NovelToon NovelToon
ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:283.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Diandra menganggap satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari ketidakbahagiaan atas pernikahannya adalah cerai.
💔💔💔
Nasihat siapapun tidak didengarnya. Hingga nekat diam-diam mendaftarkan perceraian.
💔💔💔
Lalu, setelah palu diketuk, barulah ia sadar ternyata hidupnya tidaklah lebih baik dibandingkan menjadi istri Ben. Apalagi setiap hari ia harus menghadapi rengekan Caca dan Cici yang minta bertemu dengan ayahnya.
💔💔💔
Kini, Diandra harus berusaha keras mendapatkan kembali hati Ben, meski di sisi Ben sudah ada perempuan lain yaitu Nasya yang siap menemani Ben dikala susah dan senang. Penyesalan memang selalu datang terlambat, lalu langkah apa yang harus dilakukan Diandra untuk mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Pulang Ke Rumah Ibu

Hatiku benar-benar panas. Aku tidak terima atas apa yang ia ucapkan. Apalagi menyamakan rumahku dengan rumah burung. Jahat sekali! Ini benar-benar sudah menghina habis-habisan. Begitu mengecilkan aku. Kalaupun ia melihat rumahku kecil, ya sudah, tidak perlu dibicarakan juga.

"Semoga Tuhan membalas kamu Bu Fenti. Saya benar-benar sakit hati dengan kata-kata kamu!" aku berlalu ke dalam tanpa mempedulikan siapapun.

"Lho Bu Di kenapa nyumpahin saya seperti itu? Kan saya ngomong apa adanya. Terus main pergi saja. Dasar tidak punya sopan santun! Lihat tuh Bu RT, kelakuan warga ibu yang ...." masih terdengar Omelan dari mulut Bu Fenti, tapi tidak lagi kuacuhkan hingga benar-benar tidak terdengar.

Sampai di dalam rumah. Aku langsung mengunci pintu rapat-rapat. Kemudian menjatuhkan diri di lantai. Menangis sejadi-jadinya untuk melepaskan segala kekesalanku. Sakit sekali ya Allah, dibuat oleh nenek lampir itu.

"Dasar perempuan enggak punya hati. Wajah boleh cantik, duit boleh banyak, tapi enggak ada otak. Ngomong sembarangan aja, tidak pakai saringan. Kebanyakan makan uang haram sih, makanya mudah saja nyakitin perasaan orang lain!" aku mengomel dengan air mata berlinang.

Dulu sikap Bu Fenti tidak semenyebalkan ini. Ia cukup baik, bahkan suka sekali memberikan makanan pada Caca dan Cici. Aku menyadari perubahan itu saat ia mengemukakan isi hatinya ingin memperluas rumahnya, seperti rumah Bu RT dan rumah tetangga kami yang lain. Padahal sebenarnya rumah Bu Fenti sudah luas. Beda tipe dengan rumahku. Ia tipe seratus lima, sedangkan aku tipe tiga puluh enam.

Bu Fenti ingin membeli rumah kami agar rumahnya makin luas. Seperti yang dilakukan Bu Darna yang ada di ujung gang. Tapi aku tidak bersedia menjualnya karena belum tahu mau pindah kemana. Sejak itu Bu Fenti berubah sikap jadi aneh. Tidak pernah lagi menyapaku, mengajak Caca dan Cici bicara. Kalaupun ia bersuara itu pasti untuk menyindir atau mengolokku, seperti yang ia lakukan tadi.

Padahal aku tidak pernah julid apalagi ikut campur urusan keluarganya. Siapa yang tidak tahu rahasia bahwa suaminya adalah salah satu pejabat yang koruptor, makanya uangnya banyak. Itu adalah rahasia umum di komplek ini. Semua orang selalu menjadikan suami Bu Fenti sebagai bahan gunjingan. Tetapi perempuan yang hanya terpaut satu tahun dariku itu tidak pernah sadar diri, selalu menganggap dirinya suci.

