•Typo bertebaran dimana-mana, beberapa part di private
•Cerita ini tidak direvisi, jadi tolong dimengerti jika ada yang aneh atau tidak nyambung
• My original work
******
Laura sebagai mahasiswi yang terkenal sangat nakal dikampusnya, dan Reyhan sebagai dosen yang kejam bagi Laura. Laura sengaja sering telat agar ia tidak perlu berlama-lama mendengar penjelasan materi yang dijelaskan Dosennya Reyhan. hingga kemudian temannya Laura bernama Indah tak tahan jika Reyhan terus mengajar dikelas Laura dan Indah dan akhirnya Indah menyukai dan jatuh cinta pada Reyhan, lalu Indah meminta Laura untuk membantunya agar Reyhan mau menerima pernyataan cinta Indah, namun usaha Laura dan Indah gagal...
bagaimana kelanjutannya?
yuk dibaca ya...
jangan lupa vote, rate 5, like, dan komen
bye~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otaku_Wibu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papa..
*Keesokan harinya
04.50
Aku terbangun, lalu turun dari kasur dan berjalan pelan-pelan menuju lemari, untuk mengambil baju kuliahku dan pakaian dalamku. Aku berjalan perlahan, takut jika tembus
Selang beberapa menit, aku keluar dari kamar mandi, lalu aku kemeja rias. Aku memakai bedak tabur, sedikit parfum dibeberapa tempat, juga ku ikat rambutku tinggi-tinggi, kemudian aku membuka gorden dan membuka pintu menuju balkon
"Morning honey..."
Aku menoleh kebelakang, ku lihat dia duduk sambil melihatku dan tersenyum
"Morning too"
Dia turun dan berjalan kearahku, aku tau dia pasti akan memelukku
"Fragrant.." bisiknya
"Kiss morning.." rengeknya
"Enggak, kan mas sudah peluk Laura, jadi nggak ada cium-cium"
"Kiss kiss kiss kiss.."
"Kiss morning baby.."
"Please me.."
Dia terus merengek-rengek padaku dan tak membiarkan ku pergi sebelum aku memberikan satu ciuman bibir padanya
"Laura, kamu--"
"Kak Ridwan! kesempatan!"
"Ah, maaf mengganggu kalian, silahkan dilanjutkan.."
"Kak! tungguin Laura!"
Aku berusaha melepaskan pelukannya tapi itu nihil
"Dadah.."
Blam
Kak Ridwan tak menghiraukan ucapan ku, dia malah memberikan jempol padaku
"Aaaa mas ih, pemaksaan banget"
"Mas memang dari dulu pemaksaan. Tapi kalau sama Laura, mas lebih pemaksaan. Karena Laura punya mas"
"Kirini liiri pinyi mis" nyinyir ku
"Coba ulangi sekali lagi.." dia memberikan senyuman menyeramkannya padaku, membuat bulu kudukku berdiri
"Nggak nggak, bukan Laura. Tadi ada nyamuk yang lewat, terus nyamuknya bilang gitu"
"Oh ya..?"
Tiba-tiba ada seekor nyamuk mendarat di pipinya, aku menahan tawa, lalu memukul nyamuk itu cukup keras
Plak!
Dia melepaskan pelukannya kemudian memegangi pipinya yang mulai memerah. Sedangkan aku berhasil menangkap nyamuk itu dan tertawa
"Haha dapat!"
"Baby..."
Aku melihat kearahnya, lalu cengengesan
"Lihat, bener kan kata Laura.."
Awalnya aku berancang-ancang untuk berlari. Karena pipinya semakin memerah, aku akhirnya berlari keluar, untungnya pintunya tidak dikunci. Tapi sialnya, dia ikut mengejarku
"Aaaaaa.. maapin Laura yang imut ini..!"
"Tapi kan beneran ada nyamuk..!"
"Lepasin Laura ya mas!"
Kami berlari layaknya kucing dan tikus. Pandangan ku juga tak luput dari sudut ruangan, ku lihat tak ada kak Ridwan, kak Laras ataupun Fika
1 menit setelahnya, dia berhasil menangkapku
Bruk!
