NovelToon NovelToon
Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:62.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.

Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.

Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.

"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Malam semakin larut ketika sebuah mobil mewah memasuki halaman kediaman keluarga Baskara. Carolin mematikan mesin mobilnya dengan wajah yang tampak letih. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil memejamkan mata sejenak.

Hari itu benar-benar melelahkan. Bukan karena jadwal pemotretan yang padat. Melainkan karena beberapa kabar buruk yang datang berturut-turut. Dua kontrak kerja sama yang seharusnya ditandatangani hari itu mendadak dibatalkan.

Salah satu proyek iklan yang telah dipersiapkan selama berminggu-minggu juga gagal karena pihak klien memilih wajah baru sebagai brand ambassador.

Bagi orang lain, mungkin itu hal biasa. Namun, bagi Carolin, setiap kontrak yang hilang berarti langkah mundur dalam karier yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Menjadi model papan atas bukan sekadar pekerjaan itu adalah impiannya.

Alasan mengapa ia rela melakukan apa pun agar tetap berada di puncak. Namun, belakangan ini, semuanya terasa mulai berubah. Persaingan semakin ketat. Model-model muda mulai bermunculan. Dan perlahan, namanya tidak lagi menjadi pilihan utama bagi beberapa perusahaan.

Carolin mengembuskan napas panjang.

"Kenapa semuanya jadi berantakan begini..." Gumamnya pelan. Ia meraih tasnya, lalu turun dari mobil.

Malam terasa begitu sunyi. Begitu memasuki rumah, suasana yang tenang langsung menyambutnya. Tidak ada suara tangisan Aurora. Tidak ada suara pelayan yang mondar-mandir. Rumah itu terasa jauh lebih damai dibanding biasanya. Carolin melepas sepatu hak tingginya dan meletakkannya di dekat pintu. Tatapannya kemudian mengarah ke garasi yang terlihat dari jendela samping.

Mobil Evan sudah terparkir rapi. Berarti suaminya sudah pulang.

"Evan sudah di rumah." Bisiknya pelan.

Entah mengapa, perasaannya sedikit lega. Meski hubungan mereka belakangan sering diwarnai perdebatan, setidaknya malam ini ia tidak pulang ke rumah yang kosong. Carolin melangkah perlahan memasuki ruang tamu. Tatapannya menyapu setiap sudut rumah.

Ia mengerutkan kening.

"Aneh..." Biasanya pada jam seperti ini Aurora akan terbangun dan menangis meminta susu. Namun, malam ini, tidak terdengar suara apa pun. Carolin pun melangkah menuju lantai atas dengan rasa penasaran yang semakin besar. Tanpa ia sadari, malam itu, ada sesuatu di rumahnya yang perlahan mulai berubah.

Carolin membuka pintu kamar dengan langkah yang berat. Begitu masuk, ia sedikit terkejut melihat Evan sudah berada di dalam.

Pria itu baru selesai mandi. Rambutnya masih basah, hanya mengenakan kaus tipis dan celana pendek. Aroma sabun masih samar tercium di seluruh ruangan.

"Kau sudah pulang." Evan tersenyum tipis sambil menghampiri istrinya. "Aku menunggumu."

Carolin meletakkan tasnya di atas sofa.

"Hari ini melelahkan."

"Aku tahu." Evan berdiri tepat di hadapannya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, pria itu merentangkan kedua tangannya, berniat memeluk sang istri.

Namun, Carolin justru mundur selangkah.

"Nanti dulu, Mas."

Evan menghentikan gerakannya. "Kenapa?"

"Aku capek." Carolin mengusap pelipisnya pelan.

"Seharian syuting, lalu ada beberapa kontrak yang dibatalkan. Kepalaku benar-benar pusing."

Evan mengangguk pelan. "Kalau begitu, aku pijat?"

"Tidak usah, aku hanya ingin istirahat." Carolin berjalan melewati Evan menuju meja rias.

Ia mulai melepaskan anting dan kalung yang dikenakannya. Evan masih berdiri di tempat. Beberapa detik kemudian, ia kembali mendekati Carolin. Tangannya perlahan menyentuh bahu wanita itu.