Jadi, semua harta kekayaan yang ia miliki sekarang adalah hasil dari merampok rakyat. Harusnya ia malu, tetapi Bu Fenti seperti tidak punya malu, selalu bangga memamerkan tas, sepatu dan pakaian barunya pada tetangga kiri dan kanan. Padahal itu uang korupsi.

***

Dari balik jendela aku melihat kondisi di luar. Sudah tidak ada Bu Fenti ataupun Bu RT. Buru-buru aku keluar rumah dengan memakai masker dengan harapan tidak ada yang mengenaliku.

"Eh bu burung keluar dari sarangnya!" seri Bu Fenti yang sedang berdiri di antara kembangnya, ia memang tidak melihat ke arahku, tapi aku sangat yakin bahwa yang dibicarakan sebagai ibu burung itu adalah aku.

"Sabar ... sabar Diandra. Tidak usah didengarkan. Kalau dia bilang aku ibu burung, dia ibu rampok!" kataku dalam hati, sambil tersenyum.

"Kasihan sekali, kemana-mana jalan kaki, baling barter naik angkot atau motor butut. Namanya juga Bu burung hihihi." katanya lagi.

Sudah Diandra, tidak mempedulikan nenek lampir itu, anggap saja angin lalu." sambil bersenandung dalam hati aku berlalu tanpa melengos sedikitpun pada tetangga julidku tersebut.

***

Aku berhenti tepat di depan pagar rumah bercat biru muda. Rumah yang ukurannya sedikit lebih besar dari rumah tempat kami tinggali sekarang. Rumah ini adalah rumah ibu, dimana aku lahir dan tumbuh besar sebelum akhirnya diboyong oleh Ben ke rumah yang disebut sarang burung oleh tetangga julidku.

Rumah ini penuh kenangan sebab di sini aku menghabiskan hari. Meskipun lebih banyak ku lalui dalam kesendirian sebab ibu sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang perawat, bahkan ibu sering mengambil lemburan demi mencukupi kebutuhan kami.

Ada kebanggaan pada ibu, sekaligus kesal ketika ingat Ben. Ibu yang sudah jadi janda di usia muda saja sanggup beli rumah yang lebih besar darinya. Tunai, tanpa KPR. Tapi Ben, ughhhh, aku kembali diselimuti kekesalan. Sampai kapan harus begini.

"Di, apa itu kamu?" sebuah suara membuyarkan lamunanku. Kepala ibu nongol dari jendela depan.

"Iya Bu, ini aku!" seruku, lalu segera membuka pagar, masuk terus ke dalam rumah.

"Tumben datang jam segini. Ada apa?" tanya ibu, sambil meletakkan jahitannya.

Setelah pensiun sebagai seorang perawat, ibu mengisi waktu luangnya dengan menjahit pernak-pernik, hasilnya dititipkan pada toko crafter yang ada di pasar dekat rumah ibu.

"Kangen saja,"

"Enggak biasanya. Sejak kapan kamu punya rasa rindu pada ibu."

"Ada kok, ibu saja yang tidak nyadar. Tapi sekarang rindunya memang bukan ibu, tapi aku rindu ketenangan."

"Di sini bukannya tidak ada ketenangan. Kamu sering bilang begitu, kan?"

"Bu, Diandra sedang tidak ingin nyari masalah sama ibu. Diandra pengen istirahat."

"Kenapa Di?"

"Bosan, capek, BT, kesal!"

"Apa lagi?"

"Diandra muak hidup seperti ini terus dengan Ben,"

"Maksud kamu apa?"

"Diandra ingin bebas. Ingin mewujudkan mimpi-mimpi Diandra. Ingin punya kehidupan yang lebih baik lagi."

"Dengan Ben insyaAllah lebih baik."

"Itu kan kata ibu. Harusnya dulu Diandra nggak mau nurut kata-kata ibu. Harusnya Diandra menolak dijodohkan sama Ben."

