Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Badai Sebelum Pertempuran
Dua hari sebelum Turnamen Internal, kamar asrama Lin Fan terasa seperti ruang hampa. Tidak ada suara angin, tidak ada debu yang beterbangan. Semua energi di ruangan itu terserap ke dalam satu titik pusat: tubuh Lin Fan.
Di pangkuannya, tiga Batu Spirit Menengah terakhir yang ia miliki telah berubah menjadi abu halus. Energi murni dari batu-batu itu mengalir deras ke meridiannya, mengisi setiap celah kosong, memperkuat dinding-dinding saluran Qi hingga setebal baja tempa.
Lin Fan tidak terburu-buru. Ia ingat pelajaran pahit dari kehidupan sebelumnya: Kecepatan tanpa kestabilan adalah jalan menuju kehancuran. Banyak jenius muda meledak Dantiannya karena memaksakan kenaikan level terlalu cepat tanpa memadatkan fondasi.
Ia membiarkan Qi-nya berputar dalam siklus Naga Chaos selama seratus putaran penuh. Setiap putaran memampatkan energi cair di Dantiannya, mengubahnya dari kabut tipis menjadi aliran sungai yang deras dan padat.
Krak...
Suara retakan halus terdengar dari dalam tubuhnya. Bukan tulang, tapi batas antara Tingkat 4 Awal dan Tingkat 4 Puncak.
Dengan napas terakhir yang dalam, Lin Fan mendorong seluruh energinya ke depan. Dantiannya bergetar hebat, lalu tiba-tiba menjadi tenang. Sepi. Stabil. Kuat.
Ia membuka matanya. Pupilnya hitam pekat, namun jika diperhatikan dengan saksama, terdapat kilatan emas samar di dalamnya—tanda bahwa fondasinya telah mencapai kesempurnaan.
Tahap Pembukaan Meridian Tingkat 4 Puncak.
Bukan sekadar naik level. Ini adalah Tingkat 4 dengan kualitas Qi setara dengan Tingkat 5 biasa. Meridiannya lebar, elastis, dan mampu menampung ledakan energi mendadak tanpa rusak. Tubuhnya terasa ringan, namun setiap ototnya dipenuhi kekuatan laten yang siap meledak kapan saja.
"Akhirnya," gumam Lin Fan,
mengepalkan tangan. Ia merasakan perbedaan drastis. Jika kemarin ia harus berhati-hati melawan Li Tianhao (Level 5), sekarang ia yakin bisa menahan serangan langsungnya dan bahkan memberikan balasan yang mematikan.
Ia bangkit, membersihkan abu batu spirit, dan membuka jendela. Udara pagi yang segar masuk, membawa suara keramaian dari luar.
Turnamen sudah dekat. Dan akademi sedang dalam keadaan siaga penuh.
Plaza Utama Akademi Langit Biru telah diubah menjadi arena sementara. Panggung besar didirikan di tengah, dikelilingi oleh tribun kayu bertingkat yang bisa menampung ribuan penonton. Bendera-bendera biru langit berkibar kencang, dan aroma makanan jalanan serta ramuan obat memenuhi udara.
Suasana kemeriahan ini kontras tajam dengan ketegangan yang dirasakan para peserta.
Lin Fan berjalan melewati kerumunan siswa yang sedang berlatih terakhir kali. Ia melihat Bao Da sedang memukul karung pasir raksasa. Setiap pukulannya menghasilkan suara gemuruh rendah, dan karung pasir itu tidak hanya terpental, tapi bergetar hebat seolah-olah isinya hancur. Teknik Gema Bumi sudah mulai ia kuasai.
Di sudut lain, Zhang Wei berdiri diam dengan mata tertutup, memegang pedang kayunya. Ia tidak bergerak, tapi daun-daun kering di sekitarnya perlahan terbelah dua saat jatuh mendekatinya. Teknik Pedang Niat Hampa mulai menunjukkan hasil.
Mereka melihat Lin Fan dan tersenyum. Mereka bisa merasakan perubahan aura Lin Fan. Ia tidak lagi terlihat seperti remaja biasa. Ada gravitasi di sekelilingnya, semacam tekanan halus yang membuat orang insting ingin memberi jarak.
"Kau terlihat... berbahaya," kata Zhang Wei saat Lin Fan mendekat.
"Aku hanya merasa lebih jelas," jawab Lin Fan sederhana.
"Siapkan mental kalian. Undian akan dilakukan siang ini."
Tiba-tiba, sorakan keras terdengar dari arah panggung utama.
