"Jika tolak ukurmu mengenai cinta adalah pengorbanan seorang yang rela mati demi cinta. Maka itu bukan cinta, tapi obsesi, nafsu."
Prince mengucapkan kata itu dengan tegas. Dia ingin Isma membuka pikirannya. Dia ingin Isma lebih rasional dalam mengartikan cinta.
"Kamu sendiri yang bilang, kamu sangat mencintaiku. Kamu bahkan mengatakan akan menikahiku." Ucap Isma terisak. Tangisnya masih belum usai.
"Aku belum siap pindah keyakinan, Isma. Aku masih sangat percaya pada Tuhanku, sama halnya dengan kamu yang sangat yakin akan Allah Tuhan-mu."
"Kalau begitu, aku saja yang..." Ucapan Isma terhenti. Prince menghempaskan HP-nya tepat di hadapan Isma, bahkan hampir mengenai Isma.
"Pergilah, menikahlah dengan pria sholeh pilihan Orangtua mu. Aku tidak mau menikahi perempuan yang mudah goyah dengan keyakinannya." Bentak Prince dengan amarah yang menggebu namun masih ditahannya. Dan tanpa memperdulikan Tangis Isma, Prince pun pergi meninggalkan Isma yang masih menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ta'aruf
Beberapa hari ini, Isma benar-benar sibuk. Terlebih projek yang di kerjakan bersama tim pengembangan akan segera di luncurkan dalam dua hari lagi.
"Is, makan siang dulu yok." Ajak Rina yang sengaja menghampiri Isma ke ruangannya.
"Bentar lagi. Kamu duluan aja, Rin. Kerjaanku tanggung nih." Ucapnya tanpa menoleh kearah Rina.
"Kamu mau makan apa? Akubeliin."
"Aku belum lapar. Nanti kalau sudah selesai aku langsung nyusul. Tapi janngan menungguku. Takutnya aku gak sempat untuk nyusul."
"Baiklah…" Rina pun pergi dengan perasaan sedikit kecewa. Sejak mengerjakan projek itu, Isma selalu makan siang dengan Bimo, saat tidak bersama Bimo, Isma bahkan melewatkan makan siangnya.
"Semua ini gara-gara Prince. Dasar Bos menyebalkan." Rutuknya kesal.
Sementara Prince yang sedang mereguk air putih di ruangannya tersedak tiba-tiba. 'Apa Isma mencaci lagi?' batinnya.
Lalu dengan cepat, Prince menuju rungan Isma. Di lihatnya Isma masih setia duduk di depan komputer. Mata Prince melirik kearah jam dinding di ruangan Isma yang sudah menunjukkan pukul 13,56 siang. Sudah saatnya makan siang.
Tok…tok…tok…
Prince mengetuk pintu, lalu membuka lebar pintu yang tadi hanya terbuka sedikit. "Isma, kamu sudah makan siang?" Tanyanya sambil melangkah perlahan semakin mendekat ke meja Isma.
"Belum, Bos. Sebentar saya mau menyelesaikan tugas ini dulu."
"Sambung nanti. Saya lapar."
"Bos belum makan siang? Saya kira Bos sudah makan siang sama klien." Tanya Isma heran. Biasanya Bos selalu makan siang bersama klien saat meeting mereka berakhir pada jam makan siang.
"Meeting berakhir lebih awal." Melangkah semakin mendekat dan berhenti tepat di belakang komputer. Jika saja tidak ada komputer yang menghalangi, keduanya dalam posisi untuk saling bertatapan.
"Bos mau makan apa? Rina sedang diluar makan siang sekarang. Saya akan minta tolong dia belikan."
"Saya tidak mau. Saya mau kamu ikut makan siang bersama saya sekarang." Ucapnya menegaskan.
Untuk sesaat Isma terdiam. Dia ingin mendengar ulang kata-kata itu. Namun apa daya, Prince hanya akan bicara satu kali saja. Dia tidak akan mengulang kecuali saat suaranya yang terlalu kecil untuk didengar lawan bicaranya.
"Cepat. Saya tunggu di loby," Melangkah mulai meninggalkan ruangan. "Lima menit. Jika telat…"
Belum sempat Prince menyelesaikan ucapannya, Isma sudah melangkah mendahuluinya.
"Good…" gumam Prince, lalu melangkah mengikuti Isma.
Keduanya kini berada dalam lift. Angka sudah menunjukkan angka 5 dan panah merah terus bergerak kearah bawah.
"Kamu berkencan dengan Bimo?" Tanya Prince tiba-tiba yang membuat Isma terdiam mematung.
"Sepertinya kalian sangat dekat. Kedekatan yang lebih dari sekedar rekan kerja." Sambungnya.
Sebentar Isma diam, "Dalam agama saya dilarang berkencan jika tidak dalam sebuah ikatan pernikahan." Jawab Isma santai tanpa beban.
"So… kamu tidak pernah berkencan atau pacaran sebelumnya?"
"Tidak." Jawab Isma, lalu perlahan menundukkan pandangannya.
"Jadi bagaimana kalau seseorang ingin menikah? Apa mereka langsung menikah tanpa pacaran, tanpa perkenalan?"
"Ta'aruf. Dengan cara itu seorang muslim dan muslimah saling mengenal sebelum menikah." Jelasnya.
"Ta'aruf? apa itu proses lain dari pacaran?"
"Bukan. Ta'aruf adalah cara berkenalan secara islami dengan cara mengenali pria atau wanita yang disukai melalui keluarganya seperti, orangtua mereka, saudara, dan sahabat terdekat mereka.
"Sama saja, kan? Pacaran juga seperti itu, saling mengenal keluarga dan orang terdekat."
"Berbeda, Bos. Kalau Bos ingin tahu, akan saya jelaskan saat ada waktu yang tepat untuk mengobrol" Jelas Isma.
"Jika saya suka sama kamu, Berarti saya harus langsung bertemu kedua orangtuamu?" Tanya Prince tanpa menoleh sedikitpun pada Isma.
Sedangkan Isma terdiam mematung saat mendengar pertanyaan itu. Ada getaran tak menentu mengisi relung hatinya. Sepertinya Isma bahkan bisa melihat kupu-kupu berterbangan di sekitarnya.
Isma mengipas wajahnya yang terasa panas. Pipinya merona merah. Dia menggigit sedikit bibirnya untuk menahan senyum.
Bersambung…
Alhamdulillah kami skrg sdh menikah dan dikaruniai anak2 yg lucu.