"Car..."

Carolin kembali menepis pelan tangan suaminya.

"Mas ... jangan dulu."

Penolakan kedua itu membuat senyum Evan perlahan memudar.

"Sejak pulang, kau terus menghindariku."

"Aku benar-benar lelah."

"Itu jawabanmu setiap kali."

Carolin menghentikan gerakannya, lalu menoleh. "Maksudmu?"

Evan mengembuskan napas panjang. "Sudah hampir dua bulan."

Carolin terdiam.

"Dua bulan kita bahkan hampir tidak pernah punya waktu berdua." Nada suara Evan terdengar mulai dipenuhi kekecewaan.

"Apa salahnya kalau malam ini aku ingin dekat dengan istriku?"

Carolin memejamkan mata sejenak.

"Mas ... tolong mengerti. Aku benar-benar capek. Kita tunda saja, ya."

"Tunda lagi?" Evan tertawa hambar. "Selalu begitu. Hari ini capek, besok ada pekerjaan. Lusa ada pemotretan. Minggu depan ada acara. Sampai kapan, Car?"

Carolin mulai kehilangan kesabaran. "Aku bilang aku capek!"

"Aku juga capek!" Suara Evan ikut meninggi.

"Aku bekerja setiap hari. Mengurus perusahaan. Mengurus masalah di kantor. Pulang ke rumah masih memikirkan Aurora. Tapi aku tetap berusaha punya waktu untuk keluarga."

Ruangan mendadak hening. Carolin menggigit bibirnya.

"Aku tidak sedang ingin bertengkar."

"Aku juga tidak." Jawab Evan lirih.

"Aku hanya ingin kau mengingat kalau aku ini suamimu."

Carolin menundukkan kepala. Ia tidak sanggup menatap mata Evan. Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu dirinya memang semakin menjauh. Bukan karena membenci Evan. Melainkan karena pikirannya hanya dipenuhi satu hal. Karier, kontrak dan popularitas.

"Mas..." Suaranya melemah. "Beri aku waktu."

Namun, kali ini, Evan hanya tersenyum pahit.

"Sudah terlalu banyak waktu yang kuberikan."

Pria itu mengambil bantal dari atas ranjang.

"Aku tidur di ruang kerja malam ini."

Tanpa menunggu jawaban, Evan berjalan menuju pintu.

Pintu kamar tertutup pelan.

Carolin masih berdiri mematung di depan meja rias. Matanya menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Entah sejak kapan, rumah tangga yang dulu tampak sempurna itu mulai dipenuhi jarak.

Malam semakin larut.

Seluruh rumah telah tenggelam dalam keheningan. Laras terbangun karena merasa tenggorokannya kering. Ia melirik Aurora yang masih tertidur pulas di dalam boks bayi, lalu perlahan bangkit dari tempat tidur.

"Aku hanya sebentar, ya, Sayang." Bisiknya pelan.

Laras membuka pintu kamar tanpa menimbulkan suara. Lorong lantai bawah tampak lengang. Lampu-lampu dinding masih menyala redup, menerangi jalan menuju tangga dan ruang kerja di ujung koridor. Ia berniat ke dapur untuk mengambil segelas air minum. Namun, baru beberapa langkah berjalan, pintu kamar utama terbuka.

Evan keluar dengan langkah cepat. Wajah pria itu tampak tegang. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal seolah sedang menahan amarah.

Tanpa menoleh ke kanan ataupun kiri, Evan berjalan lurus menuju ruang kerja yang berada di ujung lantai bawah. Pintu ruang kerja ditutup sedikit lebih keras dari biasanya.

Laras menghentikan langkahnya. Tatapannya mengikuti arah pintu yang baru saja tertutup. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

"Sepertinya ... mereka kembali bertengkar."