Li Tianhao muncul, diapit oleh pengawalnya. Ia mengenakan jubah sutra putih baru dengan bordir emas, tampak angkuh dan percaya diri. Di tangannya, ia memainkan sebuah pedang kecil berkilau—senjata tingkat Artefak Spirit Tinggi yang pasti harganya selangit.
"Dengarkan semua!" teriak Li Tianhao, suaranya diperkuat oleh Qi.
"Aku, Li Tianhao, menyatakan bahwa aku akan menjadi Juara Turnamen ini! Siapa pun yang berani menghalangi jalanku, akan kuhancurkan tanpa ampun!"
Sorakan pendukungnya membubung tinggi. Namun, banyak siswa lain memandang dengan sinis. Li Tianhao dikenal kasar dan sering menggunakan pengaruh ayahnya untuk menang secara tidak adil.
Matanya menyapu kerumunan, mencari target. Tatapannya berhenti pada Lin Fan.
Senyum licik muncul di wajahnya. Ia mengangkat dagu, menantang.
Lin Fan tidak bereaksi. Ia hanya menatap balik dengan dingin, lalu berbalik pergi. Reaksi itu membuat Li Tianhao geram. Ia mengharapkan rasa takut atau kemarahan. Tapi Lin Fan memberinya... ketidakpedulian. Bagi Lin Fan, Li Tianhao hanyalah batu loncatan, bukan ancaman eksistensial.
"Hmph! Lihat nanti di arena!" geram Li Tianhao pelan.
Sore harinya, upacara undian resmi dimulai. Seluruh siswa angkatan baru berkumpul di Plaza. Dewan Tetua duduk di panggung, termasuk Tetua Wang yang tersenyum tipis, matanya licik mengamati Lin Fan.
Seorang tetua tua mengambil bola kristal besar berisi nama-nama peserta.
"Babak pertama adalah sistem gugur," pengingat tetua itu.
"Setiap pasangan akan bertarung hingga salah satu menyerah atau pingsan. Tidak ada aturan khusus, kecuali dilarang membunuh lawan secara sengaja."
Dilarang membunuh secara sengaja, pikir Lin Fan. Kata-kata yang longgar. 'Kecelakaan' selalu bisa terjadi.
Nama-nama mulai dipanggil.
"Bao Da vs Chen Hao (Klan Besi)!"
"Zhang Wei vs Liu Feng (Klan Angin)!"
"Mei Ling vs Su Qingxue!" (Sorakan kaget
terdengar. Mei Ling menghadapi Pilar!)
Dan akhirnya...
"Lin Fan vs... Gu Yichen!"
Hening seketika.
Semua mata tertuju pada Lin Fan, lalu pada sosok misterius bertopeng yang berdiri di pojok paling gelap. Gu Yichen, sang misteri yang belum pernah menunjukkan kekuatannya secara penuh.
Ini adalah pertandingan paling dinanti. Anomali vs Misteri.
Tetua Wang tersenyum puas di kursinya. Bagus. Biarkan mereka saling menghancurkan. Atau setidaknya, Gu Yichen akan menghabiskan tenaga Lin Fan, sehingga Li Tianhao bisa menghabisinya dengan mudah di babak berikutnya jika undian diatur ulang nanti.
Lin Fan menatap Gu Yichen. Pemuda bertopeng itu tidak bergerak. Tapi Lin Fan bisa merasakan tatapan intens dari balik topeng itu.
Gu Yichen perlahan mengangkat tangan, memberikan isyarat salam kecil. Lalu, ia berbalik dan menghilang ke dalam kerumunan, seolah-olah ia sudah tahu hasil pertarungan ini.
Lin Fan menarik napas dalam. Lawan pertamanya bukan Li Tianhao. Tapi seseorang yang mungkin lebih berbahaya karena ketidakpastiannya.
"Malam ini, istirahatlah," kata Lin Fan pada Bao Da dan Zhang Wei.
"Besok, kita tunjukkan pada mereka apa artinya menjadi jenius sejati."
Matahari terbenam, mewarnai langit ibu kota dengan merah darah. Kemeriahan festival berubah menjadi ketegangan senyap. Setiap siswa kembali ke kamarnya, mempersiapkan senjata, pil, dan mental mereka.
Lin Fan duduk di tepi tempat tidurnya, memandangi bulan sabit. Ia tidak takut. Justru, ia merasa bersemangat.
Pertarungan melawan Gu Yichen akan menjadi ujian pertama bagi fondasi barunya. Dan Lin Fan berencana untuk menang dengan cara yang akan mengguncang seluruh akademi.