Kami berdua ambruk disofa ruang tamu, kini aku berada di bawahnya. Nafas kami tak beraturan, aku berusaha mengoptimalkan pernafasan ku begitu juga dia
"Auto penuh sih ini. Tapi biasanya nggak bakal tembus, dan untungnya dirumah kak Ridwan ada AC, jadi nggak basah-basah amat ni baju"
"Mau lari kemana.. hm?"
Aku melihat pipinya, sepertinya aku memukul terlalu keras
"Nggak... Laura.. cuman olahraga"
"Kan Laura lagi haid.. ditambah lagi, Laura kan sudah wangi gini"
"Salah mas sih"
"Kiss?"
Aku mengangguk lalu membulatkan mataku
"No"
"Kiss.."
Karena pasrah, aku mengangguk sebagai jawaban iya
Cup
*****
*Sesampainya dikampus
Ketika aku ingin keluar dari mobil, dia memegang tanganku
"Kalau sudah pulang, tunggu aja didepan kelas Laura, nanti mas dateng"
Aku mengangguk
Cup
Dia mencium keningku. Aku keluar dari mobil dan berlari menuju kelasku
.
.
.
.
.
"Ra, ngantin yuk"
Aku menoleh kesamping
"Nggak"
"Ayo dong, maafin gue tadi ya Ra. Gue beneran nggak sengaja tumpahin minuman gue ke buku lo, serius.."
Mia memang ceroboh akhir-akhir ini. Bahkan tadi saat jam pelajaran, setelah dia minum, dia tak sengaja menumpahkan minumannya dibuku catatan fisika ku. Sial, mana aku sedang mens
"Lupain. Gue bisa keringin tu buku, terus gue salin ke buku gue yang baru. Nggak usah dipermasalahin"
"Ah, oke. Ayo"
Dia menarik tanganku, tapi aku menghentikannya
"Nggak. Gue bawa bekal"
"Dibuatin sama pak Reyhan?"
"Hm.."
"Gue boleh minta?"
"Koko!!"
"Kenapa?" sahutnya, yang baru saja datang dari luar
"Bini lo nih, ganggu gue. Bawa sana"
"Oh.. sini sayang. Kita ke kantin"
Mereka berdua pun pergi ke kantin tanpa ku
******
*Pulang kampus
Sesuai perkataan mas Reyhan, aku menunggu didepan kelas. 1 menit kemudian akhirnya dia datang
"Lama ya?"
"Nggak"
"Kenapa mukanya cemberut gitu?"
"Nggak papa"
Tanpa berlama-lama, dia mengambil tasku dan memakainya. Dia juga menggendongku
"Woi Ra"
Mas Reyhan menghadap ke samping. Kami melihat Mia, Koko, Lea, Zizi, Manda, Justina, Terry, Dicky dan Bobby berjalan mendatangi kami
"Ra"
"Apa?"
"Ikut nggak?"
"Ke?"
"Club. Ngikutin si Lili"
"Hah?"
"Kami lihat dia dijemput beberapa laki-laki. Lo mau ikut nggak?"
Aku mendongak ke arahnya, tapi dia hanya tersenyum
"Bapak boleh ikut kalian?"
"Eh..?"
Kami semua kebingungan karena ulahnya
"Nggak boleh?"
"Bo-boleh pak"
"Club mana?"
"Club xxx pak"
"Kalian kok bisa tau"
"Bisalah"
"Kalian naik ke mobil saya"
Semua mengangguk dan kami berjalan menuju mobilnya
Didalam mobil, aku duduk dipangkuannya. Mia dan Koko juga mengikuti gaya duduk kami, kebetulan mereka duduk didepan. Dia meniup telinga ku, cepat-cepat aku menutup mulutnya, agar dia tak meniup telinga ku lagi
*****
Di club, kami masuk dengan pelan-pelan. Aku memegangi tangan mas Reyhan, kalau-kalau ada orang yang tiba-tiba menarik ku. Begitu pula dengan mereka yang perempuan, mereka berjaga-jaga, takut keperawanannya hilang karena orang-orang itu
"Maaf. Apa disini ada yang bernama Lili?" tanya mas Reyhan pada penjaga club itu
"Lili? oh, dia ratu kami. Dan sekarang dia sedang disuatu ruangan da apa?"
"Kami temannya, dimana dia?"
"..Dia, ada di ruangan nomor 4"
"Terimakasih"
Mas Reyhan berjalan lebih dulu
"Aaaa mas.. tungguin..."