"Lho, kenapa?"

"Karena Ben bukan lelaki kaya, dia pemalas, tidak pedulian, menyebalkan!"

"Astagfirullah Di, berhenti menjelekkan suamimu sendiri. Ibu tahu betul Ben tidak seperti itu. Ia lelaki yang baik, bertanggung jawab dan sangat menyayangi kamu serta anak-anak."

"Kata siapa?"

"Kata ibu barusan. Kamu enggak dengar?"

"Tapi beda dengan kesehariannya. Ibu nggak ngerasain karena ibu hanya penonton, bukan yang menjalani."

"Ben selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga kalian. Tapi jika masih kurang, ya berarti baru segitu rezekinya. Kamu harus sabar."

"Sabar sampai kapan Bu? Kami menikah sudah enam tahun, Diandra capek nungguin dia terus."

"Astagfirullah, kamu itu dari tidak berubah juga ya. Masih saja egois. Mementingkan diri sendiri tanpa mau melihat usaha orang lain. Ingat Di, kamu sudah punya anak, bukan waktunya mengedepankan ego sendiri. Ingat anak Di!"

"Justru karena ingat anak makanya Diandra minta lebih."

"Hidup itu harus sabar Di, jangan turuti nafsu, ikut-ikutan sama orang lain terus. Setiap orang beda-beda ujian dan nikmat yang diberikan oleh Allah. Kamu harus belajar untuk menerima takdir, Di. Ingat, kamu itu sudah punya anak, Caca dan Cici akan melihat kamu terus. Jadi jaga sikap dan perilaku Di." ibu terus menyampaikan petuah-petuah yang sama sekali tidak ingin aku dengarkan.

1
kiwi
nagis terus..suka terus...nagis lagi..suka suka suka suka suka..marah..aq juga turut marah...
kiwi
love love love love love love love love
kiwi
suka suka suka suka suka suka suka
Nani Rahayu
semoga mbak Hana diberi keturunan ya Thor 🤭
Nani Rahayu
berpikir lah seribu kali untuk bercerai......apalagi jika suami masih setia masih menafkahi...kalo cari yg sempurna g akan ada
Tutik Rahayu
giliran ketiduran panik kan anak2 ga ada... ben yg ketiduran marah2 ampe minggat
Tutik Rahayu
masih 2 bab uda bagus tp knp like dikit ya...
ga melulu kisah CEO , bagus ini seperti kehidupan real
Mila Karmila
cerita yang indah...ada hikmah yang bisa dipetik....semoga readersnya terus bertambah....tetap semangat thor...tetus berkarya...👍👍👍👍
Ros Minie
udah ga punya kerjaan, ga punya income, minta cerai, bawa anak lagi, ego di besarin, gimana hidupnya bkn enak, tapi malah nyungsep
Ros Minie
blm tau diandra, jalani hidup emang gampang, sesuai dengan kata dan impian, semua itu butuh proses ga njleb langsung ada
Tri Widayanti
Duhhh Diandra
Tri Widayanti
Hadir dengan like👍
Ita Alexis
good job thor...tetap semangat yaaa....
Sartika Tika
jd istri ko GK bersyukur.....gaji cumn sedikit minta beli laptop.....buka usaha aja di rumh ...bikin usaha gorengan kek......miskin aja belagu
Amanda Ayunda
Nasya suka samawa temennya Diandra kali hendri
Amanda Ayunda
kayaknya Anis punya niat rebut Bengi deh
Amanda Ayunda
di sini bisa di ambil hikmah nya bahwa perceraian harus di fikir dengan kepala dingin
Amanda Ayunda
syetan udah merasuki Diandra
Amanda Ayunda
gereget ama Diandra
Amanda Ayunda
kalau pengen hidup tenang ya tinggalin tuh si kembar
Tutik Rahayu: habis cerai pasti nyesel , lbh parah banyak masalah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!