti."
Reno menghela napas. "Tapi kan netizen sudah benci sama aku, Mbak."
Rida mengangguk pelan. "Iya. Dan kebencian itu muncul karena keputusan yang kamu ambil sendiri."
"Jadi... nggak ada jalan?"
"Ada. Kamu tinggal memanfaatkan keadaan. Sekarang yang aktif di medsos kan Karin, kalau kamu kembali pada Nadia, kamu tinggal tuduh saja kalau retaknya rumah tangga kamu dan Nadia karena ulah Karin. Kapan perlu katakan dia mengguna-guna kamu agar berpaling dari Nadia. Mbak tahu cara membuat skenario agar netizen percaya. Yang penting sekarang kamu harus bisa kembali pada Nadia!"
Ucapan itu membuat Reno kembali terdiam. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa harusnya ia tak berpisah dengan Nadia. Mantan istrinya itu membawa rezeki untuk Reno. Seperti yang dikatakan orang, beda istri maka beda pula rezekinya.
***
Sore itu, Reno berdiri di depan sebuah toko mainan cukup lama. Pandangannya berkeliling memilih berbagai hadiah yang menurutnya pasti disukai anak-anak. Sebuah mobil remote control, satu set balok susun, buku cerita bergambar, hingga sekotak cokelat dan camilan favorit Kian masuk ke dalam keranjang belanja.
Setelah semuanya dibayar, Reno memandangi tumpukan bingkisan di kursi mobilnya sambil tersenyum tipis. "Kian pasti senang." Di benaknya telah tersusun sebuah rencana.
Selama ini ia menyadari bahwa hubungan dengan Nadia sudah rusak. Mendekati Nadia secara langsung hampir mustahil dilakukan. Namun menurutnya, masih ada satu jalan yang bisa ditempuh. Kian.
"Kalau aku bisa mengambil hati Kian, semuanya akan lebih mudah." Reno menyalakan mesin mobil. "Anak itu pasti ingin ayahnya kembali dekat." Semakin dipikirkannya, semakin yakin ia dengan strateginya. "Nanti Kian sendiri yang akan minta Mamanya memaafkanku." Ia membayangkan Kian memeluknya dengan gembira, lalu memohon kepada Nadia agar mereka bisa menjadi keluarga lagi.
"Kalau Kian sudah di pihakku... Nadia juga akan luluh." Dengan keyakinan itu, Reno menginjak pedal gas menuju kontrakan Nadia. Di kursi belakang, berbagai hadiah tersusun rapi, seolah dapat menggantikan waktu-waktu yang telah hilang dan perhatian yang selama ini tidak pernah ia berikan.
Reno tidak menyadari bahwa kasih sayang seorang anak tidak dibangun dari mahalnya hadiah, melainkan dari kehadiran, perhatian, dan kepercayaan yang tumbuh melalui waktu. Ia pun melaju dengan penuh harap, yakin bahwa sore itu akan menjadi awal untuk merebut kembali hati putranya dan, menurut dugaannya, hati Nadia sekaligus.
Sesampainya di depan kontrakan Nadia, Reno tidak langsung turun dari mobil. Dari kejauhan, ia melihat pintu kontrakan terbuka dan suasana di teras tampak begitu hangat.
Nadia sedang duduk di kursi teras sambil menikmati segelas teh. Di hadapannya, Fahri duduk dengan secangkir minuman yang sama. Keduanya sesekali mengobrol ringan, lalu tersenyum ketika mendengar suara tawa anak-anak.
Sementara itu, Kian dan Ray berlarian di halaman kecil depan kontrakan. Kadang mereka bermain kejar-kejaran, kadang saling melempar bola plastik, lalu tertawa tanpa henti.
Pemandangan sederhana itu membuat langkah Reno terhenti. Tangannya yang hendak meraih bingkisan di kursi belakang perlahan mengendur. Entah mengapa, dari sudut pandangnya, keempat orang itu tampak begitu serasi. Tidak ada kemewahan, tidak ada sesuatu yang istimewa. Namun suasana hangat yang terpancar dari mereka membuat dada Reno terasa sesak.
"Jangan-jangan..." Tatapannya terus tertuju kepada Fahri. "Apa jangan-jangan Nadia memang ada hubungan dengan lelaki itu?"
Ingatannya kembali pada beberapa kejadian sebelumnya. Saat acara sekolah, Nadia datang bersama Fahri. Setelah pembagian rapor, Nadia juga pergi menonton bersama Fahri, Ray, dan Kian. Kini, sore itu, Fahri kembali berada di rumah kontrakan Nadia.
"Sudah berapa kali mereka bersama..." Reno mengepalkan tangan di atas kemudi. "Masa semuanya cuma kebetulan?"
Semakin lama ia memandang, semakin kuat rasa cemburu yang menguasai pikirannya. Ia merasa seolah ada orang lain yang perlahan mengisi tempat yang dahulu pernah menjadi miliknya.
Padahal tidak ada satu pun sikap mesra yang ia lihat. Fahri duduk dengan sopan, menjaga jarak, dan lebih sering memperhatikan anak-anak daripada berbincang panjang dengan Nadia. Namun bagi Reno, kenyataan bahwa Fahri hadir dalam beberapa momen penting kehidupan Nadia sudah cukup membuat hatinya gelisah.
"Aku nggak rela..." Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya. "Aku nggak rela Nadia bersama dia." Rasa cemburu itu bercampur dengan penyesalan, amarah, dan kehilangan. Semuanya berputar menjadi satu hingga membuat Reno sulit berpikir jernih.
Tanpa jadi turun dari mobil, ia menyalakan mesin dan memutar balik kendaraannya. Bingkisan yang semula ingin diberikan kepada Kian tetap tergeletak di kursi belakang. Alih-alih pulang untuk menenangkan diri, Reno justru mengarahkan mobilnya berkeliling tanpa tujuan. Ia berharap keramaian bisa mengalihkan pikirannya dari bayangan Nadia dan Fahri yang terus menghantui benaknya. Namun, semakin ia berusaha melupakan pemandangan di teras kontrakan itu, semakin jelas pula bayangan senyum Nadia yang kini tampak kembali menemukan ketenangannya.
Malam itu, Reno melajukan mobilnya tanpa tujuan yang jelas. Bayangan Nadia yang duduk berbincang bersama Fahri terus memenuhi pikirannya. Semakin ia mengingat pemandangan di teras kontrakan itu, semakin sesak dadanya.
Tanpa sadar, ia berhenti di sebuah tempat hiburan malam yang dulu sering ia datangi bersama teman-temannya. Lampu-lampu berwarna-warni, dentuman musik yang keras, dan riuh tawa pengunjung seolah menawarkan pelarian dari kekacauan yang sedang ia rasakan.