Dia berbalik lalu meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Kami berjalan mencari ruangan nomor 4
"Pak, ini bukan?" ujar Boby
Mas Reyhan membuka sedikit lalu menyuruh salah satu dari kami merekam apa yang sedang dilakukan. Tak lama kemudian, ku rasakan ada satu tangan yang menutup mataku dan satunya berada di pahaku, tak hanya itu aku merasakan nafas seseorang yang memburu disebelah ku
"Masss...." ujarku dengan suara gemetar karena ketakutan
Dia menoleh, rahangnya mengeras dan..
Bruk!
Aku berlari memeluknya, dia mengelus kepalaku
Krak!
Entah apa yang dilakukannya pada orang itu hingga terdengar jelas suara tulang patah
"Sudah dapat videonya?"
"Sudah pak"
"Ayo pulang. Simpan video itu baik-baik"
Cup
Dia mencium keningku lalu menggendongku menuju mobil
*****
*Sesampainya di rumah
"Baby.. bangun.. sudah sampai rumah"
"Jangan sentuh.. dasar bajing*an.. pergi.."
"Baby..."
Aku membuka mataku dan ku peluk dirinya
"Mimpi apa, hm?"
"Orang yang tadi.."
"Diclub?"
Aku mengangguk
"Sudah.. nggak papa, kan ada mas"
.
.
.
.
.
20.00
Aku tidur diatas kasur, ku peluk erat kakiku, perutku terasa nyeri. Sedangkan dia, dia sedang membelikan ku minyak kayu putih
"Ra.."
"Hm.."
Aku melihat kearahnya
"Masih sakit..?"
Aku hanya mengangguk. Dia naik keatas kasur, kini dia dibelakang ku. Dia membuka sedikit bajuku dan dia memijat perut ku
"Hm.. hm hm.. hm.."
Ku dengar dia berdehem dengan nada ciri khasnya
"Mas nyanyi?"
"Hm.. tebak sendiri.."
Drrrtt drrrtt
"Ponsel mas bunyi"
"Bukan punya Laura?"
"Bukan.."
Aku memberikan ponselnya yang ada disamping bantal ku
"Halo. Kenapa pa?"
"Rey, kamu ikut papa ngurus perusahaan di Inggris ya"
"Berapa lama?"
"3 tahun, setelah itu baru boleh pulang"
"Hah?! serius pa? tapikan Rey harus ngajar dan jagain Laura"
"Iya papa serius. Soal pekerjaan ngajar-mengajar mu dikampus itu, kamu sudah papa keluarkan, dan pulang nanti cari kampus yang beda lagi, buat kamu ngajar mahasiswa. Terakhir tentang Laura, ada mama kamu kok yang ikut jaga selain Ridwan dan Laras"
"Paaa... kenapa lama sih?"
"Lho, itu sudah papa potong lho Rey. Mau kamu tinggal sampai 5 tahun di Inggris?"
"Enggak"
"Nah ya udah. Besok pagi berangkat, jam 07.00, papa jemput"
"Papa... 6 bulan aja ya"
"Nggak"
"Paaa.. please.."
"Nggak ada kompromi. Intinya kita besok berangkat dan tinggal di Inggris selama 3 tahun"
Tuttt tuttt
"Papa yang nelpon?"
"Hm.."
Dia menenggelamkan wajahnya dan memelukku erat
"Udah, ikutin aja kata papa, paling juga dirasa sebentar disana. Toh lagipula, mas bisa ngajar dikampus lain kan?"
"3 tahun itu lama baby..."
"Ya mas nggak usah liat kalender terus-terusan"
Aku berbalik badan, dan melihat wajahnya
"Tidur gih mas, besok pagi kan berangkat"
Aku memeluknya begitupun sebaliknya. Selang beberapa menit, aku mendongak, ku lihat dia sudah tertidur. Karena dia sudah tertidur, aku mulai menutup mataku dan akhirnya tertidur
ceritanya cepet beberapa tahun kemudian
tapi kok Lauranya kuliahnya gk kelar"
ceritanya tidak nyambung
karya nya tidak bisa di terima kami pembaca mengkritik nya...
TIDAK BAGUS CERITANYA...
*Yang Membolak-balikan Hati