Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.
Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.
Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.
Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.
Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?
"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di Balik Kabut
Keheningan di dalam kamar pribadi Nathan terasa sangat dingin, hampir menyamai atmosfer ruang bawah tanah yang ia susupisatu jam lalu. Di bawah pendar temaram lampu meja taktis berkekuatan rendah, Nathan menyebarkan beberapa lembar cetakan rute perjalanan fisik Elena Wijaya menuju Kota Bandar Samudra yang akan berlangsung pekan depan.
Saraf-sarafnya yang terlatih bekerja dengan presisi tinggi. Ia menandai titik-titik lemah pada jalur lintas pesisir utara, sebuah tikungan tajam di atas tebing curam tanpa pembatas jalan yang kokoh. Dalam kalkulasi taktisnya, sabotase pada sistem hidrolik rem mobil SUV lapis baja milik Elena pada titik tersebut akan menghasilkan "kecelakaan fatal" yang bersih, tanpa meninggalkan setitik pun jejak pembunuhan.
Fokus mental Nathan berada di tingkat 100 persen. Balas dendam yang ia rawat dengan tetesan darah dan air mata selama 15 tahun di berbagai palung perang dunia, kini hanya berjarak satu tarikan napas dari garis akhir. Di dalam sakunya, kandar penyimpanan taktis berkapasitas 2 terabite yang berisi dokumen transaksi Black Cobra seolah memancarkan hawa hangat yang membakar dadanya.
Tiba-tiba, ponsel satelit terenkripsi di atas meja kayu bergetar halus tanpa mengeluarkan suara.
Layar kristal cairnya menampilkan nama Rendra. Nathan segera meraih ponsel tersebut, menempelkannya ke telinga kanan.
"Rendra. Aku sedang memetakan koordinat eksekusi akhir untuk jalur Bandar Samudra," ucap Nathan, suaranya sangat lirih namun membawa ketegangan yang dingin.
Namun, di seberang saluran, tidak ada jawaban taktis yang cepat seperti biasanya. Hanya ada suara desah napas Rendra yang berat, tidak teratur, dan dipenuhi oleh keraguan yang sangat ganjil bagi seorang mantan perwira intelijen militer.
"Bos..." suara Rendra terdengar serak, hampir berupa bisikan yang bergetar. "Hentikan dulu persiapan eksekusinya."
Nathan menegang di posisinya. Alisnya bertaut rapat. "Apa maksudmu, Rendra? Seluruh bidak catur sudah berada di posisi masing-masing. Kepergian Elena pekan depan adalah kesempatan emas yang tidak akan pernah datang dua kali."
"Ada anomali, Bos. Anomali yang sangat mengerikan di dalam data peladen 2 terabite yang baru saja kamu salin dari ruang bawah tanah," sahut Rendra. Suara ketukan kibor yang biasanya terdengar cepat kini terdengar lambat dan ragu-ragu. "Aku... aku baru saja menyelesaikan dekripsi mendalam pada partisi tersembunyi yang terkunci di balik protokol keamanan tingkat tiga. Ini bukan sekadar dokumen proyek pelabuhan utara."
Nathan berdiri tegak, matanya menatap tajam ke arah dinding kamarnya yang gelap. "Katakan dengan jelas, Rendra."
"Dokumen fisik merah berlogo Megantara Group yang kamu temukan di dalam laci titanium... dokumen transaksi senilai 10 juta dolar kepada Black Cobra Mercenary Group pada bulan Agustus 2011... dokumen itu memang nyata. Tanda tangan tinta biru di sudut kanan bawah memang milik Elena Wijaya," Rendra menjeda kalimatnya selama hampir 10 detik, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kalimat berikutnya. "Tapi dokumen itu adalah sebuah jebakan sejarah yang sengaja disimpan Elena sebagai perisai hidup."
"Perisai hidup?"
"Iya, Bos. Berdasarkan metadata audit digital yang kami temukan pada peladen cadangan, transaksi pengiriman dana 10 juta dolar ke bank Swiss tersebut tidak pernah diotorisasi dari komputer atau jaringan komunikasi milik Elena. Kami melacak tanda tangan digital enkripsi yang digunakan untuk melepas dana tersebut. Kunci kriptografi itu terdaftar atas nama: Aditya Wijaya."
Napas Nathan tertahan di tenggorokannya. Nama itu menghantam batinnya seperti peluru kaliber besar.
Aditya Wijaya. Mantan CEO Megantara Group terdahulu, suami Elena Wijaya yang dilaporkan tewas dalam kecelakaan mobil misterius 5 tahun lalu.
"Aditya... yang mengotorisasi pembayaran?" tanya Nathan, suaranya bergetar halus, sebuah reaksi fisik langka yang hampir tidak pernah terjadi pada sang Raja Perang.
