NovelToon NovelToon
Penyesalan Sang CEO

Penyesalan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yuni Denara

Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tengah Malam

Kehadiran Elian di lingkungan rumah susun benar-benar menjadi pemicu pecahnya sisa-sisa kesabaran Devan Alister. Meskipun Leon sudah mengatur agar jadwal sif dokter muda itu di puskesmas diperpadat secara ekstrem, bayangan pria lain yang menatap Keyra dengan senyuman hangat malam itu terus berputar-putar di benak Devan, membakar habis kewarasan dan ego tinggi sang CEO.

Malam itu, jam dinding di kamar nomor 302 milik Keyra sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana di luar luar biasa sepi, hanya menyisakan suara sisa rintik hujan yang membasahi aspal. Keyra baru saja menyelesaikan batch pertama kue keringnya untuk persiapan modal esok hari. Tubuhnya terasa lelah, namun pikirannya masih mengembara jauh.

Tepat saat ia hendak mematikan lampu ruang tamu kecilnya, sebuah ketukan pintu yang pelan namun tegas terdengar dari arah luar.

Tok... Tok... Tok...

Keyra mengernyitkan dahi. Di jam selarut ini, sangat tidak biasa ada tetangga yang bertamu. Dengan langkah waspada, ia berjalan mendekati pintu kayu tua tersebut. "Siapa di luar?" tanya Keyra tanpa membuka slot kunci.

Tidak ada jawaban suara, melainkan sebuah keheningan yang berat. Namun, aroma yang sangat familier tiba-tiba menyeruak masuk melalui celah bawah pintu—aroma parfum kayu cendana bercampur mint yang sangat mewah dan maskulin. Aroma yang hanya dimiliki oleh satu orang di dunia ini.

Jantung Keyra seketika berdegup kencang. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka kunci dan menarik daun pintu tersebut.

Sosok Devan Alister berdiri tegap di ambang pintu koridor rusun yang remang-remang. Pria itu tidak lagi mengenakan tuksedo pernikahannya, melainkan kemeja hitam polos dengan dua kancing teratas yang terbuka, memperlihatkan tulang selangka dan dada bidangnya yang tegap. Rambut tampannya tampak sedikit acak-acakan, dan sepasang mata elangnya terlihat kemerahan, memancarkan kombinasi antara rasa lelah, kerinduan yang teramat dalam, dan... kecemburuan yang pekat.

"Devan? Apa yang kamu lakukan di sini selarut ini?" tanya Keyra, mencoba menahan getaran di suaranya agar terdengar sedingin mungkin. "Bukannya kita sudah sepakat untuk saling memberikan jarak?"

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Devan melangkah maju satu langkah besar, memaksa Keyra untuk mundur ke dalam ruangan. Devan menutup pintu di belakang punggungnya dengan satu hentakan tangan, lalu mengunci slotnya dari dalam. Sebelum Keyra sempat melayangkan protes atas tindakan sepihak itu, Devan sudah lebih dulu memerangkap tubuh ramping Keyra di antara dinding ruang tamu dan tubuh tegapnya.

"Jarak apa yang kamu maksud, Keyra?" desis Devan, suara baritonnya yang berat terdengar begitu rendah, serak, dan berbahaya di dalam keheningan kamar. Jarak di antara wajah mereka begitu dekat, hingga Keyra bisa merasakan embusan napas hangat Devan yang memburu di kulit wajahnya. "Apakah jarak yang kamu inginkan itu artinya membiarkan pria asing lain mendekatimu? Membiarkan dokter muda itu membawakan barang-barangmu dan tersenyum di hadapanmu?!"

Keyra tersentak, sepasang mata jernihnya membelalak lebar. "Kamu... kamu memata-matai aku, Devan?!"

"Aku tidak memata-matai wanitaku, Keyra! Aku menjagamu!" seru Devan, suaranya sedikit meninggi namun tertahan demi menjaga privasi tempat itu. Kedua tangan kekar Devan menangkup sisi dinding di kanan-kiri kepala Keyra, mengurung wanita itu sepenuhnya di dalam kuasanya. "Satu minggu ini aku menahan seluruh egoku untuk tidak menyeretmu kembali ke mansion. Aku menyiksa diriku sendiri setiap malam karena merindukan pelukanmu, sementara kamu... kamu dengan mudahnya berbagi senyuman dengan pria lain di tempat kumuh ini?"

Rasa posesif yang gila terpancar jelas dari tatapan Devan. Api cemburu telah meruntuhkan seluruh topeng ketenangan sang CEO Alister Group.

Keyra menatap lurus ke dalam mata memerah Devan. Alih-alih takut, rasa sesak di dadanya justru kian memuncak. "Dia hanya tetangga baru yang berniat baik membantuku, Devan! Tidak semua orang di dunia ini memiliki motif tersembunyi atau keserakahan seperti yang ada di lingkaran keluargamu! Mengapa kamu selalu ingin mengontrol seluruh hidupku seolah-olah aku adalah barang milikmu?!"

"Karena kamu memang milikku, Keyra!" bentak Devan posesif. Tanpa bisa ditahan lagi, Devan menurunkan tangannya, mencengkeram lembut namun erat pinggang ramping Keyra, lalu menarik tubuh wanita itu hingga menempel sempurna pada dada bidangnya. "Jiwa dan ragamu sudah terikat bersamaku sejak hari pertama aku menyematkan cincin di jarimu. Kamu boleh membenciku karena dosa masa lalu ayahku, kamu boleh memukulku untuk melampiaskan rasa sakit hatimu... tapi aku bersumpah demi nyawaku, aku tidak akan pernah membiarkan pria lain menggantikan posisiku di hatimu!"

Keyra mencoba mendorong dada bidang Devan menggunakan kedua tangan kecilnya, namun tubuh tegap pria itu bagaikan dinding baja yang tidak bergeser sedikit pun. "Lepaskan aku, Devan! Kamu egois! Kamu selalu—"

Ucapan Keyra seketika terputus saat Devan menundukkan wajahnya dengan cepat, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang teramat dalam, menuntut, dan penuh dengan luapan emosi yang bergejolak. Ciuman kali ini tidak memiliki kelembutan seperti di atas kapal pesiar; ini adalah ciuman penanda kepemilikan yang sarat akan rasa frustrasi, kerinduan yang menyiksa, dan ketakutan luar biasa dari seorang Devan Alister akan kehilangan satu-satunya wanita yang menjadi belahan jiwanya.

Keyra awalnya mencoba memberontak, memukul pundak tegap Devan berulang kali dengan tangan kirinya. Namun, kehangatan tubuh Devan, aroma parfum yang begitu ia rindukan, serta ketulusan yang tersalurkan lewat ciuman protektif itu perlahan-lahan meruntuhkan benteng pertahanan dingin yang dibangun Keyra selama seminggu ini. Pukulan tangan Keyra di pundak Devan perlahan melemas, berubah menjadi remasan pelan pada kemeja hitam pria itu. Air mata Keyra kembali menetes, membasahi tautan bibir mereka di tengah kegelapan malam kamar rumah susun yang menjadi saksi bisu betapa kuatnya ikatan takdir yang tidak akan pernah bisa mereka putuskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!