Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.
Namun, kematian itu hanyalah awal.
Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.
Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?
Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Mata yang Mengawasi
#
Begitu Wisnu pulang dari restoran itu, dia langsung duduk di ruang kerjanya yang gelap, nggak nyalain lampu, cuma duduk di kegelapan itu, dan dia mikir, keras banget, tentang cara Rendra Alief ngomong, tentang cara pria itu ngeliatin matanya, tentang something yang keliatan familiar dalam gesture-gesture kecil yang nggak penting tapi somehow important.
Dia pick up telepon, dan call someone yang probably nggak dia should call, tapi dia calling anyway soalnya paranoia sudah taking over rationality-nya, "aku mau kamu investigate seseorang. Nama Rendra Alief. Punya perusahaan investasi, Alief Capital. Cari tau segalanya. Background, family, siapa orangtua-nya, di mana dia sekolah, SEMUA. Dan aku mau report-nya dalam dua hari."
Voice di ujung telepon bergetar sedikit, "Wisnu, itu... itu kerjaan yang nggak bisa selesai dalam dua hari, especially kalo orangnya punya connection yang bisa tutup tutup track-nya."
"Aku nggak care," Wisnu potong, sharp, suaranya scary banget dari dingin-nya, "dua hari. Itu semua yang saya kasih."
Wisnu gantung telepon, dan dia sit there, di tengah kegelapan ruang kerjanya yang keliatan kayak cave ini, dan dia start mentally trace through every interaction yang dia pernah punya dengan Rendra Alief.
Cara dia approach investasi di divisi properti, cara dia understand struktur finansial Hartono Group dengan detail yang scary-accurate, cara dia somehow know exactly di mana leverage-point yang paling efektif, it's like pria ini udah study Hartono Group-nya dari within, or at least, understand family dynamic-nya dengan intimacy yang nggak seharusnya possible.
Two days later, investigator yang di-hire Wisnu dateng dengan hasil yang bikin pria itu even more paranoid.
"Riwayat kosong," investigator-nya bilang, nervous banget, "dari sebelum tujuh tahun lalu, ada nothing. Nggak ada akte kelahiran yang official, nggak ada rekam jejak sekolah, nothing. Semuanya start dari tujuh tahun lalu, when dia supposedly start Alief Capital dari Singapore."
"Itu impossible," Wisnu bilang, suaranya quiet tapi dangerous, "every person punya riwayat. Bahkan orang yang supposedly 'dibuat' identitas baru pun punya jejak sebelumnya."
"Yah, that's what we thought too," investigator-nya lanjutin, "tapi yang kita temukan adalah, riwayat sebelum tujuh tahun lalu-nya, it's like... it's like sengaja dihapusin. Profesional. Expensive. Dan yang makes it even more suspicious adalah, the pattern dari 'deletion' ini, it's similar ke pattern yang sering digunakan oleh orang orang yang punya serious resources dan serious motive untuk completely reinvent themselves."
Wisnu ngerasain chill yang run down his spine, dan dia stand up, jalan ke jendela, ngeliatin kota Jakarta yang malam itu keliatan terang terangin oleh ribuan lampu.
"Apakah ada yang keliatan familiar?" Wisnu nanya, to himself more than to investigator-nya, "anything yang bisa kasi clue siapa dia sebelumnya?"
"Ada," investigator-nya bilang, slowly, carefully, "ada beberapa orang yang investigate Rendra Alief independently, termasuk seorang jurnalis bernama Wulandari Kusuma. Dia punya file yang quite extensive tentang latar belakang Rendra, dan... dan file-nya keliatan comprehensive, seperti dia sudah investigating this untuk waktu yang long."
Wisnu instantly alert, "jurnalis? Wulandari Kusuma? Dia yang investigation kasus ledakan pabrik dulu?"
"Yes, sir. Sama orang. Dan apparently, dia dan Rendra Alief pernah have interaction, at economic forum, several months ago. Mereka keliatan saling argue soal investor transparency."
Wisnu stand diem, seolah olah semua pieces suddenly start clicking together di kepalanya, dan dia realize, dengan growing sense dari panic, bahwa maybe, maybe ini bukan hanya about Rendra Alief, mungkin ada coordination, mungkin ada network, maybe ada conspiracy yang way bigger dan way older than yang dia bisa bayangkan.
"Aku mau kamu do something," Wisnu bilang, suaranya keliatan kayak es, "aku mau kamu tap Wulandari Kusuma. Follow-in dia, monitor semua komunikasi-nya, siapa aja yang dia meet, di mana aja dia go. Dan juga... juga do the same buat Rendra Alief. Monitor semua interaction-nya, terutama interaction dengan Broto, dengan Sasha, dengan anyone yang dekat dengan keluarga saya."
"Wisnu," investigator-nya sound hesitant, "itu illegal, itu wiretapping, itu—"
"Aku nggak care," Wisnu cut him off, and his voice jadi so cold, so devoid of emotion, "this is my family, my empire. Dan kalo ada sesuatu yang threatening itu, aku mau tau everything. Call in Raditya. Tell him aku need his resources untuk this. Tell him ini priority tinggi. Tell him, if this leak out, both of us go down."
Begitu investigator-nya keluar, Wisnu sit balik di kursi-nya, dan dia start pacing, nervously, repeatedly, going back to mental image dari Rendra Alief, trying so hard untuk place that familiarity, trying hard untuk understand dimana dia pernah liat mata itu before, dimana dia pernah denger voice itu before.
Dan tiba tiba, kayak lightning strike, ada thought yang flash through his mind, thought yang so horrifying, so terrifying, that untuk beberapa detik, dia literally can't breathe, can't move, dapat't think nothing.
What if... what if it's not just coincidence? What if the timing, the appearance dari investor yang mysterious ini right after ledakan pabrik, right after Damar "meninggal", what if this is...
Dia stop pacing, dan dia literally grip edge dari desk-nya sampai knuckles-nya berubah white.
"Nggak," dia bisikin ke empty room, "impossible. Dia died. Dia confirmed dead. Body didn't surface, tapi... semua evidence point ke that direction."
Tapi bahkan habis bilang itu, Wisnu nggak fully convinced himself, dan doubt, paranoia, dan fear, they start spreading dalam otaknya seperti virus, consuming his rationality, eating away at his certainty, creating space untuk possibility yang paling horrifying yang bisa dia imagine.
Malem itu, Wisnu nggak bisa tidur. Dia sit di balcony-nya, smoking cigarettes yang biasanya dia nggak smoke, dan dia think tentang Damar, tentang wajah Damar yang terakhir kali dia liat itu, di ruang sidang, full dari kesedihan dan kepuasan, dan dia wonder, wonder dengan horror yang mendalam, apakah pria itu bener bener mati, atau apakah pria itu hanya pergi, menghilang, transform, dan sekarang come back dalam bentuk that Wisnu nggak recognize, in form yang designed specifically untuk destroy everything yang Wisnu punya built.