"Benar, Bos. Bukan Elena. Aditya Wijaya-lah yang secara langsung menyewa dan mengendalikan Black Cobra Mercenary Group pada tahun 2011," jelas Rendra, suaranya kini dipenuhi oleh kecemasan taktis yang mendalam. "Ayahmu, sebagai kepala otoritas pelabuhan saat itu, tidak hanya menolak menandatangani dokumen ilegal ekspansi pelabuhan utara. Ayahmu ternyata telah mengamankan bukti bahwa Aditya menggunakan Megantara Group sebagai kedok untuk menyelundupkan senjata dan bahan kimia militer ilegal dari luar negeri. Pembantaian keluargamu... dilakukan untuk membungkam ayahmu sepenuhnya."
Nathan mengepalkan tangan kanannya hingga buku-buku jarinya memutih dan mengeluarkan bunyi gemertak yang tajam. "Lalu kenapa tanda tangan Elena ada di dokumen fisik itu? Dia tetap terlibat! Dia menyembunyikan dokumen itu di dalam brankas pribadinya selama 15 tahun!"
"Dia tidak menyembunyikannya karena terlibat, Bos. Dia menyembunyikannya untuk bertahan hidup," sahut Rendra lirih. "Di dalam partisi tersembunyi server tersebut, kami menemukan sebuah rekaman audio rahasia berformat analog yang telah didigitalisasi. Rekaman itu dibuat secara sembunyi-sembunyi oleh Elena pada malam tanggal 11 Agustus 2011, tepat satu hari sebelum keluarganya dan keluargamu hancur."
"Putar rekaman itu, Rendra," perintah Nathan dingin, meski jantungnya kini berdegup kencang di balik rongga dadanya.
"Baik, Bos. Sambungkan audionya sekarang."
BEEP. SZZZZT.
Suara desisan statis pita kaset kuno terdengar melalui earpiece Nathan, diikuti oleh suara latar rintik hujan yang samar, sebuah atmosfer yang sangat mirip dengan malam badai di Megapura saat ini.
Kemudian, sebuah suara pria yang berat dan sarat akan kemarahan terdengar. Itu adalah suara Aditya Wijaya.
"...Aku tidak peduli dengan moralitas konyolmu, Elena! Jika kepala otoritas pelabuhan itu tidak mati besok malam, Megantara akan hancur dan kita semua akan membusuk di penjara militer! Black Cobra sudah berada di posisinya!"
Suara kedua terdengar, suara seorang wanita yang menangis histeris, suaranya terdengar sangat rapuh, sangat berbeda dengan sosok Elena Wijaya yang dingin dan berwibawa yang dikenal Nathan saat ini.
"...Aditya, aku mohon hentikan! Mereka memiliki anak-anak yang tidak berdosa! Jangan lakukan ini, aku memohon padamu... kita bisa menyerahkan diri, kita bisa memulai semuanya dari awal!"
"Diam, pelacur bodoh! Kamu pikir kita bisa keluar dari lingkaran ini begitu saja?! Konsorsium Mahkota tidak akan membiarkan kita hidup jika proyek ini gagal!" terdengar suara tamparan fisik yang sangat keras, disusul oleh jeritan kesakitan Elena. "Tandatangani dokumen otorisasi ini! Jika kamu menolak, atau jika kamu mencoba menghubungi polisi... aku sendiri yang akan memastikan Clara yang saat ini sedang tidur di kamarnya tidak akan pernah melihat matahari terbit besok pagi!"
Suara tangisan Elena terdengar semakin keras, tersengal-sengal di sela-sela ketakutan yang teramat sangat.
"...Clara baru berusia delapan tahun, Aditya... dia putrimu sendiri..." rintih Elena dalam rekaman tersebut.
"Di dalam dunia Konsorsium, tidak ada istilah keluarga jika itu menghalangi kekuasaan, Elena. Tandatangani sekarang juga!"
SZZZZT. KLIK.
Rekaman audio itu terputus, menyisakan keheningan yang sangat mencekam di dalam kamar Nathan.
Ponsel satelit di tangan Nathan hampir saja terlepas dari genggamannya. Seluruh dunia yang ia bangun dengan fondasi kebencian murni selama 15 tahun seolah-olah runtuh, hancur berkeping-keping menjadi debu yang tidak berarti.
Musuh utama yang ia buru melintasi berbagai medan perang dunia... dalang yang ia yakini telah membakar rumah masa kecilnya dan membantai adik perempuannya yang berusia 8 tahun... ternyata bukanlah wanita dingin yang saat ini memimpin Megantara Group.
Elena Wijaya hanyalah seorang ibu yang dipaksa menandatangani dokumen pembantaian di bawah todongan pistol, demi melindungi nyawa putrinya sendiri yang masih kecil.
"Bos? Apakah Anda masih di sana?" suara Rendra memecah keheningan psikologis Nathan.
Nathan menarik napas dalam-dalam, mencoba menjinakkan badai emosi yang kini berkecamuk hebat di dalam batinnya. "Lanjutkan, Rendra. Apa lagi yang kamu temukan?"