Ia tidak perlu mendengar isi pembicaraan mereka. Ekspresi Evan sudah cukup menjelaskan semuanya. Namun, sedetik kemudian, senyum itu menghilang. Laras kembali memasang wajah datar. Ia sadar betul, dirinya tidak boleh gegabah. Tidak boleh terlalu sering menunjukkan perhatian kepada Evan. Apalagi menyapanya di saat seperti ini. Sedikit saja ia bertindak di luar batas, Evan atau Carolin bisa mulai mencurigainya.

"Belum waktunya. Aku harus bersabar."

Laras kembali melangkah menuju dapur, seolah tidak melihat apa pun. Baginya, mendapatkan kepercayaan keluarga itu jauh lebih penting daripada memuaskan rasa ingin tahunya.

Sementara itu, di balik pintu ruang kerja, Evan menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan wajah penuh frustrasi. Ia memejamkan mata sambil mengusap wajahnya kasar.

Entah sejak kapan rumah yang seharusnya menjadi tempatnya beristirahat justru terasa semakin menyesakkan.

1
Lianty Itha Olivia
dlm cerita slalu byk org jahatnya
mimief
wkwkwkwk
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🅛🅚-🅒🅘🅣🅡🅐👻ᴸᴷ
kayaknya setelah semua masalah selesai Laras melakukan operasi lagi kewajah Amelia lagi biar makin meyakinkan kasus yang menyeret mereka biar hukumannya makin berat
mimief: kyk nya ga deh
dr percakapan elang sama Laras kemarin
mang Amelia dibikin udah ga ada
mungkin hukuman mereka malah tambah berat
total 1 replies
Oma Gavin
mampusss kalian semua
SasSya
semua akan terkuak satu persatu
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
Les Tary
ga kenal dari hongkong🤣🤣
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣loh kok dr hongkong
total 1 replies
mimief
gas keun
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
mimief: setujuu bangett
enak amet idup kyk ga punya dosa sm sekali 😌
total 2 replies
Les Tary
Carolina wajib nyusul Evan kepenjara dulu mereka berdua telah menghancurkan hati Amelia
Jaya Fandi
luaar biasa sekali kamu lang,,semoga engkau mendapatkan jodohbyg luaar biasa sprt mama ara
SasSya
Bagus!
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Dewi Ansyari
Tunggu saja kamu Carolin dan Evan sebentar lagi balasan buat perbuatan kalian selama ini pada Amelia akan membayar harganya
Dewi Ansyari
Bagus Tian Baskara semakin kamu emosi ,makasih Laras lebih mudah mendapatkan semua haknya,dan juga keadilan untuknya yg sebagai Amelia akan mendapatkan hak atas semaunya 😔
Dewi Ansyari
Tunggu saja kehancuranmu Evan😡😡😡
Dewi Ansyari
Akhirnya Laras benar2 bisa bebas dari kandang harimau Rvan
merry
bgss tu seret Caroline juga dan klurga y kn istri tua evan otomatis nikmati hrta ya laras dan parah laras dijadiin wadah benih mrk itu termsk nipu dan tindakan ilegal terhdp laras,,,
merry
heran sm evan harta yg dia nikmatin ko gk sdr dri gt ya 🤔🤔🤔santai ajjh
Rarik Srihastuty
aku thor, pemasaran dengan cerita Kenzo
Aisyah Alfatih: nanti aku rilis ya, tamat elang... biar nggak keteter up nya 😬😬
total 1 replies
neny
carolin ini gmn ya,,apa2 mau nya langsung beres,,percuma dng jalan tenang pun semua nya akan terkuak,,dan siap2 ajh senyum kemenangan,senyum kekuasaan dan senyum kesombongan itu sebentar lg akan hilang,,tunggu ajh
neny
heheehee,,carolina,,emng siape elo,,helloo,,ibu kandung nya tuh amelia,,cek ajh ath ke lab,,lagian km jg sebnyar lg akan nyusul evan,,🤣🤣
Makin seru ajh nih,,
Aditya hp/ bunda Lia
gak sabaaarrrrrrr ... pake banget aku mau tau gimana si Evan sama si Carolin dan bapaknya pas tau kelakuan mereka sebenarnya dan itu menghancurkan semuanya ....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!