"Analisis kami terhadap dokumen internal dari 5 tahun lalu menunjukkan bahwa kematian Aditya Wijaya dalam kecelakaan mobil misterius... itu bukan kecelakaan biasa," Rendra menjelaskan dengan nada yang semakin serius. "Elena-lah yang merancang kecelakaan itu. Begitu Clara cukup dewasa dan Elena berhasil memperkuat posisinya di dalam dewan direksi, dia mengeksekusi suaminya sendiri sebagai bentuk pembalasan atas apa yang terjadi di masa lalu."
Rendra mengetuk kibornya sekali lagi. "Dan yang paling krusial, Bos... dokumen fisik merah yang disimpan Elena di dalam brankas bawah tanah itu sebenarnya adalah asuransi jiwanya. Dia menggunakannya untuk mengancam Konsorsium Mahkota agar tidak menyentuh dirinya dan Clara. Itulah alasan mengapa selama 15 tahun ini, Konsorsium tetap membiarkan Megantara Group berjalan, karena mereka tahu jika Elena mati secara mencurigakan, dokumen transaksi Black Cobra yang melibatkan nama-nama petinggi negara dan kartel internasional di dalam Konsorsium akan otomatis tersebar ke seluruh media dunia."
Nathan bersandar pada dinding semen dingin kamarnya, matanya menatap kosong ke arah langit-langit.
Rasa bersalah yang halus yang selama beberapa hari terakhir ini merayap di batinnya setiap kali ia melihat Clara atau menerima teh cengkih dari gadis itu, kini meledak menjadi pemahaman yang mengerikan. Clara... gadis polos yang ia lindungi, adalah alasan mengapa Elena rela mengotori tangannya dan hidup di bawah topeng monster yang dingin selama hampir tiga dekade.
"Konsorsium Mahkota..." bisik Nathan lirih, suaranya sedingin es yang membelah keheningan. "Siapa dalang utama di balik Konsorsium itu, Rendra?"
"Data di peladen Elena tidak menyebutkan nama secara eksplisit, Bos. Konsorsium itu bergerak seperti bayangan di atas bayangan. Namun, satu hal yang pasti, Suryadi, Robert si Broker Timur, dan bahkan Aditya Wijaya di masa lalu hanyalah bidak-bidak kecil yang mereka gerakkan," jawab Rendra. "Jika Anda membunuh Elena sekarang... Anda tidak hanya membunuh orang yang salah. Anda akan secara tidak sengaja melepaskan satu-satunya perisai yang melindungi Clara dari Konsorsium. Begitu Elena tewas, Konsorsium akan langsung bergerak untuk melenyapkan Clara guna menghapus seluruh sisa silsilah keluarga Wijaya yang memegang rahasia mereka."
Nathan memejamkan matanya rapat-rapat.
Di dalam kegelapan batinnya, ia melihat bayangan adik perempuannya yang tewas terbakar 15 tahun lalu, bersanding dengan bayangan Clara yang berdiri rapuh memegang cangkir susu hangatnya di koridor malam tadi. Kedua gadis itu adalah korban dari keserakahan yang sama, keserakahan sebuah entitas raksasa tak kasat mata yang kini berdiri kokoh di puncak kekuasaan Megapura.
Ketika Nathan membuka kembali matanya, sisa-sisa keraguan di wajahnya telah menguap sepenuhnya. Kebekuan es yang biasa kini kembali menyelimuti manik mata gelapnya, namun kali ini dengan arah fokus taktis yang baru.
"Rendra," ucap Nathan dengan suara beratnya yang stabil dan penuh otoritas mutlak.
"Ya, Bos?"
"Batalkan seluruh rencana sabotase di jalur Bandar Samudra," perintah Nathan tegas. "Ubah parameter misi kita secara keseluruhan."
"Apa rencana baru kita, Bos?"
Nathan mengambil selembar foto Elena Wijaya dari mejanya, lalu meremasnya dengan perlahan sebelum melemparkannya ke dalam tempat sampah.
"Kita tidak akan membunuh Elena, Rendra," bisik Nathan sangat lirih, namun nadanya membawa getaran perang yang mengerikan. "Kita akan menggunakannya. Aku akan tetap menjadi pengawal terbaiknya, melindunginya dari ancaman Konsorsium, sampai kita berhasil menyeret setiap anggota Konsorsium Mahkota keluar dari bayang-bayang mereka... dan mengirim mereka semua ke neraka terdalam."
Di bawah langit malam Megapura yang masih diguyur gerimis dingin, sang Raja Perang berdiri tegak di kamarnya. Tarian kematian yang ia rancang selama belasan tahun kini tidak lagi mengarah pada satu wanita malang di rumah utama, melainkan telah bergeser menuju jantung kekaisaran bayangan yang mengendalikan kota dari balik kabut konspirasi yang pekat.
- Assalamualaikum semuanya\, jangan lupa juga membaca karya Thea "Benci di Tepian Hari\, Lindung di Balik Bayang" sebuah kisah 2 anak manusia yang saling melindungi dalam bayangan. kisah yang akan menguras emosi kalian selama mengikuti perjalanan kisah mereka\, - Terima kasih semuanya